
Rintik-rintik hujan mulai turun dan membasahi kaca depan mobil milik Edgar. Sebuah senyuman tipis terlukis di wajah tampan yang selalu terlihat ramah itu. Edgar tidak tahu mukjizat apa yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Ini lebih dari sekedar sebuah anugerah bagi dirinya.
Sementara Arumi hanya menyandarkan kepalanya dan menatap keluar jendela, bahkan ketika mobil sedan itu berhenti di sebuah perempatan lampu merah.
Akan tetapi, dengan seketika Arumi menegakan sikap duduknya. Sementara tatapannya masih tertuju ke luar jendela, pada seseorang dengan motor retronya.
Arumi segera mengalihkan tatapannya ke depan. Hatinya tiba-tiba merasa kacau dan kembali berkabut. Dire•masnya tali tas selempang yang ia letakan di atas pangkuannya. Sesaat kemudian, ia lalu melirik kepada Edgar. Pria itu masih terlihat tenang di balik kaca mata hitamnya.
Arumi merasa gelisah. Entah kenapa setiap kali melihat wajah Moedya secara langsung, maka ia akan selalu merasakan sesuatu yang aneh. Bagaimanapun juga, Moedya adalah pria pertama bagi Arumi, meskipun pacar pertamanya adalah Edgar. Moedya yang telah diberi kehormatan oleh Arumi, untuk membantunya melepaskan diri dari semua kepolosannya. Banyak hal yang tidak ia lakukan dengan Edgar, ia lakukan dengan pria berambut gondrong itu.
Arumi masih terdiam hingga lampu merah berubah menjadi hijau. Motor retro itu melaju dengan kencang dan berbelok ke sebelah kiri, sementara mobil Edgar mengambil jalan lurus. Arumi menoleh ke arah jalan yang Moedya ambil. Akan tetapi, ia sudah tidak dapat melihat pria itu lagi. Arumi kemudian menyentuh sudut matanya.
Tidak berselang lama, mobil yang dikendarai Edgar telah memasuki halaman rumah milik Arumi. Ia segera melepas sabuk pengamannya, begitu juga dengan Edgar. Pria itu pun keluar dan membukakan pintu untuk si gadis. Arumi memaksakan dirinya untuk tersenyum. Mereka berdua kemudian segera masuk karena gerimis mulai turun dengan lebih lebat.
Di dalam, tampak Keanu menyambut mereka berdua. Pria berambut cepak itu segera memberikan salam khas lelaki kepada Edgar yang kini telah menjadi rekan bisnisnya.
"Apa kabar, Ed? Terima kasih sudah menjaga adikku," ucap Keanu seraya melirik Arumi yang saat itu terlihat memasang wajah tidak bersahabat kepadanya. Ia tampak mengulum senyumnya, begitu juga dengan Edgar yang saat itu sempat melirik Arumi untuk sesaat.
"Arum pasti akan baik-baik saja selama denganku. Ia juga makan banyak semalam," celoteh Edgar seraya kembali melirik Arumi yang saat itu melotot tanda protes kepadanya. Namun, Edgar tidak memedulikan gadis itu. Ia dan Keanu berlalu begitu saja menuju ke ruang tamu.
Arumi mengernyitkan keningnya melihat apa yang dilakukan dua pria blasteran Perancis itu. "Menyebalkan!" Gerutu gadis itu pelan. Ia kemudian memutuskan untuk pergi ke dapur dan mengambil minum. Tenggorokannya tiba-tiba terasa begitu kering setelah ia melihat Moedya tadi.
Kenapa Arumi masih harus terganggu oleh pria bertato itu? Sementara ia telah berjanji pada dirinya, jika ia akan benar-benar menghapus Moedya dari ingatannya.
Sayup-sayup terdengar suara tawa antara Keanu dan Edgar. Entah apa yang tengah mereka bahas, tetapi sepertinya itu merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan.
"Ah ... tidak mungkin jika mereka tengah membahas Jessica Alba ataupun Alexandra Daddario," pikir Arumi.
"Hai, Arum. Semalam kamu tidak pulang," sapa Puspa yang saat itu tengah menggendong si kecil Jenna.
Arumi tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum. Ia segera meraih Jenna dari gendongan ibunya. "Bisakah jaga dia sebentar? Dinan terus merengek minta dibuatkan omelet mozarella," pinta Puspa.
"Di mana anak itu?" Tanya Arumi dengan cemas. "Aku harap dia tidak sedang bersama ayahnya," lanjut Arumi. Ia terlihat agak resah.
"Aku harap kamu tidak memgatakan hal yang macam-macam, Arum!" Balas Puspa seraya tertawa pelan.
"Seingatku ... tidak," Arumi mengernyitkan keningnya. "Mungkin ...." Arumi menggerakan matanya ke kiri dan ke kanan. "Apa kakak-ku masih marah?" Tanya Arumi pelan.
Puspa yang saat itu sedang fokus dengan teflon di depannya, segera menoleh. Ia pun tersenyum. "Bukankah kamu sudah sangat mengenal Keanu, Arum?" Sahut ibu dua anak itu. Ia kembali pada omelet yang hampir matang.
"Aku sudah bicara dengan Keanu. Dia setuju jika kamu ingin berlibur ke sana. Namun, alangkah lebih baik jika kamu juga berbicara secara langsung kepadanya," saran Edgar dengan senyuman khasnya. "Aku juga belum mengatakan jika kamu mengajakku ke sana," ucap pria itu lagi sambil berbisik. Sementara Arumi masih menggendong si kecil Jenna yang saat itu telah berpindah tangan ke dalam gendongan Edgar.
"Kamu sudah cocok menjadi seorang ibu, Arum. Kamu juga sudah terlihat luwes saat menggendong anak kecil," goda Edgar. Ia juga tampaknya sudah terbiasa dengan anak kecil.
"Kamu juga sudah cocok menjadi seorang ayah," balas Arumi membuat Edgar kembali meliriknya dengan nakal.
"Aku menunggumu untuk siap, Babe," sahut Edgar masih dengan senyum kalemnya. Ia kemudian mengembalikan Jenna kepada Arumi. "Aku harus pulang, masih ada hal yang kuurus. See you, Arum," setelah menatap Arumi untuk sejenak, Edgar kemudian berlalu. Sedangkan Arumi mengikutinya hingga ke pintu keluar. Ia menatap kepergian Edgar, selayaknya seorang istri yang mengantar suaminya yang hendak pergi bekerja.
Hingga mobil yang dikendarai Edgar menghilang dari pandangannya, Arumi masih berdiri terpaku di sana. Ada sesuatu yang mulai mengusik perasaannya.
Waktu makan siang telah tiba. Arumi teringat pada pesan dari Edgar. Mau tidak mau, ia harus bicara kepada Keanu tentang rencana liburannya. Seusai makan siang, Arumi memberanikan dirinya untuk menemui Keanu.
"Kakak, aku ingin bicara sebentar," Arumi berdiri di belakang Keanu yang saat itu tengah berjalan menuju kamarnya. Ayah dua anak itu kemudian menoleh.
"Tentang apa? Kunci mobilmu?" Tanya Keanu dengan tenangnya.
"Bukan. Aku ingin berlibur di resort selama dua hari atau mungkin lebih ... ya ... intinya aku ingin berlibur sebentar. Kakak bisa mengurusnya?" Arumi dengan wajah manjanya yang penuh harap.
Keanu menatap gadis itu untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia tersenyum kecil. "Bereskan saja barang-barang bawaanmu! Aku akan mengurusnya," jawab pria berambut cepak itu.
Arumi tersenyum lebar. "Thank you. Kamu adalah kakak terbaik," sahut Arumi riang.
"Tidak untuk hari kemarin," sindir Keanu.
Arumi tidak menjawab. Ia merasa bersalah atas sikap kasarnya terhadap sang kakak. Untuk sejenak gadis itu terdiam. Setelah itu, ia kemudian mendekat kepada Keanu. "Let me hug you!" Ucap gadis cantik itu seraya memeluk erat Keanu.
Tidak ada alasan bagi Keanu untuk tidak membalas pelukan sang adik. "Jangan bertindak bodoh lagi, Arum! Jangan lakukan sesuatu yang hanya akan merugikanmu! Selalu pertimbangkan matang-matang semua tindakan yang akan kamu lakukan, agar kamu tidak terlalu menyesal nantinya!" Pesan Keanu. Karakter seorang Adrian, terlihat jelas dalam dirinya. Hal itu pula yang telah membuat Arumi begitu segan dan mengagumi sang kakak.
"Satu lagi, Arum. Kalau bukan karena Edgar, aku tidak akan mengembalikan kunci mobilmu dengan secepat ini," ucap Keanu lagi seraya merogoh saku celananya dan menyodorkan kunci mobil milik Arumi.
Senyuman Arumi tampak semakin lebar kala mendapati kunci mobil kesayangannya kini telah kembali ke tangannya. Ia kembali memeluk Keanu dengan hangat. "Aku berjanji. Ini terakhir kalinya aku membuat kekacauan! Mulai saat ini ... aku akan menjadi gadis yang baik ... lagi ...." Arumi terlihat begitu ceria bahkan ketika ia kembali ke kamarnya.
Diliriknya paper bag yang ia abaikan. Ia pun segera meraihnya dan mengeluarkan isinya yang merupakan hadiah dari Edgar untuknya. Arumi kemudian meletakan benda itu di sebelah foto keluarga yang ada di atas meja sebelah tempat tidurnya. Selang beberapa saat, ia memutuskan untuk menghubungi si pemberi hadiah tersebut.
"Hai, Ed. Kakakku akan mengurus semuanya. Kamu jadi menemaniku, kan?" Tanya Arumi dengan sedikit berharap.
"Maaf, Arum. Aku harus mengurusi beberapa hal yang sangat penting, jadi ... sayang sekali aku tidak bisa menemanimu," jawab Edgar membuat Arumi seketika tampak kecewa.