
Arumi terdiam ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Edgar. Ia kemudian memegangi perutnya. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan, sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu. “Aku rasa, dia tidak akan berani berbuat macam-macam lagi. Kamu terlalu tangguh untuk menjadi lawannya, Sayang,” ucap Arumi tanpa mengubah posisi duduknya.
“Aku harap begitu. Aku bisa mengambil tindakan yang jauh lebih tegas jika ia masih berani berbuat macam-macam. Terutama jika hal itu terjadi pada dirimu,” balas Edgar.
Sesaat kemudian, Edgar lalu tertawa pelan. Apa yang dilakukannya telah membuat Arumi menjadi heran. Wanita itu melirik sang suami seraya mengernyitkan keningnya. “Ada sesuatu yang lucu, Sayang?” tanyanya.
Edgar menghentikan tawanya. Ia balas melirik Arumi dengan tatapannya yang penuh cinta. Edgar kembali mengecup kening sang istri. “Aku hanya merasa takjub, karena memiliki istri yang sangat pemberani sepertimu. Siapa yang akan menyangka jika di balik wajah cantik dengan penampilan yang manis ini, tersimpan sebuah pukulan dan tendangan yang sangat mematikan,” ujar Edgar.
Arumi ikut tertawa. Ia kemudian melirik Henry yang masih berdiri dengan setia, di dekat mobil yang terparkir cukup jauh dari tempat mereka duduk. “Kapan-kapan aku akan mengajari Henry bagaimana caranya menendang bo•kong penculik,” balas Arumi seraya kembali tertawa. Edgar pun ikut tertawa seraya berdiri. Ia lalu membantu Arumi untuk ikut berdiri.
“Udaranya semakin dingin. Sebaiknya kita segera pulang,” ajak Edgar. Arumi mengangguk setuju. Ia tersenyum seraya menggandeng lengan sang suami dengan mesranya. Mereka berdua menyusuri jalanan di taman, yang dipenuhi oleh tumpukan daun maple dengan warna jingga kemerahan yang sangat indah.
Sesampainya di dekat mobil, Henry segera membukakan pintu untuk Arumi dengan sopan. Pria dengan perawakan tinggi besar itu tersenyum ramah. “Aku harap kau tidak kedinginan berdiri lama-lama di sini ... sendirian,” ucap Arumi.
“Henry sudah biasa kedinginan, Sayang,” seloroh Edgar seraya melirik pengawal kepercayaannya.
Sedangkan Henry hanya tersenyum malu-malu. Pria dengan rambut cepak itu sesekali menundukan wajahnya. “Tuan Hillaire sangat mengenal saya,” jawabnya. Edgar menanggapinya dengan sebuah tepukan di lengan pria itu.
Setelah semua masuk dan duduk manis di dalam mobil, Henry kemudian menjalankan mobil SUV putih itu dan berlalu meninggalkan taman dengan dedaunanya yang masih berjatuhan.
......................
Malam itu, Arumi terbangun. Dilihatnya Edgar yang tengah tertidur pulas di sebelahnya. Arumi mengela napasnya dalam-dalam kemudian ia embuskan perlahan, begitu dan seterusnya. Rasa tidak nyaman kian mendera. Arumi kemudian beranjak turun dari tempat tidur. Tadinya ia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi.
Akan tetapi, Arumi lebih memilih untuk berdiri dengan setengah membungkuk. Tangannya berpegangan dengan erat pada sandaran sofa, yang berada tidak jauh dari tempat tidur itu. Arumi terus berusaha mengatur pernapasannya di antara rasa tidak nyaman, yang makin lama semakin terasa kuat.
Sementara itu, Edgar masih terlelap. Tentu saja ia tidak tahu apa yang tengah dialami oleh sang istri. Namun, makin lama Arumi merasa tidak tahan, hingga akhirnya ia mengeluarkan suara ringisan yang lebih nyaring dari sebelumnya.
Perlahan, Edgar membuka mata. Ia lalu melihat ke sebelahnya. Arumi tidak ada di sana, dan yang ia dengar adalah suara ringisan sang istri yang saat itu tengah berjuang menahan rasa sakit. Melihat hal itu, Edgar segera bangkit dan menghampiri Arumi. Wajahnya terlihat cemas. “Sayang, kamu kenapa?” tanyanya. Ia memapah Arumi untuk duduk di sofa.
Wajah Arumi mulai pucat. Terlihat ia tengah menahan rasa sakit yang luar biasa. “Antarkan aku ke rumah sakit!” pinta Arumi di sela-sela ringisannya.
Tanpa berpikir panjang, Edgar segera mengambil kunci mobilnya. Ia kemudian membantu Arumi untuk berdiri. Namun, Arumi tak juga mau melangkah. Ia justru malah memerhatikan sang suami. Hal itu membuat Edgar ikut tertegun. “Ada apa?” tanyanya.
“Kamu ingin semua orang melihat tato di dadamu, Sayang?”
Edgar terdiam. Ia baru menyadari jika dirinya memang terbiasa tidur tanpa memakai baju. Pria itu masih sempat tersenyum geli, sebelum akhirnya ia meraih T Shirt yang ia letakan di ujung tempat tidurnya. Setelah siap, barulah mereka keluar dari kamar.
Edgar kemudian menghubungi Henry dan menyuruhnya untuk segera bersiap-siap. Ia tidak ingin menyetir sendiri, karena ia ingin fokus menemani Arumi. Lagi pula, saat itu ia tengah merasa khawatir dan tidak dapat berkonsentrasi dengan baik.
“Apa kita perlu membangunkan bibi Carmen?” tanya Edgar. Ia terlihat cukup kebingungan.
Edgar semakin kebingungan. Sementara itu, Henry sudah siap untuk mengantar mereka. Baru saja mereka akan beranjak keluar, tiba-tiba Edgar kembali tertegun. Ia baru ingat jika ia lupa membawa ponselnya. Edgar pun segera kembali ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Edgar kembali dengan ponsel dan tas kecil kesayangan Arumi. “Tas keberuntunganmu, Sayang,” ucapnya dengan senyuman polos yang sangat manis. Akan tetapi, senyuman itu kembali pudar dan berganti dengan raut keresahan, ketika ia melihat Arumi yang tampak semakin kesakitan.
Edgar segera memapah Arumi menuju mobil yang telah disiapkan oleh Henry. Namun, ia belum sempat membangunkan Carmen. Tanpa berlama-lama, mereka segera meluncur ke rumah sakit.
Setibanya di loby rumah sakit, Edgar segera membantu Arumi untuk turun dari mobil. Ada beberapa petugas medis yang berjaga malam itu. Salah satu dari petugas itu menghampiri mereka, dan memberikan kursi roda untuk Arumi. Ia juga langsung membawa Arumi ke ruang tindakan.
Di sana, Arumi dipersiapkan untuk menjalani persalinannya. Dokter yang biasa menanganinya pun telah dihubungi dan akan segera datang. Sementara itu, Arumi merasa semakin kesakitan. Ia terus terus meringis dan merintih pelan.
Edgar pun tidak tinggal diam. Ia terus menemani dan tentu saja menenangkan sang istri. Didekapnya dengan erat tubuh Arumi yang saat itu berbaring dan setengah bersandar di dadanya. Edgar terus membelai sang istri dan membantunya untuk terus kuat dalam menghadapi proses antara hidup dan mati yang akan segera Arumi jalani.
Beberapa saat kemudian, dokter pun datang. Ia segera memeriksa Arumi dan menyatakan bahwa tidak lama lagi proses persalinan akan dilakukan. Dokter itu menawarkan kepada Edgar, untuk tetap tinggal dan menemani Arumi selama masa persalinan berlangsung. Tentu saja Edgar menyetujui hal itu. Ia tidak akan meninggalkan Arumi walau sedetikpun.
Hingga proses persalinan itu tiba, Edgar terus berada di sana. Ini adalah pengalaman pertama baginya menyaksikan secara langsung proses kelahiran seorang bayi ke dunia.
Pria itu begitu emosional. Ada banyak perasaan yang bercampur aduk di dalam dadanya. Ia tidak kuasa melihat Arumi yang terus mengejan dengan sekuat tenaga, hingga bermandikan keringat. Itu adalah sebuah perjuangan yang sangat besar, yang telah dilakukan oleh seorang wanita.
Dokter terus memberi aba-aba kepada Arumi, kapan ia harus mengejan dan mengambil napas. Sementara Edgar masih terlihat begitu luar biasa. Ia masih belum percaya, bahkan hingga ia dapat mendengar suara tangisan bayi yang menggema di ruangan itu, dan menggantikan setiap erangan kesakitan dari Arumi.
Air mata menetes tanpa ia sadari. Edgar begitu terharu ketika melihat makhluk kecil yang selama ini selalu ia ajak bicara dan ia elus dengan penuh cinta, selama berada di dalam kandungan sang istri. Kini, Edgar dapat melihat secara langsung bayi kecil itu. Ia bergerak-gerak dengan perlahan di atas tubuh Arumi yang masih terengah-engah karena kelelahan.
Begitu pula dengan Arumi. Tangisnya tak dapat dibendung lagi. Ia menoleh kepada Edgar. Bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Arumi jauh lebih tidak percaya ketika ia dapat bersentuhan kulit secara langsung, dengan makhluk mungil yang selama ini hanya dapat ia rasakan gerakannya, di dalam rahimnya.
Kini, lengkap sudah kebahgaiaan itu, bagi Arumi dan Edgar.