Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Sedikit Terkuak


“Kenapa, Arumi?” Ben terlihat cemas. Ia masih memegangi kedua lengan Arumi yang saat itu tampak sangat ketakutan.


“Tenangkan dirimu!” Ujar Ben dengan tiba-tiba memeluk gadis itu, sementara Arumi belum dapat berkata apa-apa. Akan tetapi, sesaat kemudian Arumi tersadar. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari Ben. Ben juga terlihat sedikit kikuk, karena sikapnya yang dirasa terlalu berani. “Sorry,” ucapnya pelan dengan nada menyesal.


“Coba ceritakan padaku, Arumi!” Pinta Ben setelah beberapa saat ia menunggu Arumi untuk bicara.


Arumi masih terlihat sedikit gelagapan. Namun, pada akhirnya ia pun berbicara kepada Ben tentang pria yang mengikutinya di toilet tadi. Sementara Ben mendengarkannya dengan serius.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Ben menarik tubuh Arumi pada bagian lorong yang lain. Ia segera melindungi tubuh gadis itu dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. “Diamlah!” Bisiknya. Wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajah Arumi, membuat gadis itu merasa sedikit tidak nyaman karenanya.


Terdengar suara derap langkah menuju ke arah mereka. Arumi mengenali suara langkah itu. Wajahnya kembali diliputi ketegangan. Namun, dengan segera Ben memberi isyarat padanya agar diam dan tetap bersikap tenang.


Arumi menurut saja. Gadis itu mengesampingkan rasa tidak nyaman karena Ben yang kini berada terlalu dekat kepadanya. Saat itu mereka terlihat seperti dua orang yang tengah bermesraan.


Wajah Arumi kian tegang ketika ia mendengar pria itu berbicara kepada seseorang. Pria itu sepertinya tengah memberi laporan kepada tuannya.


“Dia tiba-tiba menyerang saya, tuan. Sekarang saya kehilanngan jejaknya. Saya belum dapat memastikan apakah dia sudah pulang ke rumahnya atau belum,” terang pria itu.


Pria itu terdiam sejenak saat mendengar jawaban dari seberang. Sesaat kemudian ia kembali melanjutkan kata-katanya. “Baiklah, saya mengerti, tuan Hillaire,” tutupnya.


Terdengar suara langkahnya melewati Arumi dan Ben, hingga akhirnya terdengar semakin menjauh.


Pria misterius itu telah menjauh, tapi kata-kata yang ia ucapkan pada perbincangan terakhirnya telah mendekatkan Arumi pada sebuah keresahan yang justru jauh lebih besar. Ia mendengar pria itu menyebut nama tuan Hillaire. Apakah benar-benar Edgar yang telah mengirimkan pria misterius itu untuk mengikutinya dan memberikan teror kepada dirinya? Untuk apa? Kenapa Edgar melakukan hal itu? Arumi tidak habis pikir.


“Menyingkir dariku!” Arumi mendorong tubuh Ben hingga menjauh darinya. Dengan segera ia pergi dari tempat itu dan kembali menemui Chantal yang masih terlihat asyik menikmati pesta.


“Aku ingin pulang! Terserah kamu masih ingin di sini atau tidak!” Tegas Arumi. Tanpa menunggu jawaban dari sepupunya itu, Arumi segera beranjak dari ruang pesta yang menyesakkan itu.


Arumi terus melangkah dengan cepat dan terlihat sangat kecewa. Amarah dalam dirinya mulai muncul dan ingin segera ia lampiaskan, tetapi entah kepada siapa.


“Arumi tunggu!” Ben kembali mengejarnya.


Arumi tertegun dan menoleh. Wajah cantiknya terlihat sangat tidak bersahabat. “Jangan ganggu aku, Ben!” Tolak Arumi. Saat itu ia hanya ingin sendiri.


“Aku hanya ingin memastikan jika dirmu aman,” ujar Ben tetap pada pendiriannya untuk tidak membiarkan Arumi seorang diri.


Arumi menatap pria itu untuk sejenak. “Terima kasih atas kepedulianmu padaku. Akan tetapi, untuk saat ini aku benar-benar sedang ingin sendiri. Jadi, tolong jangan dekati aku dulu!”


“Aku hanya ingin ....” Ben tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena terdengar suara seorang pria yang menyelanya saat itu. Suara yang membuat Arumi kian merasa resah dan kacau.


“Dia sedang tidak ingin kau ganggu, Tuan,” sela pria yang tiada lain adalah Edgar. Ia berbicara dengan tenangnya. Sementara Arumi mendelik tajam ke arahnya ketika Edgar menghampiri mereka berdua.


“Kenapa kau terus mendekati kekasihku?” Edgar berdiri dengan gagahnya di dekat Arumi.


Ben tersenyum sinis. Ia seakan tidak peduli dengan keberadaan Edgar. Ia hanya berbicara kepada Arumi. “Aku hanya ingin memastikan jika kau tidak apa-apa, Arumi,” ucap Ben dengan tatapannya yang penuh kasih kepada gadis itu.


“Silakan pulang karena Arumi kini bersamaku!” Ucap Edgar lagi. Ia tidak akan membiarkan pria itu mendekati kekasihnya.


“Silakan lanjutkan, Anak-anak!” Gerutu Arumi dengan jengkel. Ia bermaksud untuk beranjak dari hadapan kedua pria itu. Akan tetapi, dengan segera Edgar memegangi pergelangan tangannya.


Arumi lalu terdiam. Ia menatap Edgar untuk sesaat dengan tatapannya yang penuh dengan kemarahan. Arumi tidak berkata apa-apa. Ia juga tidak protes ketika Edgar menggenggam erat jemarinya. Ia memang sangat marah kepada Edgar, tapi di sisi lain ada rasa rindu yang sangat besar kepada si pemilik senyum menawan itu.


“Terima kasih atas perhatianmu, Ben. Aku akan pulang dengan Edgar,” ucap Arumi pelan dan membuat Ben terlihat kecewa. Akan tetapi, ia tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada Arumi. Lagi pula, Edgar memang jauh lebih berhak atas gadis itu.


Ben mengangguk pelan. Meski agak berat, tapi ia harus sadar jika dirinya memang bukan siapa-siapa bagi Arumi. “Baiklah, Arumi. Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik!” Pesan Ben sebelum ia memutuskan untuk pergi dari sana. Setelah itu, barulah ia membalikan badannya dan meninggalkan sepasang kekasih itu.


Edgar kemudian menghentikan sebuah taksi. Ia mempersilakan Arumi untuk masuk terlebih dahulu, setelah itu barulah ia menyusul masuk dan duduk di sebelah gadis itu. Setelah menyebutkan alamat yang dituju, taksi itu kemudian melaju dan membawa mereka berdua pergi sana.


Selama di dalam perjalanan, Arumi tidak banyak bicara. Rasa kesal dan marah masih menyelimuti hatinya. Ia juga tidak tahu harus memulainya dari mana. Ia ingin meminta penjelasan kepada Edgar tentang pria misterius itu.


Hampir setengah jam mereka berada di perjalanan. Tanpa terasa mereka telah tiba di depan kediaman Emanuelle. Arumi masih menunjukkan wajah tidak bersahabatnya kepada Edgar.


“Are you okay, Beib?” Tanya Edgar seraya menatap lekat sang kekasih yang tidak menyambutnya dengan semestinya.


“I feel so bad!” Jawab Arumi dengan tak acuh. Ia melipat kedua tangannya di dada. Hal itu menandakan jika dirinya tengah merasa begitu kesal.


“Kenapa pria itu selalu berada di dekatmu?” Selidik Edgar dengan nada dan tatapan yang penuh curiga.


Arumi balas menatap tajam kepada Edgar. Ia sudah tidak tahan untuk segera bicara dan meminta penjelasan kepada pria itu. “Itu tidak jauh lebih penting dari sesuatu yang harus kamu jelaskan padaku!” Tegas Arumi. Nada bicaranya menunjukkan betapa ia sedang benar-benar marah.


“Hey, tenanglah Arum!” Edgar mencoba untuk tetap terlihat tenang. “Ayo katakan, apa masalahmu!”


Melihat Edgar yang masih menunjukkan sikap tenangnya, justru membuat Arumi merasa semakin kesal. Ia segera membalikan badannya hingga membelakangi pria itu.


“Baiklah, Arum! Jadi siapa dulu yang akan berbicara? Aku atau kamu?”


Arumi tidak menjawab. Ia benar-benar marah.


Edgar kemudian berdiri mensejajari gadis itu. Helaan napas beratnya mulai terdengar, membuat Arumi meliriknya untuk sesaat. Tanpa Arumi duga, Edgar segera membalas lirikan Arumi dan tersenyum kalem. Arumi segera memalingkan wajahnya. Terus terang saja jika ia tidak berdaya saat melihat senyuman itu.


“Aku harap kamu tidak memberinya harapan yang lebih, Arum!” Ucap Edgar dengan datar.


“Siapa? Ben? Yang benar saja!” Sanggah Arumi. “Aku tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan dua pria dalam waktu yang bersamaan,” kilahnya.


Edgar menggumam pelan seraya tersenyum simpul. Ia kembali mengela napas panjang. “Syukurlah, Arum! Aku senang mendengarnya. Bagaimanapun juga, saat ini kamu adalah milikku dan aku tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang telah menjadi milikku diusik oleh orang lain. Siapapun dia!”


Arumi kembali menoleh kepada Edgar. Kemarahan itu belum juga sirna dari hatinya. “Kamu harus menjelaskan sesuatu padaku!” Pinta Arumi dengan sangat tegas.


“Tentang apa?”


“Tentang pria misterius yang kamu kirimkan untuk menguntitku!” Jawab Arumi yang seketika membuat Edgar tersentak kaget. Ia tidak mengerti bagaimana Arumi bisa mengetahui hal itu.