
"Aku yakin pasti ada hal lain yang ingin kamu bicarakan denganku, selain membahas masalah nomor ponsel," ucap Moedya dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tenang.
"Bukan hal penting," sahut Arumi. Ia kemudian mengulum bibirnya. Dalam hati, rasanya ia ingin protes kepada Moedya. Ia ingin sekali menangis dan memukul lengan bertato pria itu sambil bertanya, "Jadi ... kamu sudah benar-benar melupakan aku?"
Kenyataannya, pertanyaan itu hanya menjadi sebuah unek-unek yang tidak tersampaikan. Arumi tidak berani untuk mengutarakan hal itu di depan Moedya. Ia tahu jika itu hanya akan menjadi sesuatu yang sia-sia bagi dirinya.
Tiga tahun sudah berlalu. Sudah sewajarnya jika Moedya mulai melupakan kisah cinta di antara mereka berdua. Lagipula, kandasnya hubungan mereka juga bukanlah karena orang lain, melainkan karena kecerobohan Arumi sendiri.
Andai saja malam itu Arumi tidak datang ke pesta yang diselenggarakan Diana. Seandainya saja waktu itu ia tidak mabuk dan melakukan hal yang sangat memalukan, maka mungkin saat ini ia dan Moedya sudah menghabiskan waktu bersama dengan dua anak yang lucu, seperti halnya Keanu dan Puspa.
Akan tetapi, semua tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kenyataan yang jauh dari harapan, bahkan berakhir dengan sangat menyakitkan.
Arumi melirik ke arah Moedya. Pria itu masih berdiri dengan gaya khasnya. Moedya terlihat jauh lebih dewasa dan matang. Meskipun belum banyak yang berubah dari penampilannya, namun Arumi melihat sesuatu yang lain dari biasanya. Sesuatu yang sangat berbeda dari seorang Moedya yang ia kenal pada waktu tiga tahun yang lalu.
Sebenarnya, Arumi belum lah merasa puas menatap pria itu. Akan tetapi, ia merasa malu dan tidak ingin jika sampai Moedya mengetahui bahwa ia tengah memperhatikan pria itu, meskipun sepertinya Moedya sudah menyadari hal itu. Semuanya ditandai dengan respon yang Moedya tunjukan kepada gadis itu.
Diliriknya Arumi dengan sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya. Gadis itu tampaknya tidak berniat menunjukan wajahnya. Arumi menyadari jika saat itu Moedya tengah memperhatikannya.
Memohonlah padaku, Moemoe! Batin Arumi. Ia berharap agar pria itu memberikan sedikit rayuannya.
Kamu ingin aku memohon padamu, Arum? Lupakan! Batin Moedya dengan sikap tak acuhnya.
Keheningan kembali hadir di antara mereka berdua. Meskipun terasa tidak nyaman, namun rasa ego yang terlalu besar di dalam diri mereka nyatanya jauh lebih berkuasa dan tetap mereka pertahankan.
Selang beberapa saat lamanya, keheningan itu terus berlangsung. Sesaat kemudian, entah apa yang membuat keduanya tiba-tiba saling menoleh dan juga saling memandang.
Moedya menatap lekat gadis cantik yang juga tengah menatapnya. Sudah sangat lama ia tidak tenggelam dalam bola mata indah milik Arumi, menyelami hangatnya tatapan itu dan menemukan sebuah rasa yang tidak tersampaikan.
Arumi pun demikian. Ada kerinduan yang teramat besar akan sentuhan hangat dari tangan dengan jemari kokoh milik Moedya. Ia merasa sangat haus dan merindukan setetes ramuan cinta yang dulu pernah pria itu berikan dengan tulus untuk dirinya.
"Kenapa kamu sangat keras kepala?" Tanya Moedya.
"Kenapa kamu tidak pengertian?" Arumi bertanya balik.
Keduanya lalu menghempaskan sebuah keluhan pelan. Arumi kembali memalingkan wajahnya. "Jadi ... kamu sudah move on dan mulai menjalin hubungan dengan Diana?" Arumi memberanikan diri bertanya tentang hubungan antara Moedya dan sahabat lamanya itu.
"Siapa yang memberitahumu?" Tanya Moedya.
"Diana sendiri yang mengatakannya kepadaku. Aku tidak tahu kenapa dia harus meminta izin, atau mungkin ... mungkin dia memang melakukannya dengan sengaja agar aku tahu hal itu," tutur Arumi dengan sedikit rasa kesal di dalam hatinya. "Kamu ingin membuatku cemburu?" Tukas Arumi seraya melirik Moedya.
Moedya tertawa pelan mendengar pertanyaan Arumi. Ia merasa jika itu adalah sebuah pertanyaan yang sangat konyol dan murahan.
"Haruskah kujawab?" Tanya Arumi dengan jengkel.
"Tidak usah," jawab Moedya singkat.
Arumi kembali mengeluh pelan. Ia tidak mengerti bagaimana Moedya bisa berpikir sejauh itu tentang dirinya, karena kenyataannya semua yang pria itu pikirkan adalah salah.
Bagaimana mungkin Arumi dapat melupakan pria berambut gondrong itu dengan cepat. Tiga tahun adalah waktu yang terlalu sebentar untuk dapat menghapuskan semua kenangan indah, dan rasa cinta yang terlalu besar dalam hati Arumi untuk Moedya. Kenyataannya, hingga saat ini Arumi masih terpenjara dalam sebuh perasaan cinta yang entah akan kembali ia miliki atau tidak.
Setiap detik, setiap menit, setiap helaan napas gadis itu, semuanya selalu dihiasi oleh sebuah penyesalan yang kunjung usai. Tak terobati oleh sebuah ratapan pilu yang menyakitkan sekalipun.
"Maafkan aku, Moedya," ucap Arumi dengan lirih.
"Maaf untuk apa?" Tanya Moedya dengan datar. Ia bersikap seakan tidak mengerti, padahal ia dapat menebak ke mana arah perbincangan itu nantinya. Akan tetapi, sebenarnya Moedya juga tidak ingin kembali membahas sesuatu yang telah membuat dirinya patah hati berkepanjangan.
"Aku yakin kamu pasti sudah mengetahui maksudku," ucap Arumi pelan. Bibirnya terasa berat untuk berucap. Lidahnya terasa kelu untuk mengatakan hal memalukan yang terjadi antara dirinya dan Edgar pada malam itu. Akan tetapi, Arumi ingin sekali mendengar kata maaf dari Moedya untuk dirinya.
Moedya tidak segera menjawab. Tatapannya masih tertuju pada derasnya hujan yang turun sore itu. Sudah saatnya ia menunjukan kedewasaan dalam dirinya. Mungkin inilah waktunya ia melaksankan semua petuah Arya yang selalu pria itu berikan semasa hidupnya dulu.
"Ada yang ingin kamu sampaikan padaku, Arum?" Moedya kembali melirik gadis di sebelahnya. Sementara Arumi masih tertunduk lesu. Ia tidak berani menunjukan wajahnya kepada Moedya.
"Ada banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu. Akan tetapi ... aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya," jawab Arumi pelan.
"Kenapa? Apakah aku terlihat sangat menakutkan bagimu?" Tanya Moedya lagi.
"Tidak. Semuanya karena aku yang terlalu pengecut," jawab Arumi. Ia berkali-kali mengulum bibirnya dan menggigitnya perlahan.
Moedya tertawa pelan. "Bagaimana jika kubuatkan secangkir teh hangat,? Setelah itu kita bisa mengobrol dengan jauh lebih santai," tawar Moedya. Sikapnya telah membuat ketegangan di dalam hati Arumi menjadi sedikit lumer. Ia tahu jika Moedya tidak sekejam seperti yang tergambar dari penampilannya
Arumi menoleh dan tersenyum manis. "Seharusnya aku membawa biskuit kemari," sahut gadis itu dengan sedikit senyuman di bibir joyfull orange miliknya.
"Paris Brest buatanmu masih menjadi yang paling enak," balas Moedya. Ia melirik Arumi untuk sejenak, setelah itu barulah ia berlalu ke bagian dalam bengkel dan meninggalkan Arumi dengan senyum penuh bunga-bunga di hatinya.
Moedya masih menyukai Parist Brest buatan Arumi. Dia juga bahkan mengungkapkan sanjungannya untuk gadis cantik itu. Pantaskah jika Arumi sedikit berbangga hati dan kembali berpegangan dengan erat pada harapannya?
"Hey, Arum! Ayo naiklah! Tehnya sudah siap," seru Moedya dari atas tangga.
Seketika Arumi tersadar. Ia lalu menoleh dan tersenyum. Tanpa berlama-lama, gadis itu segera membalikan badannya dan naik ke lantai dua bengkel itu.