Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Are You Worrying Me?


Sekitar pukul sembilan pagi, Keanu mendatangi resort miliknya. Ia langsung menuju paviliun yang ditempati sang adik untuk melihat bekas dari aksi pelemparan batu yang entah dilakukan oleh siapa dan bermaksud untuk apa.


"Kapan kejadiannya, Ed?" Tanya Keanu dengan sangat penasaran. Pasalnya sejauh ini hal, seperti itu belum pernah terjadi di resort miliknya.


"Semalam. Sekitar pukul tujuh. Aku baru mengantarkan Arumi kemari. Aku masih ada di sini saat hal itu terjadi. Akan tetapi, setelah kuperiksa ... tidak terlihat siapa pun atau hal yang mencurigakan sama sekali," terang Edgar. Sesekali ia melirik Arumi yang saat itu tengah berdiri di dekat kolam renang dengan wajah yang tidak bersahabat.


Gadis itu masih kesal kepada Edgar yang memutuskan untuk kembali ke Perancis dalam waktu dekat.


"Ini aneh. Keamanan di tempat ini sudah terjamin dan aku dapat memastikan hal itu!" Tegas Keanu dengan yakin. "Orang luar selain pengunjung yang menginap di sini, tentunya tidak memiliki akses yang leluasa untuk bisa keluar atau masuk. Kecuali ...." Keanu melirik rekan bisnisnya itu.


"Kecuali jika pelakunya adalah tamu di sini," timpal Edgar. Ia kemudian mengeluh pelan. "Apa kalian memasang CCTV di sekitar paviliun?" Tanya Edgar.


"Kami hanya memasangnya di pintu masuk. Kami tidak memasang banyak CCTV di sini, karena berhubungan dengan privasi para tamu. Aku rasa kamu bisa memahami hal itu, Ed," jelas Keanu.


Edgar mengangguk pelan. Konsentrasinya kini terpecah ke mana-mana. Edgar pun tidak dapat berpikir dengan fokus pada satu masalah saja. Selain penasaran dengan orang yang iseng melakukan hal itu, Edgar juga kini tengah merasa risau akan nasib perusahaannya.


Sebagai seseorang yang telah cukup mengenal Edgar, Keanu pastinya dapat melihat gelagat aneh yang ditunjukan oleh rekan bisnisnya itu. Ayah dua anak itu, memberanikan diri untuk bertanya. "Apa ada masalah?"


Edgar mengela napas panjang. Ia kemudian duduk di sofa berwarna biru yang segera diikuti oleh Keanu.


"Ini bukan saat yang baik untukku, Ken," jawab Edgar dengan lesu.


"Maksudmu?" Tanya Keanu tidak mengerti.


Edgar kembali mengela napas panjang. Rona kebimbangan itu terlihat jelas di wajahnya yang selalu menunjukan sikap yang ramah, dengan senyuman yang menawan khas seorang Edgar Hilaire. Akan tetapi, saat ini ia terlihat sangat kebingungan.


"Semalam asisten kepercayaanku menghubungiku. Dia memberitahukan sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak! Aku bahkan hampir tidak tidur, Ken!" Edgar terlihat tidak dalat menahan emosi dalam dirinya. Namun, sesaat kemudian ia kembali mengela napas dalam-dalam dan mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Memangnya berita seburuk apa yang kamu terima?" Selidik Keanu. Ia tahu jika Edgar adalah tipe orang yang sangat tenang. Jadi, jika ada sesuatu yang membuatnya terlihat gusar, maka itu pasti masalah yang teramat serius.


"Perusahaanku. Ada masalah besar yang tidak pernah kuduga sebelumnya," jawab Edgar masih dengan wajah dan nada bicara yang terlihat gusar.


"Oh ... ya tentu, masalah pekerjaan memang seringkali membuat kita pusing," balas Keanu.


"Ini bukan masalah kecil, Ken," ujar Edgar datar. Ia berkali-kali mengela napas panjang. "Asistenku mengatakan bahwa ada seseorang yang berhasil membobol sistem keamanan di perusahaanku. Milyaran dollar dana nasabah hilang tak berbekas di pusat data keuangan kami. Kamu pasti sudah dapat menebak bagaimana jadinya, kan? Hal seperti itu jelas akan mengahntam kestabilan perusahaan dan kredibilitas kami sebagai lembaga asuransi yang sudah sangat dipercayai masyarakat. Ini lebih dari sekadar berita buruk," tutur Edgar. Raut kegelisahan itu tampak semakin nyata di wajahnya.


Keanu manggut-manggut mendengar penuturan Edgar. Sebagai sesama pengusaha, tentu ia juga dapat merasakan keresahan itu. Ia bahkan sudah dapat membayangkan seberapa besar kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan milik Edgar saat ini.


Sesaat kemudian Edgar menatap Arumi yang masih berdiri di dekat kolam renang.


"Apa sebelumnya hal itu tidak terdeteksi sama sekali?" Keanu mengernyitkan keningnya. Ia seakan dapat menangkap sesuatu yang janggal dalam masalah yang sedang dihadapi oleh Edgar.


"Semenjak aku terjun ke bisnis perhotelan, konsentrasiku menjadi sedikit terbagi," jawab Edgar. Sesaat kemudian, ia melanjutkan kata-katanya, "Sekarang aku harus segera menyelidiki masalah ini. Karena itu aku akan kembali ke Perancis secepatnya, tapi lihatlah sikap adikmu! Aku heran kenapa Arum tiba-tiba sangat manja," gumam Edgar sambil terus menatap gadis cantik yang masih merajuk.


Keanu melirik rekan bisnisnya. Ia kemudian tersenyum kecil. "Apa kalian ... sudah ...." Keanu tidak melanjutkan kata-katanya. Terlebih saat itu Edgar segera menoleh kepadanya.


"Aku yakin kamu bisa mengatasi masalah ini, Ed. Namun, jangan sungkan jika kamu membutuhkan bantuanku. Aku harap kamu tidak membutuhkan waktu yang terlalu untuk mengungkap kasus ini," Keanu mencoba untuk memberikan dukungan kepada rekan bisnisnya itu.


"Apakah itu artimya kamu akan lama tidak kembali ke Indonesia?" Tanya Keanu.


"Bisa jadi, Ken," sahut Edgar pelan. "Aku harus menyelesaikan masalah ini. Kedengarannya sangat buruk," lanjutnya. Edgar kemudian terdiam untuk sesaat.


"Jangan pikirkan bisnismu yang di sini! Aku akan menugaskan orang-orang kepercayaanku untuk mengurus dan mengawasinya, sehingga kamu bisa fokus di sana," ucap Keanu lagi.


Edgar menatap pria berambut cepak itu. Ia tidak salah memilih rekan. Keanu memang pria yang dapat diandalkan.


Dipeganginya pundak pria beranak dua itu. Edgar kemudian tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Ken. Aku tahu kamu adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Suatu kehormatan bagiku bisa bekerja sama denganmu. Aku menyukai jalan takdir ini ... sungguh," Edgar mengakhiri ucapannya dengan sebuah tawa pelan.


Keanu membalas ucapan Edgar dengan sebuah tepukan di pundak pria itu. Pria yang mungkin akan menjadi calon adik iparnya dan menggantikan posisi Moedya tidak lama lagi, karena saat itu Arumi datang menghampiri kedua pria blasteran Perancis itu. Arumi berdiri dan menatap lekat keduanya.


Edgar menatap balik gadis itu. Ia pun beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Arumi. Begitu juga dengan Keanu.


"Aku ingin pulang sekarang," ucap Arumi dengan wajah sedikit sendu.


"Ayo kutemani," sahut Edgar pelan.


"Aku akan di sini sebentar. Aku harus mengusut masalah ini hingga tuntas," sela Keanu. "Silakan kalian lanjutkan dulu!" Ucapnya lagi. Setelah itu, ia pamit untuk keluar dan meninggalkan Arumi berdua dengan Edgar di sana.


"Masih marah padaku?" Tanya Edgar. Sementara Arumi tidak menjawab. Ia berlalu begitu saja dari hadapan Edgar.


"Arum, tunggu!" Edgar segera mengikuti gadis itu. Ia bahkan meraih tangan Arumi dan memeganginya dengan erat.


Arumi menoleh. Tidak seperti biasanya, gadis itu tidak berontak ketika Edgar melakukan hal itu kepadanya. Ia hanya menatap Edgar dengan tajam.


"Jangan marah! Biar kujelaskan semuanya," ucap Edgar pelan.


"Apa lagi yang ingin kamu jelaskan? Kamu terus mengejarku, tapi setelah aku berhenti berlari dan menoleh padamu ... kamu justru berbalik dan meninggalkan aku. Apa-apaan itu?"


"No, tentu saja tidak seperti itu ... Babe! Ada hal penting yang harus kuselesaikan di sana. Bukankah sudah kukatakan semalam?"


"Hal yang jauh lebih penting dariku?" Protes Arumi.


Edgar mengela napas pendek. "Arum ... Sayang ... tolong mengertilah! Ini tentang perusahaanku. Perusahaan peninggalan ayah angkatku. Itu wasiat beliau untukku yang harus selalu kujaga agar tetap berdiri kokoh," bujuk Edgar. Ia mencoba menjelaskan permasalahannya kepada Arumi.


"Kenapa kamu jadi manja seperti ini?" Edgar meraih wajah cantik itu dan mengelusnya dengan lembut.


"Entahlah, Ed! Aku hanya merasakan sesuatu yang tidak baik dan tentu saja aku tidak menyukainya," resah Arumi.


Melihat keresahan yang dirasakan oleh Arumi, justru hal itu membuat Edgar merasa sangat bahagia. Senyum menawan itu terkembang dengan sempurna di wajah tampannya. "Are you worrying me, Arum?"