Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Memulai Persiapan


 Sepeninggal Arumi, Edgar kemudian melanjutkan perjalanannya untuk menemui Durant, di kedai kopi tempat biasa mereka bertemu dulu. Pria itu ternyata sudah menunggu kedatangan Edgar. Ia terlihat begitu senang, ketika melihat Edgar yang tengah berjalan ke arahnya.


Durant, ia adalah sahabat dekat Edgar. Mereka kerap menonton sepak bola bersama meski sudah beberapa lama mereka tidak ada komunikasi sama sekali. Durant, merupakan seorang seniman tato. Ia juga yang telah mengukirkan nama Arumi, di dada sebelah kanan Edgar.


“Apa kabar, Ed?” Durant memeluk Edgar sesaat.


“Baik. Ke mana saja kamu selama ini?” tanya Edgar seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan pria berambut pirang itu.


Durant tersenyum kecil. Sepasang matanya yang berwarna hijau terlihat menyimpan sedikit keresahan. Ia lalu membetulkan kaca mata hitam yang diletakan di atas kepalanya, di sela-sela rambut sebahu yang ia ikat sebagian.


“Aku baru kembali dari Italia. Ibuku sakit keras dan meninggal dunia beberapa minggu yang lalu. Tadinya aku tidak akan kembali kemari, tapi entah kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatiku,” jelas pria dengan postur yang beberapa inci lebih tinggi dari Edgar.


“Maksudnya?” Edgar terlihat tidak mengerti. “Oh iya, kenapa kau tidak memberitahuku tentang keadaan ibumu?”


Durant tersenyum tipis. Senyum yang selalu menjadi ciri khas dari dirinya. Sesaat ia terdiam karena seorang pelayan di sana datang menghampiri mereka, dan membawakan dua cangkir kopi yang telah dipesan oleh Durant sebelum Edgar tiba di sana.


Pria dengan penampilannya yang sangat casual dan terkesan cuek tapi rapi itu, mengela napas pendek. Sepasang bola matanya yang berwarna hijau, menatap lekat kepada Edgar. Ia lalu memersilakan Edgar untuk mencicipi kopi yang sudah ia pesankan tadi.


“Meskipun kita sudah lama tidak bertemu, tapi aku masih ingat kopi kesukaanmu,” ucap Durant dengan tenang. "Setahuku kamu sedang berada di Indonesia, Ed. Ada seseorang yang memberitahuku waktu itu," lanjutnya.


Sementara Edgar hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil. Edgar kemudian meneguk kopi itu. "Ya, tapi tidak terlalu lama. Ada masalah besar yang mengharuskanku segera kembali kemari," jelas Edgar seraya menyulut rokok yang disodorkan Durant kepadanya.


“Katakan sesuatu padaku, Ed!” Durant sepertinya akan mulai membahas maksudnya mengajak Edgar bertemu di sana. Garis mukanya yang tegas, terlihat sangat serius. Asap tipis pun mengepul dari dalam mulutnya.


Edgar seakan sudah mengetahui arah dari pertanyaan Durant yang ditujukan kepada dirinya. Ingin rasanya ia menghindari percakapan itu. Edgar terdengar mengeluh pendek. Ia lalu menyandarkan tubuhnya dan membuang abu rokoknya di dalam asbak.


“Jujur saja jika aku tidak berminat untuk membahas sesuatu yang berhubungan dengan Mirella. Ada banyak hal buruk yang ia dan kakak-nya lakukan padaku dan calon istriku. Aku senang karena mereka berdua sekarang sudah menerima balasan dari kejahatan yang telah mereka lakukan,” tutur Edgar dengan tenang.


“Ayolah, Ed! Kau tahu seperti apa perasaanku terhadap Mirella. Tidak bisakah kau sedikit berbaik hati padanya dan ... cabutlah tuntutanmu untuknya!” pinta Durant dengan sungguh-sungguh.


Edgar tertawa pelan mendengar permintaan dari pria berambut pirang tersebut. Ia lalu kembali mengisap rokoknya dan mengepulkan asap tipis dengan teratur. “Jangan gila! Mana mungkin aku akan melakukan hal itu!" tolak Edgar dengan cukup tegas.


"Dengarkan aku! Mirella dan kakaknya yang dibantu oleh komplotannya, mereka telah menggelapkan uang jutaan dollar dari perusahaan dan membuat nama baik perusahaan menjadi tercoreng! Sekarang aku harus bekerja keras untuk mengembalikan kehormatan dari perusahaan milik ayah angkatku! Selain itu, mereka juga telah merencanakan penculikan terhadap calon istriku! Silakan pikir sendiri olehmu! Apakah kau akan memaafkan penjahat seperti itu?” Edgar terlihat mulai berapi-api. Amarah dalam dirinya kembali tersulut, ketika ia teringat pada peristiwa penculikan sesaat setelah ia dan Arumi baru tiba dari Marseille.


Durant tidak menjawab. Ia memang tidak mengetahui secara pasti alasan Mirella di tahan saat ini. Ia hanya merasa tidak tega ketika melihat wanita yang pernah ia sukai, berada dalam situasi yang menyedihkan seperti itu.


“Aku bukan malaikat, meskipun aku bisa saja memaafkan mereka. Akan tetapi, hukum harus tetap ditegakan dan aku tidak akan berkompromi dengan hal itu. Maafkan aku jika aku membuatmu kecewa D, tapi aku tidak akan memenuhi permintaanmu!” tegas Edgar membuat Durant hanya mampu mengempaskan napas panjang. Pria blasteran Perancis-Italia itu kemudian meneguk kopinya lagi.


Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Edgar. “Itu karena ulahnya sendiri,” sahut pria bermata abu-abu itu dengan puas. ”Sudahlah, D! Kau adalah temanku yang baik, dan aku tidak ingin Mirella menghadirkan kesalahpahaman lagi di antara kita. Lagi pula, aku sedang merencanakan pernikahanku. Aku juga sedang fokus mengembalikan keadaan perusahaanku agar kembali kondusif. Aku tidak ingin memikirkan hal-hal tidak penting, seperti yang sedang kita bahas saat ini,” pungkas Edgar seraya kembali meneguk kopinya.


Adalah sebuah keputusan yang sangat bodoh, seandainya ia bersedia memenuhi permintaan dari sahabatnya, Durant.


 


......................


 


 


 


Setelah menempuh hampir tujuh belas jam di perjalanan, akhirnya mereka tiba di Indonesia. Nining menyambut mereka dengan penuh suka cita. Sedangkan Zulaikha langsung membawa Dinan dan Jenna. Gadis muda itu sangat merindukan kedua anak yang biasa ia asuh.


Puspa dan Keanu juga segera masuk diikuti oleh sopir yang menjemput mereka ke bandara, yang kini membawakan barang-barang bawaan sang majikan.


Sementara Arumi, ia kini telah berada di kamarnya yang bernuansa jingga dan biru langit. Gadis itu duduk di tepian tempat tidurnya. Arumi termenung seorang diri.


Rasanya sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, di saat ia baru kembali dari Perancis. Saat itu, ia merasa bahagia karena dapat terlepas dari gangguan Edgar, meskipun nyatanya pria itu tetap mengejarnya hingga ke Indonesia. Namun, kini ia merasa sangat sedih, ketika harus meninggalkan negara yang begitu lekat dengan kesan romantisnya itu. Arumi meninggalkan tiga orang yang ia cintai di sana.


Ditatapnya cincin yang telah Edgar pasangkan di jari manisnya. Seutas senyuman muncul di bibir tipisnya. Arumi kemudian meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Edgar. Ia mengabarkan jika dirinya telah tiba di Indonesia.


Tidak berselang lama, masuklah sebuah pesan untuknya. Edgar membalas pesan dari Arumi dengan sebuah emoji hati. Memang seperti itulah gaya Edgar. Ia tidak terlalu suka berkirim pesan, karenanya tidak lama kemudian pria itu menghubungi Arumi.


Ada sedikit perbincangan di antara mereka. Namun, rasa canggung itu juga kian terasa.


Arumi ataupun Edgar berusaha untuk terlihat tegar. Mereka sudah bukan anak remaja yang mudah diombang-ambing perasaan, yang berakhir dalam kegalauan.


Saat itu akan tiba. Saat di mana Arumi dan Edgar akan semakin saling melengkapi kehidupan masing-masing. Mereka akan segera membuka lembaran baru. Sebuah babak baru yang akan menjadi awal dari sebuah petualangan penuh perjuangan.


Kesokan harinya, Arumi mulai mengurus segala hal. Dengan dibantu oleh Puspa, gadis itu terlihat sangat bahagia meskipun ia harus melakukan segala persiapan sendirian.


Sementara Edgar, ia masih sibuk dengan urusan perusahaannya yang kini berangsur stabil dan kembali kondusif. Itu adalah sebuah berita yang bagus, dengan begitu ia bisa segera menyususl Arumi ke Indonesia, dan membantu gadis itu dalam mempersiapkan segala sesuatu untuk mewujudkan pernikahan impian mereka berdua.