Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Coklat Hangat


Durant tersenyum simpul. Ia akui jika Arumi memang terlihat sangat cantik. Selama ini, Durant hanya mendengar nama Arumi dari cerita Edgar, ketika pria itu meminta dirinya untuk membuatkan tato dengan nama wanita itu.


Sekarang Durant mengerti, pantaslah jika Edgar rela melepas citranya sebagai seorang cassanova dan meninggalkan semua gadis cantik yang dulu selalu mengelilinginya, demi wanita yang kini menjadi istrinya itu.


Diliriknya Mirella untuk sesaat. Wanita itu sebenarnya tak kalah cantik dengan Arumi. Akan tetapi, entah kenapa karena mereka terlihat sangat berbeda. Kedua wanita itu memiliki aura yang seakan bertolak belakang. Apakah karena itu pula Edgar tidak lagi memedulikan Mirella, hingga membuat wanita bermata abu-abu itu berani berbuat nekat?


“Aku dikalahkan oleh wanita itu, Durant. Mirella sudah kalah telak. Apa menurutmu Edgar bisa kembali kepadaku?” Mirella dengan setengah bergumam.


Durant mengela napas dalam-dalam. Ia kemudian mengalihkan tatapannya kepada Mirella, meskipun wanita itu lebih memilih untuk melayangkan tatapannya kepada Edgar.


“Sudahlah, Millie! Jangan sampai kau memiliki niat untuk mengusik rumah tangga orang lain! Itu tidak akan menjadikan hidupmu bahagia, meskipun kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan,” ucap Durant dengan sangat bijaksana.


Mirella mengalihkan tatapannya kepada pria berambut gondrong itu. Ia pun tersenyum. “Kau mengenalku dengan sangat baik, Durant,” sahut Mirella dengan gaya bicaranya yang terdengar sedikit angkuh.


Durant tertawa pelan. “Ya, karena itulah aku mengingatkanmu,” balas pria itu dengan sikapnya yang tenang. “Ingatlah Millie! Edgar adalah sahabatku. Aku senang saat melihatnya bahagia, dan aku juga tidak ingin kebebasanmu kali ini menjadi sesuatu yang sia-sia. Jangan melakukan hal yang bodoh, Millie! Jangan mencari masalah dengan Edgar, karena aku tidak akan membantumu lagi jika nanti Edgar sampai mengirimmu kembali ke dalam penjara!” ancam Durant meski masih dengan nada bicaranya yang sangat tenang.


Mirella tidak menanggapi ucapan Durant. Dalam hati ia mengakui jika ucapan Durant memang benar. Edgar yang sekarang, bukan lagi Edgar yang ia kenal dulu. Apalagi, Edgar kini telah menikahi Arumi, wanita yang telah sekian lama menjadi pujaan hatinya.


Kesempatan bagi Mirella untuk dapat menarik perhatian pria tampan itu, mungkin sama halnya dengan setitik bulatan kecil dalam tumpukan salju.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika pesta itu berakhir. Satu persatu tamu yang datang pun telah pulang. Begitu juga dengan Durant dan Mirella yang berpamitan paling akhir kepada tuan rumah.


Salju terus turun pada malam itu. Edgar menyalakan perapian modern yang ada di dalam kamarnya, sehingga suhu di dalam kamar itu menjadi jauh lebih hangat.


Ini adalah musim dingin pertama bagi Arumi setelah sekian lama ia kembali dari Eropa dan tinggal di Indonesia. Arumi harus kembali beradaptasi, setidaknya ia akan melalui musim dingin itu hingga bulan Maret mendatang.


“Aku kedinginan, Sayang,” ucap Arumi setelah ia selesai berganti pakaian dengan piyama. Arumi juga memakai kaos kaki.


“Kemarilah!” Edgar merentangkan tangannya dan mengajak sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya. Arumi segera naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam pelukan Edgar. Ia menyandarkan tubuhnya di dada pria yang kini tengah mendekapnya dengan erat dari belakang.


Edgar menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Arumi yang terlihat sangat nyaman saat bersandar kepada dirinya. Berkali-kali ia mengecup mesra rambut sang istri. Betapa itu adalah sebuah keajaiban untuknya.


Arumi terasa begitu hangat. Ia bahkan jauh lebih hangat dari sebuah perapian, yang mampu menyamarkan suhu dingin di kala cuaca bersalju saperti saat ini. Edgar pun mendekap tubuh Arumi dengan semakin erat. Ia seakan tidak ingin melepaskannya sama sekali.


Arumi memejamkan matanya ketika Edgar mendekapnya dengan hangat dan mengelus lembut wajahnya. Ia semakin merasa nyaman berada di dekat pria itu. Biarlah di luar sana udara terasa begitu dingin, karena yang pasti Arumi kini merasa nyaman dengan rasa hangat yang ia terima, dari cinta yang luar biasa yang diberikan oleh seorang Edgar.


“Apa kamu sudah mengantuk, Sayang?” bisik Edgar seraya kembali mengelus lembut wajah Arumi.


Arumi menggerakan tubuhnya dengan manja. Ia meletakan tangannya di atas punggung tangan Edgar yang berada di perutnya. “Aku lelah, tapi aku sangat merindukanmu,” jawab Arumi seraya mengusap-usap punggung tangan Edgar dengan lembut.


Edgar menggumam pelan. “Ayo, berbaliklah!” suruhnya. Arumi segera membalikan tubuhnya sehingga kini ia menghadap kepada sang suami. Pria itu tersenyum  seraya kembali mengelus lembut rambut panjang Arumi. “Apa yang kamu inginkan?” tanya Edgar dengan wajah penuh tantangan.


Arumi menatap sang suami dengan lembut. Seperti biasa, ia memainkan bola matanya dan tersenyum. “Coklat hangat,” jawabnya dengan setengah berbisik.


“Akan kubuatkan. Ayo!” Edgar mengajak Arumi untuk ke dapur. Ia menuntun sang istri yang terus menunjukan raut bahagianya. Hingga mereka tiba di dapur, Edgar baru melepaskan genggaman tangannya. Ia kemudian berdiri tepat di hadapan Arumi.


“Tunggu sebentar dan coklat hangat akan datang untukmu!” ucap Edgar dengan senyum lebar yang berbalas hal yang sama dari Arumi. Namun, sebelum pria itu berlalu, ia terlebih dahulu mengangkat tubuh ramping sang istri dan mendudukannya di atas meja. “Duduk yang manis dan jangan mengganggu konsentrasiku!” pesannya lagi.


Baru saja Edgar akan berbalik, dengan cepat Arumi menaha pria itu dengan kakinya yang ia lingkarkan di pinggul Edgar. Arumi juga melingkarkan tangannya di leher pria itu, dengan sikapnya yang terlihat sangat manja. Wanita itu tersenyum manis dan sangat menggoda.


“Lihatlah! Aku belum melakukan apa-apa tapi kamu sudah menggangguku,” ucap Edgar seraya menggelengkan kepalanya tanda tak habis pikir dengan ulah sang istri. Namun, ia kini membalas perlakukan Arumi kepadanya.


Edgar kemudian meletakan tangannya pada pinggul Arumi. Dire•masnya pinggul itu ketika Arumi menciumnya dengan mesra. Sebuah ciuman yang lembut dan terasa begitu hangat.


Beberapa saat lamanya mereka habiskan untuk saling melu•mat, dengan permainan lidah yang makin lama semakin menggelitik, dan membangunkan sesuatu yang sejak tadi tertidur nyenyak. “Sudah kubilang jangan menggangguku!” ucap Edgar dengan setengah berbisik.


Arumi tidak menjawab. Wanita itu hanya tertawa pelan seraya kembali mencium sang suami dengan ciuman yang semakin panas. Edgar pun membalasnya dengan senang hati.


Sesaat kemudian, Edgar menghentikan ciumannya. Ia lalu beranjak untuk mematikan lampu dapur sehingga suasana di sana menjadi temaram.


Kembali dihampirinya sang istri yang masih duduk di atas meja. Edgar kembali merengkuh wanita itu dan menurunkannya dari atas meja. Edgar mengajak wanita itu untuk duduk di lantai berlapis kayu yang hangat. Ia bersandar pada meja, sementara Arumi duduk di atas pangkuannya sambil menghadap kepada dirinya.


“Kita masih bisa bersenang-senang tanpa harus melepas pakaian,” bisik Edgar dengan tangan kanan yang mulai menelusup masuk ke dalam piyama berlapis sweater rajut yang dikenakan oleh Arumi.


Arumi tersenyum. Raut wajahnya terlihat aneh ketika ia merasakan tangan Edgar yang menyentuh kulitnya, dan memainkan sesuatu dari dirinya. Arumi hanya mampu mend•esah pelan seraya membenamkan wajahnya pada pundak sang suami, dengan helaan napas yang mulai terasa berat.