
Arumi membetulkan posisi berdirinya. Ia menatap lekat wanita berambut pirang itu. Carmen terlihat menyimpan suatu keresahan yang sangat besar dalam raut wajahnya.
Wanita paruh baya itu memerhatikan Arumi dengan tatapannya yang penuh dengan rasa penasaran. Entah apa yang tengah ia pikirkan tentang gadis itu, yang pasti Arumi tidak dapat menerkanya sama sekali.
Carmen belum juga memulai apa yang ingin ia bicarakan dengan Arumi, meskipun sejak tadi gadis itu sudah menunggunya. Ia seakan tengah berpikir terlebih dahulu.
“Ada apa, Bibi? Apa yang ingin Bibi bicarakan denganku?” nada bicara Arumi terdengar penuh tantangan kepada wanita berambut pendek itu. Begitu juga dengan tatapan matanya yang lurus tertuju kepada wanita yang telah dianggap sebagai ibu oleh Edgar.
Carmen tersenyum kecil. Ia merasa resah, tetapi terlihat dengan jelas jika ia sedang mengatasi keresahannya itu. Beberapa kali wanita itu mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya dengan perlahan.
“Kau tahu, Arum? Aku sudah merawat Edgar sejak kecil. Sejak tuan Guzman membawa anak itu ke rumahnya,” Carmen memulai ceritanya.
“Ya, aku sudah mengetahui cerita itu. Edgar sudah menceritakan semuanya padaku,” sahut Arumi dengan penuh percaya diri. “Aku harap Bibi menyuguhkan cerita yang baru untukku,” lanjut gadis itu. Nada bicaranya terdengan sangat meyakinkan. Sejujurnya jika nada bicara Arumi saat itu, telah berhasil membuat Carmen semakin resah. Benar apa yang telah dikatakan Edgar tentang Arumi selama ini. Gadis itu memang terkesan sangat keras, meskipun ia terlihat manis dan lembut.
Wanita paruh baya itu kembali mengela napas dalam-dalam. “Aku sangat menyayangi Edgar. Dari pertama aku melihat anak itu, ia begitu tampan meskipun saat itu penampilannya sangat lusuh. Entah berapa lama ia tidak membersihkan dirinya,” tutur Carmen dengan penuh haru.
“Aku masih ingat dengan jelas. Hari itu, ia makan roti banyak sekali. Ia terlihat begitu kelaparan, tapi ... ya sudahlah! Aku tidak ingin mengingat hal itu lagi,” ucap Carmen lagi seraya menyeka sudut matanya.
Arumi masih menunggu ke mana arah pembicaraan Carmen sebenarnya. Ia masih belum dapat menerka apa yang ingin wanita berambut pirang itu bicarakan dengan dirinya.
“Hingga Edgar tumbuh dewasa, aku selalu berada di dekatnya. Ia sudah seperti putraku sendiri. Ia adalah malaikat kecil yang tidak pernah kumiliki dalam hidupku,” Carmen melanjutkan kata-katanya yang menurut Arumi teramat bertele-tele. Sejujurnya jika gadis itu sudah mulai bosan menunggu inti dari pembicraan mereka.
“Apa yang sebenarnya ingin Bibi sampaikan padaku? Edgar sudah bercerita banyak tentang hubungan kalian, dan aku sama sekali tidak ada masalah dengan hal itu. Aku senang dan sangat berterima kasih karena Bibi sudah bersikap dengan sangat baik kepada Edgar. Lalu apa yang mengusik ketenangan Bibi?”
Carmen menatap Arumi dengan matanya yang penuh haru. Sesaat kemudian, ia kembali berbicara, “Edgar tidak pernah bercerita tentang siapapun kepadaku. Ia tidak pernah bicara tentang gadis manapun selain dirimu, Arum. Ia begitu resah dan terkadang merasa putus asa ketika kau terus menolak dan bahkan menghindarinya. Edgar mungkin terlihat sangat tegar dan selalu terlihat tenang saat di depanmu, tapi aku tahu seperti apa dirinya ketika berada jauh darimu,” terang Carmen.
Arumi menggaruk keningnya dengan perlahan. Ia merasa tidak nyaman dengan pembahasan itu. Menurutnya Carmen tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan pribadinya, meskipun wanita itu merasa jika dirinya adalah orang terdekat Edgar selama ini. Namun, Arumi merasa bingung bagaimana caranya untuk menyampaikan kepada wanita itu tanpa membuatnya tersinggung.
“Begini, Bibi. Harus ku akui jika dulu aku memang sering mengabaikan Edgar, tapi itu ... aku rasa Edgar dapat memahami hal itu. Ia mengerti posisiku dan juga perasaanku. Sejujurnya jika aku tidak ingin membahas hal itu lagi, karena kenyataannya sekarang aku dan Edgar akan segera menikah. Sebentar lagi kami kami akan menjalani hidup bersama dan ....”
“Apa kau benar-benar mencintai Edgar, Arum? Apa kau yakin dengan pernikahan ini?” sela Carmen membuat Arumi semakin tidak mengerti. Gadis itu lagi-lagi mengernyitkan keningnya.
Carmen menggeleng dengan begitu yakin. Ia membantah tudingan yang ditujukan Arumi kepada dirinya. Carmen sama sekali tidak bermaksud seperti itu. “Tidak seperti itu, Arum! Aku menjadi orang pertama yang bahagia karena melihat kebagahagiaan yang Edgar tunjukan atas kedekatan kalian selama ini. Aku hanya mencemaskan sesuatu,” Carmen menyanggah pemikiran buruk Arumi tentang dirinya.
“Lalu apa yang Bibi takutkan?”
“Kau Arum,” jawab Carmen membuat Arumi tersenyum kelu.
“Me? Apa yang salah denganku?”
Carmen tidak segera menjawab. Wanita itu tampak gelisah. Sikap dan kata-katanya yang aneh telah membuat kesabaran Arumi semakin diuji. Gadis itu sudah berkali mengempaskan keluhan-keluhan pendeknya.
Arumi terus mencoba untuk memahami makna dari keresahan wanita paruh baya itu. Ia terus menggali setiap keresahan yang ditunjukan oleh bahasa tubuh Carmen di hadapannya.
Beberapa saat memerhatikan Carmen, akhirnya Arumi mulai dapat mulai dapat menemukan setitik pencerahan. Ia sepertinya dapat menangkap kecemasan yang tidak mampu untuk diungkapkan oleh wanita yang telah mengurus Edgar sejak kecil itu.
“Bibi, dengarkan aku!” Arumi kembali membuka percakapan di antara mereka. Kali ini, nada bicara gadis itu terdengar jauh lebih lembut. Arumi sudah dapat memahami semuanya.
“Bibi, aku paham dengan maksud Bibi. Aku memang pernah mengabaikan dan bahkan menolak Edgar dalam hidupku, tapi itu dulu. Itu terjadi ketika aku masih memfokuskan diriku kepada pria yang lain selain Edgar. Namun, seiring berjalannya waktu itu semua berubah. Aku menyadari perasaanku dan aku mulai menemukan jalanku lagi untuk kembali kepadanya. Aku mulai menemukan perasaan itu, perasaan yang memang pernah aku berikan untuk Edgar dulu. Intinya ... intinya saat ini aku ... aku sangat mencintai Edgar, karena itulah aku berani mengambil keputusan ini. Jika Bibi merasa tidak yakin kepadaku, maka itu hak Bibi dan aku tidak dapat memaksa Bibi untuk dapat memercayaiku. Namun, aku hanya bisa menegaskan satu hal, aku mencintai Edgar. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya. Aku berharap dapat menjalani setiap detik dalam hari-hariku dengan berada di dekatnya,” jelas Arumi. Gadis itu kemudian terdiam untuk sejenak.
“Aku berjanji padamu, jika aku pasti akan selalu menemani dan merawat Edgar-mu dengan sebaik-baiknya. Aku bahkan tidak akan membiarkan angin untuk mengacak-acak rambutnya. Aku tidak akan membiarkan hujan menetes di atas tubuhnya dan membuatnya kedinginan. Rasa kasihmu pada Edgar mungkin teramat besar, mungkin beberapa kali lipat jauh lebih besar jika dibandingkan dengan diriku. Namun, Edgar tidak akan pernah mendapatkan cinta yang ia butuhkan dari gadis manapun selain dari diriku. Aku dapat memastikan hal itu, dan mulai saat ini ... mulai saat ini Bibi tidak perlu mencemaskan hal itu lagi, karena aku ... aku akan selalu mencintai Edgar-mu,” papar Arumi dengan panjang lebar.
Carmen tersenyum mendengar hal itu. Bulir-bulir bening mulai menghiasi sudut mata tuanya. Wajah keibuan yang terlukis di sana, memang menyiratkan banyak harapan. Ia tentu saja menginginkan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya untuk Edgar.
Carmen sangat mengetahui jika kebahagiaan Edgar adalah Arumi. Karena itu, ia perlu meyakinkan dirinya bahwa Arumi memanglah yang terbaik dan sangat layak bersanding dengan Edgar.
Edgar adalah pria terbaik di mata Carmen. Ia mewarisi sesuatu dari Joacquin Guzman, meskipun pria itu bukanlah ayah kandungnya. Akan tetapi, kharisma yang dimiliki pria itu terpancar dengan sangat jelas dalam diri seorang Edgar Hillaire.
Hal itulah yang membuat Carmen begitu menyayangi Edgar selama ini. Ia rela melakukan apapun demi seseorang yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri, dan tentu saja hal itu ia lakukan demi memenuhi janjinya kepada mendiang Joacquin yang juga sangat menyayangi Edgar. Perbincangannya dengan Arumi malam itu, telah membuat Carmen merasa yakin.