
Arumi menyandarkan kepalanya dengan manja di pundak Edgar, sementara pria itu masih memeluknya dari belakang dengan begitu mesra. Sesekali, ia menggesek-gesekan hidung mancungnya di pipi gadis itu dengan sedikit gemas.
Ada banyak perbincanngan hangat dan santai di antara mereka berdua. Semua itu terlihat dari sikap Arumi yang tak jarang tertawa lebar, saat mendengar apa yang Edgar katakan kepadanya. Entah lelucon apa yang tengah Edgar berikan kepada Arumi. karena tak jarang ia pun ikut tersenyum lebar.
Untuk sejenak, Edgar melupakan semua masalah yang tengah menimpanya. Ia hanya ingin menikmati malam yang indah itu. Malam terakhirnya bersama Arumi.
Esok ia akan pulang ke Perancis dan mungkin baru akan kembali dalam jangka waktu yang cukup lama, hingga ia benar-benar menyelesaikan segala urusannya di negeri menara Eiffel tersebut.
Edgar masih meletakan dagunya di pundak sebelah kanan Arumi dengan begitu nyaman. Malam itu tidak terasa dingin sama sekali bagi keduanya, meskipun angin berhembus dengan cukup kencang.
Sesekali Arumi melirik kepada pria itu sambil tertawa manja. Edgar telah sangat menghiburnya. Ini bahkan jauh lebih menyenangkan jika dibandingkan dengan acara liburannya kemarin..
Sesekali Edgar juga menyuapi Arumi dengan keripik kentang yang sedang dipegangi gadis itu.
“Boleh aku tahu satu rahasia terbesarmu?” Tanya Arumi seraya kembali melirik Edgar dan menyuapinya dengan keripik kentang.
"Rahasia apa? Aku sama sekali tidak memilikinya," jawab Edgar dengan sangat tenang.
Arumi mengernyitkan keningnya. Ia merasa tidak yakin dengan jawaban Edgar. “Aku tidak percaya. Semua orang pasti memiliki rahasia yang benar-benar dirahasiakan dari orang-orang di sekitarnya. Apa lagi seorang pria, biasanya mereka lebih banyak memiliki rahasia jika dibandingkan dengan wanita,” ujar Arumi.
“Wah ... pengamatan yang sangat bagus, Arum,” sindir Edgar dengan senyum yang mulai diliputi keresahan. Ia seakan sudah tahu jika Arumi pasti akan bertanya macam-macam padanya.
Arumi menatap lurus ke depan. Susasana yang gelap tidak membuatnya tidak tertarik untuk menikmati keindahan malam itu. Sementara Edgar masih mendekapnya dari belakang, menjaganya, dan membuat Arumi merasa aman. Sesekali pria itu mengecup lembut pundak Arumi.
“Aku suka bau parfume-mu, Arum,” bisik Edgar. Suaranya yang berat dan dalam terdengar begitu lembut juga hangat di telinga Arumi.
Arumi melirik wajah Edgar yang berada tepat di sebelahnya. Ia membiarkan pria itu meletakan dagunya yang dipenuhi bulu-bulu halus, dengan nyaman di atas pundaknya. Edgar pun membalas lirikan gadis itu dengan lembut.
“Aku mencintaimu, Arum,” ucap Edgar dengan setengah berbisik. Tangannya bermain-main di leher Arumi yang saat itu tengah menoleh ke arahnya. Lagi, Edgar melekatkan keningnya pada kening Arumi. Gadis itupun memejamkan matanya.
“Apakah dulu kamu pernah mencintaiku juga?” Bisik Edgar lagi.
“Aku rasa ... ya,” jawab Arumi pelan.
“Bisakah kamu menghadirkan rasa itu lagi untukku?” Tanya Edgar lagi dengan penuh harap.
Arumi terdiam. Ia sedang mencoba untuk menghadirkan kembali semua rasa yang dulu pernah ada untuk Edgar. Rasa yang cukup besar yang ia miliki, sebelum akhirnya ia berikan semua itu kepada Moedya. Arumi hanya berharap agar Edgar dapat memahami bahwa ia membutuhkan waktu untuk dapat lebih meyakinkan hatinya. Arumi tidak ingin lagi terjebak dalam perasaan yang hanya akan menimbulkan sebuah siksan batin bagi dirinya.
“Apa kamu sadar, Arum? Kamu adalah wanita yang sangat egois. Kamu berharap untuk selalu dimengerti, tanpa mau peduli dan mengerti dengan apa yang dirasakan orang lain. Ya ... sebut saja orang lain itu bernama Edgar Hilaire.”
“Apakah aku sejahat itu?”
“Tidak! Itu bukanlah suatu kejahatan. Mungkin, karena terkadang aku merasa lelah. Rasanya aku ingin menyerah dan menyudahi semua perjuanganku. Aku ingin pulang ke Perancis dan tidak pernah menginjakan kakiku lagi di Indonesia,” tutur Edgar. Nada bicaranya terdengar sangat sendu.
Meskipun saat itu suasana begitu temaram dan bahkan bisa dikatakakn gelap, tetapi senyuman pria itu masih terlihat begitu bersinar dan mengalahkan cahaya lima buah lilin yang menjadi penerang bagi mereka berdua.
“Kamu akan kembali, kan?” Tanya Arumi. Ada gurat keresahan pada wajahnya yang terlihat dipenuhi rasa yang tidak menentu.
“Apa kamu ingin agar aku kembali?” Edgar balik bertanya.
Arumi lagi-lagi hanya terdiam. Ia masih menatap pria tampan dengan sejuta pesona itu, dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. “Aku sedang mencoba, Ed! Aku sedang mencoba untuk kembali menemukan dirimu dalam sekian banyaknya bayangan tentang Moedya. Hingga saat ini , aku bahkan masih bingung dengan apa yang sedang kurasakan? Apa yang kuinginkan?”
“Apa yang dimiliki pria itu yang tidak kumiliki, Arum? Apa yang membuatmu begitu merasa berat untuk melepasnya?”
Arumi menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Gadis itupun menangis. Tentu saja, Edgar tidak menyukai hal seperti itu. Ia tidak akan pernah tega melihat Arumi meneteskan air matanya.
Didekapnya tubuh Arumi dengan begitu erat. “Maafkan aku, Arum. Aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu menangis,” lirih Edgar.
“Aku menangisi diriku sendiri, Ed,” ujar Arumi. “Kamu adalah pacar pertamaku. Aku pernah sangat tertarik pada kharisma dan ketampanan yang kamu miliki. Aku juga pernah mencintaimu. Namun, rasanya sangat berbeda ketika aku bertemu dengan Moedya. Aku meraskan sesuatu yang lain rasa yang tidak sama, hasrat yang sunguh aneh ... semuanya terasa baru bagiku. Aku menganggap jika itu adalah cinta pertama. Sebuah pengalaman yang terasa begitu ....” Arumi tidak mampu melanjutkakn kata-katanya. Isak tangisnya pun tak jua berhenti. Gadis itu justru terlihat semakin merasa kesakitan.
“Aku kesulitan untuk melupakannya ... aku tidak berdaya, Ed,” Arumi kembali menumpahkan air matanya dalam dekapan Edgar.
“Aku tidak ingin terburu-buru lari kepadamu. Aku akan melakukannya dengan perlahan, tapi aku yakinkan padamu jika aku pasti bergerak. Aku tidak akan hanya berdiri dan membiarkan takdir mempermainkanku. Aku pasti akan melangkah, tapi untuk saat ini ... aku membutuhkan sesuatu untuk dapat menopangku agar aku bisa berdiri dengan tegak. Jika aku sudah dapat berdiri tegak, maka aku pasti akan langsung berlari, tanpa peduli meskipun aku tidak memakai alas kaki, karena aku tahu ... jika kamu ... kamu akan meminjamkan kakimu untukku.”
Edgar semakin mempererat pelukannya. Ia sudah dapat memahami apa yang ada di dalam hati Arumi saat ini. “Aku akan selalu menantikanmu untuk berlari ke arahku. Ketika hal itu terjadi, maka aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, Arum. Cukup sekali aku melakukan kesalahan. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Edgar dengan sangat yakin.
Malam kian larut. Mereka berdua pun memutuskan untuk pulang. Selama di dalam perjalanan, Arumi tidak banyak bicara. Ia terhanyut dalam lamunannya sendiri dan akhirnya tertidur.
Sesekali Edgar melirik ke arahnya. Ini adalah kali ketiga ia melihat wajah Arumi ketika sedang terlelap seperti itu. Rasa cinta yang ada di dalam hatinya pun kian bertambah.
Tidak berselang lama, akhirnya mobil yang dikendarai Edgar pun memasuki halaman rumah mewah Arumi. Kali ini, Edgar harus membangunkan gadis itu.
“Arum, bangunlah!” Edgar menepuk-nepuk pipi Arumi dengan lembut. Perlahan Arumi membuka matanya. Edgar lalu tersenyum. “Kita sudah sampai,” ucap pria itu lagi.
Arumi menggosok-gosok matanya perlahan. Ia melihat ke sekelilingnya. Pandangannya kembali berakhir pada wajah rupawan yang masih memerhatikannya sejak tadi.
“Apakah mobilku sangat nyaman, sehingga kamu tidur dengan begitu nyenyak?” Canda Edgar. Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.
Sesaat kemudian, Edgar lalu meraih jemari Arumi dan menggenggamnya dengan erat. “Aku akan berangkat besok dengan penerbangan pagi. Aku tidak akan memintamu untuk mengantarku ke bandara. Aku hanya akan memintamu untuk mendoakanku, agar aku diberi kesabaran dalam menempuh perjalanan selama kurang lebih tujuh belas jam. Doakan agar aku tidak selalu memikirkanmu setiap detik, karena ada banyak urusan lain yang juga harus aku pikirkan di sana. Akan tetapi, aku justru akan berdoa, supaya kamu terus memikirkanku ... setiap saat,” tutup Edgar dengan sebuah senyuman hangat di wajahnya.