
Edgar menoleh kepada Arumi seraya mengernyitkan keningnya. Sementara Keanu hanya mengulum senyumnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa.
"Daddy! Tante Arum kemarin marah saat berbicara di telepon denganku," ucap Dinan lagi.
"Kenapa?" Tanya Keanu. Perasaannya kian tidak enak. Ia tahu jika Dinan suka berbicara apa adanya, dan kadang menirukan ucapan orang dewasa meskipun itu merupakan sesuatu yang belum ia pahami.
"Tante Arum sedang berbicara, tiba-tiba ada lalat hinggap di pipinya ...." tutur Dinan.
"Lalu?" Keanu mulai tertarik dengan cerita anak itu.
"Lalu ... tante Arum menepuk lalat itu. Dia bilang, 'Dasar Edgar!' Ayah tahu Edgar itu apa?" Tanya Dinan dengan polosnya.
Seketika Edgar mengalihkan pandangannya kepada Dinan. Ia begitu terperangah mendengar cerita dari anak itu. Sementara Keanu terus berusaha untuk menahan tawanya.
"Sayang!" Keanu memanggil Puspa. "Sebaiknya kamu ajak Dinan untuk mandi! Dia sangat bau," seru Keanu lagi.
"Seperti Edgar?" Tanya Dinan lagi. "Tante Arum juga bilang jika Edgar itu bau ...." celoteh Dinan lagi, membuat Edgar semakin terperangah dan tidak dapat berkata apa-apa. Sementara Keanu rasanya sudah tahan untuk segera tertawa terbahak-bahak.
"Dinan! Kamu terlalu banyak bicara!" Sergah Puspa. Untuk menghindari agar anak itu tidak semakin ngelantur lebih jauh lagi, Puspa segera menggendong dan membawanya pergi dari ruang tamu. Sementara Edgar hanya mengusap keningnya beberapa kali.
"Maafkan dia, Ed," ucap Keanu. Ia sungguh merasa tidak enak kepada Edgar.
Di luar dugaan, Edgar justru tertawa melihat keresahan Keanu. Ia dapat memahami sikap Dinan dan tidak harus menganggapnya sebagai sesuatu yang serius.
"Tenang saja! Aku tahan banting," ujar Edgar dalam bahasa Perancis. Keanu pun tertawa dan merasa lega, setidaknya ia merasa sedikit tenang meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap Arumi setelah ini.
Hari terus merayap meninggalkan suasana terangnya. Kini senja menjelang dengan langit yang sudah mulai mendung. Sepertinya hujan deras akan kembali turun malam ini.
Edgar sudah memberikan hadiah kecilnya kepada Puspa. Ia juga memutuskan untuk ikut makan malam di sana.
Ada banyak obrolan menarik di meja makan antara Edgar dan Keanu. Mereka terlihat asyik membahas masalah pekerjaan, perusahaan, dan sebagainya. Topik yang sangat membosankan bagi Arumi dan Puspa.
Beberapa saat berlalu, acara makan malam pun usai. Setelah melanjutkan perbincangan sejenak di ruang keluarga, Edgar memutuskan untuk berpamitan. Ia mengisyaratkan agar Arumi mengantarnya keluar. Dengan terpaksa Arumi menyetujuinya.
"Jadi ... aku ini mirip tikus hitam?" Sindir Edgar membuat Arumi tertegun.
"Maksudmu?" Tanya Arumi. Ia berpura-pura tidak mengerti.
"Ah ... selain itu, aku juga seperti lalat dan bau," ujar Edgar lagi membuat Arumi segera memalingkan wajahnya.
"Awas ya, Dinan!" Gumam Arumi dalam hati dengan gemasnya.
Sepeninggal Edgar, Arumi segera masuk. Dia harus membuat perhitungan dengan keponakan kecilnya, tapi sayang sekali karena Dinan sudah tertidur dengan nyenyak. Arumi jusru berpapasan dengan Keanu. Pria itupun mengajaknya untuk berbincang santai di ruang kerjanya.
"Aku sudah memutuskan untuk pulang, Kak. Sudah terlalu lama aku bersemedi di toko sendirian," ucap Arumi seraya duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat duduk Keanu.
"Baguslah," sahut Keanu. "Lagi pula kami sangat merindukanmu di rumah ini. Kamarmu sudah terlalu lama dibiarkan kosong. Mobilmu juga jarang sekali dipakai. Aku hanya memakainya sesekali. Saat hanya akan mengeceknya ke bengkel," ucap Keanu dengan kalemnya.
"Ah ... kenapa tidak kamu bawa mobilmu ke bengkel dan melakukan pengecekan berkala," saran Keanu. "Aku biasa mengeceknya di bengkel Moedya," lanjut pria itu lagi dengan senyum yang penuh misteri.
Arumi hanya mengernyitkan keningnya. Ia menatap sang kakak dengan penuh curiga. Entah rencana apa yang sedang dipersiapkan oleh pria itu untuknyamb
"Apakah di kota ini tidak ada bengkel lain?" Arumi mengikuti Keanu yang beranjak menuju lemari berisi ratusan koleksi buku miliknya, dengan tatapannya. Pria berambut cepak itu kemudian mengambil salah satu buku dan kembali duduk di sofa. Keanu meletakan kaki kanannya di atas paha kirinya. Ia mulai membuka buku yang tadi ia bawa.
Arumi mengeluh pelan. Ia kemudian beranjak dari duduknya. Ia tahu, jika Keanu sudah berhadapan dengan buku, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengganggunya. Keanu merupakan duplikat resmi dari Adrian.
"Aku ke kamarku dulu. Selamat malam," Arumi berlalu keluar dari ruang kerja sang kakak tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Ia lalu menuju dapur untuk membuat segelas susu. Ternyata di sana ada Puspa. Ia sedang memeriksa isi kulkas.
"Kakak!" Sapa Arumi yang telah berhasil mengejutkan ibu dua anak itu. Puspa seketika berdiri dan memegangi dadanya.
"Arum! Kamu mengejutkanku!"
Arumi tertawa geli. Ia kemudian mengambil gelas dan mulai menyeduh susu vanilla kesukaannya.
"Jenna sudah tidur?" Tanya Arumi dengan segelas susu di tangannya.
"Dia sudah kenyang minum ASI. Semoga saja malam ini dia tidak mengajakku begadang," sahut Puspa seraya menutup pintu kulkas berukuran besar itu.
"Pasti melelahkan harus merawat dua anak kecil. Kenapa Kakak tidak mencari baby sitter saja?" Tanya Arumi setelah meneguk habis susu di dalam gelas yang ia pegang.
Menanggapi hal itu, Puspa hanya tertawa pelan. Ia kemudian berdiri di sebelah Arumi dan menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja berlapis marmer di dalam dapur itu.
"Aku ingin menikmati tugasku sebagai seorang istri dan juga sebagai seorang ibu. Meskipun terkadang sangat kewalahan, tapi aku rasa ... semua ibu rumah tangga mengalami hal seperti itu. Aku bukan satu-satunya ibu yang kerepotan saat menghadapi anak super aktif seperti Dinan," jelas Puspa. Ia terdengar semakin dewasa setelah menikah dengan Keanu dan menjadi seorang ibu.
"Ya, tentu saja! Selama Kakak masih dapat menikmati hal itu ...."
"Aku pernah menjalani kehidupan yang sangat tidak kunikmati, Arum. Kamu tahu sendiri hal itu," sela Puspa. Untuk sesaat, mereka berdua saling membisu dan larut dalam pikiran masing-masing. Namun tidak lama kenudian, Puspa kembali membuka pembicaraan di antara mereka berdua.
"Aku senang karena akhirnya kamu memutuskan untuk pulang. Aku harap kamu juga dapat kembali menjadi Arumi yang dulu. Arumi yang penuh semangat dan ceria. Kamu memiliki senyuman yang indah, Arum. Jadi ... kenapa harus disembunyikan?"
"Aku masih merasa jika saat ini ... aku ... aku sedang berdiri diambang pintu kebimbangan. Aku tidak tahu harus bagaimana?" Sahut Arumi pelan.
Puspa melirik adik iparnya. Ia menatap lekat gadis itu. "Apakah itu tentang Moedya?" Selidik Puspa.
Arumi terdiam. Ia terlihat memikirkan sesuatu. Arumi kemudian melipat kedua tangannya di dada.
"Ada banyak hal yang telah berubah, dan secara tidak langsung hal itu ikut memengaruhiku. Aku melihatnya, Kak. Beberapa kali kami bertemu. Akan tetapi ... Moedya bersikap sangat lain padaku," sesal Arumi pelan.
"Aku merasakan kecanggungan yang sangat besar di antara kami berdua. Dia begitu jauh dari jangkauanku. Dia seakan membangun tembok pembatas yang sangat tinggi untuk kami berdua, dan aku tidak mampu untuk melewatinya," tutur Arumi lagi dengan semakin lirih.
Puspa tersenyum kecil. Ia lalu meraih tangan Arumi dan memeganginya, membuat Arumi dapat merasakan lagi kehangatan tangan dari seorang ibu.
"Kamu masih menginginkannya untuk kembali, Arum?" Tanya Puspa.
Arumi hanya tertunduk lesu.
"Jika kamu masih menginginkannya ... maka bawa dia kembali! Aku rasa bukan hal yang sulit bagi seorang Arumi untuk melakukan hal itu. Kamu adalah perpaduan dari ibu Ryanthi dan juga ibu Ranum. Mereka berdua wanita yang luar biasa. Jadi kenapa kamu harus menjadi seperti ini?" Puspa membalikan badannya sehingga kini jadi menghadap kepada Arumi. Ia lalu memegangi tangan Arumi dengan hangat dan penuh semangat.
"Ini bukan Arumi yang kukenal. Aku harap ... mulai hari ini, kamu dapat mengembalikan dirimu yang dulu dan lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan dari semenjak tiga tahun yang lalu!"
"Aku tidak yakin, Kakak," bantah Arumi.
"Yakinkan dirimu dan lakukan! Buatlah semuanya menjadi jelas! Setelah kamu mengetahui yang sebenarnya ... aku yakin ini akan terasa jauh lebih mudah untukmu!" Ucap Puspa lagi. Ia tengah berusaha untuk memberikan suntikan semangat kepada Arumi.