
Arumi seketika terdiam mendengar jawaban dari Diana. Ia tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi, Arumi terus berusaha untuk terlihat biasa saja.
Sebuah senyuman kecil tersungging di bibir joyfull orange miliknya. Arumi mencoba untuk tetap berdiri tegak dan tidak goyah, meskipun saat itu rasanya ia ingin menghempaskan tubuhnya dengan sangat kencang.
"Aku harap kamu dapat menghormati hubungan kami saat ini, Arum! Ini adalah hal yang sudah sangat lama aku tunggu-tunggu dan aku harapakan. Aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan ini sedikitpun!" Tegas Diana.
Arumi tidak segera menjawab. Ditatapnya gadis cantik berambut pendek itu dengan lekat. Ia tidak boleh menunjukan jika dirinya telah merasa kalah. Arumi harus tetap terlihat tegar.
"Selamat, Di! Aku berharap hubungan kalian akan selalu baik-baik saja. Jangan cemaskan aku! Aku tidak akan menjadi penghalang, apa lagi mengganggu hubungan kalian berdua ... kalau aku tidak lupa tentunya," Arumi mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tawa. "Tidak! Aku hanya bercanda!" Ralat Arumi lagi.
"Ini yang kamu inginkan sejak lama? Ya tentu saja. Sekarang aku mulai memahami sesuatu. Sesuatu yang selalu menjadi tanda tanya di dalam hatiku," lanjut Arumi. Sesaat kemudian, ia lalu mengalihkan tatapannya kepada Moedya. Pria itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. Arumi segera merapikan dirinya. Ia kembali melirik Diana.
Masih memasang senyum manis yang memberikan kesan jika dirinya baik-baik saja, Arumi berbisik di telinga sebelah kanan Diana.
"Jaga dan genggam erat tangan Moedya! Jika perlu ... pakaikan dia kaca mata kuda, agar tatapannya selalu lurus dan tidak melihat ke kiri atau pun ke kanan. Apa lagi ... kepadaku ...." setelah itu, Arumi kemudian beranjak menghampiri Moedya. Sementara Diana, masih menatapnya dengan tajam. Wajah gadis itu mulai terlihat tegang.
Diana tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Arumi yang tengah berbincang dengan Moedya di halaman bengkel. Entah apa yang tengah mereka bicarakan. Sepertinya itu tentang mobil, karena terlihat dari bahasa tubuh Moedya yang tengah menjelaskan sesuatu kepada Arumi.
Hati kecil Diana kembali dilanda keresahan. Ada kata-kata yang bernada ancaman dari Arumi. Diana menjadi cemas sendiri.
Sementara itu, Moedya sudah selesai memberi penjelasan kepada Arumi. "Kamu dapat memahaminya kan, Arum?" Tanya Moedya.
Arumi tertegun. Ia lalu tersenyum. "Semoga aku tidak lupa," jawab Arumi seraya menoleh ke arah Diana yang saat itu tengah berjalan dan menghampiri mereka berdua. "Kalau pun aku lupa ... aku bisa menghubungimu, kan?" Tanya Arumi dengan suara yang sedikit nyaring. Ia tampak sengaja melakukan hal itu agar Diana dapat mendengarnya.
Diana masih melayangkan tatapan tajamnya kepada Arumi. Tatapan yang bercampur rasa curiga dan takut. Diana kemudian mengalihkan tatapannya kepada Moedya. Pria itu masih terlihat tenang dan bersikap biasa saja. Tidak ada hal yang mencurigakan dari dirinya. Diana merasa sedikit lega.
"Okay, mungkin sebaiknya aku pergi saja. Aku rasa Diana juga membutuhkan perhatianmu," canda Arumi dengan senyum kecil di bibirnya.
"Moedya selalu memberikan perhatiannya kepadaku, karena itu aku tidak perlu memakaikannya kaca mata kuda," sahut Diana dengan wajahnya yang masih terlihat sedikit tegang.
Arumi menoleh kepada gadis itu. Ia lagi-lagi menanggapi ucapan Diana hanya dengan senyuman manisnya. "Aku rasa Moedya tidak memerlukan kaca mata, karena penglihatannya masih normal. Iya, kan?" Arumi mengalihkan tatapannya kepada Moedya. Pria itu hanya tersenyum dengan sikap kalemnya.
"Ya, aku tahu. Aku yang memakannya," ujar Moedya.
"Ya, tidak apa-apa. Aku masih beruntung karena makanan itu tidak berakhir di tempat sampah," sahut Arumi lagi.
"Tidak mungkin, Arum. Paris Brest buatanmu masih menjadi yang paling enak untukku ... jika dibandingkan dengan buatan dari toko yang lain," Moedya melirik Diana untuk sesaat. Ia mungkin merasa tidak enak kepada gadis itu. "Aku ... masih ada pekerjaan, Arum. Sampaikan salamku untuk Keanu," tutup Moedya. Ia menyuruh Arumi untuk pergi dari sana secara halus.
"Okay," ucap Arumi pelan. "Bye," lanjutnya. Arumi kemudian masuk ke mobilnya. Selesai memasang sabuk pengaman, ia lalu lalu menyalakan mesin mobilnya. Perlahan mobil sedan putih itu melaju dengan anggunnya meninggalkan halaman parkir bengkel tersebut. Arumi melirik kaca spionnya. Dari sana ia dapat melihat Moedya yang beranjak masuk bersama Diana ke dalam bengkel.
Menghela napas dalam-dalam, Arumi mencoba untuk menahan perasaannya. Akan tetapi, air mata itu akhirnya terjatuh juga. Sambil terus mengemudikan mobilnya, Arumi berusaha untuk tidak menangis, tapi ia tidak dapat menahannya lagi. Rasanya terlalu menyakitkan.
Sementara itu, Diana masih dengan sikap merajuknya kepada Moedya. Gadis itu ingin melakukan protes keras atas sikap manis yang ditunjukan Moedya kepada Arumi di hadapannya. Namun, Diana tidak mampu untuk melakukan hal itu. Ia tidak ingin merusak moment kebersamaannya bersama Moedya. Diana lebih memilih untuk diam dan bersikap seakan dirinya baik-baik saja.
"Arumi sudah kembali ke rumahnya?" Tanya Diana.
"Aku dengar seperti itu," jawab Moedya tanpa menoleh kepada gadis itu.
"Siapa yang memberitahumu?" Tanya Diana lagi. Ia seakan tengah menyelidiki Moedya saat itu.
Moedya telah selesai membereskan semua peralatan bengkelnya. Hari ini ia akan tutup dengan lebih awal. Pria itu kemudian menoleh kepada Diana. Ia mengerti dengan arah pertanyaan gadis itu. Diana pasti tengah merasa cemburu dan merasa terancam.
"Kamu lupa jika aku berteman baik dengan Keanu?"
Diana mengangguk pelan. Ia tidak ingin membahas hal itu dengan lebih jauh lagi. Diana lagi-lagi memilih untuk diam.
"Jangan khawatir, Di! Aku dan Arumi sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kami sudah lama berpisah dan aku lihat dia juga sudah bahagia bersama Edgar. Jadi ... tidak ada alasan bagiku untuk ... sudahlah! Aku tidak ingin membahas masalah ini," tutup Moedya. Ia berlalu menuju toilet dan meninggalkan Diana seorang diri dengan pikirannya yang mulai tidak karuan.
Ternyata tidak cukup hanya dengan mendapatkan kata "iya" dari pria itu, tapi Diana masih harus berjuang untuk dapat menghapus kenangan Arumi dari dalam pikiran Moedya. Diana dapat merasakan hal itu dengan jelas. Ia masih dapat melihat cinta yang tersembunyi di balik tatapan mata Moedya terhadap Arumi, meskipun pria itu tidak mengungkapkannya.
Apa yang dirasakan Diana, sama menyakitkannya dengan apa yang dirasakan Arumi saat ini. Keyakinan yang telah ia pertahankan dengan rasa percaya diri yang tinggi, kini sedikit goyah tertiup angin kecemasan. Ia hanya berharap agar Arumi tidak melakukan apapun terhadap hubungannya dengan Moedya.