Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Rokok dan Cerutu


“Ya, akuilah hal itu! Arumi memang ditakdirkan untukku, meskipun ia pernah terlepas dariku untuk waktu yang cukup lama. Namun, kini ia telah berada di dalam genggamanku lagi, dan lusa aku akan membawanya ke Perancis. Aku pastikan jika kamu tidak akan bisa melihat wajah cantiknya untuk waktu yang sangat lama, karena aku akan membuatnya merasa sangat nyaman di sana. Itu janjiku pada diriku sendiri, tapi kini kuutarakan kepadamu. Aku hanya ingin kamu tahu, jika Arumi pasti akan aman bersamaku. Aku akan menjadikannya seperti seorang ratu,” tutur Edgar dengan penuh percaya diri.


Moedya mengepulkan asap rokok yang baru disulutnya. Ia kemudian meneguk kopinya. “Aku akan segera menikah dengan Diana,” ucapnya seraya tertawa getir. “Sudahlah! Aku yakin kamu tidak akan tertarik dengan hal itu. Aku hanya sedang berusaha untuk melepaskan perasaanku terhadap Arumi dan mulai menerima Diana, jadi kamu tidak perlu khawatir akan hal itu. Lagi pula, Arumi sudah menjadi istrimu, dan aku tidak ingin membuat diriku berada dalam masalah,” lanjutnya.


Edgar tersenyum simpul. Ia lalu meneguk kopinya. “Itu bukan urusanku. Selama kamu menjauhkan dirimu dari Arumi, maka itu sudah jauh lebih dari cukup bagiku. Aku harap semoga kamu merasa nyaman dengan Diana. Ia juga cantik dan seksi, aku rasa itu sudah cukup memenuhi syarat bagimu,” ucapnya dengan tawa puas.


Moedya ikut tertawa. Sambil sesekali mengepulkan asap rokoknya, pria yang kini terlihat nyaman dengan rambut pendeknya itu kembali bicara, “Jangan sok tahu! Kamu tidak mengenalku dan tidak tahu wanita seperti apa yang menjadi incaranku,” balasnya.


“Brengsek!” ucap Edgar dengan senyum sinis, seraya meneguk kopinya. “Aku menyesal karena tidak sempat memukul wajahmu, tapi itu tidak menjadi masalah lagi sekarang. Arumi selalu bersikap manis padaku, dia bahkan begitu hangat,” Edgar meletakan tangan kirinya di atas meja dan menjadikan siku sebagai tumpuannya. Ia lalu memainkan jemari pada permukaan bibirnya.


“Pagi ini, Arumi memintaku untuk memilihkan pakaian dalam untuknya,” Edgar tersenyum puas seraya melayangkan tatapannya kepada Moedya, yang terlihat tidak nyaman dengan apa yang Edgar katakan.


“Aku tidak peduli hal itu, karena yang pasti Arumi pertama kali mend•esah di dalam pelukanku,” balas Moedya dengan tenangnya.


Edgar terdiam untuk sejenak. Tidak berselang lama, pria itu tersenyum simpul. Harus Edgar akui jika dirinya menyesalkan hal itu. Namun, kini ia tidak harus merasakan hal itu lagi. Arumi telah menjadi miliknya, itu yang terpenting dari segalanya. Ia tidak peduli dengan siapa Arumi meneteskan darah pertamanya, karena kenyataannya kini Arumi menghabiskan banyak rintihan manja bersama dirinya. Mungkin saja, Moedya merasa bangga karena menjadi pria pertama bagi Arumi. Akan tetapi, Edgar jauh lebih bangga karena menjadi pilihan terakhir bagi wanita cantik itu.


"Jaga mulutmu! Yang sedang kamu bicarakan adalah istriku. Jangan sampai aku mewujudkan keinginanku untuk memukul wajahmu," sergah Edgar seraya kembali meneguk kopinya.


Sebelum mereka kembali melanjutkan perbincangan itu, sebuah panggilan masuk ke ponsel milik Edgar dan Moedya secara bersamaan. Keduanya serempak memeriksa ponsel masing-masing.


Ternyata itu adalah panggilan dari Arumi dan Diana. Mereka menanyakan keberadaan kedua pria itu. Bagaimanapun juga, Arumi atau Diana merasa khawatir, jika Edgar dan Moedya akan bersikap seperti remaja yang masih labil.


Selang beberapa saat, Arumi dan Diana telah bergabung dengan kedua pria itu. Arumi merasa senang karena melihat keduanya dapat duduk dalam satu meja, dengan rokok dan kopi yang menemani mereka berdua. Itu artinya, Edgar dan Moedya sudah mulai rujuk dan mengakhiri rasa saling membenci di antara mereka berdua.


“Aku harap aku dan Diana tidak mengganggu obrolan seru kalian berdua,” ucap Arumi dengan rona bahagia di wajah cantiknya. Sementara itu, Edgar dan Moedya saling pandang untuk sesaat.


“Tentu saja tidak, Sayang,” jawab Edgar dengan tatapan penuh cinta yang ia layangkan kepada sang istri.


“Tidak ada yang penting, hanya seputar dunia lelaki. Begitu kan, Ed?” Moedya menatap Edgar untuk sesaat. Tatap matanya menyiratkan sesuatu.


Edgar tertawa pelan. “Ya. Kami ... sedang membahas ... perbedaan antara rokok dan cerutu. Iya kan, Moe?” sahut Edgar dengan ekspresi wajah yang tampak mencurigakan, membuat perasaan Arumi menjadi tidak menentu.


Diliriknya Moedya yang saat itu berkali-kali menggaruk keningnya. Arumi tahu hal itu kerap Moedya lakukan jika ia tengah merasa gelisah.


Setelah itu, Arumi kemudian mengalihkan pandangannya kepada sang suami. Edgar pun terlihat sama saja. Ekspresi wajahnya tampak sama mencurigakannya seperti Moedya. Namun, Arumi mencoba untuk menyingkirkan perasaan anehnya. Ia tidak ingin merusak moment langka itu. Akan tetapi, hingga mereka memutuskan untuk pulang, rasa penasaran itu masih tetap ada di pikiran Arumi.


“Apakah semuanya baik-baik saja, Sayang?” tanya Arumi ketika mereka dalam perjalanan pulang. Rasa curiganya masih terlihat dengan jelas ia tujukan kepada sang suami, yang saat itu tengah fokus dengan kemudi di hadapannya.


“Kenapa, Sayang? Tidak ada apa-apa. Aku dan Moedya tadi berbincang-bincang selayaknya pria dewasa,” ucap Edgar tanpa menoleh kepada Arumi. Ia juga menyembunyikan tatap matanya di balik kaca mata hitam, yang membuat dirinya terlihat semakin tampan.


“Entahlah, tapi aku merasa ada sesuatu yang janggal dengan sikap kalian berdua,” bantah Arumi. Ia masih merasa penasaran.


“Kamu ingin aku membahas masalah tembakau denganmu, Sayang?” lirik Edgar dengan senyumannya yang sedikit nakal. Ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya kepada Arumi. Sama saja seperti bunuh diri, jika ia mengatakan bahwa dirinya dan Moedya telah membahas Arumi di atas ranjang.


"Ah ... brengsek!" gerutu Edgar di dalam hatinya. Edgar merasa kesal pada dirinya sendiri, karena harus terpancing oleh rasa cemburunya terhadap Moedya. Mulai saat ini, ia berjanji jika dirinya tidak akan lagi berpikir kekanak-kanakan seperti itu. Edgar kemudian menepikan mobilnya di tempat yang tidak terlalu ramai pada senja itu. Apa yang dilakukannya telah membuat Arumi menjadi heran.


“Kenapa, Sayang?” tanya Arumi seraya mengernyitkan keningnya.


Edgar melepas sabuk pengamannya. Ia kemudian mendekatkan dirinya kepada Arumi dan menciumnya dengan mesra. Arumi tersenyum manis. “Ada apa?” tanyanya pelan.


“I love you,” ucap Edgar dengan suara beratnya. “Aku ingin segera membawamu ke Perancis sebagai istriku. Aku ingin melihatmu setiap malam tidur di ranjangku. Aku ingin kamu berada di dapur rumahku, untuk menyajikan sesuatu yang enak untukku. Aku ingin melakukan banyak hal denganmu,” Edgar menggenggam jemari Arumi dan meciumnya dengan hangat.


Arumi tersenyum lembut. “Aku pasti akan ikut denganmu dan menemanimu di sana. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri dan merasa kesepian lagi,” balas Arumi dengan nada bicaranya yang lembut dan terdengar sangat meyakinkan.