Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
A Misunderstanding


“Dru?” Edgar menatap lekat ke arah Ben. Ia kemudian meletakan tangan kiri di pinggang, dan tangan kanan memijit keningnya. Edgar benar-benar tidak percaya. Setelah itu, ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Mirella yang kini sudah berdiri tepat di sebelah Ben, sang kakak.


“Apa maksud kalian melakukan ini padaku?” tanya Edgar dengan tegas.


Ben kembali menyunggingkan senyuman sinisnya. “Kau lupa, Ed? Ya, pasti kau lupa karena kau terlalu sibuk untuk menikmati hidup dalam gelimang harta yang bukan hakmu!” sentak Ben.


“Apa maksudmu?” tanya Edgar seraya mengernyitkan keningnya.


“Kau tidak ingat kepada Raymond Evariste, ayahku?” sahut Ben membuat Edgar seketika membelalakan matanya. Terjawab sudah semua teka-teki yang belum dapat Edgar pecahkan selama ini.


Raymond Evariste adalah rekan bisnis Sebastian Hillaire, ayahanda Edgar. Mereka berdua membangun sebuah perusahaan property bersama-sama. Banyak proyek penting yang sudah mereka ambil dan menjadikan perusahaan itu menajadi besar dan kian terkenal.


Namun, seperti kata pepatah, 'semakin tinggi pohon, maka angin yang menerpanya pun akan semakin besar'. Hal itu pula yang terjadi pada Evarise Hill Company dalam masa kejayaannya.


Semua berawal dari kepergian ibunda Edgar tercinta. Sebastian yang saat itu tengah berada di puncak kariernya sebagai pengusaha, kemudian tergoda oleh seorang wanita dan menjadikan wanita itu seperti seorang ratu.


Tidak berselang lama, Sebastian mengalami kecelakaan parah dan lumpuh total. Seperti yang sudah Edgar ungkapkan kepada Arumi dulu, hal itu benar-benar telah membuat kehidupan Edgar dan Sebastian semakin tidak menentu. Sementara di lain pihak, prusahaan tengah mengalami masalah yang sangat serius.


Berawal dari sebuah tender yang gagal, hingga akhirnya mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Jangankan mendapat keuntungan, perusahaan justru harus kehilangan banyak dana dan menjadikannya goyah.


Dalam situsai buruk seperti itu, Sebastian tidak mampu berbuat apa-apa. Seluruh hartanya terkuras oleh sang istri yang kabur entah ke mana. Sebastian juga telah menghabiskan banyak uang untuk membiayai perawatannya selama itu. Pria itu lepas tangan dan membiarkan Raymond Evariste sendirian menghadapi semua masalah finansial yang membelit perusahaan mereka.


Raymond menjual semua aset yang dimilikinya untuk menutupi semua kerugian dan juga beberapa tagihan perusahaan, dengan jumlah yang tidak sedikit. Ia berharap dapat menyelamatkan perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah.


Namun, sayangnya kenyataan berkata lain. Ia bahkan tidak mampu mengobati istrinya yang sakit parah, hingga akhirnya wanita itu meninggal dunia.


Merasa begitu terpuruk, Raymond hidup dalam keputusasaan. Tekanan hidup yang tinggi, membuatnya kian frustrasi.


Dengan berat hati, akhirnya ia mengantarkan kedua anaknya ke depan pintu sebuah panti asuhan. Tidak lama setelah itu, ia ditemukan tewas bunuh diri.


Ben dan Mirella tidak pernah mengetahui jika Edgar pun mengalami kehidupan yang sangat berat setelah itu. Mereka tidak tahu jika ia bahkan hidup terlunta-lunta dan seringkali kelaparan. Ben menyangka jika Edgar tengah menikmati hidup dalam kemewahan.


Namun, saat itu Edgar masih terlalu kecil untuk dapat memahami situasi yang telah menimpa perusahaan ayahnya. Berbeda dengan Ben yang memang telah berusia dua tahun lebih tua dari Edgar. Ia telah sedikit memahami, terlebih setelah ia mendengar berita kematian sang ayah.


“Aku sengaja menyuruh Petit untuk menyebutkan nama ayahku padamu. Aku berharap kau dapat mengingat semua dosa-dosa ayahmu, atas kehancuran hidup keluarga kami! Namun, sepertinya kau tidak mau tahu, Ed! Jangan katakan jika kau tidak mengenalinya!" sorot yang dipenuhi kebencian terpancar dari sepasang mata abu-abu milik Ben.


"Ayahmu adalah seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab, Ed! Ayahmu lebih memilih menikmati hari-harinya tanpa peduli seberapa sulitnya ayah kami saat itu! Kami bahkan harus rela hidup di panti asuhan dan menjalani segalanya dengan sangat menyedihkan!” telunjuk Ben lurus tertuju kepada Edgar yang saat itu masih terpaku dan tidak percaya dengan semua yang ia dengar.


“Kau tidak tahu seperti apa kehidupan kami saat itu! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk merusak citra buruk ayahku!” balas Edgar beberapa saat kemudian dengan tak kalah tegas.


“Kenyataannya ayahmu memanglah seorang pecundang, Ed!”


Edgar kembali melayangkan pukulannya ke arah Ben. Pria itu tidak sempat menghindar. Ia kembali terjengkang. Sementara Mirella histeris melihat adegan kekerasan di hadapannya.


“Aku tidak harus menceritakan apapun pada kalian berdua, karena itu tidak akan berarti apa-apa! Aku hanya minta padamu, katakan di mana Arumi!” Edgar menarik baju Ben dan berniat untuk kembali memukulnya. Akan tetapi, dengan segera Ben mengangkat lututnya dan mengarahkannya kepada Edgar. Kini giliran Edgar yang mundur sambil meringis kesakitan.


“Hentikan, Kakak! Aku mohon tolong hentikan!’ jerit Mirella.


Ben kemudian mencengkeram bagian depan kemeja Edgar. Pria itu terlihat sudah diliputi oleh kemarahan yang sangat besar. “Dengar, Ed! Aku berjanji akan mengembalikan semua uang perusahaanmu tanpa kurang sedikitpun. Aku akan segera mengembalikannya dengan syarat berikan gadis-mu padaku secara sukarela!”


“Ambil semua uang itu, Brengsek! Aku tidak peduli lagi!” balas Edgar.


“Aku bisa saja membawa Arumi-mu sekarang juga. Ia berada di kamar yang sudah kusiapkan untuknya. Namun, aku bukanlah pria brengsek sepertimu yang bisa berkencan bahkan hingga meniduri wanita yang sudah memiliki pasangan!”


“Katakan sekarang juga di mana Arumi berada! Aku pastikan kau akan menyesal, Dru!” ancam Edgar.


“Call me Ben!” seringai Ben. “Aku suka ketika Arumi menyebut namaku,” lanjut Ben. Ia lalu melirik sang adik yang saat itu terlihat tidak menyukai apa yang dilihatnya saat itu.


“Millie, siapkan uang milik tuan Hillaire! Kita harus segera mengembalikannya. Ia tidak akan sanggup hidup dalam kemiskinan,” sindir Ben yang kemudian mengalihkan tatapannya kepada Edgar.


Edgar segera bangkit. “Ambil uang itu dan anggap sebagai permintaan maaf dari ayahku karena telah mengabaikan ayahmu! Kalian harus tahu jika aku menjalani hidup yang jauh lebih berat setelah kematian ayahku, tapi aku tidak ingin mengingat hal itu lagi. Itu bukan sesuatu yang patut untuk dikenang. Namun, jika kalian berpikir bahwa aku hidup dalam kemewahan ... maka kalian salah besar! Aku tidak peduli lagi dengan apa yang ada di dalam pikiran kalian! Aku hanya ingin Arumi kembali!” ucap Edgar dengan sorot mata yang dingin.


“Kenapa, Ed? Kenapa kamu begitu mencintai Arumi?” protes Mirella yang mulai terisak.


Edgar menatap Mirella untuk sejenak. “Karena dia bukan Pamela, bukan Anastasia, ataupun Mirella ....” sebuah jawaban yang sangat menyakitkan bagi Mirella.


“Tanyakan kepada kakak-mu, kenapa dia juga sangat menginginkan Arumi!” Edgar mengalihkan pandangannya kepada Ben yang saat itu hanya terdiam.


Selang beberapa saat, Louisa menerobos masuk dengan membawa beberapa petugas keamanan karena ia mendengar keributan dari ruangan Edgar. “Apa yang terjadi, Tuan Hillaire?” tanya wanita muda itu dengan cemas. Ia melihat ada bercak darah di kemeja putih Edgar.


“Jangan khawatir, Lou! Sebentar lagi tuan Benjamin Dru Evariste dan adiknya tercinta akan segera meninggalkan tempat ini,” sahut Edgar dengan nada bicara yang dingin.


“Dru, mari kita selesaikan ini dengan baik! Katakan padaku di mana kau menyembunyikan Arumi, atau aku akan menyuruh petugas keamanan untuk menyeretmu dengan kasar ke penjara!” ancam Edgar dengan tegas.


Ben tersenyum sinis.


“Silakan bawa aku ke penjara, tapi aku pastikan kau tidak akan menemukannya!”


Edgar terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia lalu melirik para petugas keamanan yang sudah bersiap di sana. “Seret mereka berdua dan jebloskan ke penjara!” perintah Edgar dengan sikapnya yang terlihat sangat marah.


Ia kembali ke meja kerjanya ketika petugas keamanan itu mulai meringkus Mirella yang berontak sambil berteriak histeris. Sementara Ben pun sempat melakukan perlawanan. Namun, semuanya tidak berarti karena para petugas keamanan itu jauh lebih sigap dalam menanganinya. Mereka kemudian membawa kedua kakak beradik itu keluar dari ruangan Edgar.