Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Mengingatkan Kembali


Siang telah berlalu dan tergantikan oleh sang malam. Cuaca malam ini cukup dingin, namun tidak bagi Arumi. Ia baru menyelesaikan semua pesanan cookies dari seorang sahabatnya.


Entah kenapa karena akhir-akhir ini Arumi seakan kehilangan ketangkasannya. Semenjak pertemuannya lagi dengan Moedya, ia menjadi sangat sulit untuk berkonsentrasi. Terlebih dengan adanya nomor gelap tanpa nama yang selalu mengirimkan pesan aneh kepadanya. Pesan yang selalu berisi kata yang sama, yaitu "Hai".


Rasa kesal kembali menguasai hatinya. Arumi bermaksud untuk memblokir nomor itu. Akan tetapi, ia tidak melanjutkan niatnya karena saat itu ada sebuah panggilan masuk dari Edgar.


Mengeluh pelan, Arumi dengan terpaksa menjawab panggilan itu. Belum sempat ia mengatakan apapun, Edgar telah terlebih dahulu mengatakan jika dirinya ada di depan toko, dan menunggunya membukakan pintu untuk pria rupawan itu.


"Ada apa lagi?" Sambutan yang tidak bersahabat dari Arumi. Sedangkan Edgar hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman manis khas dirinya. Sebuah senyuman yang akan dapat memesona semua kaum hawa yang melihatnya. Mungkin hanya Arumi yang sudah tidak tertarik dengan senyuman itu.


"Begitukah cara menyambut tamu?" Edgar mengernyitkan keningnya seraya menghampiri Arumi yang tengah berdiri di atas undakan anak tangga.


"Lihatlah! Aku membawakan sate kesukaanmu," Edgar memperlihatkan apa yang ia bawa kepada Arumi.


Arumi tidak menjawab. Harus diakuinya jika pria itu memang datang tepat waktu. Sangat kebetulan karena Arumi memang belum makan malam.


"Aku yakin kamu pasti belum makan malam, kan?" Dengan begitu percaya diri, Edgar meraih pergelangan tangan Arumi dan menuntunnya untuk masuk.


"Hey! Lepaskan aku!" Protes Arumi seraya mencoba melepaskan genggaman tangan Edgar yang terus membawanya masuk. Akan tetapi, Edgar tidak menggubris gadis manis itu. Ia melangkah dengan tenangnya.


"What are you doing, Ed?" Arumi memukul lengan kokoh pria itu namun hanya berbalas sebuah tawa pelan dari Edgar. "Kenapa kamu tidak kembali saja ke Perancis?" Gerutu Arumi dengan kesal.


Ahirnya, Edgar kemudian melepaskan genggaman tangannya. Ia lalu menyuruh Arumi untuk menyiapkan piring. Awalnya Arumi hanya mematung dengan mata melotot kepada pria rupawan itu. Namun pada akhirnya, ia menurut juga karena perutnya memang terasa lapar.


Duduk saling berhadapan di atas karpet sebelah tempat tidur, Edgar menyiapkan makanan itu untuk Arumi. Gadis itu hanya terdiam dan memperhatikannya.


"Makanlah! Apa perlu kusuapi?" Canda Edgar.


Arumi masih terdiam dan menatap Edgar dengan tatapannya yang sinis. Ia tidak mengerti dengan pria yang satu ini. Entah kenapa pria itu masih saja mengejar dirinya, meskipun Arumi telah menolaknya dengan sangat tegas.


"Kenapa kamu terus saja menggangguku?" Tanya Arumi dengan agak ketus. Sementara Edgar lagi-lagi hanya tersenyum kalem. Ia lalu menyodorkan potongan lontong itu tepat ke dekat mulut Arumi. "Makanlah dulu! Lihat, tubuhmu bahkan jauh lebih kurus dari kucing jalanan," celoteh pria itu seenaknya.


Dengan cepat Arumi meraih garpu yang dipegang Edgar. Ia lalu melahap makanan itu, karena perutnya memang terasa sangat lapar.


"Habiskan! Aku sengaja membelikan ini untukmu. Aku tidak akan pulang jika kamu tidak menghabiskan semuanya!" Ucap Edgar lagi masih dengan senyum manisnya.


Arumi menurut saja. Ia menghabiskan semua makanan yang Edgar bawakan untuknya. Setelah itu, ia tersenyum penuh kemenangan. "Sudah habis! Silakan pulang!" Usir Arumi masih dengan nada bicaranya yang ketus.


"Seperti itukah caramu berterima kasih?" Edgar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tidak mengerti. Sementara Arumi tidak menyahut sama sekali. Ia masih memasang wajah judesnya.


"Kamu sudah membuka hadiah dariku?" Tanya Edgar. Ia mengingatkan kembali pada oleh-oleh yang dibawanya dari Paris untuk Arumi.


Arumi tertegun. Ia lupa melihat apa isi dari paper bag itu. Ia terlalu sibuk hingga tidak sempat membukanya.


"Belum," jawab Arumi singkat.


"Nanti saja!" Tolak Arumi. Ia memasang wajah merengut karena tidak suka akan kehadiran pria itu di sana. "Pulanglah, Ed! Get out of here and don't bother me anymore!"


"Ayolah, Arum! Tiga tahun aku mengikutimu dan kamu masih bersikap seperti ini padaku? Kenapa? Kenapa kamu tidak dapat menerimaku sedikit saja?"


"Kamu sudah mengetahui jawabannya!" Sahut Arumi dengan tegas.


Edgar menatap lekat gadis cantik yang ada di hadapannya. Ia tidak akan menyerah begitu saja. "Kamu tahu apa yang membuatku tidak ingin melepaskanmu?" Tanya Edgar dengan wajahnya yang tampak serius.


Arumi tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam pria itu. "I don't know and i don't want to know!"


Edgar kembali tersenyum. Senyum yang menandakan jika ia telah merasa menang atas diri Arumi. "Malam itu, Sayang! Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi pada malam itu ...." ucap Edgar yang seketika membuat Arumi beranjak dari duduknya. Ia berdiri di depan pria itu dengan wajah yang dipenuhi kemarahan.


"Jangan pernah mengungkit malam itu! Tidak terjadi apa-apa diantara kita berdua!" Tegas Arumi. Ia mulai terlihat tidak nyaman.


Edgar mengikutinya berdiri. Ia lalu mendekat dan berdiri tepat di hadapan Arumi. "Kata siapa? Kata siapa tidak terjadi apa-apa?" Tantang Edgar. Ia terlihat begitu percaya diri.


"Memangnya kamu ingat apa saja yang terjadi malam itu, Arum?" Tantang Edgar lagi.


Arumi tampak kelabakan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia juga tidak merasa yakin atas apa yang terjadi pada malam itu.


"Aku tidak suka dengan pembahasan ini! Kamu benar-benar pengganggu!" Umpat Arumi.


"Come on, Arum! Kita sudah sama-sama dewasa. Aku yakin kamu pasti dapat memahami perasaanku," ucap Edgar dengan datar.


Arumi hanya memalingkan wajahnya ketika pria itu semakin mendekat. Terdengar helaan napas Edgar dengan begitu jelas.


"Aku tidak dapat melupakannya. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatanku. Apakah salah jika harapan itu kembali dalam hatiku?"


Arumi lagi-lagi tidak menjawab. Ia juga masih memalingkan wajahnya dari Edgar.


"Kamu yang sudah mengembalikan harapanku lagi, Arum."


"Jangan diteruskan!" Sergah Arumi seraya menunjuk lurus kepada pria itu. "Apapun yang terjadi pada malam itu ... itu ... itu hanya suatu kebodohan yang telah kulakukan! Hal itu terjadi bukan murni karena keinginanku!" Tegas Arumi lagi. Sementara Edgar masih terlihat tenang.


"Terserah apa pembelaanmu, Arum! Satu hal yang pasti, selama masih ada jalan untukku ... maka aku akan terus menempuh jalan itu untuk dapat menemukanmu!" Tegas Edgar lagi. Pria itu kemudian memegangi kedua lengan Arumi dengan cukup kuat. Ia seakan tidak ingin membiarkan gadis itu untuk pergi.


"Lepaskan Aku, Ed!" Arumi terus berontak. Ia berusaha untuk melepaskan dirinya dari Edgar.


"Tiga tahun sudah berlalu, Arum! Tiga tahun. Akan tetapi, aku belum dapat melupakannya. Semuanya!"


"Kamu menjijikan!" Hardik Arumi sambil terus berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman tangan Edgar.


"Kamu yang memintanya, Arum! Kamu yang menginginkannya waktu itu!" Tegas Edgar. "Aku masih ingat betul bagaimana hangatnya dirimu malam itu. Karena itulah aku tidak dapat pergi darimu, Arum!" Edgar berbicara dengan semakin tegas. Ia begitu berapi-api dan terlihat sangat ingin meyakinkan Arumi akan kejadian pada malam tiga tahun yang lalu.