Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Dream Come True


Selama di dalam perjalanan pulang, Arumi tidak terlalu banyak bicara. Gadis itu masih memikirkan perbincangannya dengan Carmen. Arumi tidak menyangka jika wanita itu benar-benar peduli kepada Edgar. Ia kembali teringat kepada Ranum. Ibunda dari Moedya itupun sangat peduli kepada dirinya.


Pernikahannya dengan Edgar tinggal menghitung hari. Sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Andai saja kedua orang tuanya masih ada, mungkin kebahagiaan itu akan terasa jauh lebih sempurna. Ada Ryanthi yang akan membantunya dalam menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Ada Adrian yang akan mendampinginya dalam melangkah dan mengantarkannya ke hadapan Edgar.


Namun, itu sesuatu yang tidak harus Arumi sesali lagi. Ia tidak akan dapat protes kepada Tuhan sekalipun, untuk dapat mengembalikan orang tuanya, setidaknya untuk hari itu saja.


Jalanan panjang terus dilalui. Malam itu sudah sekitar pukul dua puluh satu, ketika Edgar mengantarkan Arumi pulang. Suasana sudah cukup sepi. Akan tetapi, lampu di dalam rumah masih menyala. Sepertinya Keanu dan Pusapa belum tidur.


“Mau mampir, Ed?” tawar Arumi ketika Edgar sudah membukakan pintu untuknya.


“Lain kali saja,” jawab Edgar singkat. Masih ada sisa rona dingin dan datar dalam ekspresi wajah tampan yang biasanya terlihat ramah itu.


“Apa kamu masih marah padaku?” tanya Arumi resah. Gadis itu terus memerhatikan sikap dari calon suaminya.


Edgar menatap lekat Arumi. Perlahan sorot matanya yang semula agak dingin kini berubah menjadi jauh lebih hangat dan bersahabat. Ia pun kemudian tersenyum. Senyuman ramah khas seorang Edgar.


“Apa yang kamu bicarakan dengan bibi Carmen, Arum?” tanya Edgar. Pria itu berdiri sambil bersandar pada mobilnya. Sementara Arumi memilih untuk berdiri di hadapan Edgar.


Gadis itu melihat ada gelagat mencurigakan yang diperlihatkan Edgar meski tidak terlalu jelas. Namun, sepertinya Arumi mulai mencium sesuatu dari sorot mata yang ditunjukan Edgar kepada dirinya. “Apa yang terjadi, Ed?” selidik Arumi dengan senyum penuh curiga.


“Tidak ada,” Edgar berkilah. Ia terlihat menyembunyikan sesuatu. Akan tetapi, Arumi tidak dapat percaya begitu saja. Ia tahu jika Edgar sedang berbohong kepada dirinya.


Arumi mendekati Edgar. Gadis itu berdiri tepat di hadapannya. Ditatapnya wajah rupawan itu dari jarak yang sangat dekat. Arumi menggigit bibir bawahnya dan memainkan bibir itu dengan sikap yang cukup sensual. Sementara Edgar terus memerhatikannya.


Pria itu menyadari jika Arumi tengah merayunya. Meskipun sebenarnya Edgar mulai tergoda dan tidak dapat menahan dirinya, tapi ia berusaha untuk tetap teguh pada pendiriannya.


Ah ... mungkin tidak lagi. Edgar terlihat menjadi gelisah, ketika ujung telunjuk Arumi mulai menjelajahi wajah dan bibirnya. Namun, Edgar hanya membiarkan hal itu. Ia tidak menolaknya sama sekali, meskipun ada sesuatu yang mulai berontak dan memaksanya untuk membalas apa yang dilakukan oleh Arumi kepadanya.


“Apa yang kamu inginkan, Arum?” tanya Edgar dengan setengah berbisik.


Arumi tertawa pelan seraya menggerakan ujung telunjuknya, menuruni leher dan dada Edgar yang saat itu hanya berbalut T Shirt round neck berwarna hitam.


“Katakan sesuatu padaku!” bisik Arumi.


“Tentang apa?” tanya Edgar lagi. Wajahnya sudah tampak sangat gelisah, tapi ia masih tetap mempertahankan keteguhannya. Ia ingin tahu sampai di mana Arumi dapat berbuat nakal terhadap dirinya.


Ini bukanlah kamarnya, ataupun kamar sang kekasih. Ini adalah halaman rumah Arumi. Meskipun suasana sudah sepi dan juga gelap, tapi itu adalah tempat terbuka, di mana bisa saja ada orang yang melihat mereka dengan tanpa sengaja.


“Apa bibi Carmen tidak menyukai hubungan kita?” tanya Arumi.


Edgar mengernyitkan keningnya. Ia lalu menggeleng dengan yakin. “Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Edgar malah balik bertanya.


Arumi menghentikan aksi nakalnya. Gadis itu mengeluh pelan seraya melipat kedua tangannya di dada. Ia lalu berdiri di sebelah Edgar, mengikuti pria itu bersandar pada mobilnya. Sementara Edgar hanya meliriknya. Pria itu kemudian tersenyum simpul.


“Bibi Carmen hanya merasa khawatir padaku. Ia tidak ingin jika aku sampai terlantar lagi. Selama ini dia yang selalu mengurusku, tapi setelah menikah nanti tentu saja hal itu akan menjadi tanggung jawabmu sebagai istriku,” jelas Edgar.


“Ah, jadi dia tidak percaya padaku? Bibi Carmen meragukan kemampuanku dalam hal mengurusmu? Itu sangat menyakitkan,” sahut Arumi dengan nada setengah protes.


Mendengar hal itu, Edgar hanya tertawa pelan. Ia lalu meraih tangan Arumi dan mencium jemari lentik itu dengan lembut. “Aku sudah mengatakan hal itu kepadanya. Bibi Carmen hanya ingin lebih mengenalmu, karena saat kemarin kamu berada di  Perancis ....” Edgar mengembuskan napas beratnya. Ia akan selalu menyesalkan kejadian yang dialaminya dan juga Arumi saat itu. “Aku minta maaf, Arum. Seharusnya aku bisa menjagamu dengan jauh lebih baik,” sesal pria tampan itu.


“Aku ingin segera menjadi istrimu dan membuktikan pada bibi Carmen, bahwa aku dapat mengurusmu dengan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan dirinya,” ujar Arumi dengan sangat yakin.


“Sungguh?”


Arumi mengangguk dengan sungguh-sungguh. Edgar pun kembali memerlihatkan senyum lebarnya.


“Bagaimana jika kita masuk sebentar ke dalam mobil?” tawar Edgar dengan nakal dan membuat Arumi melotot tajam kepadanya. Sedangkan Edgar saat itu hanya tertawa geli.


“Sudah malam, Arum. Sebaiknya kamu segera masuk dan beristirahat! Kamu harus selalu menjaga kesehatanmu. Aku tidak mau jika sampai kamu sakit,” ucap Edgar dengan lembut. Sementara Arumi masih bergelayut manja dalam pelukannya. “Kenapa kamu selalu bersikap sangat manja kepadaku?” tanya Edgar seraya mengecup kening Arumi dengan hangat.


Arumi tertawa pelan. “Karena kamu selalu memanjakanku,” jawab gadis itu seraya mencium pipi Edgar dengan mesra. “Good night,” bisiknya.


“Good night,” balas Edgar pelan.


Arumi tersenyum seraya melambaikan tangannya. Setelah itu ia berbalik dan melangkah terus menaiki undakan menuju teras, hingga akhirnya berdiri di depan pintu. Sebelum masuk, gadis itu sempat menoleh dan tersenyum.


Edgar yang saat itu masih berdiri sambil bersandar pada mobilnya, hanya tersenyum seraya memberikan cium jauh untuk Arumi. Arumi tersipu. Ia kembali melambaikan tangannya dan segera masuk.


Arumi sudah tidak terlihat lagi, tetapi Edgar masih berdiri di sana dan terdiam untuk sejenak. Beberapa saat kemudian, ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Seorang gadis yang kini berdiri di dekat jendela kamarnya dan menatap ke luar, pada pria tampan yang juga sedang menatapnya.


“Apa kamu akan terus berdiri di situ, Ed?”


“Aku ingin berdiri di sebelahmu, Arum,” jawab Edgar dengan suara beratnya.


Arumi tersenyum. “Tinggal beberapa hari lagi, Ed,” ucap Arumi lagi dengan lembut.


“Aku sudah tidak sabar,” balas Edgar.


“Aku juga,” timpal Arumi seraya tertawa pelan.  “Pulanglah! Ini sudah terlalu malam. Aku rasa dengan menyetir bolak-balik saat mengantarku kemari, itu sudah cukup membuatmu lelah,” ucap Arumi lagi.


Edgar masih terus melayangkan tatapannya ke arah jendela kamar Arumi. Sementara Arumi masih berdiri di sana dan membalas tatapan pria itu meskipun dari kejauhan.


"Apa kamu akan bermimpi tentangku malam ini, Arum?" terdengar suara Edgar di ujung telepon.


"I hope so. Namun, meskipun kamu tidak dapat mampir ke dalam mimpiku, itu bukanlah suatu masalah yang besar. Kamu adalah kenyataan untukku, bukan hanya sekadar impian," ucap Arumi membuat Edgar tersenyum lebar.


"Ya, dan kamu adalah impian yang menjadi kenyataan bagiku," balas Edgar tanpa melepas senyuman dan tatapannya untuk Arumi.


Kini, giliran Arumi yang tersenyum lebar. Rasa bahagia itu ternyata jauh lebih besar dan mengalahkan rasa haru yang mengiringinya. Tidak ada alasan bagi Arumi untuk tidak bahagia saat itu. Edgar begitu sempurna di matanya. Pria itu sudah mengalihkan segala hal, dan membuat Arumi tidak mampu menatap yang lain lagi selain dirinya. Ia seperti sebuah magnet yang mampu menarik Arumi, untuk selalu berada di dekatnya. Edgar si pria rupawan.