Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Romantisme di Tepi Sungai Seine


Masih dengan rona tidak percaya, Edgar berdiri di hadapan gadis cantik itu. Disentuhnya wajah ayu itu dengan lembut dan penuh perasaan. “Ini sungguh dirimu, Arum?” Edgar masih merasa tidak percaya dengan apa yang ia dapati saat ini. Ia seakan tidak yakin jika Arumi memang sedang berdiri di hadapannya.


“Ya Tuhan, Arum. Aku benar-benar tidak percaya jika saat ini kamu ada di hadapanku. Ini seperti mimpi, dan aku tidak ingin terbangun dari mimpi ini,” ucap Edgar lagi dengan suarannya yang terdengar begitu dalam.


“Kamu tidak sedang bermimpi, Ed. Aku memang ada di sini. Inilah aku, Arumi-mu,” balas Arumi seraya menyentuh wajah Edgar, merasakan bulu-bulu yang sedikit tajam, yang membuat wajah tampan itu terlihat semakin menawan.


Edgar tersenyum lebar mendengar kata ‘Arumi-mu’. Ini merupakan sebuah berita yang sangat bagus untuknya. Ini seperti sebuah suntikan vitamin yang akan menambah imun dalam tubuhnya, memberikan kekuatan baru untuknya sehingga ia dapat menghadapi semua masalah yang tengah membelit dirinya.


Ditangkupnya wajah cantik Arumi. Edgar pun kemudian segera memeluk gadis itu dengan erat. Begitu erat dan membuat Arumi merasa sesak.


“Ed ... aku tidak bisa bernapas,” ujar Arumi. Meskipun ia menyukai pelukan itu, tapi hal itu telah membuatnya merasa tidak nyaman.


Edgar tertawa pelan. “Sorry, aku terlalu bahagia,” ucap Edgar. Senyum lebar terus menghiasi wajahnya. Ia pun mulai melepaskan pelukannya.


“Ayo kita pulang! Menginaplah di tempatku malam ini!” Ajak Edgar dengan antusias.


Arumi masih dengan senyuman manisnya. Tentu saja ia tidak akan menolak tawaran itu. Namun, sebelum Edgar benar-benar membawanya pergi dari sana, Arumi tidak ingin membuang-buang waktunya untuk melakukan hal yang sangat penting. Ia masih berdiri mematung meskipun Edgar sudah memegang tangannya.


“Ada apa, Arum?” Tanya Edgar dengan heran melihat sikap Arumi.


Arumi kembali tersenyum lembut. “Aku sengaja datang kemari untuk mengembalikan ini padamu,” ucap Arumi seraya merogoh ke dalam tasnya dan mengambil kotak cincin berwarna biru navy itu. Ia lalu menyodorkan kotak itu kepada Edgar.


Edgar tertegun melihat kotak cincin yang telah ia berikan kepada Arumi. Ragu, ia menerima benda kecil itu. Sementara tatapan matanya masih terus ia layangkan kepada gadis yang telah membuat dunianya menjadi terombang-ambing.


Ditatapnya kotak itu dan ia buka penutupnya. Cincin berlian itu masih ada di dalamnya. Edgar kembali melayangkan tatapannya kepada gadis yang berdiri di hadapannya. Ia masih belum dapat menerka. Hatinya pun kini merasa was-was dengan jantung yang mulai berdetak kencang.


“Apa ini, Arum?” Tanya Edgar dengan raut wajah yang tiba-tiba terlihat sedikit tegang.


Arumi tidak berkata apa-apa. Ia menjawab pertanyaan dari Edgar dengan sebuah uluran tangan kiri ke hadapan pria itu. Arumi menyodorkan jemari lentiknya seraya tersenyum. “Pasangkan cincin itu di jariku, Ed!” Pintanya.


Bagaikan mentari yang baru terbit dan menyibakan tirai malam, senyuman lebar Edgar terlihat dengan begitu sempurna. Sepasang warna abu-abunya memancarkan binar indah yang jauh lebih indah dari suasana romantis di kota Paris.


Edgar tidak ingin membuang waktu. Dengan segera, ia memasangkan cincin berlian itu di jari manis Arumi. Setelah itu ia kembali memeluk gadis itu dengan rasa bahagia yang tidak dapat ia lukiskan dengan tawa. Rasa itu begitu luar biasa. Ini adalah hari yang sangat indah bagi Edgar. Ini akan menjadi hari yang bersejarah untuknya.


Sungai Seine terlihat jauh lebih indah senja itu. Kota Paris terasa jauh lebih romantis ketika Edgar memberikan ciuman mesranya untuk Arumi. Semua masalah yang membuatnya merasa terbebani, kini seakan sirna dan hanyut dalam aliran Sungai Seine yang membentang luas.


Tak ubahnya dengan Edgar. Itu pula yang dirasakan Arumi kini. Perasaannya terasa begitu ringan. Kabut pekat yang yang menyelimuti hatinya kini seakan pudar dan sirna seketika, terbawa oleh sapuan lembut bibir manis Edgar.


“Terima kasih, Arum! Terima kasih ....” kebahagiaan itu terus terpancar dari wajah Edgar, begitu pula ketika ia menggenggam pergelangan tangan Arumi dan menuntunnya untuk pergi dari sana menuju ke kediamannya.


“Bibi!” Panggil Edgar dengan cukup nyaring.


Carmen segera muncul dari bagian lain rumah itu. Wanita enam puluh delapan tahun itu tertegun melihat Arumi yang tengah berdiri di sebelah Edgar. Ia kemudian tersenyum, sebuah senyuman yang sangat ramah.


“Ini Arumi. Gadis yang pernah kuceritakan padamu,” ucap Edgar seraya melirik gadis yang masih ia genggam tangannya dengan erat.


Carmen terlihat bahagia. Ia lalu mendekat dan bertanya, “Apa kau mengerti bahasa Perancis?”


Arumi mengangguk pelan. “Ayahku berasal dari negara ini,” jawab Arumi.


Carmen kembali tersenyum lebar. “Bienvenue,” ucapnya dengan ramah.


“Merci beaucoup,” sahut Arumi dengan senyum manisnya. Ia begitu terkesan dengan keramahan yang ditunjukan oleh Carmen kepadannya.


“Arum akan menginap di sini malam ini. Tolong suruh pelayan agar menyiapkan kamar untuknya!”Pinta Edgar.


“Oh ... tentu, Ed. Aku juga akan menyiapkan makan malam yang spesial malam ini,” sahut Carmen. Ia sama bahagianya dengan Edgar. Bagaimanapun juga, ia mengetahui seberapa besar Edgar menginginkan gadis itu, dan kini Arumi ada di sana di kediamannya. Tentu saja sebagai seseorang yang sangat menyayangi Edgar, Carmen akan melakukan apapun yang dapat membuat pria yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri  agar selalu bahagia.


Carmen adalah wanita yang sudah berumur. Akan tetapi, ia hidup menyendiri dan memilih untuk tidak berkeluarga. Ia mengabdikan dirinya pada keluarga Guzman yang telah bersikap sangat baik kepadanya. Sebagai balasannya, ia mengurus Edgar dengan penuh kasih sayang, bahkan hingga saat ini.


Seusai makan malam, Edgar mengajak Arumi untuk berjalan-jalan di taman yang ada di sebelah kediaman mewahnya.Pria itu bercerita banyak hal kepada Arumi. Edgar benar-benar lupa dengan semua masalahnya. Ia terlihat begitu tenang dengan senyuman yang tak henti-hentinya muncul dan menghiasi wajahnya.


“Kenapa tidak memberitahuku jika kamu akan kemari?” Tanya Edgar. Ia lalu mengajak Arumi untuk duduk di sofa taman berwarna abu-abu, yang terletak tepat di area dekat kolam renang. Seperti biasa, ia merentangkan tangannya dengan lurus di atas sandaran sofa tersebut, di mana Arumi duduk dengan manis.


“Aku sengaja ingin memberimu kejutan, karena itu aku juga melarang kakak-ku untuk memberitahumu,” jawab Arumi dengan entengnya. Gadis itu kini mulai bergelayut manja dalam dekapan hangat Edgar.


“Terima kasih sudah membuatku sangat terkejut,” sahut Edgar pelan dan membuat Arumi tertawa pelan. “Apa selama di sana kamu baik-baik saja, Arum?” Tanya Edgar.


Ada rasa cemas yang berusaha untuk ia tutupi dari Arumi. Edgar tidak ingin membuat gadis itu merasa takut ataupun khawatir. Ia juga belum membicarakan tentang foto-foto Arumi yang dikirimkan oleh seseorang yang belum ia ketahui siapa pelakunya. Rencananya Edgar akan membahas hal itu dengan Keanu. Namun, urusan pekerjaan masih sangat menyita perhatiannya, sehingga ia belum sempat menghubungi ayah dua anak itu.


“Ya, aku baik-baik saja. Ada apa? Apa kamu sedang mencemaskan sesuatu, Ed?” Selidik Arumi seraya menatap wajah pria itu dari samping.


Edgar menoleh kepada Arumi yang saat itu masih bergelayut manja dalam dekapannya. “Selama kamu belum berada di sampingku, maka aku akan selau mencemaskanmu, Arum,” jawab Edgar yang segera diiringi oleh subuah kecupan hangat di kening gadis itu.


Note. Maaf ya pemirsah, ceuceu othor udah lama ga pulkam ke Perancis. Jadi lupa-lupa ingat sama bahasanya😉😁.