
Jemari Edgar masih berada di wajah cantik Arumi saat itu. Ia terus berusaha untuk meyakinkan Arumi tentang situasi sulit yang tengah dihadapinya saat ini.
Dikecupnya kening gadis itu dengan lembut. Tak lupa, ia mengelus rambut panjang Arumi dengan penuh perasaan. Edgar kemudian sedikit menurunkan tubuhnya demi melihat wajah Arumi yang saat itu masih merajuk kepadanya. Pria itupun tersenyum. Sebuah senyuman yang hangat dan terasa begitu bersahabat.
"Jangan marah padaku!" Pinta Edgar pelan. Disentuhnya dagu Arumi dan diangkat perlahan. Edgar tahu jika Arumi akan merasa tenang dengan sebuah ciuman. Setidaknya itu yang biasa ia lakukan ketika mereka masih bersama, beberapa tahun yang lalu.
Arumi hanya terdiam ketika Edgar menyentuh bibirnya. Ia tidak memberikan respon apapun. Sepertinya, gadis itu benar-benar marah kepadanya.
"Arum ...." ucap Edgar lembut, "dengar, Sayang!" Lanjut pria itu tanpa melepaskan tangannya dari wajah cantik Arumi.
"Aku ingin sekali terus berada di dekatmu. Akan tetapi, situasi yang sedang menimpa perusahaanku saat ini sedang tidak baik. Aku tidak bisa tinggal diam, karena jika kubiarkan berlarut-larut ... maka kondisinya pasti akan semakin kacau. Aku tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak ingin mengecewakan mendiang ayah angkatku," jelas Edgar dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Aku harap kamu dapat memahami hal itu ... atau jika kamu mau ... ikutlah denganku ke Perancis. Jadi, kita bisa selalu bersama," cetus Edgar.
Arumi segera mengangkat wajahnya. Ia seperti ingin protes atas ajakan dari pria yang entah berstatus apa saat ini baginya.
"Apa maksudmu? Apa itu artinya kamu tidak akan kembali ke Indonesia?" Pertanyaan Arumi yang diliputi dengan wajah penuh keresahan.
"Tidak, bukan begitu! Aku pasti kembali kemari, tapi tidak dalam waktu dekat. Aku harus benar-benar menyeselsaikan masalah ini hingga tuntas. Aku mohon mengertilah!" Sekali lagi Edgar meminta Arumi agar dapat memahami situasi sulit yang sedang ia hadapi saat ini.
Arumi tidak menjawab. Gadis itu justru malah membalikan badannya dan membelakangi Edgar. Sikapnya benar-benar manja. Itu sesuatu yang sangat aneh, karena Arumi tidak pernah bersikap manja seperti itu di depan Moedya. Namun, di hadapan Edgar, ia seringkali menunjukan sisi kanak-kanaknya. Apakah itu semua karena sikap manis yang selalu ditunjukan Edgar selama ini? Ya, Edgar seakan ingin selalu memanjakan Arumi.
Edgar kemudian memegangi lengan Arumi dan membalikan tubuh gadis itu hingga menghadap kepadanya. "Bagaimana jika kubelikan es krim?" Rayu pria itu dengan senyum menggoda.
"Aku bukan anak kecil!" Tolak Arumi dengan ketusnya.
"Ya, tentu saja kamu bukan anak kecil. Namun, coba lihat sikapmu, Arum! Kamu terlihat lebih manja jika dibandingkan dengan Dinan," ujar Edgar dengan entengnya.
Arumi lagi-lagi terdiam. Ia lalu melirik kopernya yang sudah siap. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera meraih pegangan koper itu dan menggeretnya keluar dari paviliun.
"Oh ... God. Berikan aku kesabaran lagi!" Gumam Edgar dengan sedikit mengeluh. Ia pun mengikuti Arumi keluar dan mengejar gadis itu yang kini berjalan dengan cukup cepat. "Arum, tunggu!" Seru Edgar dengan suara yang tidak terlalu nyaring.
Arumi sempat menoleh untuk sesaat, tetapi ia kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat. Ia seakan ingin melarikan diri dari Edgar, dan sayangnya saat itu langkah Edgar pun harus terhenti karena Keanu mengajaknya untuk berbicara lagi. Mereka kembali membahas masalah pelemparan batu, yang terjadi semalam di kamar paviliun yang ditempati oleh Arumi.
Sementara Arumi sudah tiba di halaman parkir. Seorang petugas sudah menyiapkan mobilnya. Arumi juga sudah memasukan kopenya ke dalam bagasi. Baru saja ia menutup pintu bagasi mobilnya, terdengar suara sapaan dari seorang pria yang dutujukan untuknya. Arumi seketika menoleh.
Ben, si pria bertato itu telah berdiri di sana, tidak jauh dari Arumi. Dengan senyuman di wajahnya yang terlihat sangat tegas, pria berambut cepak itu berjalan menghampiri Arumi yang masih berdiri di dekat mobilnya.
"Mau pulang, Nona Arumi?" Sapanya dengan ramah.
"Kau menyetir sendiri, Nona?" Tanya Ben lagi. Ia semakin mendekati Arumi sehingga kini jarak mereka hanya sekitar beberapa langkah saja.
"Aku sudah terbiasa menyetir sendiri," jawab Arumi. Ia mulai tidak nyaman dengan tatapan lekat pria itu yang terasa seperti tengah mengintimidasinya. Arumi memilih untuk menghindari tatapan itu.
"Di mana kekasihmu?" Tanya Ben lagi.
"Ed?" Arumi sedikit gugup. Namun, dengan segera ia dapat menguasai keadaan. "Um ... dia masih ada urusan di dalam. Kemarin kami berangkat terpisah, jadi sekarang pun ...."
"Kedengarannya sangat aneh. Sepasang kekasih pergi berlibur tapi berangkat sendiri-sendiri," Ben tersenyum simpul seraya menggumam pelan. "Ah ... maaf, lupakan tentang ucapan bodohku barusan!" Ben kembali menunjukkan senyuman anehnya kepada Arumi. Senyuman yang terlihat sangat jauh berbeda dengan senyuman yang selalu ditunjukan oleh Edgar.
Arumi pun merasa semakin tidak nyaman karenanya. Untung saja saat itu Arumi memakai kaca mata hitamnya, sehingga Ben tidak dapat melihat rasa tidak nyaman yang muncul dari sorot mata gadis itu. Tidak ada pilihan lain bagi Arumi selain segera pergi dari hadapan pria itu.
“I’m sorry, Ben ... but i have to go,” ucap Arumi dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
“Of course, Arumi! Aku juga akan kembali ke Perancis besok. Aku sudah terlalu lama di sini. Seperti yang kamu katakan ‘the holiday is over’. Waktunya kembali pada kenyataan,” Ben lagi-lagi menyunggingkan senyumannya.
Arumi tertawa pelan. ”Ya, semoga perjalananmu menyenangkan,” ucap gadis itu dengan agak kikuk.
"Mungkin kapan-kapan kau harus memasukan Perancis sebagai destinasi liburanmu. Jangan lupa untuk mengunjungi kota pelabuhan Marseille. Mampirlah ke kedai seafood sederhana milikku!” Ujar Ben yang terlihat sangat santai dengan celana pendeknya.
Mendengar kata Marseille, seketika raut wajah Arumi menjadi berubah. Ia kemudian mengangguk pelan. “Aku pasti akan datang ke Marseille, karena makam kedua orang tuaku juga ada di sana,” tiba-tiba Arumi menjadi tertarik untuk menanggapi percakapan itu.
Senyuman Ben terlihat semakin jelas. “Wow ... itu suatu kebetulan yang sangat tidak terduga. Aku pasti akan menantikanmu di kedaiku. Kami punya menu bouillabaisse yang sangat enak dan wajib untuk kau coba,” ujar Ben lagi. Ia tempaknya ingin membawa Arumi ke dalam perbincangan yang semakin jauh.
Arumi memainkan kunci mobilnya seraya tertawa pelan. “Kakak-ku pasti akan sangat menyukainya. Ia sangat merindukan masakan khas dari kampung halaman ayah kami. Sulit menemukan makanan tradisional dengan cita rasa asli dari kampung halaman sendiri,” balas Arumi. Ia pasti akan semakin larut dalam perbincangan itu, seandainya Edgar tidak segera muncul di sana. “Babe ....” panggilnya pelan.
Arumi segera menoleh. Akan tetapi, ia masih merasa kesal kepada pria itu. Meskipun begitu, Arumi tidak ingin menunjukannya di depan Ben, terlebih saat itu Edgar segera merangkul pinggangnya dengan mesra.
“Kau lagi?” Nada bicara Edgar yang terdengar tidak bersahabat kepada Ben. Sementara Ben hanya tersenyum.
“Ya, kami tidak sengaja bertemu lagi di sini. Mungkin sebaiknya jangan pernah biarkan wanita cantik ini sendirian," ucapan yang terdengar semakin memancing rasa kesal Edgar. Sebisa mungkin Edgar harus dapat mengendalikan kekesalannya, meski dalam hati ia ingin sekali membanting pria yang ada di hadapannya.
Namun, rasa kesal itu semakin menjadi ketika Ben mengalihkan tatapannya kepada Arumi seraya berkata dengan senyumannya yang sangat ramah, "Enchantèe ...."