
"Apa yang harus aku katakan padamu? Apa yang ingin kamu dengar dariku?" Tanya Arumi meskipun ia sudah mengetahui apa yang Moedya inginkan dari diri dirinya.
"Aku yakin kamu pasti sudah mengetahui apa yang aku inginkan," jawab Moedya seraya kembali berdiri di hadapan Arumi. Gadis itu terus mengalihkan pandangannya ke mana-mana, yang pasti bukan pada pria yang ada di hadapannya. Sementara Moedya masih menatap Arumi dengan lekat. Ia dapat merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh Arumi saat itu.
"Tatap aku, Arumi! Jika memang kamu berani, maka tunjukan wajahmu padaku!" Tantang Moedya.
"Jangan ganggu aku, Moedya!" Tolak Arumi dengan tegas.
"Aku hanya ingin memastikan perasaanmu padaku," desak Moedya lagi.
Arumi tidak menjawab. Lagi-lagi ia hanya membuang mukanya ke samping, sedangkan Moedya semakin mendekatkan dirinya kepada gadis cantik, yang tengah mencoba untuk berdamai dengan kemarahannya.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku, Arum? Ayo, katakan!" Pinta Moedya. Meskipun ia berbicara dengan lembut, tetapi nada bicaranya masih terdengar sangat tegas.
"Aku tidak menyembunyikan apapun," bantah Arumi.
"Kamu bohong!"
"Jangan sok tahu!"
"Aku tahu, karena aku sangat mengenalmu," ujar Moedya dengan yakin.
Arumi tersenyum sinis. "Kamu sangat mengenalku? Namun sayang sekali, karena aku merasa tidak mengenalmu lagi," cibir Arumi. Ada rasa marah dan kecewa yang teramat besar di dalam hatinya.
"Jika kamu tidak mengenalku, maka ... mari berkenalan kembali agar kita dapat lebih saling mengenal!" Ujar Moedya dengan tenangnya.
"Leave me alone!" Pinta Arumi dengan tegas.
"Aku bukan pria Perancismu. Jadi jangan suruh aku untuk pergi!" Tolak Moedya dengan penekanan suaranya yang terdengar sangat yakin dan tegas.
Arumi tidak menjawab. Ia kembali memalingkan wajahnya. Gadis itu tampaknya ingin menyudahi perbincangan yang terjadi di antara mereka berdua. Arumi bahkan bermaksud untuk menghindar dari Moedya. Akan tetapi, dengan segera Moedya mencegahnya.
"Jangan menghindar, Arum!" Pinta Moedya seraya mencekal lengan Arumi. Sedangkan Arumi hanya menatap pria itu dengan malas.
"Aku tidak ingin kita saling menghindari lagi! Sudah cukup bagi kita untuk terus bersembunyi! Sekarang adalah saat yang tepat untuk saling bicara!" Tegas Moedya. Ia masih belum melepaskan lengan kecil Arumi.
"Lepaskan aku, Moedya!" Arumi berusaha untuk melepaskan tangan Moedya dari lengannya. Akan tetapi, semuanya sia-sia saja. Pria itu memegangi lengannya dengan jauh lebih kencang.
"Moedya! Kamu sudah menyakitiku!" Ringis Arumi.
Moedya tidak mempedulikan ringisan Arumi. Ia masih terus mencekal lengan gadis itu. Tatapan matanya pun kian tajam.
"Ayo, Arum! Katakan apa yang sudah kamu pendam selama tiga tahun ini sekarang!" Desak Moedya.
"Apa bedanya jika kukatakan atau tidak? Itu tidak akan merubah apa-apa!" Sahut Arumi dengan tegas.
Moedya melepaskan lengan Arumi. Ia masih terlihat tenang dengan senyumannya yang menawan, meskipun tidak semenawan senyuman milik Edgar. Tatapannya pun masih ia layangkan kepada Arumi yang saat itu bersikap tak acuh kepada dirinya.
Apakah Arumi ingin mengajaknya bermain-main? Baiklah, Moedya tidak akan takut untuk menerima tantangan permainan apapun dari gadis itu.
"Katakan sesuatu, Arum!" Pinta Moedya.
"Tentang apa?" Arumi kembali menyibukan dirinya. Ia juga masih bersikap tak acuh kepada Moedya yang sedari tadi menatapnya dengan lekat.
"Kamu akan terus bersikap tidak peduli padaku, Arum? Baiklah. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Moedya. Ia terus berusaha untuk merayu Arumi.
Arumi menoleh. "Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"
Moedya tersenyum kalem. Sementara Arumi juga berusaha untuk terlihat jauh lebih santai, meskipun nyatanya itu tidak dapat ia lakukan. Gadis itu menyunggingkan senyuman sinisnya. "Ada apa dengan kalian para pria? Kenapa kalian selalu bersikap seenaknya atas diri seorang wanita?" Keluh Arumi dengan nada kecewa yang sangat besar.
"Arum, jangan bicara seperti itu!"
"Itu kenyataannya, Moedya!" Tegas Arumi. "Kamu datang dan pergi dengan begitu mudahnya. Kamu memasuki hidup seseorang ketika kamu menginginkannya, lalu kamu memutuskan untuk keluar saat kamu merasa kecewa dan tidak sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Luar biasa sekali dirimu?"
Moedya tidak membantah. Ia masih terlihat tenang. Pria itu, membiarkan Arumi mengeluarkan segala unek-unek di dalam hatinya.
"Dulu aku menunggumu dengan setia selama tiga tahun! Aku mengabaikan semua bisikan-bisikan negatif tentang dirimu! Aku hanya berharap dan tentunya aku memiliki satu tujuan. Aku juga tidak berpikir untuk pergi dan mencari pelampiasan!" Arumi kembali mengeluarkan segala ganjalan di dalam hatinya dengan tegas di hadapan Moedya.
"Lanjutkan, Arum!" Ujar Moedya masih dengan tenangnya.
Arumi menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja dekat sebuah wastafel. Seperti biasa, ia melipat kedua tangannya di dada. Tatap matanya pun kian tajam kepada Moedya. Sepertinya gadis itu benar-benar kesal dan marah.
"Lihatlah apa yang kamu lakukan padaku! Ketika aku membuat satu kesalahan, maka kamu langsung pergi dan tidak menoleh lagi padaku. Kamu tidak tertarik untuk mendengarkan penjelasanku, dan kamu berlalu tanpa peduli betapa aku merasa tersakiti dengan sikapmu!"
"Apa maumu, Moedya?" Tanya Arumi. "Dengan tiba-tiba, kamu datang dan kembali menawarkan cinta untukku! Kamu menawarkan sebuah perdamaian dengan segala macam dalih dan pembelaan atas semua sikap tidak adilmu padaku! Kamu juga berniat untuk mengabaikan hati yang lain dengan sangat mudahnya!"
"Wow ... seberapa hebatnya seorang Moedya? Ia begitu berkuasa, sehingga ia dapat melakukan segala hal yang ia inginkan dan yang tidak ia inginkan terhadap orang lain. Kamu sangat menyebalkan, Arjuna Moedya Aryatama!" Arumi terlihat begitu meluap-luap dalam mengeluarkan segala unek-unek di dalam hatinya, yang selama ini ia pendam. Ia memang belum sepenuhnya terlihat puas. Namun, setidaknya inti dari semua kemarahannya kepada Moedya telah ia ungkapkan.
Kabut pekat di hati Arumi, kini mulai tersibak dengan perlahan. Gadis itu tidak terlalu merasa sesak. Ia dapat sedikit bernapas dengan lega.
"Sudah cukup marahnya?" Tanya Moedya. Pria itu masih terlihat sangat tenang dalam menghadapi segala kekesalan Arumi kepada dirinya.
"Aku ingin sekali menamparmu dengan sangat keras!" Arumi kembali berbicara dengan ketusnya.
Moedya tersenyum dengan kalemnya. Tanpa Arumi duga, ia kemudian menyodorkan pipi sebelah kirinya ke hadapan Arumi. "Silakan, Arum. Tamparlah aku dengan sangat keras jika itu dapat membuatmu merasa lega!" Ujarnya dengan tenang. Ia masih menunggu apa yang akan Arumi lakukan padanya.
Arumi terdiam dan menatap pria yang kini masih menyodorkan sebelah pipinya untuk ia tampar. Itulah Moedya. Dia memang sangat menyebalkan dan seenaknya.
"Aku hanya ingin agar kamu segera pergi dari hadapanku!" Usir Arumi setelah beberapa saat ia terdiam.
Moedya tersenyum seraya menarik kembali wajahnya. Ia sangat mengetahui jika Arumi tidak akan mampu untuk melakukan hal seperti itu kepada dirinya. Moedya kemudian menggaruk keningnya.
"Aku pasti akan pergi, Arum. Akan tetapi, aku berani memastikan jika aku akan kembali dan mencarimu. Maaf jika aku terlambat melakukannya dan membuatmu terlalu lama menunggu. Namun, kali ini aku sudah siap dan memiliki banyak waktu untukmu," ucap Moedya dengan suaranya yang terdengar begitu dalam, sehingga mampu menyentuh relung hati Arumi.