
Edgar berdiri dengan sikapnya yang terlihat sangat kalem. Senyum menawannya, masih ia layangkan kepada Arumi. "Hai, Arum," sapanya pelan. Namun, tatapan matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih keras, yaitu tekadnya untuk mendapatkan Arumi kembali dalam pelukannya.
Arumi kemudian berdiri. Ia lalu menyuruh Dinan untuk masuk ke ruang keluarga. Sejenak ia menatap pria itu. Edgar selalu menunjukan wajah yang cerah di hadapannya. Ia jarang sekali terlihat marah, meskipun Arumi kerap bersikap kasar kepadanya.
Siang itu, Edgar terlihat jauh lebih santai dari biasanya, dengan tampilan casual yang membuatnya terlihat begitu fresh. Ia terlihat begitu bercahaya dengan T Shirt kerah pendek berwarna putih, yang dipadukan dengan celana chino panjang berwarna krem. Rambutnya pun tersisir rapi ke belakang.
"Mau pergi, Arum? Mau ke mana?" Tanya Edgar lagi.
"Ke rumah kakek Surya," jawab Arumi. "Ada apa kamu kemari?" Tanya Arumi, selalu dengan nada bicaranya yang ketus di depan Edgar.
"Aku ingin bertemu Keanu," jawab Edgar dengan tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah cantik Arumi.
"Oh ..." Arumi hanya menanggapi jawaban Edgar dengan biasa saja. "Kakakku ada di dalam," tunjuk Arumi ke arah ruang keluarga.
Edgar masih dengan senyum kalemnya. Ia kemudian menghampiri Arumi dan berdiri tepat di hadapannya. "Biar kuantar," ucapnya dengan pelan dan hampir seperti berbisik.
Arumi tersenyum kecil. "Bukankah kamu ingin menemui kakakku?"
"Sebenarnya aku hanya mencari alasan," bisik Edgar lagi, masih dengan senyumnya. Ia sangat tahu bagaimana cara merayu seorang gadis. Namun sayangnya, Arumi tidak terkesan sama sekali. Ia masih terlihat tenang dengan senyum khasnya. "Mobilku baru kuisi bensin kemarin," ujar Arumi.
"Tidak apa-apa. Kamu belum tahu kan seberapa nyamannya mobilku?" Rayu Edgar lagi.
Arumi hanya menanggapinya dengan tertawa pelan. "Sudahlah, Ed! Aku harus segera pergi. Bye!" Gadis itu pun berlalu begitu saja.
"Aku serius, Arum!" Ujar Edgar lagi seraya membalikan badannya dan menatap Arumi yang sudah berlalu dan tidak mempedulikannya sama sekali. Gadis itu terus melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Edgar tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Ini yang aku sukai darimu," gumamnya seraya mengejar Arumi keluar.
Arumi saat itu hendak masuk ke mobilnya, ketika Edgar kembali menghampirinya. "Ada apa lagi?" Arumi terlihat kesal. Ia mengurungkan niatnya, dan kembali menutup pintu mobilnya.
"Kamu sudah terlihat cantik hari ini. Menurutku akan sangat disayangkan jika kamu harus memegang kemudi sendiri, belle femme ...." Edgar menatap lekat Arumi.
"Sudah kukatakan jika aku bisa menyetir sendiri!" Tolak Arumi dengan sikap ketusnya.
"Aku tahu jika kamu akan lebih senang duduk manis sambil menatap jalanan, dari pada harus ikut berkonsentrasi pada rem dan pedal gas," rayu Edgar lagi. Ia benar-benar seorang pria yang gigih.
"Oh ... tapi aku tidak ingin merepotkanmu," tolak Arumi lagi seraya memutar kedua bola matanya.
"Dengar, Arum! Aku tidak akan menawarkan jasa jika aku sedang sibuk. Lagi pula, hari ini aku benar-benar sedang tidak ada pekerjaan," ujar Edgar lagi.
"Memangnya apa lagi pekerjaanmu selain menggangguku?" Sindir Arumi. Ia mulai memasang wajah dengan ekspresi jengkelnya. Melipat kedua tangannya di dada, Arumi lalu membuang mukanya ke samping.
"Nah ... kamu tahu itu," kelakar Edgar seraya tertawa pelan, dan membuat Arumi semakin jengkel.
Arumi menghempaskan sebuah keluhan pendek. Meskipun malas, tetapi ia akan jauh lebih malas ketika harus menghadapi semua rayuan Edgar untuknya. "Kenapa kamu sangat meresahkan, Ed?" Gerutu Arumi seraya berjalan menuju mobil pria itu terparkir.
Edgar menoleh dan tersenyum lebar. Tidak biasanya Arumi langsung menurut kepadanya, karena biasanya ia harus berusaha jauh lebih keras dari itu. "Tumben?" Gumam Edgar seraya mengernyitkan keningnya. Namun, itu akan jauh lebih baik baginya. Ia pun segera menuju mobilnya.
Singkat cerita, mereka berdua telah tiba di kediaman almarhum Surya, yang kini ditempati oleh Vera dan Arshan. Arumi dan Edgar disambut hangat oleh Arshan yang sudah terlihat rapi. Sepertinya ia akan pergi.
Arshan mengalihkan pandangannya kepada pria tampan yang berdiri di sebelah Arumi. Pria itu kemudian tersenyum.
"Kenalkan, ini Edgar. Dia yang akan membantuku membawa barang-barang ibu ... jika masih ada yang tersisa," celoteh Arumi, membuat Edgar tersenyum lebar.
"Aku memang asistenmu yang paling setia, Nona," balas Edgar. Setelah itu, ia lalu menyalami Arshan dengan sopan. Arshan pun membalasnya dengan sama.
"Di mana tante, Ve?" Tanya Arumi. Ia menanyakan keberadaan Vera.
Arshan menoleh ke bagian dalam rumah. Setelah itu, ia lalu berbisik kepada Arumi. "Tantemu baru menyemir rambutnya kemarin. Jadi, hari ini dia sedang mengagumi dirinya di cermin. Dia sudah melakukan itu sejak lima belas menit yang lalu."
Arumi tertawa pelan mendengar hal itu. Begitu juga dengan Arshan. Arumi kemudian melirik Edgar. Entah pria itu mengerti atau tidak. Akan tetapi, tawa kecil Arumi dan Arshan seketika terhenti ketika Vera datang menghampiri mereka.
"Hai, Arum," sapa Vera seraya langsung memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan gadis itu. "Apa kabar, Sayang?"
"Baik, Tante," jawab Arumi yang segera mengulum senyumnya, ketika melihat rambut Vera yang berwarna kemerahan seperti jagung. Hal itu mengingatkan Arumi kepada mendiang Maya, yang meninggal sekitar empat tahun yang lalu.
Vera mengernyitkan keningnya ketika ia melirik Edgar, sedangkan pria itu membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Ini Edgar, Tante. Dia ... temanku," ujar Arumi membuat Edgar segera melirik ke arahnya. Setelah itu, Edgar menyalami Vera dengan sopan.
"Madame," sapa Edgar. "Saya Edgar. Edgar Hilaire," Edgar kemudian mencium punggung tangan Vera, membuat wanita itu merasa tersanjung.
"Ow ... manis sekali. Apakah dia oleh-oleh dari Perancis, Sayang?" Lirik Vera kepada Arumi yang seketika membuat gadis itu membelalakan matanya sebagai tanda protes.
"Ya, sudah. Ma! Papa berangkat dulu," Arshan berpamitan kepada Vera. Setelah itu ia lalu berpamitan kepada Arumi dan Edgar.
"Om Arshan akan ke mana, Tante?" Tanya Arumi setelah Arshan berlalu dari hadapan mereka.
"Dia akan ke Surabaya untuk lima hari," jawab Vera tanpa menoleh. Tatapannya masih ia layangkan kepada pria yang baru saja pergi dengan mobilnya.
Terlihat ada cinta yang begitu besar di dalam tatapan mata Vera untuk sang suami, Arshan. Untuk sesaat, Vera terhanyut dalam lamunannya, dan membuat Arumi beserta Edgar hanya saling pandang. Mereka tidak tahu apa yang tengah Vera pikirkan saat itu.
"Tante! Tante!" Panggil Arumi pelan, tapi seketika membuyarkan lamunan wanita itu. Vera kemudian tersadar. Ia lalu menoleh dan tersenyum. "Naik saja, Arum! Tante mau ke dapur sebentar," ucap Vera seraya berlalu. Akan tetapi, baru saja berjalan beberapa langkah, Vera kemudian menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kalian akan makan siang di sini, kan?" Tanyanya.
Arumi dan Edgar saling pandang. Mereka berdua kemudian tersenyum dengan bersamaan kepada Vera.
"Oke," ujar Vera dengan senyumnya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Hai, readers! Adakah yang mau menjadi tim suksesnya Edgar?