Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Berkencan Dalam Gelap


Arumi sudah tampil cantik malam itu. Ia berdiri di depan cermin yang berdiri setinggi dirinya dan terus memerhatikan penampilannya dalam balutan mini dress dari bahan lace berwarna hitam. Arumi kemudian mengambil lipstiknya.


Didekatkannya wajah cantik dengan polesan make up tipis itu ke cermin. Arumi pun mulai memoleskan lipstik berwarna merah itu di bibirnya. Setelah itu, ia memerhatikan dirinya di cermin dengan lekat. Arumi pun mengernyitkan keningnya.


“Oh ... no!” Ringisnya. Dengan segera ia mengambil tisu basah dan membersihkn bibirnya dari lipstik merah itu.


Arumi kemudian melihat koleksi lipstiknya yang lain. Pada akhirnya, pilihannya tetap kembali pada lipstik berwarna oranye kesayangannya.


Sesaat kemudian, gadis itu melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. Sebentar lagi Edgar akan datang menjemputnya. Ia sangat tahu jika Edgar adalah orang yang selalu tepat waktu. Ia harus segera bersiap-siap.


Dugaannya memang tidak meleset. Baru saja ia memakai sepatunya, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Arumi bergegas merapikan dirinya dan membuka pintu.


Puspa telah berdiri di balik pintu kamar itu. Ia memasang senyum nakal dan sedikit menggoda kepada adik iparnya. Arumi dapat memahami arti dari sikap yang ditunjukan Puspa kepada dirinya. Arumi pun membalasnya dengan biasa saja.


“Apa Ed sudah datang?” Bisik Arumi dengan malu-malu.


Puspa mengangguk. Ibu dua anak itu kemudian tersenyum seraya menyentuh lengan Arumi. “Ayo!” Ia lalu menggandeng sang adik ipar untuk mengajaknya turun. “Harus kuakui Arum, malam ini kamu terlihat sangat manis,” sanjung Puspa. Sikapnya terasa begitu aneh bagi Arumi.


Sesmpainya di ruang tamu, barulah Arumi mengetahui kenapa Puspa bersikap sedikit aneh. Tentu saja, di sana ada tiga orang pria yang sedang duduk bersama. Keanu, Edgar, dan Moedya. Meski terlihat tidak nyaman, tetapi Edgar dan Moedya tidak menunjukkan hal itu secara terang-terangan.


Tidak ada tegur sapa di antara mereka berdua. Ya, tentu saja mana mungkin. Namun, ada satu hal yang kompak mereka lakukan saat itu, yaitu menatap Arumi dengan penuh kekaguman.


Arumi segera mengarahkan pandangannya kepada Edgar. Gadis itu kemudian tersenyum. Edgar segera menyambut gadis manis itu dengan sikap mesranya. “Hi, Babe!” Sapa Edgar pelan. “Pergi sekarang?”


 “Oke,” jawab Arumi setuju. “Kakak, aku pergi dulu,” Arumi berpamitan kepada Keanu dan Puspa. Ia juga melirik Moedya untuk sesaat dan hanya menyunggingkan sedikit senyumannya.


Edgar pun melakukan hal yang sama. Bedanya, ia tidak memberikan senyuman kepada Moedya meskipun hanya sedikit saja. Pria itu justru merangkul pinggang Arumi ketika mereka pergi dari sana, Arumi pun tidak menolaknya.


Sementara Moedya hanya dapat melihat itu semua. Dari bahasa tubuh saja sudah dapat dipastikan, jika Arumi dan Edgar pastinya kini memilliki hubungan yang spesial.


Haruskah dirinya merasa cemburu?


Moedya selalu bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia sebenarnya memiliki rasa cinta yang masih sangat besar untuk Arumi. Namun, di sisi lain ia terlalu pengecut untuk dapat menentukan arah perasaanya. Pada akhirnya, ia kini hanya akan menunggu kepulangan Diana yang sedang pergi mengunjungi kedua orang tuanya di Amerika.


Sementara itu, Arumi terdiam ketika ternyata Edgar mengajaknya ke danau tempat biasa ia bertemu dengan Moedya. Arumi menatap pria itu untuk sejenak dengan wajah yang diliputi rasa heran. Ia tidak tahu kenapa Edgar mengajaknya ke sana. “Untuk apa kita kemari, Ed?” Tanya Arumi.


“Pacaran,” jawab Edgar dengan entengnya. Ia lalu keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Arumi.


“Ya Tuhan, aku berdandan selama hampir dua jam hanya untuk kamu bawa kemari? Yang benar saja! Aku tidak suka lelu ....” Arumi tidak melanjutkan kata-katanya karena Edgar segera menyuruhnya untuk turun. “Ayo kita turun dan jangan coba-coba mengintip!”


“Sangat gelap, Ed!” Ringis Arumi. Ia ingin protes ketika Edgar memasangkan kain penutup mata padanya.


“Tidak apa-apa! Kamu aman denganku, Arum,” jawab Edgar dengan tenangnya.


Suasana di sana memang sangatlah gelap. Arumi tidak dapat melihat apa-apa, terlebih karena matanya pun kini terutup selembar kain berwarna merah. Arumi tidak melepaskan genggaman tangan Edgar sedikitpun.


“Apa kamu sedang bersikap sok romantis saat ini?” Bisik Arumi.


“Aku memang romantis, Babe!” Sahut Edgar dengan penuh percaya diri. Hati-hati ia menuntun Arumi dalam melangkah.


Hanya sekitar beberapa langkah dari mobil, Edgar melepaskan tangan Arumi untuk sesaat. Entah apa yang tengah ia lakukan. Arumi hanya berdiri menunggu. Ia tidak berani bergerak ke manapun.


Tidak berselang lama, Edgar lalu melepaskan kain penutup yang membelit mata Arumi. Perlahan gadis itupun membuka kedua matanya dan tertegun.


Di dekat pembatas besi itu, Arumi melihat ada sebuah meja kecil dengan lima buah lilin di dalam gelas. Di dekat lilin itu, Arumi melihat ada beberapa barang,


“Greentea ice cream, this is for you,” Edgar mengangkat wadah es krim itu dan menunjukannya kepada Arumi. Gadis itu tertawa pelan.


Sesaat kemudian, Edgar mengambil setangkai mawar putih. “Your favorite flower. This for you too,” Edgar menyodorkan bunga itu kepada Arumi dengan diiringi senyumannya yang menawan.


“Thank you so much. I love it,” ucap Arumi seraya menghirup aroma bunga mawar itu dengan wajah berseri.


Edgar kemudian mengambil sesuatu yang lain. Sebuah kotak berwarna biru navy. “This is the most spesial for you,” Edgar kemudian membuka kotak itu dan memerlihatkan isinya kepada Arumi, yang seketika membuat gadis itu terdiam. Arumi menatap benda yang disodorkan Edgar untuknya,


“Aku harap kamu menyukai ini, Arum,” ucap Edgar lagi.


“Ini sangat indah,” Arumi tidak percaya jika Edgar memberikan sebuah cincin berlian untuknya.


“Aku tidak akan memaksamu untuk memakainya sekarang Arum, tapi aku akan merasa sangat bahagia seandainya kamu mau memakainya saat ini juga,” harap Edgar.


Arumi tidak segera menjawab. Ia tidak menyangka akan secepat ini. Ia juga belum tahu harus menjawab apa. Ingatannya justru malah tertuju pada beberapa tahun yang lalu, ketika Moedya menyematkan cincin saphire biru di jari manisnya. Cincin yang kini telah ia kembalikan kepada Ranum.


Terbersit rasa sedih di hatinya. Rasa kecewa itu tiba- tiba muncul kembali. Akan tetapi, dengan segera Arumi menyingkirkan perasaan itu. Ia kembali teringat pada tekadnya untuk tidak lagi larut dalam kenangan tentang Moedya.


Ditatapnya wajah tampan Edgar. Pria itu masih berharap banyak kepadanya. Edgar juga tidak pernah letih untuk berjuang dalam mendapatkan dirinya. Namun, seperti masih ada sedikit ganjalan di dalam hati Arumi. “Bolehkah jika aku meminta sedikit waktu untuk berpikir?” Pinta Arumi.


“Tentu. Aku selalu menyediakan banyak waktu untukmu, Arum,” jawab Edgar dengan yakin. “Simpanlah cincin itu dengan baik! Datanglah padaku ketika kamu sudah siap untuk memakainya! Aku pasti akan selalu menantikannya.”


Terenyuh hati Arumi mendengar semua ucapan Edgar untuknya. Ia sebenarnya tidak meragukan lagi akan perasaan pria itu. Akan tetapi, Arumi hanya ingin lebih memantapkan hatinya terlebih dahulu. Arumi kemudian menyimpan cincin pemberian Edgar ke dalam tasnya. Setelah itu, ia lalu mengalihkan pandangannya pada danau yang gelap.


Arumi melangkah ke arah besi pembatas itu. Ia kemudian menoleh kepada Edgar.


“Boleh kuminta keripik kentangnya, Ed?” Tanya gadis itu.


Edgar tersenyum dan disertai sebuah anggukan setuju. Ia pun mengambil satu bungkus keripik kentang yang diminta oleh Arumi. Saat itu pula, Arumi tiba-tiba menaiki besi pembatas di tepi danau.


“Hey, Arum! What are you doing?” Seru Edgar. Ia terkejut melihat apa yang dilakukan Arumi.


Arumi hanya tertawa ketika ia naik dan berusaha untuk duduk di atas besi pembatas itu. Dengan sigap Edgar memegangi tubuh gadis itu dari belakang. “Apa-apaan kamu?” Edgar terlihat cemas, tetapi Arumi justru malah tertawa senang.


“Sudah lama aku ingin duduk di atas sini, Ed. Aku benar-benar merasa penasaran,” ujar gadis itu. Sikapnya terlihat sangat kekanak-kanakan. Akan tetapi, saat itu wajahnya terlihat begitu berseri.


“Kamu tidak takut jatuh? Aku rasa danau itu airnya cukup dalam,” ucap Edgar.


“Aku bisa berenang,” bantah Arumi.


“Oh ... iya, aku lupa. Kamu adalah putri duyung,” ledek Edgar membuat Arumi mendelik kepadanya.


“Pegangi dan jangan lepaskan aku, agar aku tidak jatuh!” lirik Arumi lagi kepada Edgar yang saat itu masih memeganginya dari belakang.


“Tidak kamu pinta pun, aku pasti akan selalu memegangmu dengan erat, Arum.”


Jawaban yang sangat manis dari Edgar dan membuat Arumi begitu terkesan. Sesaat kemudian, Edgar sedikit membungkukan badannya. Kedua tangannya masih melingkar dengan nyaman di tubuh Arumi, seperti sabuk pengaman pada sebuah wahana ekstrim. Edgar pun meletakan dagunya di atas pundak gadis itu. Sementara Arumi, ia terlihat begitu menikmati saat-saat itu. Binar indah terus terpancar dari sepasang matanya.