Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Percikan Kecil


Seperti rencana kemarin, hari itu Arumi kembali ke bengkel Moedya setelah jam makan siang. Kembali dengam mini dress yang mengekspos kaki jenjangnya, Arumi berjalan memasuki bengkel milik Moedya. Namun kali ini, Arumi harus menelan ludahnya dalam-dalam.


Dilihatnya Diana tengah berada di dalam bengkel itu. Ia membawakan Moedya sekotak makan siang. Moedya pun tampak menyantap makanan yang dibawakan gadis itu dengan lahapnya.


Arumi tetap berusaha untuk menegakan tubuhnya, menaikan dagu, dan tentu saja memasang senyum manisnya. Ia mencoba untuk tidak terpengaruh dengan adanya Diana di sana.


"Arum? Ada apa kamu kemari?" Selidik Diana seraya menatap Arumi dengan wajah penuh curiga, terlebih ia melihat jika Arumi kini telah merubah penampilannya lagi.


Arumi masih tetap memasang senyum manisnya. Ia melirik Diana untuk sejenak. Setelah itu, perhatiannya kini tertuju kepada pria dengan kaos hitam yang juga tengah menatapnya.


"Kita sudah ada janji hari ini. Betul kan, Moedya?"


Moedya tersenyum tipis. Ia lalu menegakan tubuhnya. "Ya," jawabnya singkat, tapi sudah berhasil membuat wajah Diana menjadi tegang seketika.


Diana menatap Moedya untuk sejenak. Setelah itu, ia kemudian menatap Arumi dengan wajahnya yang tampak sangat bercahaya dan berseri tentunya. Perasaan Diana pun mulai tidak karuan.


"Memangnya kamu tidak ke toko, Arum? Biasanya kamu selalu menyibukan dirimu di sana?" Diana mulai berbasa-basi. Sepertinya ia juga bermaksud untuk mengalihkan perhatian Arumi dari Moedya.


"Tidak. Aku sedang meliburkan diri untuk sejenak," jawab Arumi yang hari ini tampil sangat manis dengan mini dress lengan pendek berwarna toska, dan dilengkapi flat shoes berhiaskan pita cantik di bagian atasnya.


Diana hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul. Ia kemudian melirik Moedya yang sedang bersiap untuk kembali bekerja.


"Arum, bisakah tunggu sebentar sampai aku menyelesaikan ini?" Seru Moedya dengan tidak terlalu nyaring. Ia tengah berdiri di hadapan sebuah mini bus dengan kap mesin yang terbuka.


Arumi menoleh dan tersenyum. Ia kemudian mengangguk pelan. Sementara Diana tampak gusar melihat hal itu. Untuk sesaat, ia malayangkan tatapannya kepada Moedya yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Sesaat kemudian, ia mengalihkan tatapannya kepada Arumi yang sibuk dengan layar ponselnya.


Diana terus memperhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dalam penampilannya yang sekarang, pesona Arumi memang terlihat sangat jelas. Bukan tidak mungkin jika Moedya pasti akan kembali tertarik dengan gadis itu, pikir Diana dalam hatinya.


Rasa canggung kini mulai menyelimutinya. Dulu, ia memang bersahabat dengan Arumi. Namun, Arumi memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Paris. Komunikasi di antara mereka juga masih terbilang baik-baik saja. Akan tetapi, semenjak Arumi dan Moedya berpisah, Diana memang sedikit menjaga jarak dari gadis blasteran Perancis itu.


Sebenarnya tidak pernah ada masalah yang serius antara Arumi dan juga Diana. Namun, semua bisa saja berubah jika sudah menyangkut dengan masalah pria dan perasaan.


"Bagaimana hubunganmu dengan Edgar?" Sebuah pertanyaan yang terdengar menyebalkan dari Diana.


Arumi seketika mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Ia menoleh kepada gadis itu untuk sejenak. "Maksudmu?" Arumi balik bertanya. Ia kemudian menutup layar ponselnya dan memegangi benda tipis itu.


"Bukannya kamu kembali menjalin hubungan dengan Edgar? Aku mendengar hal itu dari Adam. Kamu tahu bukan jika Adam dan Edgar adalah sahabat dekat?"


"Ya," sahut Arumi singkat. Ia masih bersikap tak acuh kepada gadis itu. Sejujurnya, Arumi merasa malas untuk meladeni obrolan Diana yang tidak menarik baginya.


Arumi kembali menoleh kepada gadis yang tengah berdiri di sebelahnya. Ada rasa geli di dalam hatinya menaggapi sikap Diana yang terasa aneh bagi Arumi. Ia lalu tersenyum kecil.


"Sejak kapan kamu menjadi pengamat Edgar? Aku saja tidak peduli padanya," celoteh Arumi dengan sikap tak acuhnya yang terkesan sinis.


Diana menelan ludahnya dalam-dalam. Ia juga sesekali menghela napas panjang. Diana tampak gelisah. Entah apa yang menyebabkan dirinya menjadi bersikap seperti itu.


"Aku harap kamu tidak berpikir untuk merebut Moedya dariku, Arum," ucap Diana tanpa basa-basi lagi.


Dalam hati, Arumi merasa terkejut mendengar ucapan yang terlalu frontal dari sahabat lamanya itu. Akan tetapi, lagi-lagi semuanya hanya ia tanggapi dengan sebuah senyuman.


"Kamu pikir aku akan melakukan hal itu?" Nada bicara Arumi terdengar penuh dengan sebuah tantangan. Gadis berlesung pipi itu kembali tersenyum. "Apa kamu merasa cemas, Di?" Lirik Arumi dengan sudut matanya yang terlihat sinis.


Diana membalas lirikan Arumi. Gadis berkulit putih mulus itu bahkan menatap Arumi untuk sesaat. "Kenapa aku harus merasa cemas?" Diana mencoba untuk melakukan perlawanan dari serangan mental yang mulai ia rasakan. Meskipun di dalam hati, ia merasakan sebuah perasaan yang membuatnya sangat tidak nyaman.


"Aku tidak akan mengambil apa yang sudah menjadi milik orang lain, kecuali ...."


"Kecuali apa?" Diana terlihat gugup.


Arumi kembali menoleh kepada gadis berambut pendek itu. Diana tidak terlalu pintar dalam menyembunyikan rasa gelisahnya, sehingga Arumi dapat melihat hal itu dengan sangat jelas. Arumi kembali tersenyum dengan tenangnya. Ia seakan begitu menikmati setiap debaran tidak menentu yang dirasakan oleh Diana saat itu.


Belum sempat Arumi melanjutkan kata-katanya, Moedya terlebih dahulu menghampiri kedua gadis itu.


Diana segera memasang wajah manisnya. Ia tersenyum dengan hangat kepada pria bertato itu. Sedangkan Arumi, ia bersikap biasa saja, meskipun tatapannya seakan berkata lain.


"Masih sanggup menunggu?" Tanya Moedya dengan tenangnya. Tentu saja itu adalah pertanyaan yang ditujukan untuk Arumi.


Tersungging sebuah senyuman di sudut bibir joyfull orange milik Arumi. Wajah dengan polesan tipis blush on warna senada itu juga sangat bercahaya dan berseri. "Aku harap kamu tidak lupa jika aku pernah menunggumu selama tiga tahun," jawab Arumi yang seketika membuat Moedya tersenyum dengan cukup lebar.


"Tentu saja. Aku tidak akan pernah lupa akan hal itu," sahut Moedya seraya menatap Arumi untuk sejenak. Arumi membalasnya dengan sebuah senyuman yang penuh arti, dan Moedya sangat mengerti dengan maksud dari senyuman itu.


Sesaat kemudian, Moedya lalu mengalihkan tatapannya kepada Diana. Gadis itu terdiam seribu bahasa. "Bukankah kamu masih ada acara, Di?" Sebuah pertanyaan yang membuat semua lamunan Diana seakan buyar seketika. Gadis itu terlihat kikuk.


"Ya, tapi ... tidak apa-apa. Bukan acara yang penting," kilah Diana. Tidak mungkin ia akan meninggalkan Moedya jika di sana ada Arumi. Ia lebih baik mengabaikan urusannya yang lain.


Arumi tertawa pelan. "Kamu harus bekerja dengan lebih serius, karena kamu memiliki mandor seperti Diana," Sindiran halus Arumi untuk Diana.