
Petang itu cuaca terlihat sangat cerah. Akan tetapi, semuanya berbanding terbalik dengan suasana hati Arumi. Kabut pekat itu justru terasa semakin tebal dan menutupi seluruh jiwanya. Janji Arumi dalam hati untuk tidak lagi memikirkan Moedya, harus benar-benar ia laksanakan. Ia tidak ingin terus menyiksa dirinya.
Lalu, apa kabar dengan Edgar? Arumi sejak tadi mencoba untuk menghubungi pria asal Perancis itu. Namun sayang sekali, karena ternyata Edgar tidak bersedia menjawab panggilan telepon darinya. Apakah ia begitu marah kepada Arumi? Arumi pun tidak akan merasa heran jika Edgar bersikap seperti itu.
Beberapa saat kemudian, Arumi beranjak dari duduknya. Semua kekacauan yang ia timbulkan tidak akan pernah tuntas, jika ia tidak mencoba untuk menyelesaikannya. Arumi kemudian meraih tas selempangnya dan ... hey, di mana kunci mobilnya?
Arumi mencari benda kecil itu di semua tempat. Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya. Membuka semua laci di dalam kamarnya dan mencari di setiap kolong, karena siapa tahu jika kunci itu terjatuh ke lantai. Akan tetapi, hasilnya tetap nihil. Pikiran Arumi tiba-tiba tertuju kepada Keanu. Dengan segera, gadis itu menuju ruang kerja sang kakak.
Arumi berdiri di depan pintu dengan warna merah hati itu. Dengan perasaan yang sudah tidak karuan, gadis itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut. Ia tahu jika Keanu masih marah kepada dirinya, karena itu perasaannya tidak setenang biasanya.
Terdengar suara Keanu dari dalam yang mempersilakannya untuk masuk. Mencoba untuk bersikap tenang dan percaya diri, Arumi membuka pintu dan melangkah masuk.
Tampak Keanu tengah asyik membaca. Ia seakan sudah mengetahui jika Arumi pasti akan menemuinya. Namun, pria yang selalu tampil dengan sikapnya yang kalem itu, seolah-olah bersikap tidak peduli ketika Arumi berdiri di hadapannya.
"Kakak," sapa Arumi pelan. Sementara Keanu masih fokus pada buku yang sedang ia baca. Ia tidak menoleh sedikitpun.
"Di mana kunci mobilku?" Tanya Arumi tanpa berbasa-basi. Sepertinya ia sudah mengetahui jika Keanu adalah tersangka utama yang telah mengambil kunci mobilnya.
"Ada padaku," jawab Keanu dengan singkat dan datar.
"Tolong kembalikan! Aku harus keluar dan menyelesaikan sedikit urusanku," pinta Arumi. Ia juga tidak berani terlalu banyak berbasa-basi kepada sang kakak yang masih menyimpan kemarahan kepadanya.
"Kamu sudah biasa jalan kaki, bukan?" Jawab Keanu dengan sikapnya yang tak acuh. Ia bahkan tidak menoleh sama sekali.
"But why? That's my car. You can't do this to me!" Protes Arumi dengan keras.
"Kenapa tidak? Aku yang membeli dan membayarnya. Aku bisa melakukan apapun terhadap mobil itu," tegas Keanu.
"Oh ... luar biasa! Kenapa tidak sekalian saja Kakak bekukan semua rekening dan kartu kreditku! Setelah itu buatlah hidupku seperti sedang berada di gurun pasir!" Ujar Arumi dengan kesal.
"Bukan ide yang buruk," sahut Keanu dengan tenangnya. Sikap yang ditunjukan pria itu, telah membuat Arumi menjadi semakin jengkel.
"Baiklah. Terserah!" Arumi bergegas keluar dari ruang kerja Keanu. Ia meninggalkan sang kakak yang masih fokus pada buku yang sedang dipegangnya. Gadis itu juga menutup pintu dengan cukup keras. Ia benar-benar kesal, bahkan ketika ia berpapasan dengan Puspa.
"Arum? Ada apa?" Tanya Puspa yang saat itu hendak membawakan secangkir teh untuk sang suami. Ia terheran-heran melihat wajah kesal Arumi.
"Tanyakan saja kepada suamimu!" Jawab Arumi dengan jengkel tanpa menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan menuju pintu keluar. Puspa hanya mengernyitkan keningnya dan tersenyum kecil seraya mengangkat kedua bahunya.
Arumi terus melangkah menuju pintu gerbang. Sesaat diliriknya mobil sedan putih kesayangannya. Rasa kesalnya kian menjadi. Ia lalu segera keluar dari halaman rumah megahnya.
Setelah memberhentikan sebuah taksi, Arumi duduk dengan tenang di dalamnya meskipun ia masih sedikit menekuk wajahnya. Beberapa saat lamanya berada di perjalanan, akhirnya ia tiba di tempat yang menjadi tujuannya. Sebuah apartemen mewah tempat tinggal Edgar Hilaire.
Saat itu waktu sudah menunjukan pukul delapan belas tiga puluh. Lampu-lampu indah berwarna kuning temaram sudah menghiasi ruangan mewah dengan segala fasilitasnya yang dapat memanjakan si penghuni tempat tersebut. Arumi mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan itu.
"Ed ...." panggil Arumi. Suaranya tidak terlalu nyaring, tetapi cukup menggema dalam suasana sepi di sana.
Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan Edgar. Arumi yang saat itu masih berdiri terpaku, kini kembali mengedarkan pandangannya. Tatapan matanya lalu tertuju pada sebuah lukisan seorang pria yang terpajang di dinding ruangan itu. Arumi kemudian melangkah dan berdiri di depan lukisan tersebut.
Ditatapnya lukisan itu dengan lekat. Itu merupakan lukisan seorang pria yang sangat gagah dan tampan, tapi itu bukan lukisan Edgar.
"Sebastian Hilaire, beliau adalah mendiang ayahku," suara berat Edgar telah berhasil mengejutkan Arumi. Gadis itu pun segera menoleh.
Edgar telah berdiri tidak jauh darinya. Pria itu terlihat sangat segar dan santai dengan celana tidur dan atasan kaos polos round neck berwarna khaki. Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan. Edgar tidak seformal biasanya.
Sesaat kemudian, pria dengan tubuh tegap 180 cm itu, berjalan menghampiri Arumi dan berdiri tepat di hadapan gadis itu. Gadis yang kini seakan telah kehilangan cakar dan taring tajamnya.
Ya, Arumi terlihat gugup. Ia tidak seangkuh biasanya di depan Edgar. Gadis cantik berambut panjang itu, lebih sering menyembunyikan wajahnya dari tatapan dalam milik pria yang merupakan mantan kekasihnya itu.
"How are you? Apa yang membawamu datang kemari?" Tanya Edgar dengan intonasi yang cukup datar.
Arumi kemudian mengangkat wajahnya. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk dapat menatap pria yang selama ini telah ia perlakukan dengan buruk.
"I'm fine, thank you," sahut Arumi pelan. "Aku sengaja datang kemari untuk menemuimu. Aku ingin bicara denganmu," lanjutnya.
"About what? Aku tidak yakin jika kamu akan meminta maaf kepadaku," ujar Edgar masih dengan nada bicara yang sama seperti tadi. Ia juga belum mengalihkan tatapannya dari wajah cantik Arumi.
Edgar tidak akan pernah merasa bosan untuk menatap wajah itu. Ia mengabaikan segala keindahan dunia yang menggodanya. Edgar tidak lagi memedulikan semua rayuan yang datang kepadanya. Bagaimanapun juga, dalam hatinya sudah terpatri satu nama dan satu wajah yang paling cantik, yaitu Arumi.
Terkadang, pria itu merasa heran kepada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa begitu jatuh cinta kepada sosok Arumi? Padahal, ia bisa mendapatkan banyak gadis cantik yang bersedia untuk bersimpuh di hadapannya, seperti seorang pelayan yang setia. Namun, perasaan yang begitu spesial bagi Arumi telah membuatnya bertahan dari semua itu.
Diraihnya tangan halus Arumi dan dituntunnya menuju balkon apartemennya dengan pembatas kaca tebal yang terlihat sangat elegan. Edgar mengajak Arumi duduk di sana, di atas sebuah sofa berwarna putih dengan meja kecil di depannya.
Arumi terdiam. Ia begitu takjub melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya. Langit malam yang tampak suram, seakan terasa hangat dengan adanya kerlap-kerlip lampu berwarna-warni dari gedung-gedung pencakar langit yang berada di sekitar gedung apartemen tempat tinggal Edgar. Suasanya terasa begitu indah dan romantis.
Semilir angin malam mulai terasa. Cukup dingin memang, tetapi tidak membuat Arumi merasa kedinginan. Perasaan kesal yang ia bawa dari rumahnya, kini mulai memudar dengan perlahan.
"Seberapa sering kamu duduk di sini, Ed?" Tanya Arumi. Ia mulai membuka percakapan dan memecah kebisuan di antara dirinya dan Edgar.
"Hampir setiap malam," jawab Edgar. Wajahnya yang biasa terlihat ramah dengan senyum menawan, kini seakan sirna darinya. Edgar terlihat serius dan datar. Ia mungkin masih menyimpan rasa marah terhadap Arumi.
"I'm sorry, Ed," ucap Arumi pelan.