
Arumi terus memerhatikan pria yang berdiri sambil membelakanginya, meski hanya melalui celah sempit lemari. Pria bertubuh tegap dan seperti sudah tidak asing baginya. Sementara pria berambut ikal tadi segera membukakan pintu yang Arumi kunci dari luar.
“Kenapa kau bisa terkunci di dalam?” Tanya si rambut ikal pada rekannya dengan aneh.
Pria itu akhirnya menceritakan semua yang telah terjadi hingga ia bisa terkunci di dalam kamar itu. Si rambut ikal terlihat resah. Itu adalah sebuah berita buruk baginya, karena ia akan kehilangan bayarannya dari pria yang ia panggil dengan sebutan tuan bertubuh kurus.
“Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak pernah memerintahkan kalian untuk menculik seorang gadis!” bentak pria bertubuh tegap itu.
Arumi tertegun. Ia mengenal suara itu. Jelas sudah, ia kini benar-benar yakin siapa pria bertubuh tegap itu.
Entah memiliki keberanian dari mana, Arumi membuka pintu lemari dan melangkah keluar. Dengan cepat ia menarik lengan pria itu hingga berbalik. Sebuah tamparan keras pun mendarat dengan sempurna di pipi sebelah kiri si pria.
Terkejut setengah mati, itulah ekspresi yang ditunjukan pria itu. “Arumi ....” ucapnya pelan.
Arumi menatap tajam pria yang tidak lain adalah Benjamin Beaufort alias Ben. Sementara Ben terlihat salah tingkah. “Sedang apa kau di sini, Arum?” tanyanya.
“Tanyakan pada anak buahmu yang bodoh itu apa saja yang telah mereka lakukan padaku dan Edgar! Aku sama sekali tidak menyangka jika kamu adalah otak dari semua ini! Padahal aku sudah membelamu di depan Edgar, tapi ternyata aku salah! Kamu benar-benar pria brengsek, Ben!” Arumi tampak sangat kecewa. Ia merasa ditipu mentah-mentah oleh Ben.
Ben melirik kedua pria yang merupakan anak buahnya. Ia memberi isyarat agar mereka meninggalkannya dan Arumi berdua saja. Kedua anak buah Ben segera mengangguk dan pergi dari sana.
“Arum, dengarkan aku! Aku tidak tahu jika mereka menyekapmu di sini,” ucap Ben. Ia mencoba untuk menjelaskan kekeliruan itu kepada Arumi.
“Jangan katakan apapun padaku! Aku tidak membutuhkan penjelasan darimu, Brengsek!” tolak Arumi. Entah berapa ribu kali ia mengucapkan kata-kata makian, selama dirinya berada di tempat yang ia sebut dengan nama ‘Kandang Babi’.
Arumi terlihat sangat marah. Sedangkan Ben tampak sedikit kebingungan. Akan tetapi, Ben dapat menguasai dirinya dengan cepat. ”Ini bukan rencanaku, Arum! Aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Aku baru tiba dari Marseille!” jelas Ben.
“Aku tidak peduli! Aku hanya ingin pulang dan melihat keadaan Edgar. Semoga ia baik-baik saja,” resah Arumi. Ia kemudian membalikan badannya dan bermaksud untuk pergi. Namun, dengan segera Ben meraih tangannya dan memeganginya dengan erat. Arumi menoleh dengan tatapannya yang masih terlihat sangat tajam.
“Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor itu!” sergah Arumi. Ia berusaha untuk menepiskan tangan Ben.
“Tidak sebelum kau mendengarkan penjelasanku!” tolak Ben.
“Kenapa kamu harus menjelaskan sesuatu padaku? Aku tidak peduli dengan apapun yang akan kamu katakan! Biarkan aku pulang dan aku membiarkanmu hidup dengan tenang seperti biasa! Kamu tahu kenapa? Karena aku yakin, jika saat ini Edgar dan kakak-ku pasti sedang mencariku. Kamu tidak tahu seperti apa kakakku, dan kamu juga tidak melihat seberapa tangguhnya Edgar meskipun ia hanya seorang diri!” tegas Arumi dengan penuh kemarahan.
Saat itu, kembali terdengar seseorang menggedor pintu kamar sebelah yang masih tertutup rapat. Seketika pandangan Arumi tertuju pada kamar itu.
Sesaat kemudian, Arumi kembali mengarahkan pandangannya kepada Ben. “Jadi, inikah pekerjaanmu yang sebenarnya? Kamu menculik dan menyekap orang di sini?” Gadis itu menunjukan wajah tidak percaya.
Di mata Arumi, Ben adalah pria yang baik dan sopan, meskipun mereka belum terlalu lama saling mengenal. Namun, kesan baik itu terpancar dengan jelas dan membuat Arumi menjadi lebih respect kapada pria itu. Akan tetapi, kini semuanya menguap dengan seketika saat Arumi melihat Ben ada di sana dan merupakan bagian dari para penjahat yang telah menculik dan menyekapnya..
“Siapa lagi yang kamu kurung di dalam kamar itu? Apa kamu adalah anggota sindikat penjualan gadis? Oh my God, you’re so disgusting! Biarkan aku pergi dari sini!” Arumi kembali membalikan badannya dan dan berniat untuk pergi sebelum akhirnya ia kembali tertegun saat mendengar seseorang yang memanggil namanya.
“Nona Arumi, ini saya Henry! Saya tangan kanan tuan Hillaire!”
Arumi menatap lekat kepada Ben. Sorot matanya dipenuhi dengan kebencian yang sangat besar. ”Kamu benar-benar keterlaluan, Ben!” sentak Arumi lagi.
“Lepaskan dia, Ben!” suruh Arumi.
“Kenapa aku harus menuruti perintahmu? Bukan kau bosnya di sini, Arumi. I’m the bos!” ujar Ben dengan tenangnya.
Secepat kilat ia meraih tangan Arumi dan menuntunnya pergi dari tempat itu. Ia memaksa Arumi untuk ikut dengannya meskipun gadis itu terus menolak. Sementara pria berambut ikal dan rekan-rekannya yang merupakan anak buah Ben, hanya terdiam melihat hal itu.
“Tuan! Apa yang harus kami katakan kepada tuan bertubuh kurus jika Anda membawa gadis ini pergi?” tanya pria berambut ikal itu dengan gelisah. Sepertinya ia merupakan ketua dari rekan-rekannya yang lain.
Ben tertegun dan menoleh. Akan tetapi, ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari Arumi. “Siapa yang kalian maksud? Aku akan minta penjelasan pada kalian setelah aku mengurus gadis ini,” sahut Ben dengan dingin. Setelah itu, ia kembali melanjutkan langkahnya.
Sementara Arumi terus berusaha melepaskan genggaman tangan Ben. Ia tak henti-hentinya mengeluarkan umpatan kepada pria itu.
Arumi dipaksa untuk masuk ke dalam mobil SUV milik Ben. Ia bahkan masuk melalui pintu sopir. “Pasang sabuk pengamanmu, Arumi!” titah Ben karena ia melihat Arumi hanya duduk terdiam dengan wajah tidak bersahabat.
Arumi tidak menanggapi ucapan Ben. Gadis itu hanya memalingkan wajahnya.
Dengan segera, Ben memasangkan sabuk pengaman untuk Arumi. “Kamu cantik tapi sangat keras kepala!” keluh Ben seraya menyalakan mesin mobilnya. Setelah itu, ia menjalankan mobilnya dan membawa Arumi pergi dari tempat itu.
Entah ke mana Ben akan membawa Arumi. Saat itu, mobil yang ditumpanginya memasuki sebuah rumah musim panas yang terbilang cukup mewah.
Ben kemudian mengajak Arumi untuk turun, meskipun gadis itu menolaknya. Namun, Ben terus memaksanya. Ia tidak melepaskan tangan Arumi sedetikpun. Ia juga tidak memedulikan Arumi yang terus memukuli lengannya.
“Silakan pilih, kau ingin di sini atau kukembalikan ke tempat tadi?” ujar Ben.
“Aku ingi pulang ke rumah Edgar!” tegas Arumi ketika mereka sudah berada di dalam rumah itu. Ben pun melepaskan genggaman tangannya. Ia menunjukkan ruangan indah rumahnya, berikut dengan kolam renang yang berada di bagian samping rumah yang cukup luas.
“Bukankah kau sangat suka berenang, Arumi? Kau bisa berenang dengan sesuka hatimu di sini, dan aku pasti akan sangat menyukainya saat melihatmu berenang di sini,” ucap Ben membuat Arumi mengernyitkan keningnya.
“Jadi ... kamu yang telah melemparkan batu itu ke paviliun yang aku tempati di resort!” tuding Arumi. Sorot kebencian itu semakin terlihat dengan jelas.
Ben tertawa pelan. Sesaat kemudian, ia lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Untuk apa? Tidak ada gunanya bagiku,” bantahnya dengan tenang.
“Apa kamu juga yang sudah memotretku dengan diam-diam?” tuduh Arumi lagi.
“Ya, itu aku,” jawab Ben masih dengan ekspresi yang sama. “Aku suka memotretmu, Arumi. Aku sudah melakukannya sejak lama,” terang Ben. Ucapannya telah berhasil membuat Arumi kembali mengernyitkan keningnya.
“Apa maksudmu?”
Ben kembali meraih tangan Arumi. Ia lalu mengajak gadis itu menuju ke ruangan lain dari rumahnya. Sebuah kamar yang telah membuat Arumi terbelalak karena tidak percaya. Seluruh kamar itu dihiasi oleh wajahnya. Arumi melihat dirinya ada di mana-mana.
Perlahan Arumi mendekati dinding yang dipenuhi oleh fotonya. Ada banyak sekali foto dirinya ketika ia masih berstatus mahasisiwi di Paris. Itu sudah lama sekali.
“Siapa kamu sebenarnya?” selidik Arumi. Ia mulai penasaran dengan pria itu.