
Angin berembus dengan tidak terlalu kencang, tapi udara terasa cukup dingin. Musim akan terus berganti, dan waktu akan terus berlalu tanpa kita sadari. Detik, menit, setiap helaan napas yang sudah menghiasi langkah. Entah itu langkah yang lambat ataupun cepat, semuanya pasti akan mencari satu tujuan. Menemukan sebuah tempat yang akan dijadikan sebagai pelabuhan terakhir.
Paris. Sekian lama Arumi meninggalkan kota yang mencerminkan sisi indah dari sebuah romantisme cinta yang terlupakan. Kini, cinta itu bersemi kembali di kota yang sama, dengan orang yang sama. Apakah dunia ini memang terlalu sempit? Apakah goresan takdir itu terlalu kuat?
Kebetulan hari ini cuaca sedang cerah. Arumi duduk di atas rumput dengan dilapisi kain berwarna biru. Ia tersenyum seraya memerhatikan Puspa, yang terkagum-kagum ketika untuk pertama kalinya dapat melihat Menara Eiffel secara langsung. Bagi seorang Puspa yang tidak berani untuk bermimpi terlalu tinggi, jelas sudah jika hal itu adalah sebuah bonus yang luar biasa.
“Permisi, Nona. Boleh aku tahu jam berapa sekarang?” terdengar suara seorang pria yang membuat Arumi tersipu. Arumi seketika menoleh. Gadis itu kemudian tersenyum. “Bayar dulu, baru akan ku jawab!” sahutnya seraya menyambut hangat kehadiran pria yang tiada lain adalah Edgar di sana.
Edgar tersenyum seraya ikut duduk di dekat gadis itu. Ia menatap Arumi dan kemudian mengelus lembut wajahnya. Gadis itu sudah tampak biasa kembali. Ia tidak terlihat trauma atau ketakutan setelah insiden penculikan yang menimpanya.
“Ikutlah denganku!” ajak Edgar. Ia lalu meraih pergelangan tangan Arumi.
“Hey! Kamu harus meminta izin terlebih dahulu kepada kakak-ku!” protes Arumi. Namun, ia mengikuti Edgar yang terus membawanya menjauh dari area itu. Edgar tidak peduli. Ia terus menuntun Arumi dan membawa gadis itu menyusuri jalanan kota Paris menjelang musim gugur.
Dua sejoli itu terus melangkah di antara deretan bangunan tinggi menjulang, dengan desain khas Eropa. Ada banyak senyum keceriaan dan hangat yang terlukis di wajah keduanya. Sesekali mereka terlihat bersenda gurau, hingga akhirnya Edgar mengajak Arumi memasuki sebuah toko perhiasan.
“Untuk apa kita kemari, Ed?” tanya Arumi tanpa melepas senyumannya.
“Kamu akan segera mengetahuinya,” jawab Edgar dengan senyum kalemnya.
Arumi tidak banyak protes. Ia hanya menurut dan duduk manis ketika Edgar menyuruhnya untuk menunggu sesaat.
Edgar terlihat berbicara kepada seorang wanita cantik dengan penampilan anggun. Tidak berselang lama, wanita itu datang menghampiri Arumi yang masih duduk manis sambil terus memerhatikan Edgar yang kembali menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Arum, kenalkan ini Maria. Dia yang akan mendesain cincin pernikahan kita,” Edgar mengenalkan wanita yang usianya terlihat di atas mereka berdua. Arumi tersenyum ramah menyambut anggukan sopan dari wanita itu.
“Kami dapat mengerjakan cincin pesanan Anda hanya dalam waktu tujuh hari. Tentu saja tanpa mengabaikan kualitas dari pengerjaannya. Kami memiliki orang-orang yang sangat kompeten, dan saya pastikan Anda tidak akan menyesal karena telah memercayakan hal penting ini kepada kami,” ucap wanita itu dengan sangat jelas dan penuh percaya diri.
Arumi melirik Edgar yang saat itu terlihat bahagia. Wajahnya tampak sangat cerah dan berseri. Luka lebamnya pun sudah tidak terlihat lagi.
“Anda dapat memilih dari beberapa model yang kami sediakan, dan tentu saja bisa dimodifikasi sesuai dengan keinginan Anda,” jelas wanita itu lagi masih dengan sikap ramahnya.
Arumi masih belum berkata apa-apa. Ia justru malah sibuk memerhatikan Edgar, yang saat itu tengah fokus menanggapi semua penjelasan dari wanita itu.
Arumi rasanya tidak membutuhkan sesuatu yang indah dan mahal seperti sebuah cincin berlian, karena baginya Edgar sudah jauh lebih dari segalanya.
Edgar telah menjadi pemenang. Ia berhasil menaklukan gadis itu dengan segala usaha kerasnya yang tak kenal lelah. Memang benar jika ada pepatah yang mengatakan bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.
Lihatlah Edgar saat ini. Ia terus tersenyum bahagia, karena tidak lama lagi Arumi akan benar-benar menjadi miliknya.
“Bagaimana menurutmu, Arum?” tanya Edgar seraya melirik Arumi dan membuat gadis itu seketika tersadar dari lamunanya. Arumi tampak sedikit gelagapan. Akan tetapi, dengan segera ia tersenyum dan kembali bersikap normal.
“Tidak, Babe! Jangan bicara begitu! Wanita biasanya jauh lebih pintar dalam menentukan urusan seperti ini. Jadi, aku serahkan semua ini padamu, Sayang,” ujar Edgar seraya mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
“Baiklah,” balas Arumi seraya tersenyum manis. Aruni mulai mengamati beberapa model cincin yang diperlihatkan Maria kepadanya. Kini giliran Edgar lah yang memerhatikan gadis itu dengan penuh kekaguman.
Lagi, ini seperti sebuah mimpi bagi Edgar ketika semua keinginannya hampir tercapai. Perjalanan panjangnya dalam mengikuti langkah Arumi, akhirnya membawa dirinya pada sebuah anggukan setuju dari gadis itu.
Arumi. Bagaimanapun dirinya kini, ia tetaplah Arumi yang dulu bagi Edgar. Arumi yang manis dan sangat ceria. Arumi yang selalu tersenyum dengan sepasang lesung pipit di kedua pipinya.
Edgar seperti kehabisan kata-kata untuk dapat melukiskan betapa indahnya gadis itu.
“Besok kakak-ku akan ke Marseille selama tiga atau empat hari. Setelah itu, kami akan kembali ke Indonesia bersama-sama,” ucap Arumi seraya meneguk teh hangat yang dipesannya. Sesekali, ia menatap dedaunan yang jatuh dan berserakan.
“Aku ingin sekali bergabung dengan kalian, tapi masih ada yang harus kuurus di sini. Aku harap dalam bulan ini semua masalah yang berkaitan dengan perusahaanku selesai. Dengan begitu, aku bisa fokus mempersiapkan rencana pernikahan kita,” Edgar kemudian meneguk kopinya.
“Aku ingin membawamu tinggal di sini Arum setelah kita menikah nanti. Aku sudah membeli sebuah rumah musim panas yang sangat indah. Kapan-kapan aku akan mengajakmu untuk melihatnya,” ucap Edgar lagi.
“Ya, tentu. Bukankah kamu berencana untuk membeli rumah di Indonesia?” tanya Arumi.
“Tidak jadi,” jawab Edgar dengan segera. “Jika aku sudah berhasil membawamu kemari, untuk apa aku membeli rumah di sana? Aku rasa menginap di rumahmu akan jauh lebih menyenangkan jika sesekali kita berkunjung,” Edgar tertawa pelan.
Mereka sudah membahas rencana masa depan yang terlalu jauh, sementara mereka belum mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan pernikahan, kecuali cincin tadi tentunya.
“Aku ingin segera menikahimu, Arum,” ucap Edgar seraya mengenggam jemari Arumi yang ia letakan di atas meja. “Aku ingin melihatmu setiap hari ada di dekatku. Aku harap kamu mau memasak untukku, membuatkanku kopi, menemaniku membaca, dan sesekali duduk di pangkuanku.”
Arumi tertawa geli mendengar ucapan Edgar. Akan tetapi, memang sudah seharusnya seperti itu. Arumi ingin menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang baik seperti halnya sang ibu, Ryanthi. Wanita itu mampu menjalankan semua tugasnya tanpa banyak mengeluh.
“Aku selalu bermimpi tentang sebuah pernikahan yang manis. Ibuku pernah bercerita, jika ayahku dulu sering bernyanyi sambil memainkan gitar akustik untuknya setiap malam sebelum tidur. Itu juga yang membuat ibuku jadi senang mendengarkan musik,” tutur Arumi. Ada kegetiran dalam tatap matanya ketika ia mengenang kedua orang tuanya.
Edgar tersenyum kecil. Ia lalu mengela napas pendek. Setelah itu, ia kembali meneguk kopinya. "Aku tidak terlalu mahir bermain gitar. Semasa sekolah aku sempat membentuk band dengan beberapa orang temanku. Terdiri dari lima orang siswa yang tampan, tentu saja kami menjadi idola," tutur Edgar dengan bangga sekaligus tersenyum geli, karena melihat ekspresi aneh Arumi saat menanggapi ceritanya.
Edgar mengernyitkan keningnya. "Kamu tidak percaya, Arum?"
Arumi menahan tawanya, membuat Edgar mengeluh pelan seraya mengusap-usap keningnya.
Arumi tersenyum manis. Ia kemudian meneguk kembali tehnya. "Aku percaya jika kamu selalu menjadi idola, dan kamu memang pantas mendapatkan hal itu," ucap Arumi dengan lembut.
"Ya, dan kamu berhak mendapatkan idola sepertiku, Arum," balas Edgar dengan diiringi senyum khasnya. Senyuman yang akan selalu Arumi rindukan, terlebih setelah nanti ia kembali ke Indonesia dan meninggalkan Edgar.