Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Evaries - Hill


“Apa kamu berani pulang sendiri, Arumi?” Tanya Ben yang seketika membuyarkan lamunan Arumi. Gadis itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, pada jalanan dengan lalu lalang orang yang cukup ramai.


“Aku memang sudah lama tidak berjalan-jalan di kota ini, tapi aku yakin jika aku tidak akan tersesat lagi,” gurau Arumi, membuat Ben tersenyum seraya menggumam pelan.


“Buktinya kamu tersesat kemari,” ucap pria dengan kaos putih polos itu. Sesekali ia mengusap-usap rambut coklat tembaganya.


Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Perhatian gadis itu sedikit teralihkan karena melihat tato yang memenuhi pergelangan tangan Ben. Arumi merasa heran karena ia selalu dihadapkan dengan para pria bertato.


“Bagaimana jika kuantar pulang?” Tawar Ben.


“Tidak usah! Aku bisa pulang pulang sendiri. Lagi pula aku tidak ingin merepotkanmu,” tolak Arumi dengan halus. Ia harus segera pergi dari sana sebelum obrolan mereka menjadi lebih jauh lagi. Arumi tidak ingin mencari masalah dengan Edgar.


“Aku pulang dulu, Ben. Terima kasih.”


“Untuk apa?”


Arumi terdiam dan berpikir. Ya, untuk apa dia mengucapkan terima kasih kepada Ben? Ya Tuhan, dia sudah mulai hilang konsentrasi. Itu artinya, memang sudah saatnya ia untuk segera menyingkir dari hadapan pria jangkung berambut cepak itu.


Senyum kecil kembali tampak di bibir berwarna oranye milik Arumi. Ia merasa bodoh karena sikap canggung itu kembali hadir menyapanya.


“Hentikan, Arum! Sudah cukup kamu membuat hidupmu berada di dalam kekacauan!” Batin Arumi.


“Okay, Ben! Aku permisi dulu,” Arumi melangkah keluar dari pintu masuk restaurant itu.


“See you, Arum! Aku harap kamu tersesat lagi kemari!” Seru Ben dengan tidak terlalu nyaring.


Arumi menoleh dan tersenyum. Ia hanya membalas ucapan Ben dengan sebuah lambaian tangan. Setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan pria yang masih menatap kepergiannya dengan begitu lekat, bahkan hingga Arumi semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.


Sementara itu, Arumi terus melangkah. Sesekali ia menoleh dan memastikan jika tidak ada penguntit di belakangnya. Tinggal beberapa meter lagi, Arumi akan sampai di rumah milik Emanuelle. Akan tetapi, lagi-lagi gadis itu tertegun. Ia kembali menoleh dan melihat ke sekelilingnya, memastikan jika tidak ada hal yang mencurigakan lagi baginya.


Setelah berdiri beberapa saat lamanya, Arumi kemudian melanjutkan lengkahnya menuju rumah Emanuelle dan segera masuk. Di sana ia melihat Brigitte yang tengah merapikan meja makan, padahal waktu makan malam masih beberapa jam lagi.


“Tante,” sapa Arumi. Ia menghampir wanita paruh baya itu.


“Hai, Sayang. Bagaimana hari ini?” Tanya Brigitte dengan sikap keibuannya. “Aku pikir kau akan istirahat dulu, baru mengunjungi makam orang tuamu,” lanjutnya seraya melirik Arumi.


“Aku sudah terlalu rindu dengan mereka. Sudah terlalu lama aku tidak kemari,” sahut Arumi.


“Bagaimana dengan Keanu? Dia belum memperkenalkan istrinya kepada kami.”


“Dia sedang ke toko buku. Gadis itu menghabiskan waktunya dengan membaca. Dia juga mulai menulis banyak cerita. Tante pernah membaca salah satu ceritanya di sebuah majalah. Itu hal yang sangat positif, Arum,” tutur Brigitte dengan bangga.


Arumi tersenyum. Gadis itu mengangguk setuju. “Ya, Tante sangat benar,” timpal Arumi. “Ya sudah, aku mau mandi dulu,” Arumi kemudian berlalu membawa sisa apel yang tinggal setengahnya lagi.


Tanpa terasa senja berlalu dan menghadirkan malam. Angin malam itu terasa begitu dingin. Meskipun embusannya sangat lembut, tetapi terasa begitu tajam ketika menusuk kulit. Arumi berdiri di lantai tiga rumah itu. Ia menatap suasana malam di pelabuhan.


Lampu-lampu kapal mulai dinyalakan. Meski terlihat kecil, tapi tampak sangat indah dalam gelapnya malam. Arumi kini teringat kepada Edgar. Pria itu mulai menghiasi ingatannya dan mengusik hati terdalamnya.


Gadis itu kemudian membuka layar ponselnya dan mencari kontak atas nama tuan Hilaire. Entah apa yang sedang dilakukan pria itu sekarang? Arumi kemudian mengirimkan sebuah pesan kepadanya.


Tidak berselang lama, sebuah balasan masuk ke ponselnya. Sebuah pesan yang membuat Arumi tersenyum sendiri. Entah apa yang telah dituliskan Edgar dalam pesannya, sehingga membuat gadis itu terlihat ceria.


Malam terus merayap. Suasana sepi kian terasa. Arumi sudah terlelap di kamarnya. Lain halnya dengan Edgar. Ia masih duduk termenung di belakang meja kerjanya. Asap tipis mengepul dari cerutu yang diisapnya. Pria itu terus memerhatikan foto-foto Arumi yang telah dikirimkan seseorang kepadanya.


Sesaat kemudian, Edgar teringat pada laporan dari Petit yang belum selesai ia periksa. Edgar kembali membuka map itu dan mulai memeriksanya.


Evaries Hill Residential Company.


Edgar terus mengingat nama perusahaan itu. Ia seperti pernah mendengarnya, tapi kenapa ia benar-benar lupa? Ia yakin jika dulu pernah ada yang menyebutkan nama perusahaan itu dalam sebuah jamuan, yang ia ikuti bersama kedua orang tuanya.


Pikirannya melayang pada puluhan tahun silam. Saat itu usianya baru menginjak sekitar delapan tahun. Ia bertemu banyak orang pada acara jamuan itu.


Malam itu, adalah malam perayaan untuk perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang property. Ah ... tapi Edgar terlalu kecil untuk dapat mengerti dengan semua perbincangan mereka. Pembahasan dengan tema yang sama sekali tidak ia pahami.


Sekali lagi ia membaca nama Raymond Evariste. “Evaries? Hillaire? Evaries Hill?” Gumamnya seraya terus berpikir sambil sesekali memicingkan kedua matanya. “Apa mungkin jika itu perpaduan dari nama belakang keduanya?” Pikir Edgar lagi. Ia kembali mengisap cerutunya dan mengepulkan asapnya dengan begitu saja. Edgar pun kembali memeriksa laporan yang lain tentang pria bernama Raymond Evariste.


Hingga lewat tengah malam, Edgar masih terus berkutat di belakang meja kerjanya. Saat itu sudah hampir pukul dua pagi, tapi rasa kantuk seakan belum juga menghampirinya. Edgar kemudian menutup map berisi laporan yang diberikan oleh Petit.


Dengan sebuah keluhan panjang pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang sejak tadi belum ia tinggalkan. Entah sudah berapa jam ia menghabiskan waktu di dalam ruang kerjanya. Semua masalah yang terjadi dengan tiba-tiba itu, telah sangat menyita waktunya.


Sesaat kemudian, Edgar membuka sebuah pesan masuk yang belum sempat ia buka. Wajahnya terlihat semakin tegang setelah membaca pesan itu. Lagi, ia meraih selembar foto Arumi dan memerhatikannya dengan lekat.


“Kenapa sulit sekali untuk mengikatmu, Arum?” Gumam Edgar. Ada raut kecewa dalam sorot matanya. Edgar kemudian menyibakan rambutnya yang sedikit acak-acakan ke belakang. Ia kembali meletakan foto Arumi.


Helaan napas berat kembali mengiringi langkahnya, yang baru beranjak dari belakang meja kerja. Bagaimanapun juga, ia harus memaksakan dirinya untuk beristirahat, terlebih besok ia akan menghadiri rapat penting di perusahaannya.