Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Mr. and Mrs. Hillaire


Hari yang dinantikan akhirnya tiba juga. Tiga hari tidak bertemu, membuat Edgar begitu merindukan wajah cantik yang kini telah berada di sampingnya, dengan balutan gaun putih yang indah dan sangat elegan. Arumi terlihat sangat berbeda dalam balutan gaun itu, meskipun gaun itu terlihat sederhana tanpa memiliki banyak ornamen yang berlebihan.


Rambut panjang Arumi disanggul dengan begitu rapi dan diberi hiasan sebuah tiara cantik yang berkilauan. Riasannya pun terlihat sedikit lebih tajam dari biasanya. Satu hal yang pasti, penampiln Arumi hari itu benar-benar sangat luar biasa. Ia bahkan telah berhasil membuat Edgar tiada henti mencuri-curi pandang kepada dirinya.


Edgar terlihat sedikit gugup. Ia merasa jika ini seperti mimpi. Ia tidak percaya jika saat ini ia tengah berada dalam moment seindah itu. Edgar tidak percaya jika pada akhirnya ia dan Arumi dapat mengucapkan janji suci pernikahan, di hadapan semua orang yang hadir di sana.


Rasa gugup itu seketika pudar, ketika Edgar mulai menyematkan cincin berlian yang mereka pesan di Perancis tempo hari. Edgar pun tak ragu untuk memberikan ciuman hangat kepada Arumi yang saat itu menyambutnya dengan senyuman bahagia penuh haru.


Moedya ikut menyaksikan momen bahagia itu. Ditatapnya wajah cantik Arumi dari kejauhan. Arumi terlihat sangat bahagia saat itu. Seperti ucapannya beberapa malam kemarin, gadis itu memang sudah benar-benar menutup lembaran masa lalunya. Tidak ada alasan bagi Moedya untuk terus memakskan diri dan mengejar seseorang yang telah pergi jauh dari hidupnya.


Siapa yang tahu dengan takdir Tuhan, siapa yang dapat menerka hari esok. Cinta yang besar di antara Moedya dan Arumi ternyata tak berakhir di pelaminan. Niat yang suci di antara mereka berdua, tak sejalan dengan kenyataan. Begitulah rahasia jodoh, memang kadang-kadang terasa lucu. Seberapa besar pun penyesalan kita, jika memang tidak berjodoh, apa mau dikata? Hal yang paling baik adalah tulus menerima dan tentu saja ikhlas melepaskan ia dari genggaman.


Moedya melirik Diana yang saat itu duduk di sebelahnya. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan dress putih tulang berlapis bahan lace yang cantik. Diana menyaksikan setiap detail dari acara sakral tersebut dengan begitu khidmat. Ada rasa senang bercampur haru dalam hatinya. Ia membayangkan jika suatu hari nanti, dirinya yang berada dalam posisi Arumi saat ini.


Moedya masih memerhatikan gadis cantik berambut pendek, yang ada di sebelahnya. Diraihnya jemari gadis itu, kemudian digenggamnya dengan erat. Moedya juga mencium hangat jemari lentik Diana.


Gadis itu menatap ke arah Moedya dan tersenyum manis. Senyumnya menjadi kian merekah, ketika Moedya membisikan sesuatu kepadanya, “Kita akan segera menyusul.” ucapnya.


Entah mimpi apa Diana karena pada akhirnya Moedya dapat membuka hatinya dengan begitu lebar, dan membiarkannya masuk dengan sambutan yang begitu hangat. Semoga kali ini Moedya benar-benar memegang teguh ucapannya dan tidak lagi terpengaruh oleh apapun, terlebih karena Arumi juga telah bahagia dan resmi menyandang nama Nyonya Hillaire.


......................


Malam telah cukup larut ketika acara resepsi pernikahan Arumi dan Edgar selesai. Rasanya seperti  telah menyingkiran sebuah bongkahan batu besar yang menghimpit, perasaan keduanya kini begitu lega. Acara pernikahan mereka berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan sedikitpun. Kini, keduanya memiliki waktu yang tak terbatas untuk dapat selalu bersama.


Rasa lelah mendera keduanya. Selesai membersihkan diri masing-masing, mereka duduk santai di atas tempat tidur. Arumi duduk sambil menyandarkan kepalanya di pundak Edgar. Sementara Edgar terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia tengah membalas beberapa pesan yang masuk dari para rekan bisnisnya di Perancis. Mereka memberikan ucapan selamat atas pernikahannya.


“Sayang, bagaimana kalau kita mengadakan pesta jika pulang ke Perancis nanti?” tawar Edgar seraya meletakan ponselnya. Ia kemudian merengkuh pundak Arumi yang semakin bergelayut manja di dalam pelukannya.


“Boleh. Atur saja semuanya, tapi jangan terlalu banyak mengundang orang! Kamu tahu bukan jika aku tidak terlalu suka keramaian. Pesta tadi saja sudah membuat kepalaku rasanya akan meledak,” keluh Arumi yang seketika membuat Edgar tertawa geli.


“Untung saja tidak jadi, ya?” ucap pria itu seraya mengecup mesra pucuk kepala sang istri. Arumi mendongak dan tersenyum lembut. Senyuman yang berbalas sebuah sentuhan mesra di bibirnya.


Edgar kemudian merebahkan tubuh Arumi dengan dengan perlahan. Diusapnya dengan lembut kepala sang istri, kemudian dikecupnya dengan hangat kening wanita yang sejak tadi menatapnya dengan penuh cinta.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Edgar dengan setengah berbisik.


“Apa harus kujabarkan dengan detail?” Arumi balik bertanya. Tatapannya menyiratkan sesuatu kepada Edgar.


“Aku juga,” balas Arumi dengan rona sedikit kecewa. Ia kemudian mengempaskan keluhan pendek.


“Apa kita akan langsung tidur saja?” tanya Edgar ragu. Sebenarnya ia sudah dapat menangkap bahasa tubuh yang ditunjukan oleh Arumi.


“Aku rasa iya,” sahut Arumi seraya memaksakan dirinya untuk tersenyum.


Edgar yang saat itu masih berada di atas tubuh Arumi, mulai mengernyitkan keningnya. Ditatapnya wajah polos sang istri yang masih dan akan selalu menjadi yang paling cantik untuknya. Edgar tampak sedang memikirkan sesuatu.


“Ada apa?” tanya Arumi dengan penasaran.


Edgar tersenyum simpul. Ia kembali mencium kening Arumi dengan lembut. Dibelainya wajah cantik sang istri yang kini telah mutlak menjadi miliknya. Tidak akan ada lagi yang berani mengusik hal itu. Edgar tidak akan pernah membiarkan siapapun untuk mengganggu kehidupanya dengan Arumi.


“Kamu sudah menjadi milikku seutuhnya mulai malam ini dan seterusnya. Jangan harap bisa berbuat nakal apalagi melarikan diri dariku! Aku bahkan tidak akan membiarkan seekor nyamuk sekalipun untuk menyentuh kulitmu! Kamu tahu kenapa, Sayang?”


Arumi memainkan bola matanya dengan nakal. Ia kemudian tersenyum seraya menggeleng pelan. “Kenapa?” tanyanya.


“Karena aku akan menembak siapapun yang berani mendekatimu!” ancam Edgar, membuat Arumi membelalakan kedua matanya.


“Memangnya kamu punya pistol, Mr. Hill?” tanya Arumi. Kini ia memiliki panggilan baru untuk Edgar yang telah menjadi suaminya.


Edgar memasang wajah sombongnya. “Kamu ingin melihatnya, Mrs. Hill?” bisiknya dengan nakal.


“I think ... no!” sahut Arumi dengan tawa tertahan. Ia merasa geli ketika membayangkan ucapan Edgar.


“Why?” tanya Edgar seraya memegangi pergelangn tangan Arumi. Sedangkan tatap matanya kini terlihat sangat berbeda. Ia seakan berubah menjadi seorang pemangsa yang tidak sabar untuk segera menghabisi buruannya.


Arumi mengulum senyumnya. “Because ... i’m so tired,” jawabnya pelan dan ragu. Ia yakin jika Edgar tidak akan peduli dengan hal itu, karena kini Arumi telah merasakan hangatnya napas pria itu di lehernya.


Perlahan tangan Edgar bergerak dan melepaskan pergelangan tangan Arumi. Digenggamnya jemari lentik Arumi dengan erat, ketika wanita muda itu mulai menggelinjang karena merasakan cumbuan-cumbuan panas yang dilakukannya. Edgar seakan ingin melepaskan semua kerinduannya. Ia tidak melewatkan satu sudut pun dari setiap lekukan indah tubuh sang istri yang saat itu begitu pasrah.


Arumi tidak akan mungkin menolak setiap sentuhan hangat yang Edgar berikan. Ia begitu menikmati ketika Edgar menjelajahi dirinya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Arumi hanya dapat mende•sah manja ketika ia merasakan sapuan-sapuan lembut yang dilakukan Edgar, pada bagian terdalam dari dirinya.


Semua yang Edgar lakukan, telah membuat hasratnya kian meninggi dan tak mampu untuk ia bendung lagi. Rasa lelah setelah melewati serangkaian acara pesta pernikahan, ia lupakan begitu saja.


Ditatapnya wajah tampan dengan helaan napas berat yang memburu, ketika Edgar kembali berada di atas tubuhnya. Arumi meraih kalung yang dipakai Edgar, hingga pria itu mendekatkan wajahnya. “Cium aku!” pinta Arumi di antara de•sahan manjanya.