Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Pesta Musim Dingin


Penghujung bulan Desember. Kota Paris masih ditutupi salju. Akan tetapi, hal itu tidak membuat Edgar mengurungkan niatnya untuk menyelenggarakan pesta di kediamannya. Adalah sebuah private party, di mana Edgar hanya mengundang beberapa orang saja yang benar-benar sudah dekat dengannya.


Alunan lembut musik klasik dari sebuah piringan hitam, terdengar mengisi seluruh ruangan megah itu. Meski di luar udara sangat dingin, tetapi di dalam ruangan itu kehangatanlah yang justru terasa. Tungku perapian terus menyala dan semakin menambah rasa hangat suasana, yang dibumbui oleh gelak tawa dan obrolan-obrolan ringan yang penuh keakraban.


Edgar memperkenalkan Arumi kepada semua koleganya yang hadir di sana. Beberapa dari mereka ada yang memuji kecantikan Arumi secara kangsung dan membuat wanita dua puluh enam tahun itu hanya tersenyum.


“Kamu menyukai pestanya, Sayang?” tanya Edgar seraya melingkarkan tangan kirinya di belakang pinggang Arumi.


“Ya, tentu saja. Tamu-tamu kita sangat menyenangkan dan ramah,” sahut Arumi pelan.


“Setelah ini, kamu harus bersedia menemaniku untuk menghadiri acara-acara seperti ini," balas Edgar.


"Oh iya, Sayang. Mereka semua orang penting dan terpelajar tentunya, jadi wajar saja jika mereka ....” Edgar tidak melanjutkan kata-katanya, ketika ia melihat dua orang yang baru datang dan membuka mantel tebal yang mereka kenakan. Edgar menatap tajam kedua orang tersebut. Mereka yang kini tengah melangkah ke arahnya dan juga Arumi.


Sahabtanya Durant, datang ke pesta itu dengan mengajak seseorang yang menggandeng lengan pria berambut pirang dan gondrong itu, dengan sangat akrab dan tanpa rasa canggung sama sekali, termasuk ketika mereka telah berdiri di hadapan Edgar dan Arumi.


Pria dengan rambut sebahu yang diikat sebagian itu, tesenyum kepada sahabat dekatnya. Penampilan Durant malam itu terlihat jauh lebih formal dari biasanya. “Selamat malam, Ed. Bagaimana kabarmu?” sapa Durant seraya memeluk dan menepuk-nepuk punggung Edgar beberapa kali tanda keakraban di antara mereka.


“Baik. Sangat baik,” jawab Edgar dengan wajah yang tidak terlalu berseri, terutama setelah ia menoleh kepada wanita cantik berambut pendek yang masih menggandeng lengan Durant. Wanita yang tiada lain adalah Mirella Evariste. Wanita itu tersenyum manis kepada Edgar, sesekali ia juga melirik kepada Arumi.


“Kau tidak ingin mengenalkan kami kepada istrimu, Ed?” Mirella dengan senyumannya yang terlihat sangat aneh. Sementara Edgar tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam kepada wanita cantik itu,.


Sesaat kemudian, Edgar lalu mengalihkan pandangannya kepada Durant.


“Sayang, perkenalkan ini temanku Durant Bonucci. Dia adalah pria asli Italia dan merupakan seorang seniman tato,” Edgar menunjuk kepada pria dengan blazer dan turtleneck hitam serta bermata hijau. Pria yang saat itu segera mengulurkan tangannya kepada Arumi.


Arumi membalas uluran tangan dari Durant. Tanpa disangka, Durant mencium punggung tangan Arumi dengan sangat sopan.


“Nyonya Hillaire,” sapa pria asal Italia itu dengan senyum manisnya.


Arumi tersenyum ramah. “Terima kasih atas kedatangannya, Tuan Bonucci,” sambut Arumi masih dengan senyumnya.


“Jangan terlalu formal. Suamimu biasa memanggilku D, tapi kau boleh memanggilku apa saja,” ucap Durant dengan nada bicaranya yang terdengar santai tapi sedikit tegas. Arumi kembali tersenyum seraya mengangguk. Sesaat kemudian, ia lalu mengalihkan pandangannya kepada wanita di sebelah Durant.


“Apa ini istrimu?” tanya Arumi kepada pria berambut pirang itu.


“Selamat atas pernikahanmu. Aku ikut bahagia. Semoga kau dan Edgar bisa selalu menjadi pasangan suami istri yang rukun,” ucap Mirella diakhiri dengan senyum geli. Sementara Arumi menanggapi ucapan wanita itu dengan tersenyum. Sedangkan Edgar, ia menatap tajam Mirella. Pria itu harus segera meminta penjelasan kepada Durant, bagaimana bisa Mirella ada di pestanya.


“Apa yang kau lakukan di sini, Mirella?” tanya Edgar dengan nada bicaranya yang terdengar tidak bersahabat.


Mendengar Edgar menyebutkan nama Mirella, seketika Arumi menoleh kepada sang suami. Ia seakan ingin meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.


Edgar membalas tatapan Arumi. Pria itu terlihat tidak berseri sama sekali. Semua rona bahagia yang ia perlihatkan dari awal pesta berlangsung, seketika hilang tak berbekas setelah kedatangan Durant dan Mirella ke sana.


“Ya, Sayang. Dia adalah Mirella Evariste. Adik kandung dari Benjamin Evariste, pria yang telah menyekapmu. Mirella menjadi salah satu otak dalam rencana penculikanmu dan juga penggelapan dana nasabah perusahaan ayah angkatku. Bagaimana kau bisa bebas, Millie?” selidik Edgar. Pria itu masih melayangkan tatapan tajamnya kepada wanita dua puluh tujuh tahun itu. Ia benar-benar tidak menyukai kehadiran Mirella di sana.


“Aku yang telah menebusnya, Ed,” ucap Durant dengan tenangnya. “Mirella saat ini menjadi tahanan kota. Aku yang telah menjaminnya. Aku pastikan jika dia akan bersikap baik dan mematuhi hukum serta peraturan yang berlaku,” lanjut Durant dengan yakin.


“Bagaimana kau bisa merasa sangat yakin? Gadis ini benar-benar licik dan tidak tahu malu! Aku tidak ingin merusak pestaku sendiri. Dengan terpaksa aku harus mengatakan, selamat datang di pesta kami dan semoga kalian menikmatinya,” kesal Edgar mengajak Arumi meninggalkan Durant dan Mirella. Pikirannya tiba-tiba kacau. Ia merasa kecewa dengan apa yang sudah Durant lakukan.


“Sayang, jadi dia Mirella?” tanya Arumi. Selama ini, ia hanya mendengar nama Mirella tanpa mengetahui yang mana orangnya.


“Ya,” jawab Edgar singkat. “Aku tidak mengerti kenapa Durant melakukan hal seperti itu. Padahal aku pernah bicara serius dengannya sebelum aku pergi ke Indonesia. Aku tidak menyangka jika ia bertindak sejauh ini,” Edgar terdengar sangat kecewa. Ekspresi wajahnya tampak datar dan seperti menahan amarah yang besar.


Ya, tentu saja. Edgar tidak salah jika merasa seperti itu. Apa yang sudah dilakukan Mirella dan kakak-nya Ben, memang sudah sangat keterlaluan dan di luar batas. Wajar jika Edgar ingin melihat kakak beradik itu terus meringkuk di dalam penjara. Mereka harus menebus kesalahan yang telah mereka lakukan.


“Sudahlah! Lupakan dulu hal itu untuk sejenak! Jangan sampai kehangatan pesta ini menjadi terusik. Kita akan membicarakan ini nanti, atau tidak usah kita bahas sama sekali!” ujar Arumi. Apa yang ia rasakan tidak jauh berbeda dengan apa yang Edgar rasakan.


Edgar mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya dengan teratur. Ia terdiam untuk sejenak dan tampak tengah menenangkan dirinya. “Ya, kamu benar. Ini pesta kita dan kita anggap saja Mirella tidak pernah hadir di sini,” ucapnya yang masih tetap berdiri dengan setengah bersandar pada meja yang berada di bagian lain dari rumah itu.


Arumi kemudian mendekatkan dirinya kepada Edgar. Ia merasa harus menenangkan sang suami. Tidak ada salahnya jika ia memberi satu ciuman untuk pria itu. Edgar pun tidak menolaknya. Ia menerima hal itu dengan senang hati.


“Ayo kita kembali ke pesta! Jangan sampai para tamu berpikir macam-macam tentang kita!” ajak Arumi seraya meraih tangan Edgar dan menuntunnya kembali ke ruangan pesta.


Sebagai tuan rumah yang baik, mereka terus memberikan penyambutan yang hangat di tengah udara dingin kota Paris malam itu.


Sementara di sudut lain dari ruangan itu, terlihat Durant dan Mirella tengah berduaan. “Cantik bukan? Aku akui jika Edgar memang tidak pernah salah dalam memilih seorang wanita. Lihatlah, Durant! Arumi memiliki pinggang yang sangat indah,” Mirella melirik pria bermata hijau, yang sedari tadi terus melayangkan tatapannya kepada Arumi.