
Matahari belum juga terlihat meskipun malam telah berlalu. Pagi itu cuaca sedikit mendung, dan udara pun terasa cukup dingin di atas sana.
Perlahan Edgar membuka matanya. Diliriknya gadis yang masih tertidur pulas di dalam dekapannya. Edgar kemudian tersenyum. Rupanya ia dan Arumi sama-sama tertidur di atas sofa di balkon itu.
Edgar lalu menyandarkan kepalanya dan mendongak seraya menghela napas dalam-dalam. Ini adalah pagi yang sangat indah untuknya. Hatinya terasa begitu hangat, meskipun mentari sepertinya masih enggan untuk menampakan sinarnya. Akan tetapi, rasa hangat sinar mentari yang tak jua muncul, telah tergantikan oleh seraut wajah cantik yang sudah ia rindukan setelah sekian lama.
Kembali diliriknya wajah polos Arumi. Gadis itu masih terlihat sangat cantik meski dalam keadaan tertidur. Ia begitu manis dan terlihat sangat ranum. Kekaguman dalam hati Edgar, tidak akan pernah sirna. Ia akan terus berharap untuk dapat memetik bunga yang indah itu, dan meletakannya pada vas bunga dari kristal yang paling mahal.
Edgar masih terdiam. Ia tidak berani membangunkan gadis yang masih terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Arumi masih tertidur dengan sangat nyaman di dalam dekapannya. Ia bahkan membiarkan ponselnya yang sejak tadi terus bergetar di atas meja. Sebuah panggilan masuk, tapi entah dari siapa.
Cukup lama Edgar terdiam dan membiarkan Arumi agar terbangun dengan sendirinya. Seperti yang telah ia katakan semalam, ia memiliki banyak waktu untuk gadis itu. Ya, akan selalu ada waktu bagi Arumi.
Selang beberapa saat kemudian, Edgar merasa jika dirinya harus ke toilet. Diliriknya lagi wajah itu. Ia sungguh tidak tega untuk membangunkannya. Edgar akhirnya merasa gelisah sendiri.
Semakin lama, pria itu merasa semakin tidak nyaman. Dengan terpaksa ia membangunkan Arumi. Disentuhnya wajah cantik itu dengan lembut. "Arum, bangunlah! Aku harus ke toilet," bisik Edgar.
Perlahan Arumi membuka matanya. Dengan malas ia mendongak dan seketika terkejut. "Ed?" Arumi melonjak kaget dan segera menjauh dari Edgar.
"Yes, it's me. Aku harus ke toilet dulu," ujar Edgar segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan Arumi dengan wajah tidak mengerti. Gadis itu kemudian menatap ke sekelilingnya.
Selang beberapa saat, Edgar telah kembali dari toilet. Ia lalu membereskan bekas makan malam yang masih berantakan di atas meja. Sedangkan Arumi hanya memerhatikannya sambil melongo. Sepertinya, nyawa gadis itu belum sepenuhnya terkumpul, sehingga ia masih terlihat kebingungan.
"Apa aku tertidur di sini semalaman?" Tanya Arumi dengan polosnya. Ia terus memerhatikan Edgar yang baru selesai membereskan meja.
"Kita berdua, Arum," ralat Edgar seraya memeriksa ponselnya. Ada dua panggilan masuk dan sebuah pesan dari Keanu. Pria itu menanyakan keberadaan Arumi.
"Apa kamu ingin mandi, Arum? Pakaianmu yang kemarin masih ada di sini. Asisten rumah tangga yang biasa bekerja di sini sudah mencucinya."
Arumi berpikir untuk sejenak. Ia merasa jika itu bukanlah ide yang buruk. Arumi kemudian mengangguk setuju.
"Setelah sarapan biar kuantar kamu pulang," ucap Edgar lagi. Ia kemudian beranjak masuk dengan membawa semua yang sudah ia bereskan tadi. Akan tetapi, Edgar kemudian menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh kepada Arumi yang memanggilnya. Gadis itu melangkah ke hadapan Edgar. "Kita hanya tertidur, kan?" Selidik Arumi dengan sedikit keresahan di wajah polosnya.
Edgar terdiam untuk sejenak. Setelah itu ia lalu menjawab, "Ya. Tenang saja, Arum! Aku tidak akan melakukannya jika bukan kamu sendiri yang memintanya padaku," jelas Edgar dengan datar. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Arumi berdiri terpaku untuk sesaat. Kata-kata yang baru saja Edgar ucapkan, adalah sebuah sindiran halus untuknya. Mulai saat ini, Arumi berjanji jika ia tidak akan lagi menyentuh minuman yang selalu membuatnya hilang kendali. Sudah cukup banyak masalah yang ditimbulkannya, ketika ia sedang dalam keadaan mabuk.
Ditatapnya langit pagi yang cukup mendung itu. Arumi tidak pernah menyangka jika ia telah menghabiskan malam di tempat Edgar, meskipun tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua. Itu akan jauh lebih baik. Arumi tidak ingin jika Edgar menganggap sikap baik yang ia tunjukan kepada pria itu hanya sebagai sebuah pelarian saja.
Arumi berdiri dekat pembatas kaca di atas balkon apartemen Edgar. Suasana lalu lintas di bawah sana sudah mulai ramai. Ia tidak pulang semalaman. “Siapa yang peduli? Kakak-ku bahkan masih marah kepadaku,” Pikir gadis itu.
Moedya tidak terlihat bahagia. Wajahnya tampak datar dan serius, ketika ia keluar dari kamarnya dan mulai menuruni anak tangga. Ia juga seakan tidak fokus pada keadaan di sekelilingnya, karena ia mengabaikan Ranum yang saat itu baru keluar dari ruang makan.
“Juna!” Panggil Ranum pelan. Wanita paruh baya itu segera menghampiri putra semata wayangnya, yang saat itu tertegun dan menoleh kepadanya. “Tidak sarapan dulu?”
Moedya mengela napas pendek. Sebuah jaket dari bahan jeans ia tenteng di tangan kanannya. “Aku tidak lapar, Bu,” sahut Moedya dengan sedikit malas.
“Sarapan bukan karena kamu lapar, Nak! Ayo, isi perutmu dulu!" Ranum menggandeng lengan Moedya dan mengajaknya menuju ruang makan. "Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu," ucapnya lagi.
Ranum tahu jika Moedya sedang tidak bersemangat. Putranya kini sedang dilanda sebuah keadaan, yang membuatnya menjadi melankolis. Akan tetapi, Ranum tidak ingin membahas masalah itu saat ini. Ia akan memberikan waktu kepada Moedya untuk dapat menenangkan dirinya.
"Kenapa tidak pergi berlibur untuk beberapa hari? Pasti sangat membosankan terus-menerus mengurusi pekerjaan," saran Ranum seraya menuangkan jus jeruk untuk Moedya. Namun, pria tiga puluh tahun itu hanya terdiam. Ia bahkan seolah tidak peduli ketika Ranum duduk di kursi yang berada tidak jauh dari kursinya.
Ranum merasa bingung. Ia tidak tahu harus berkata apa. Moedya seakan tidak berselera untuk melakukan apapun selain menghabiskan waktunya di bengkel. Ia seakan tengah mencari pelarian untuk menghilangkan rasa suntuknya.
Moedya membiarkan ponselnya yang terus bergetar sejak tadi. Ia hanya meliriknya sesaat, tapi sepertinya tidak berniat untuk menjawab panggilan masuk untuknya.
"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Ranum yang heran dengan sikap putranya.
"Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun," ucap Moedya seraya menyudahi sarapannya. Ia lalu meraih ponselnya dan beranjak dari ruang makan itu.
"Juna!" Panggil Ranum.
Moedya kembali tertegun. Jaket itu kini ia tenteng di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menggenggam ponsel yang sejak tadi terus bergetar.
Ranum menghampiri buah cintanya dengan Arya. Ia berdiri di hadapan putranya yang kini tengah dilanda kegalauan.
"Ibu sudah mengatakan padamu untuk berpikir dengan jernih dan menenangkan diri, sebelum kamu mengambil keputusan itu. Jangan terburu-buru! Lihatlah sekarang! Ibu harap setelah ini kamu tidak mengambil keputusan lain, yang jauh lebih mengejutkan!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Bu?" Moedya menatap Ranum dengan raut wajah yang terlihat gusar. "Seandainya bisa, maka aku akan kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya! Aku tidak akan menjadi aku yang sekarang, yang pecundang dan tidak memiliki pendirian!"
Ranum menangkup wajah putranya dengan penuh kasih. Bagaimanapun juga, hatinya terasa begitu sedih dan teriris melihat kondisi putranya yang tampak lemah dan tidak berdaya.
Ranum sama sekali tidak melihat karakter seorang Arya pada diri putranya. Akan tetapi, ia tetap harus memberikan dukungan sepenuhnya kepada Moedya. Ranum hanya berharap agar semua masalah yang sedang membebani putranya segera berakhir.