Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Créme Brulee


Arumi terus menatap lurus ke depan. Duduk di balkon apertemen milik Edgar ternyata sangat nyaman. Ia rasanya tidak ingin beranjak dari sana. Sesaat kemudian, Arumi mendengar ponselnya yang berdering pelan. Ia segera merogoh ke dalam tasnya dan mengambil benda tipis itu.


Untuk sejenak, Arumi tertegun melihat pesan yang masuk ke nomornya. Sebuah pesan dari kontak dengan nama Moedya. Pria itu menanyakan kabar Arumi. Dengan malas, Arumi kembali menutup layar ponselnya. Ia juga memasukan kembali benda itu ke dalam tas-nya, terlebih saat itu Edgar telah kembali ke sana.


Makanan yang mereka pesan beberapa saat yang lalu telah datang. Edgar kembali duduk di sebelah Arumi dan menghidangkan makanan yang akan menjadi menu makan malam mereka berdua. Sauteed Chiken Salad with Yoghurt Sause.


"Aku rindu masakan Perancis, tapi aku suka masakan khas Indonesia. Kapan-kapan aku ingin melakukan wisata kuliner," ucap Edgar seraya mencicipi makanannya. Sementara Arumi merasa terganggu karena pesan masuk dari Moedya. Ia tidak segera menyantap makanannya. Pikirannya menjadi tidak fokus.


Edgar tampak heran saat melihat sikap Arumi yang tiba-tiba menjadi berubah. Ia memerhatikan gadis itu. "Ada apa, Arum?" Tanyanya. "Kamu tidak suka menunya?"


Arumi menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Aku hanya ... um ... lupakan!" Arumi segera mengalihkan perhatiannya pada makanan yang ada di atas meja. Ia pun mulai mencicipi makanan itu.


Edgar tahu jika ada sesuatu yang salah dengan Arumi dan mungkin mengganggu pikiran gadis itu. Akan tetapi, ia tidak ingin membahas hal itu dengan lebih lanjut. Akan lebih baik jika mereka hanya membahas obrolan ringan saja.


"Arum, bisakah kapan-kapan buatkan aku Créme Brulee?" Tanya Edgar sambil terus melahap makanannya.


"Ya, tentu. Aku punya banyak waktu," jawab Arumi pelan.


"Itu adalah dessert kesukaan mendiang orang tuaku. Ibuku sering membuatnya. Kamu belum tahu bukan, jika mendiang ibuku adalah seorang chef," terang Edgar dengan rona yang dipenuhi rasa bangga pada wajahnya.


"Sungguh?" Tanya Arumi. Ucapan Edgar telah membuatnya merasa tertarik. Untuk sesaat, ia lupa dengan pesan yang dikirimkan Moedya kepadanya.


Edgar mengangguk dengan yakin. "Ya. Ibuku dulu bekerja di salah satu hotel bintang lima di kota Paris. Kebetulan ayahku menginap di sana, dan dia jatuh cinta dengan masakan ibuku saat itu. Ayahku meminta seorang petugas hotel untuk dipertemukan dengan ibuku. Ayahku langsung jatuh cinta kepadanya dan ... happy ending, meskipun ibuku harus pergi lebih dulu," sesal Edgar. Akan tetapi, dengan segera ia menutupi hal itu dengan senyuman kalemnya.


"Memang akan selalu menjadi sesuatu yang sangat berkesan, ketika pertama kalinya kita dipertemukan dengan calon jodoh kita. Aku rasa, itu akan menjadi sebuah catatan sejarah yang tidak akan pernah terlupakan," ucap Arumi. "Oh iya, Ed. Kamu sungguh tidak marah padaku atas kejadian di pesta itu?" Arumi kembali mengungkit insiden memalukan malam itu. Ada rona kecemasan di wajah cantiknya yang tanpa polesan make up sama sekali.


Edgar meneguk minumannya sebelum ia menjawab pertanyaan dari Arumi. "Jika aku harus marah kepadamu, maka hal itu pasti sudah kulakukan sejak dulu. Akan tetapi, aku tidak bisa melakukannya, Arum." jawab Edgar dengan sikapnya yang terlihat tenang.


"Aku tidak akan bertanya kenapa. Aku juga berharap jawabanmu tidak seperti yang ada di dalam pikiranku. Aku sudah terlalu bosan mendengarnya," ujar Arumi seraya mengulum senyumnya.


Edgar menghela napas panjang. Ia kembali meneguk minumannya. "Sayangnya ... aku tidak memiliki jawaban lain selain itu," sahut Edgar seraya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya dengan nakal, membuat Arumi segera memalingkan wajahnya. Sementara Edgar hanya tertawa pelan karena merasa senang telah berhasil membuat Arumi tampak risih.


Beberapa saat setelah makan malam alakadarnya, mereka berdua kembali duduk santai sambil melanjutkan perbincangan.


Arumi duduk bersila di atas sofa dengan menyamping sambil menghadap kepada Edgar. Sedangkan Edgar masih duduk santai dan menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Bekas makan malam pun belum mereka bereskan dan mereka biarkan berantakan di atas meja.


Edgar tengah bercerita tentang sesuatu yang sangat menarik perhatian Arumi, karena ia terlihat begitu serius saat menyimak semua yang diucapkan pria tiga puluh tahun itu.


Edgar rupanya tengah bercerita tentang bisnis yang sedang ia bangun di Indonesia. Ia menjelaskan tentang perusahaan asuransi miliknya yang sedang ia rintis saat ini, tentang segala proses perizinan yang ia urus dan segala macamnya. Ia juga bercerita tentang awal mula ia terjun pada bisnis perhotelan.


Pria penyuka olahraga ekstrim itu, kemudian bercerita tentang kerja sama yang dilakukannya dengan Keanu. Rencananya, ia juga akan membangun kerajaan bisnisnya yang lain di Indonesia. Ia melihat jika Indonesia adalah negara yang memiliki prospek yang sangat bagus untuk mengembangkan bisnisnya.


Sementara itu, malam terus merayap. Angin berhembus dengan cukup kencang. Akan tetapi, kota itu seperti tidak pernah tertidur, meskipun tidak seramai tadi. Sayup-sayup masih terdengar suara deru kendaraan di bawah sana. Arumi dan Edgar pun masih duduk berdua di balkon itu. Mereka kini tengah menatap langit malam yang sama.


"Apa kamu tidak akan pulang, Arum?" Tanya Edgar.


"Kamu ingin aku pulang?" Arumi balik bertanya.


Edgar menggeleng perlahan. "Aku senang kamu ada di sini," jawab pria itu dengan suara beratnya.


Untuk sesaat mereka berdua saling terdiam. Ada satu hal yang begitu mengganggu pikiran Edgar dan ingin ia jelaskan kepada gadis itu.


"Arum, aku ingin bicara sesuatu," Edgar mengawalinya dengan perlahan.


"Tentang apa?" Tanya Arumi tanpa menoleh.


"Tentang sesuatu yang kamu tuduhkan padaku. Aku sama sekali tidak mengerti, bagaimana kamu bisa berpikir jika aku dan Diana bersekongkol? Sudah kukatakan padamu jika aku tidak mengenalnya selain sebagai pacar temanku Adam. Aku juga tidak akan melakukan cara-cara murahan untuk memisahkanmu dari Moedya," jelas Edgar.


"Tumben kamu tidak memanggilnya dengan sebutan berandalan," tanggap Arumi dengan tenang.


"Aku tidak ingin membuatmu tersinggung," balas Edgar dengan tak kalah tenang dari Arumi, yang saat itu tertawa pelan karena mendengar jawaban dari Edgar.


"Aku sudah tidak peduli lagi dengannya, Ed. Aku ... harus mulai berpikir dengan jernih, dan tentu saja kembali melanjutkan hidupku setelah semua kekacauan ini," ucap Arumi dengan pelan. Sebenarnya ia malas untuk membahas masalah itu. Akan tetapi, sebenarnya Arumi ingin sekali menumpahkan semua keresahan di dalam hatinya.


"Bolehkan jika aku menangis di sini, Ed?" Terdengar suara parau Arumi yang mulai bergetar. Edgar menatapnya untuk sejenak.


"Kemarilah!" Edgar kemudian meraih pundak Arumi dan membuat gadis itu bersandar di pundaknya. Arumi pun tidak menolak hal itu, meskipun pada kenyataannya ia merasa malu atas semua sikap buruknya terhadap Edgar selama ini.


"Kenapa kamu selalu bersikap baik padaku, Ed?" Isak Arumi pelan.


"Kamu sudah mengetahui jawabannya, Arum," sahut Edgar pelan seraya mengelus lembut rambut Arumi. "A person that trully loves you, will never let you go. Aku hanya membawa satu harapan setiap kali aku menemuimu, Arum," lanjut Edgar lagi.


"Apa itu?" Tanya Arumi. Ia mulai menghentikan isakannya.


Edgar tersenyum seraya menggumam pelan. "Aku harap kamu segera berubah pikiran," jawabnya.


"Give me a little time," sahut Arumi pelan.


"I have a lot of time for you," balas Edgar seraya mencium lembut pucuk kepala Arumi.