
Seusai sarapan, Edgar duduk santai di sofa taman yang berada di sebelah area kolam renang, dengan ditemani sebuah surat kabar. Sementara Arumi tengah asyik berenang.
Sesekali, Edgar mengalihkan pandangannya pada tubuh semampai yang tengah melenggak-lenggok di dalam air. Ia juga melayangkan senyumannya ketika Arumi muncul ke permukaan dan menunjukkan paras cantiknya dengan rambut dan wajah yang basah.
Edgar kemudian melipat surat kabar itu. Sesaat ia terdiam seraya terus memerhatikan sang kekasih yang terlihat masih asyik bermain di dalam kolam. Ingatannya melayang pada apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Arumi. Pria itu pun kemudian tersenyum kecil.
Sesaat kemudian, ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kolam renang itu. Edgar lalu berdiri di tepian kolam dan kembali memerhatikan Arumi.
“Ayo kemari dan bergabunglah, Ed!” Ajak Arumi. Ia menciprati Edgar dengan air.
“Hentikan, Arum! Aku sudah mandi,” ujar Edgar seraya menurunkan tubuhnya. Ia berjongkok dan menjadikan sebelah lututnya sebagai tumpuan. Ia menunggu Arumi untuk mendekat.
Arumi kemudian berenang ke arah Edgar berada. Gadis itu melipat kedua tangannya, dan meletakannya di tepian kolam. Ia juga meletakan dagunya di atas tangannya tadi.
“Aku menyukai kolam renangmu, Ed,” ujar Arumi dengan wajah dan rambutnya yang basah. Wajahnya terlihat sangat ceria.
Edgar tersenyum dengan kalemnya. “Aku juga akan sangat bahagia, jika bisa melihatmu berenag di sini setiap hari,” balas Edgar. Ia tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Arumi.
“Aku sudah memesankan tiket untuk keberangkatanmu ke Marseille. Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, karena aku jauh lebih senang jika kamu berada di sini,” ucap Edgar.
Arumi tertawa pelan. “Aku akan di sana selama beberapa hari. Kamu bisa mengunjungiku jika kamu mau,” balas Arumi masih dengan senyum manisnya.
Edgar tidak menjawab. Pria tampan itu hanya tersenyum, sebuah senyuman yang menawan seperti biasanya. Sesaat kemudian, disentuhnya wajah cantik Arumi. Gadis itu benar-benar basah, begitu juga dengan rambut panjangnya yang kini tak luput dari sentuhan tangan Edgar. Lalu apa lagi yang pria itu lakukan selain memberikan ciuman mesranya untuk sang kekasih.
“Maaf mengganggu sebentar, tapi di depan ada tamu untukmu, Ed,” Carmen sudah berdiri di sana, tidak jauh dari mereka berdua.
Edgar dan Arumi serentak menoleh. Edgar kemudian berdiri. “Naiklah, Arum! Jaanga berenang teralu lama!" Titah Edgar.
"Aku akan menemui tamuku dulu,” lanjutnya dengan gaya bicara yang membuat Arumi menjadi semakin terpesona olehnya. Setelah itu, ia kemudian bergegas masuk ke rumah dan meninggalkan Arumi yang masih berada di dalam kolam.
“Apa kau butuh sesuatu, Arum?” Tawar Carmen dengan ramah.
Arumi tersenyum seraya menggeleng pelan. “Tidak. Terima kasih,” jawabnya.
“Baiklah kalau begitu aku masuk dulu. Masih ada sedikit pekerjaan di dalam,” ujar Carmen lagi. Setelah melayangkan senyuman ramahnya, ia kemudian berlalu meninggalkan Arumi yang kembali melanjutkan aktivitas berenangnya.
Di dalam, Edgar mendapati seorang pria dengan postur tinggi dan kurus yang tengah menunggunya. Pria dengan mantel hitam panjang yang segera menyambut kehadirannya dengan ramah. Ia pun segera mengulurkan tangannya dan menyalami Edgar dengan sopan. “Tuan Hilaire, apa kabar?” Sapanya.
Edgar membalas jabat tangannya seraya tersenyum. “Baik, Tuan Petit. Mari kita bicara di ruang kerja saya!” Ajak Edgar. Ia melangkah terlebih dahulu dan segera diikuti oleh pria itu, hingga mereka akhirnya telah berada di ruang kerja Edgar.
“Silakan duduk, Tuan Petit,” Edgar mempersilakan pria bertubuh kurus itu dengan sopan. Setelah itu, ia juga segera duduk di sofa yang sama.
Seperti biasanya, Edgar selalu terlihat kalem dan maskulin. Meski begitu, bahasa tubuhnya saat itu menunjukkan sisi lain dari seorang Edgar. Pria itu terlihat sangat serius dan tegas. Itu semua terlihat dari caranya menatap pria yang duduk tidak jauh dari dirinya.
“Saya tahu jika Anda pasti sedang sibuk Tuan Hilaire, karena itu kita langsung saja pada inti pertemuan kita kali ini,” pria yang dipanggil dengan sebutan tuan Petit itu mulai membuka percakapan di antara mereka berdua.
“Begini Tuan Hilaire, saya sudah memeriksa semua data yang masuk ke perusahaaan Anda. Saya menemukan satu data atas nama Raymond Evariste,” lapornya.
Petit mentapnya dengan serius. Dapat dipastikan jika ia membawa berita yang tidak baik. Sesaat kemudian, pria bertubuh kurus itu kembali berkata,”Raymond Evariste adalah seorang pengusaha property yang telah meniggal sekitar lima belas tahun yang lalu. Bagaimana mungkin seseorang yang telah meninggal dalam jangka waktu selama itu dapat membobol data keuangan perusahaan Anda, Tuan?”
Edgar terlihat semakin serius saat menanggapi pernyataan yang disampaikan oleh Petit kepadanya. Ia juga tidak mengenal sama sekali pria yang bernama Raymond Evariste.
Edgar terlihat berpikir. Akan tetapi ia masih belum dapat memahami maksud dari semua itu.
“Apakah Anda memiliki data lain tentang Raymond Evariste?” Edgar merasa semakin penasaran. Entah misteri apa yang tengah mengikutinya kini. Terlebih jika ia teringat pada semua teror yang diterimanya akhir-akhir ini.
“Yang pasti dia seorang pengusaha yang sukses, memiliki dua orang anak yang saat ini tidak diketahui keberadaannya,” terang Petit lagi.
Edgar kembali terdiam. Ia yakin jika permasalahan ini tidak sesederhana yang ia kira.
Sesaat kemudian, Petit menyodorkan sebuah map kepada Edgar. “Ini adalah hasil laporan lengkap yang saya dapat. Anda bisa memeriksanya. Saya sudah menuliskan semua temuan saya di sana,” ujar pria itu.
Edgar kemudian menerima map itu, tetapi tidak langsung membukanya. Ia segera beranjak dari duduknya dan mengisyaratkan bahwa pertemuan itu sudah selesai. Pria bertubuh kurus itu juga mengikutinya berdiri. Dengan segera ia menyalami Edgar.
“Terima kasih untuk bantuannya, Tuan Petit,” ucap Edgar. Ia masih berusaha untuk tetap terlihat tenang, meskipun jauh di dalam hatinya saat ini Edgar merasa ada sesuatu yang sangat mengganggunya.
Sepeninggal pria itu, Edgar kembali duduk di belakang meja kerjanya. Dengan wajah yang cukup tegang, ia mulai membuka map itu. Edgar pun mulai memeriksanya.
Ada satu hal yang menjadi perhatiannya, yaitu nama perusahaan yang ia rasa tidak asing baginya. Akan tetapi, Edgar tidak terlalu yakin. Ia pun segera menutup map itu karena mendengar suara ketukan di pintu.
“Masuk” Seru Edgar dari dalam.
Sesaat kemudian, pintu terbuka dan munculah wajah Arumi dari baliknya. Gadis itu tersenyum manis. Ia kemudian masuk. “Apa aku mengganggu?” Tanyanya.
Edgar menatap gadis yang saat itu berdiri di hadapannya. Pria itu kemudian tersenyum dan beranjak dari meja kerjanya untuk menghampiri gadis itu. Arumi kini sudah terlihat rapi dengan mini dress-nya. Ia sudah terlihat cantik, seperti biasanya.
“Bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar. Berkeliling dan sedikit mengenang masa lalu,” cetus Edgar dengan senyum kalemnya.
Arumi tersenyum manis. Tidak ada alasan bagi gadis cantik itu untuk menolak ajakan dari sang kekasih. Arumi pun mengangguk setuju.
Dengan segera, Edgar menggenggam jemari lentik Arumi. Ia lalu mengajak kekasihnya itu untuk keluar dari ruang kerjanya. Akan tetapi, baru saja mereka akan keluar, langkah mereka harus terhenti karena berpapasan dengan Carmen yang segera menyodorkan sebuah amplop kepada Edgar.
Seketika wajah Edgar berubah menjadi tegang. Ragu ia menerima amplop kecil itu dari tangan Carmen yang kini sudah berlalu ke bagian dalam rumah.
“Are you okay, Ed? Ada apa?” Tanya Arumi yang heran dengan perubahan sikap Edgar. Edgar menoleh dan memaksakan dirinya untuk tersenyum. Pria itu pun menggeleng perlahan. “Nothing,” Edgar kemudian meletakan amplop itu begitu saja di atas meja yang ada di sana. Setelah itu, ia kembali menggenggam tangan Arumi dan membawanya pergi dari sana. “Ayo kita pergi,” Ajak Edgar. Ia kembali pada karakter Edgar yang Arumi kenal selama ini.
Arumi sempat melirik amplop kecil itu untuk sesaat. Namun, ia tidak harus ikut campur pada sesuatu yang bukan urusannya. Lagi pula ia sudah memiliki acara yang sepertinya akan jauh lebih menyenangkan dari sebuah amplop.