Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Sesuatu yang Terlupakan


Arumi menoleh. Dilihatnya Edgar baru keluar dari mobilnya. Pria rupawan itu melangkah dengan gayanya yang sangat kalem ke arah di mana Arumi berdiri. Dengan sebuah senyuman di wajahnya yang tampan, Edgar berdiri di hadapan Arumi.


"Aku menghubungimu berkali-kali, tapi kenapa tidak dijawab?" Edgar menatap lekat Arumi yang segera memalingkan wajahnya.


"Ayo, temani aku!" Ajak pria Perancis itu seraya meraih tangan Arumi dan menuntun gadis itu menuju mobilnya.


"Hey!" Arumi protes dan berusaha melepaskan genggaman tangan Edgar dengan sekuat tenaga. "Lepaskan tanganku, Ed!"


Egdar tertegun dan menoleh. Tidak ada ekspresi kesal ataupun marah dari wajah rupawan itu. Ia justru terus melayangkan senyuman kalemnya kepada Arumi.


"Hari ini aku ingin membeli hadiah untuk kakak iparmu ... ah maksudku hadiah atas kelahiran keponakan barumu. Jadi, ayo temani aku!" Ajak Edgar seraya membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan Arumi untuk masuk.


Untuk sejenak Arumi hanya terdiam dan menatap pria itu. Ia ingin sekali menolak ajakan Edgar. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan Diana di bengkel Moedya mulai mengganggu pikirannya. Entah apa yang tengah mereka lakukan saat ini?


Tanpa berkata apa-apa, Arumi kemudian masuk ke mobil Edgar dan segera duduk manis sambil memasang sabuk pengamannya. Tatapannya lurus tertuju ke depan. Ia tidak peduli meskipun kini Edgar telah masuk dan duduk di belakang kemudinya.


"Kamu punya rekomendasi tempat untukku?" Tanya Edgar. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Ada banyak tempat yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu," jawab Arumi dengan malas.


"Ya, kamu pasti jauh lebih tahu. Sekalian nanti pilihkan hadiah yang cocok," ujar Edgar seraya melirik gadis itu. Gadis yang masih menunjukan sikap tidak peduli kepada dirinya. Akan tetapi, itu bukanlah masalah yang besar bagi Edgar. Ia tidak peduli dengan hal itu. Melihat Arumi duduk di sebelahnya saja, hal itu sudah sangat membuatnya bahagia.


Cuaca masih sedikit mendung, terlebih sebentar lagi petang akan menjelang. Udara pun terasa cukup dingin saat itu.


Arumi hanya terdiam di sepanjang perjalanan. Ia larut dalam alunan musik yang diputar Edgar saat itu. Sebuah lagu yang mengalun dengan lembut.


Muse- Unintended.


Tidak memerlukan waktu yang lama bagi keduanya untuk sampai di tempat yang Arumi tunjukan kepada Edgar. Pria itu segera memarkirkan mobil sedan hitamnya dan keluar untuk membukakan pintu bagi Arumi.


Tanpa ucapan terima kasih, Arumi melenggang begitu saja masuk ke dalam toko. Ia bahkan berjalan mendahului Edgar. Terlihat sekali jika Arumi sedang menjaga jarak dengan si pemilik senyum menawan itu.


Edgar masih terlihat tenang. Ia melangkah dengan penuh percaya diri dan mengikuti langkah kecil Arumi layaknya seorang bodyguard.


Diperhatikannya gadis itu. Dari arah belakang saja, Arumi sudah terlihat sangat cantik. Bentuk tubuhnya sangat proporsional. Pinggang kecil dengan kaki jenjang yang indah. Meskipun ia lebih senang memakai celana jeans, namun itu tidak membuat tampilannya menjadi kurang manis. Arumi justru terlihat sangat natural.


"Apa kamu tidak pernah menggerai rambutmu lagi, Arum?" Tanya Edgar. Kali ini ia berjalan di samping Arumi.


"Kenapa memangnya?" Arumi bertanya balik tanpa menoleh sedikitpun kepada Edgar. Ia terus saja melangkah, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah toko yang khusus menjual aneka perlengkapan bayi.


"Aku rindu melihat rambut panjangmu. Aku sudah terlalu bosan melihat rambut pirang," canda Edgar membuat Arumi tertegun dan menoleh kepadanya untuk sesaat.


Edgar mengeluh pelan. Ini sama saja ia belanja sendiri. Untuk apa ia mengajak Arumi jika ia masih harus tetap memilih barang sendiri, dan tentu saja ia tidak tahu harus membeli apa. Edgar lalu kembali menghampiri Arumi.


"Arum ... ayo bantu aku! Aku tidak tahu harus memilih apa ...." ujar Edgar dengan sangat berharap.


Arumi menoleh. Dengan malas ia mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan toko itu. Matanya menyapu setiap barang yang dipajang di sana. Nalurinya sebagai seorang mantan shopalolic kembali bekerja.


Arumi tahu jika Edgar memiliki dompet yang tebal. Ia lalu memilihkan barang dengan semaunya. Edgar sendiri tidak memprotes apa yang dilakukan Arumi. Pria bermata abu-abu itu hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan perlahan.


Lima kantong belanjaan dengan ukuran yang cukup besar, telah menghiasi genggaman tangan Edgar. Pria itu kembali mengikuti langkah Arumi seperti seorang porter. Ia terus mengikuti langkah Arumi yang hanya berputar-putar sambil melihat-lihat tanpa membeli apapun juga.


"Arum! Apa kamu tidak lapar?" Edgar tampak kelelahan dengan barang bawaannya.


Arumi menoleh. Ia baru sadar jika saat itu ia tidak sendirian. "Sorry, Ed!" Ucap Arumi dengan polosnya.


"Ayo kita cari makan dulu!" Ajak Edgar. Wajahnya sudah terlihat lusuh. Saat itu memang sudah waktunya makan malam.


Arumi setuju. Ia lalu mengajak Edgar ke sebuah kedai makanan yang biasa ia kunjungi. Untung saja pengunjung di kedai itu tidak terlalu ramai. Mereka berdua pun segera memesan beberapa menu andalan dari kedai itu.


Sambil menunggu, Arumi meletakan tasnya di atas meja, tepat di sebelahnya. Ia terlihat sibuk mencari sesuatu yang tidak juga ia temukan. Arumi tertegun. Ia mengingat-ingat untuk sejenak.


"Ada apa, Arum? Kamu kehilangan sesuatu?" Tanya Edgar. Ia sudah sangat mengenal setiap ekspresi muka yang biasa ditunjukan oleh gadis itu.


"Ponselku ...." gumam Arumi. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan. Ia juga terlihat cemas.


"Kamu tidak meninggalkannya di suatu tempat atau ... jangan sampai kamu menjatuhkannya di jalan," ujar Edgar. Ia juga ikut terlihat khawatir.


"I don't know, Ed! Aku lupa ... um ... oh my God! Di mana aku meletakan ponselku?" Arumi menopang keningnya dan mengusap-usapnya perlahan. Ia terus mengingat-ingat di mana ia terakhir meletakan ponselnya.


"Jangan khawatir! Kita masih bisa melacaknya," ucap Edgar. Ia mencoba untuk menenangkan Arumi.


"Bagaimana aku tidak khawatir? Aku telah menghilangkan ponselku!"


Edgar tersenyum kalem. "Tenanglah dulu! Ingat baik-baik tempat terakhir yang tadi kamu datangi! Nanti kita akan mencarinya ke sana. Semoga saja tidak ada yang menemukannya," ujar Edgar. Ia menghentikan ucapannya karena seorang pelayan datang ke sana dan membawakan makanan pesanan mereka.


Arumi kembali terdiam dan berpikir. Tempat terakhir yang ia datangi adalah bengkel milik Moedya. Apakah mungkin jika Arumi meninggalkan ponselnya di sana?


"Makanlah dulu! Kita tidak akan bisa berpikir dengan baik dalam keadaan lapar. Aku yakin kita pasti akan menemukan lagi ponselmu," ucap Edgar. Ia terus menenangkan Arumi.