
Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya Edgar tiba di kediamannya yang terletak di Neuilly-sur-Seine. Sebuah kawasan metropolitan kota Paris. Meskipun wilayah ini merupakan wilayah pinggiran Paris, tetapi daerah ini merupakan pemukiman terpilih. yang juga menjadi kantor pusat dari berbagai perusahaan.
Seorang wanita setengah baya segera menyambut kedatangannya, ketika Edgar baru saja turun dari taksi yang ia tumpangi. Carmen, itulah nama wanita itu. Dia merupakan asisten rumah tangga yang sudah setia bekerja pada keluarga angkat Edgar sejak dulu. Ia bahkan telah dianggap sebagai bagian dari keluarga itu.
Semenjak kematian ayah kandungnya yang lumpuh, Edgar menjalani kehidupan yang sangat berat. Usianya saat itu baru menginjak sekitar sebelas tahun. Ia harus berjuang sendiri untuk tetap bertahan hidup.
Suatu hari, Edgar yang lapar berteduh dari derasnya hujan di depan sebuah kedai makan. Dari luar kaca jendela kedai itu, ia memerhatikan seorang pria yang tengah duduk sendiri di dalam. Pria dengan penampilannya yang sangat rapi dan menunjukan kelas sosialnya yang tinggi.
Pria itu bernama Joacquin Guzman, seorang duda tanpa anak. Ia adalah seorang pengusha sukses. Akan tetapi, ia telah menikahi seorang wanita yang tidak dapat memberinya keturunan.
Mungkin memang sudah jalan takdir dalam kehidupan Edgar. Joacquin merasa tertarik ketika melihat wajah manis Edgar kecil yang malang. Ya, Edgar memang sudah terlihat tampan sejak kecil. Terlebih karena ia juga memang berasal dari keluarga berada pada awalnya.
Singkat cerita, Joacquin yang saat itu berusia sekitar empat puluh tahun, akhirnya mengajak Edgar pulang ke kediamannya yang mewah. Sejak saat itulah, Edgar resmi menjadi putra angkatnya, sekaligus teman berbagi dalam segala hal.
Selain karena memiliki darah bisnis yang memang sudah mengalir dalam dirinya, Edgar juga mendapat pendidikan yang sangat mumpuni dari ayah angkatnya itu. Joacquin memberikan semua perhatiannya kepada Edgar yang telah ia anggap sebagai anugerah dari Tuhan, yang telah ia temukan tanpa sengaja. Rasa sayangnya kepada anak itu tidak pernah berubah sedikitpun, dan hal itu membuat Edgar merasa sangat berhutang budi kepadanya.
Hingga akhir hayat pria itu, Edgar masih setia menemani dan mengurusnya dengan baik. Sampai saat inipun, Edgar tidak pernah lupa untuk selalu mengirimkan bunga saat mengunjungi makam ayah angkatnya, dan tentu saja untuk makam kedua orang tuanya juga.
“Apa kabar, Ed?” Sapa Carmen. Ia memang tidak pernah memanggil Edgar dengan sebutan tuan atau semacamnya, karena itu atas keinginan Edgar sendiri. Carmen sudah Edgar anggap seperti pengganti ibu baginya. Wanita berusia enam puluh delapan tahun itu memang sangat perhatian kepadanya.
“Apa semua baik-baik saja selama aku pergi, Bi?” Edgar bertanya balik. Ia biasa memanggil Carmen dengan sebutan bibi.
“Rumah ini terasa sangat sepi,” jawab wanita berambut pirang sebahu itu. Ia terlihat sangat bahagia atas kepulangan Edgar yang lebih cepat, dari yang telah dijadwalkan sebelumnya. “Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu, Ed,” lanjutnya.
“Terima kasih,” jawab Edgar dengan senyum ramahnya. “Aku ingin mandi dulu,” ucap pria itu lagi seraya menggeret koper yang sejak tadi ia pegangi. Edgar kemudian melangkah menuju kamarnya.
“Ada beberapa kiriman surat untukmu, Ed. Aku sudah meletakannya di meja kerjamu. Selain itu, beberapa hari yang lalu nona Rupert datang kemari,” lapor Carmen yang membuat Edgar segera menghentikan langkahnya. Ia lalu menatap Carmen untuk sesaat. Wajahnya tampak keheranan.
“Mirela? Untuk apa dia kemari?” Tanya Edgar penasaran, pasalnya sudah lama sekali ia tidak berkomunikasi dengan salah satu mantan gadis pirangnya.
Carmen hanya mengangkat kedua bahunya. “Aku mengatakan jika kau sedang berada di Indonesia. Setelah itu dia pergi dan tidak datang lagi,” terang Carmen.
Edgar lalu mengangguk pelan. “Oke. Terima kasih, Bi,” jawabnya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya yang tadi sempat terhenti.
Dimulai dari pintu gerbang yang berdiri kokoh. Kita akan langsung disambut oleh lautan rumput hijau yang sangat terawat dan lebih mirip sebagai sebuah karpet permadani, karena saking bersih dan terawatnya. Berjalan sedikit pada alur yang telah disediakan, langkah kita akan berakhir pada dua buah tangga di sisi kiri dan kanan menuju pintu masuk rumah tersebut. Sementara itu, di bagian tengah terdapat area keluar masuk untuk menuju ke garasi, di mana Edgar menyimpan koleksi mobil mewahnya. Di sana juga ada beberapa koleksi mobil antik milik Joacquin yang masih sangat terawat.
Kemewahan rumah dengan nuansa putih itu, tidak hanya berhenti sampai di sana. Suasana ala kaum borjuis pun kian terasa, ketka kita memasuki salah satu ruangan yang merupakan sebuah Pemandian Turki dengan desain yang sangat elegant. Selain itu, rumah itu pun dilengkapi dengan sebuah kolam renang yang menghadap langsung ke taman yang indah.
Selain dari semua kemewahan yang ditampilkan di sana, rumah yang kini telah sepenuhnya menjadi hak milik Edgar itu ternyata memiliki akses jalan pribadi yang aman tentunya.
Kembali ke bagian dalam rumah. Edgar menempati sebuah kamar tidur yang besar dengan berbagai fasilitas mewah di dalamnya. Baru-baru ini, ia bahkan telah membangun sebuah ruang kebugaran pribadinya, yang berada di lantai dasar yang bersebelahan langsung dengan garasi.
Joacquin Guzman adalah seorang pria yang kesepian dan hidup sebatangkara, setelah kematian sang istri tercinta. Meskipun memiliki segalanya, tetapi hal itu tidak membuatnya berniat untuk menikah lagi. Ia terlalu mencintai istrinya dan lebih memilih untuk menikmati kesendirian.
Nasibnya tidak jauh berbeda dengan Edgar, yang juga tidak memiliki siapapun juga di dunia ini. Itulah alasan Joacquin Guzman mewariskan semua kerajaan bisnis dan harta kekayaannya untuk Edgar. Karena itulah, Edgar merasa bertanggung jawab untuk tetap memelihara semua aset yang telah dilimpahkan kepadanya, termasuk perusahaan asuransi yang telah berdiri sejak lama.
Seusai makan malam, Edgar menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada Arumi. Ia mengabarkan jika dirinya telah tiba dengan selamat.
Hi, Arum! Aku sudah berada di rumah. Aku sudah mandi dan makan malam. Jangan lupa luangkan waktumu untuk mengingatku sebentar saja!
Begitulah isi pesan yang Edgar kirimkan untuk Arumi. Setelah mengirimkan pesan itu kepada gadis pujaan hatinya, Edgar kemudian mulai fokus pada beberapa amplop berwarna putih yang ada di hadapannya. Ia mulai memeriksanya satu persatu.
Akan tetapi, Edgar mulai tertegun ketika mendapati sebuah surat tanpa nama pengirim. Untuk sejenak, dipandanginya amplop polos itu. Semakin lama ia merasa semakin penasaran. Karena rasa penasarannya kian besar, ia segera membuka perekat amplop itu. Namun, seketika jantungnya seakan berhenti berdetak. Edgar mendapati foto Arumi di dalam amplop itu.
Ada sekitar tujuh lembar foto gadis itu dalam beberapa aktivitasnya yang berbeda. Edgar bahkan melihat foto Arumi saat memakai apron dengan tulisan nama toko kue-nya.
"Arum ...." resah Edgar. Tiba-tiba ia merasa begitu mencemaskan gadis yang sangat ia cintai, terlebih setelah ia kembali teringat pada peristiwa pelemparan batu di paviliun itu.
Edgar segera meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Arumi. Berkali-kali ia melakukan panggilan telepon pada nomor gadis itu. Ia sepertinya lupa jika saat itu di Indonesia sudah masuk waktu tengah malam. Arumi sudah tertidur lelap di dalam kamarnya. Lagi pula, ponsel milik Arumi saat itu berada dalam mode silent.
Sementara itu, Edgar terlihat begitu gelisah. Ia beranjak dari meja kerjanya dan terus berjalan mondar-mandir dengan perasaan tidak karuan. Sesekali, ia memegangi rambutnya dan mengacak-acaknya perlahan. Satu lagi pekerjaan yang harus ia tuntaskan, yaitu mencari tahu siapa pengirim foto-foto itu.