Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Underwear


Matahari sudah menampakan sinarnya. Cahaya terangnya begitu hangat dan bersahabat. Ia menyelinap masuk dari balik tirai berwarna putih di jendela kamar Arumi.


Sementara itu, si pemilik kamar masih terlelap di bawah selimut tebal berwarna biru langit. Arumi masih berada dalam buaian sisa-sisa impiannya semalam. Jika bisa, mungkin ia akan tidur sepanjang hari.


Arumi menggeliat denga perlahan seraya membuka matanya sedikit. Dalam bayangannya, Edgar masih terlelap di sebelahnya dengan bertelanjang dada. Namun, Arumi harus memaksakan matanya untuk terbuka dengan sempurna, ketika ia meraba-raba bantal di sebelahnya.


Tempat itu telah kosong. Arumi segera bangkit. Pandangannya menyapu seluruh sudut kamar itu, tetapi ia tidak menemukan Edgar di manapun. Ia juga belum sempat memakai pakaiannya, karena semalam ia langsung tertidur akibat kelelahan.


Sungguh aneh, padahal itu bukan yang pertama kalinya ia bercinta dengan Edgar. Namun, rasanya selalu berbeda. Bagi Arumi, itu selalu terasa seperti yang pertama. Entah karena ia memang menyukainya, atau karena Edgar yang sudah sangat profesional dalam memperlakukan seorang wanita di atas ranjang.


Rasanya benar-benar malas, tetapi Arumi memaksakan dirinya untuk turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Arumi kemudian menyalakan shower air panas dan terdiam sejenak hingga airnya tercampur. Setelah dirasa cukup, ia mulai membasahi seluruh tubuhnya.


Sementara itu, Edgar baru masuk ke kamar. Akan tetapi, ia tidak mendapati sang istri yang tadi ia tinggalkan dalam keadaan masih terlelap. Pakaian Arumi pun masih tercecer begitu saja. Pria itu tersenyum kalem. Ia lalu memungut lingerie merah Arumi dan memeganginya. Saat itulah, baru ia melihat Arumi muncul dari dalam kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di tubuhnya.


Segera dihampirinya wanita muda itu. Tanpa permisi, Edgar memberikan ciuman hangatnya. "Bonjour, Ma chèrie," sapa Edgar dengan mesra.


"Mon chèrie," Arumi tersenyum. Ia tersenyun lembut menyambut sang suami yang pagi itu sudah terlihat segar. Tampaknya Edgar sudah mandi dan terlihat rapi dengan T Shirt round neck hitamnya. Rambutnya pun sudah tersisir dengan sempurna, seperti biasanya. Namun, tidak lagi. Arumi mengacak-acak rambut itu dengan gemas.


"Hey, hentikan!" protes Edgar seraya berusaha untuk menarik handuk yang menutupi tubuh Arumi. Edgar juga kini mendekapnya dengan erat.


“Jangan menggodaku! Aku baru selesai mandi,” cegah Arumi ketika Edgar mulai menciumi lehernya. Pria itu tertawa pelan. Sementara Arumi memilih untuk segera berlalu. Ia ingin segera berpakaian. Ia tidak tahu jika Edgar ternyata mengikutinya.


“Ada apa, Tuan? Kamu pikir aku menyembunyikan seorang pria tampan yang lain di dalam lemariku?” seloroh Arumi.


“Tentu saja tidak, Sayang! Aku yakin kamu tidak akan berani melakukan hal itu. Aku hanya ingin mengetahui berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk berpakaian,” jawab Edgar dengan entengnya.


Arumi mengernyitkan keningnya. Ia kemudian tertawa geli. “What do you mean, Darling?” tanyanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa geli dengan ucapan sang suami.


Edgar menyandarkan tubuhnya pada dinding ruangan itu sambil melipat kedua tangannya di dada. Sesekali ia melirik arloji di tangan kirinya. “Dengar, istriku tersayang! Berhubung sekarang kita sudah menikah, itu artinya kita harus lebih saling mengenal secara mendalam. Jadi ....”


“Jadi ... akan kuberitahu berapa ukuran bra yang kupakai,” sela Arumi membuat Edgar terkekeh.


“Apanya yang lucu? Ah ... ya tentu saja. Tuan Hillaire sudah sangat pintar dalam menebak ukuran,” sindir Arumi dengan menunjukan ekspresi wajah sebal.


“Yup, kamu sangat pintar!” jawab Edgar dan berbalas sebuah cibiran dari Arumi. Ia menjulurkan lidahnya kepada sang suami yang saat itu masih tertawa geli.


“Baiklah. Silakan lanjutkan, Nyonya Hillaire!” lanjut Edgar tanpa mengubah posisi berdirinya.


Arumi menatap sang suami untuk sejenak. Setelah itu, ia kemudian membuka laci yang berisi tumpukan pakaian dalam miliknya. “Mau memilihkannya untukku?” tawar Arumi. Ia melayangkan tatapannya yang sedikit nakal kepada Edgar. Pria tiga puluh tahun itu kemudian mengela napas panjang dan mengempaskannya perlahan. “Dengan senang hati,” jawabnya. Ia lalu menghampiri Arumi dan mulai memilihkan pakaian dalam untuk sang istri, untuk dikenakannya pada hari itu.


"Aku akan membelikan yang banyak untukmu, Sayang," ucap Edgar setelah memilihkan pakaian dalam dengan warna hitam, yang segera ia berikan kepada Arumi. 


Arumi menerimanya dengan senyuman lembut. Hatinya bergetar dengan sangat hebat saat itu. Terlebih ketika ia melihat tatapan yang Edgar layangkan untuknya. Tatapan itu tampak tajam tapi terasa begitu nakal, terlebih ketika Arumi mulai melepas handuknya.


Edgar berdiri tidak jauh dari Arumi. Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada dinding bagian lain ruangan itu, sambil sesekali menelan ludahnya. Sementara kedua tangannya, berada di dalam saku celananya.


Perlahan Arumi memakai segitiga lace miliknya. Setelah itu, ia lalu memasang bra-nya. Sementara tatapannya masih terus ia layangkan kepada Edgar yang juga tengah memerhatikannya dengan begitu lekat.


Adalah satu hal yang tidak akan pernah bosan untuk ia lakukan, ketika ia dapat merasakan betapa lembutnya tubuh berbalut kulit kuning langsat itu. Jemarinya terus menelusuri paha mulus Arumi dan sesekali mere•masnya dengan perlahan. Sementara Arumi, ia asyik memainkan kalung yang melingkar di leher Edgar. Kalung yang biasanya selalu tersembunyi di balik pakaian pria itu.


“Kalungmu sangat unik, Sayang,” bisik Arumi ketika Edgar selesai menciumnya.


“Ini adalah kalung pemberian dari ayah angkatku. Ia ingin agar aku selalu memakainya,” terang Edgar.


“Ayah angkatmu sangat baik, ya?” ucap Arumi seraya memainkan jemarinya di wajah Edgar.


“Ia sudah seperti ayah kandungku,” sahut Edgar pelan.


Arumi tersenyum lembut. Kini gilirannya yang memberikan sebuah ciuman hangat untuk Edgar. Ia tampak sangat bersemangat pagi itu. ”Ayolah, Sayang!” bujuk Arumi dengan manjanya. “Apa kamu hanya akan memerhatikanku saja?”


Edgar tersenyum kalem. “Apa yang kamu inginkan, Cintaku?” tanya pria itu. Namun, pertanyaannya lebih terdengar sebagai sebuah tantangan.


“Apa yang aku inginkan, adalah yang kamu inginkan juga,” jawab Arumi dengan senyum menggoda. Tangannya kini mulai bergerak turun ke leher dan dada Edgar. Gerakannya begitu perlahan dan lembut. Sementara Edgar hanya membiarkannya.


Edgar tersenyum simpul. Disentuhnya wajah polos Arumi dengan penuh perasaan. Pria itu kemudian berbisik, “Aku ingin bercinta denganmu pagi ini, tapi sayang karena kita harus pergi.” ucap Edgar seraya melepaskan pelukannya dari Arumi.


Arumi terdiam seraya mengernyitkan keningnya. Ia terus memerhatikan sang suami yang kini tengah merapikan rambutnya di depan cermin.


"Kita akan pergi? Ke mana, Sayang?" tanya Arumi. Edgar tidak mengatakan hal itu sebelumnya. Karena itu, Arumi terlihat heran.


"Hanya berjalan-jalan, keliling kota," jawab Edgar segera menyudahi apa yang tadi ia lakukan.


Arumi merasa semakin heran. "Haruskah? Kenapa tidak kita habiskan waktu di rumah saja, berdua, dan ...." Arumi kembali menggoda sang suami ketika pria itu menghampirinya lagi.


"Kita masih punya banyak waktu nanti, di Perancis," jawab Edgar masih terlihat sangat tenang. Lain halnya dengan Arumi. Wanita muda itu masih terlihat belum mengerti.


Edgar tersenyum hangat. Ia lalu membelai wajah cantik wanita yang baru ia nikahi kemarin. "Dengar, Sayang! Kita akan pulang ke Perancis lusa. Aku sudah menyiapkan semuanya dan Keanu pun sudah setuju dengan hal itu," jelas Edgar membuat Arumi seketika terkejut.


"Bukankah kita baru akan berangkat satu minggu setelah pernikahan?" protes Arumi.


"Aku berubah pikiran," jawab Edgar dengan entengnya. Ia kemudian berlalu dari ruangan itu. Akan tetapi, beberapa saat kemudian wajah tampannya kembali muncul dari balik pintu. "Segeralah berpakaian sebelum kamu membuatku harus mengacaukan jadwal hari ini!" ucapnya lagi.


Arumi yang saat itu masih berdiri dengan pakaian dalamnya, hanya dapat mengeluh sendiri. Edgar begitu seenaknya menentukan segala hal tanpa bicara lagi kepada dirinya.