Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Secret Admirer


Ben menatap lekat kepada Arumi. Sepasang mata abu-abu miliknya kembali terlihat seperti Ben yang Arumi kenal beberapa waktu yang lalu.


Pria itu kemudian memilih untuk duduk di ujung tempat tidur dengan setengah membungkuk. Berkali-kali ia memijit pangkal hidungnya. Ben terlihat sedikit gelisah, tetapi Arumi pun belum dapat memahami apa yang tengah ia rasakan sebenarnya. Arumi tidak ingin menerka-nerka. Ia hanya ingin segera pulang dan kembali bertemu dengan Edgar.


“Awalnya aku sama sekali tidak memiliki urusan denganmu, Arumi. Tujuan utamaku adalah Edgar, kekasihmu saat itu. Akan tetapi, semuanya berubah ketika aku melihatmu ada di dekatnya. Aku masih ingat dengan jalas hari itu, hari di mana pertama kalinya aku melihatmu,” tutur Ben. Keresahan itu perlahan memudar dari sorot matanya. Ia kemudian berdiri dan kembali menghampiri Arumi yang masih terpaku di tempatnya dengan wajah tidak percaya.


“Kau sangat manis, Arumi. Aku menyukai wajahmu. Aku merasa bahagia saat melihatmu tersenyum. Senyuman itu telah membuat hidupku menjadi terasa semakkin hangat. Aku sangat mengagumimu,” tutur Ben lagi. Ia kini berdiri tepat di hadapan Arumi. Postur tingginya, membuat Arumi harus sedikit mendongak.


“Jangan membual di hapadanku!” sergah Arumi dengan dingin dan ketus.


“Aku belum pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya. Entah kenapa aku ingin selalu mengikutimu. Aku hanya ingin melihat apakah beberapa tahun berikutnya kau masih terlihat manis ... dan ternyata kau terlihat jauh lebih manis, Arumi. Kau sama manisnya dengan semua kue buatanmu,” tutur Ben lagi membuat Arumi tersentak dan memilih untuk bergerak mundur dengan perlahan.


“Kau tahu, Arumi? Aku ingin sekali menembak kepala pacarmu yang berambut gondrong itu. Dia yang sudah membuatmu menangis, tapi aku tidak bisa melakukannya. Lagi-lagi kulihat Edgar ada di dekatmu. Aku sangat membenci pria itu!” tiba-tiba nada bicara Ben berubah menjadi sedikit emosionalbdan membuat Arumi semakin memundurkan tubuhnya. Gadis itu meringis ketika melihat amarah yang terpancar dari sorot mata abu-abu milik Ben.


“Edgar tidak sebaik yang kau pikirkan, Arumi!” tegas Ben dengan nada bicara yang cukup tinggi.


“Kamu mengenal Edgar? Bukankah kalian baru bertemu di resort waktu itu?”


Ben tertawa pelan. Untuk sesaat ia mengalihkan tatapannya dari Arumi. Akan tetapi, tidak berselang lama ia kembali menatap gadis cantik itu. “Aku mengenalnya, tapi dia tidak mengingatku sama sekali. Itu lucu, kan? Ya, Edgar tidak mungkin mengingatku,” jawab Ben membuat Arumi semakin  tidak mengerti.


“Apa maksudmu?”


"Apa kau lupa, Arumi? Aku adalah pria yang telah menyodorkan minuman itu kepadamu. Minuman yang telah membuatmu mabuk hingga kau hilang kendali," seringai Ben membuat Arumi semakin tidak percaya.


"Seharusnya malam itu kau habiskan bersamaku, tapi lagi-lagi ... Edgar ada di dekatmu. Dia membawamu dariku. Malam itu kami bertemu setelah sekian lama kami tidak berjumpa, jadi wajar jika Edgar mengatakan bahwa ia merasa pernah bertemu denganku. Dengarlah! Aku tidak suka melihatmu dengannya, Arumi! Aku tidak menyukainya sama sekali!"


Ben mengempaskan sebuah keluhan pendek. Ia kemudian berjalan mendekat kepada Arumi. Sementara Arumi semakin memundurkan tubuhnya hingga semakin merapat ke dinding.


“Edgar Hillaire. Dia kekasihmu yang sangat tampan dan memiliki banyak simpanan gadis pirang. Aku yakin kau sudah mengetahui hal itu dengan baik. Namun, apa kau tahu jika dia bahkan pernah mengencani calon istri dari seorang sahabatku hingga rencana pernikahan mereka gagal total.”


“Jangan salahkan Edgar! Kenapa wanita itu masih bermain-main dengan pria lain padahal dia akan segera menikah? Seharusnya kamu tanyakan padanya dan temanmu! Lagi pula apa urusannya denganmu? Semua orang pernah melakukan hal buruk di masa lalunya. Mungkin termasuk dirimu! Lihatlah, bahkan hingga saat ini kau masih hidup dalam kungkungan keburukanmu! Orang seperti apa yang tega menyekap orang lain, menculik seorang gadis dan mengurungnya di dalam kamar yang lebih mirip dengan sarang tikus!”


“Aku tidak pernah memerintahkan mereka untuk menculikmu! Jika memang mereka membawamu ke sana, itu bukan atas perintahku! Aku tidak tahu apa-apa tentang keberadaanmu di sana. Karena itu, tadi aku sangat terkejut saat melihatmu,” jelas Ben dengan tegas. Ia terus meyakinkan Arumi.


“Lalu untuk apa kamu menyekap Henry? Karenamu aku jadi berpikir jelek tentang Edgar!”


Ben kembali tertawa pelan. “Jika pria itu tidak kusingkirkan, maka aku tidak bisa leluasa mendekatimu, Arumi," jelasnya.


“Ya dan kamu menyuruh anak buahmu untuk mengikutiku bahkan hingga ke toilet! Jadi malam itu kamu hanya berpura-pura melindungiku? Kamu menyuruh anak buahmu berpura-pura menghubungi Edgar di depanku agar aku berpikir buruk tentang kekasihku? Rencana murahan!” tuding Arumi.


Dengan segera Arumi menepiskan tangan pria itu.


“Jangan berani-berani menyentuhku!” Arumi mendorong tubuh tegap Ben hingga menjauh darinya. Setelah itu, ia segera berlari ke pintu dan bermaksud untuk keluar dari dalam kamar itu. Namun, belum sempat ia keluar Ben telah terlebuh dahulu menarik tubuh rampingnya dari arah belakang dan membawanya kembali masuk.


Arumi terus meronta. Ia menggarahkan sikutnya ke perut Ben dan membuat pria itu meringis untuk sesaat, tapi tidak sampai melepaskan dekapannya. Ben justru memegangi tubuh Arumi dengan semakin erat.


Ben mengempaskan tubuh Arumi ke atas ranjang. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan gadis itu dengan kuat dan membuat Arumi tidak mampu untuk melawan lagi. Ben juga menahan kaki Arumi hingga gadis itu tak berkutik.


“Kenapa kau sangat liar, Arumi?” ucap Ben dengan suaranya yang terdengar begitu dalam. Helaan napas pria itu terus memburu. Ia tampak terengah-engah dengan wajah yang seakan tengah menahan gejolak rasa yang sedang dilawannya.


“Aku sengaja menyiapkan kamar ini untukmu, meskipun aku tidak yakin apakah bisa membawamu kemari atau tidak. Lihatlah! Aku mengisi seluruh ruangan ini dengan wajahmu,” Ben terus menatap Arumi dengan tatapannya yang sangat aneh.


“I hate you!” balas Arumi pelan. “Aku tidak akan pernah memaafkan semua yang telah kamu lakukan saat ini padaku,” ucap Arumi lagi. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke samping.


Perlahan Ben bangkit dan berdiri sambil terus menatap Arumi yang masih telentang di atas tempat tidur. Perasaan pria itu tidak menentu. Ini semua terjadi di luar rencananya.


“Aku pastikan sebentar lagi Edgar akan menyerahkanmu padaku dengan sukarela. Jika hal itu sudah terjadi, maka jangan harap kau bisa lepas dari pelukanku, Arumi!” Setelah berkata seperti itu, Ben lalu melangkah keluar dari kamar itu.


Arumi segera bangkit dan berlari ke arah pintu. Namun, sayang sekali karena ia terlambat. Pintu itu sudah tertutup rapat dan terkunci dari luar.


Arumi kembali menggedor pintu kamar itu dengan keras. “Ben, keluarkan aku dari sini! Biarkan aku pergi!” teriak Arumi dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, tidak ada jawaban sedikitpun. Tampaknya Ben pergi dari rumah itu, karena tidak berselang lama terdengar suara mobilnya yang semakin menjauh dari sana.


Arumi bersandar pada pintu itu. Sekuat apapun ia melawan, ia tetaplah seorang wanita yang pada akhirnya hanya bisa pasrah dan menangis.


Perlahan tubuhnya ambruk ke lantai.


“Ed ... cepat bawa aku pergi dari sini!” rintih Arumi. Ia berharap semoga semua rintihan pilunya bisa sampai kepada Edgar.


Sementara Edgar terus berusaha untuk menemukan Arumi. Ia datang ke perusahaan dan memanggil sopir yang seharusnya menjemput dirinya dan Arumi.


"Waktu itu saya akan berangkat, Tuan. Namun, tiba-tiba tuan Petit mengatakan jika saya harus pergi mengambil beberapa berkas penting dari kantor cabang. Saya mengatakan jika saya akan menjemput Anda ke bandara. Tuan Petit mengatakan jika ia akan menyuruh sopir yang lain. Seperti itu kejadiannya, Tuan," papar si sopir.


Edgar terdiam dan berpikir. Petit? Pantaskah ia mencurigai pria itu? Tidak ada salahnya untuk meminta penjelasan darinya.


Sementara Keanu dan keluarga kecilnya telah tiba di Paris. Rencananya ia akan menginap di kediaman milik Edgar.