Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Pengawal Pribadi


Arumi seketika menegakan tubuhnya. Ia menatap Edgar dengan kedua matanya yang terbelalak dengan sempurna. Jelas sudah itu sebagai tanda protes yang ia layangkan terhadap ide gila dari sang suami.


Sedangkan Edgar, ia masih terlihat tenang dan fokus dengan kemudinya. Pria itu sudah dapat menebak akan seperti rekasi dari Arumi, karena itu ia telah mempersiapkan dirinya dengan baik.


“Jangan gila, Sayang!” Arumi melakukan protes keras terhadap sang suami. Wanita itu menyandarkan tubuhnya seraya melipat kedua tangannya di dada. Arumi juga memalingkan wajahnya ke samping. Hal itu menandakan jika dirinya tengah merasa kesal.


“Ini bukan kegilaan. Aku hanya takut jika kapan-kapan aku sibuk dan tidak dapat menemanimu. Maka dari itu, aku akan menugaskan Henry untuk menjagamu,” jelas Edgar sambil terus mengemudi. Fokusnya tidak terganggu sama sekali.


“Maafkan aku, Sayang! Bukan maksudku untuk meremehkan orang kepercayaanmu itu, tapi ia bahkan tidak dapat melarikan diri dari sekapan Ben dan anak buahnya jika tanpa bantuan polisi! Kamu akan memercayakan keamananku pada orang yang bahkan tidak dapat menjaga dirinya sendiri? Hah ... yang benar saja!” protes Arumi dengan jauh lebih keras dan tegas.


Edgar mengela napas panjang dan mengempaskannya perlahan. Pria itu masih menunjukkan sikap tenangnya di hadapan Arumi. Ia juga masih tampak sangat fokus dengan kemudinya, terlebih saat itu ia mengemudi dalam guyuran hujan salju meski tidak terlalu lebat.


“Kita lanjutkan nanti di rumah. Aku tidak suka jika kita harus berselisih paham ketika sedang di jalan seperti ini. Aku harus benar-benar menjaga konsentrasiku,” kilah Edgar. Ia malas dan tentu saja tidak ingin merusak momen indah kebersamaannya bersama Arumi.


“Kenapa kamu harus membuatku kesal?” Arumi masih dengan nada bicaranya yang terdengar sangat jengkel. Sedangkan Edgar kembali mengela napas dalam-dalam. Pria itu  juga meggumam pelan.


“Tentu saja tidak, Sayang! Aku tidak akan suka membuatmu kesal padaku. Aku melakukan hal itu hanya untuk berjaga-jaga. Sebaiknya nanti kukenalkan kamu dengan Henry secara langsung. Ia pria yang baik dan juga sebenarnya sangat terlatih. Kemarin itu ... ia hanya sedang sial dan tidak terlalu waspada,” kilah Edgar. Ia masih tetap pada pendiriannya.


Arumi mendengus kesal. Ia tidak akan menerima apapun alasan yang Edgar kemukakan tentang seorang pengawal pribadi bernama Henry, karena Arumi tidak menyukai hal itu. “Terserah! Namun, aku tetap tidak akan pernah menerimanya!” tegas Arumi dengan tetap membuang mukanya dari sang suami.


Edgar memilih untuk diam. Ia tidak ingin memperpanjang masalah itu untuk saat ini. Menurutnya, masalah itu dapat ia bahas lagi nanti setelah Arumi merasa tenang.


Diliriknya sang istri yang masih merajuk terhadapnya. Edgar hanya tersenyum simpul. Ia sangat mengenal wanita itu dengan baik. Edgar tahu jika kemarahan Arumi tidak akan bertahan lama. Wanita itu pasti akan dengan mudahnya lunak dan bahkan meleleh kembali setelah Edgar memberinya sedikit rayauan manis.


Edgar tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan Arumi dengan rasa kesal yang belum juga sirna, bahkan hingga mereka tiba di kediamannya.


Setelah Edgar menghentikan mobil yang ia kemudikan. Sementara Arumi segera melepas sabuk pengaman yang melintang di dadanya. Wanita itu masih terdiam dan menunggu Edgar membukakan pintu untuk dirinya.


Edgar menoleh kepada sang istri untuk sesaat. Tanpa banyak bicara, pria itu keluar dari mobilnya. Ia lalu membukakan pintu dan memersilakan Arumi untuk keluar. “Silakan, Tuan Putri,” ucap pria itu dengan sikap hormat bak seorang pelayan.


Arumi turun dan melirik Edgar untuk sesaat. Setelah itu, ia segera mengalihkan pandangannya menjadi lurus ke depan. Ia menunjukan sikap angkuhnya.


“Hey, Nyonya!” seru Edgar. ”Belanjaanmu tertinggal di dalam mobil!” lanjutnya dengan setengah geli karena melihat sikap Arumi yang begitu kekanak-kanak dalam seharian itu.


Arumi menoleh, tetapi tidak lama kemudian ia kembali memalingkan wajah cantiknya dengan kesal. Wanita muda itupun melanjutkan langkahnya hingga ia benar-benar menghilang di balik pintu masuk kediaman Edgar.


Edgar mengempaskan sebuah keluhan pendek. Dengan terpaksa ia membuka bagasi dan membawa hasil perburuannya tadi bersama Arumi. Susah payah ia membawa semua kantong belanjaan itu masuk. 


Untunglah karena Carmen segera datang menghampirinya. Wanita paruh baya itu segera membantunya membawakan belanjaan itu.


“Ke mana Arumi?” tanya Carmen dengan heran, karena ia melihat Edgar masuk sendirian.


“Aku menyuruhnya masuk terlebih dahulu, karena Arumi belum terbiasa dengan cuaca di sini, jadi dia ....”


“Bukankah dia pernah tinggal lama di Paris?” sela Carmen. Wanita itu sepertinya merasa kesal, karena sikap Arumi yang membiarkan Edgar kesulitan membawa seluruh hasil belanjaan itu sendirian. Raut wajahnya tampak tidak bersahabat, dan itu terlihat dengan sangat jelas dalam pandangan Edgar.


Edgar tersenyum lembut. Ia kemudian mendekati wanita paruh baya itu dan berkata, “Arumi memang pernah tinggal cukup lama di sini, tapi ia jauh lebih lama menetap di Indonesia. Sama seperti Bibi yang tidak terbiasa dengan iklim di Indonesia, maka Arumi pun harus beradaptasi lagi dengan iklim di sini. Sederhana sekali alasannya, Bibi. Aku harap Bibi tidak berpikiran yang macam-macam,” jelas Edgar dengan lembut dan sopan kepada wanita yang sudah merawatnya selama ini.


Carmen mengeluh pelan. Ia tidak dapat menerima alasan yang dikemukakan Edgar kepadanya. “Dia masih muda, seharusnya daya tahan tubuhnya jauh lebih baik dariku. Lagi pula, Arumi selalu bangun siang. Jika suatu saat nanti kau jauh dariku, siapa yang akan memerhatikanmu, Ed?” protes Carmen lagi. Rasa sayangnya yang berlebihan terhadap Edgar, telah membuat wanita berambut pirang itu menjadi sangat posesif terhadapnya.


Edgar mengusap-usap keningnya untuk sesaat. Ia tadi berselisih paham dengan Arumi hingga wanita itu kesal dan membiarkan dirinya. Edgar tidak ingin jika ia juga harus berselisih paham dengan Carmen.


“Tidak seperti itu, Bibi,” bantah Edgar. “Arumi baru tiba di sini beberapa hari yang lalu. Ia kelelahan dan juga harus langsung berhadapan dengan musim dingin, jadi ... tolonglah Bibi, jangan bersikap seperti itu!” pinta Edgar masih dengan nada bicaranya yang sopan terhadap Carmen. Bagaimanapun juga, Edgar tidak dapat berbicara dengan jauh lebih tegas apalagi keras terhadap wanita itu.


Edgar berpikir jika sebaiknya ia segera mengindari percakapannya dengan Carmen saat itu. Ia merasa takut jika dirinya kehilangan kontrol dan dianggap terlalu membela Arumi, meskipun memang seperti itu kenyataannya.


“Aku harus ke kamar dulu. Aku ingin mandi dan berganti pakaian. Jika Bibi memerlukan bantuan Arumi, maka ia pasti akan membantu Bibi dengan senang hati,” ucap Edgar lagi. Setelah itu ia kemudian berlalu menuju kamarnya. 


Di dalam langkah tenangnya, Edgar berpikir, apa yang terjadi dengan kedua wanita itu? Bagaimanapun juga, keduanya adalah wanita yang sangat berharga dalam kehidupan Edgar. Ia tidak akan pernah memihak salah satu pihak. "Dasar wanita!" keluh Edgar pelan seraya membuka pintu kamarnya.