
Dengan langkah gagah dan penuh wibawa, Edgar yang saat itu diikuti oleh sang asisten Louisa, memasuki ruang rapat. Di dalam ruanngan itu telah menunggunya beberapa dewan direksi dari berbagai divisi. Rapat itu merupakan rapat internal perusahaan, jadi hanya dihadiri oleh para petingginya saja.
Semua mata tertuju kepada pria tampan yang kini memasang wajah yang kurang bersahabat. Edgar kemudian mengambil beberapa map yang baru saja disodorkan oleh Louisa. Ia meletakan setumpukan map itu dengan cukup kencang sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Sesuatu yang membuat semua yang hadir di ruangan itu menjadi semakin terdiam dan memasang wajah tegang.
Edgar kemudian duduk di kursi kebesarannya dengan penuh wibawa. Tatapan tajamnya mulai menyapu satu persatu wajah-wajah yang hadir di ruang rapat tersebut. Tatapan Edgar berhenti pada ketua dari direksi marketing. Pria bertubuh agak gemuk itu terlihat sangat pucat dan tegang. Ia tidak berani melawan tatapan mata Edgar yang dirasanya seperti sebuah anak panah yang siap untuk dilesatkan langsung ke jantungnya.
Tatapan Edgar kemudian beralih pada ketua direksi lainnya yang juga lebih memilih untuk tidak melawan tatapan tajam tak bersahabat dari sang atasan. Setelah itu, Edgar mengalihkan tatapannya pada ketua direksi keuangan.
Seorang wanita muda berambut pendek sebahu dengan mata berwarna abu-abu. Hanya wanita muda itu yang masih memiliki keberanian untuk melawan tatapan mata Edgar yang terlihat menyimpan banyak kemarahan.
Staf dari bagian IT juga dihadirkan saat rapat itu. Mereka menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kegagalan dari sistem keamanan, yang mengakibatkan bocornya data tentang dana nasabah hinga mengakibatkan kerugian yang sangat besar pada perusahaannya.
“Selamat pagi semua. Terima kasiih karena telah meluangkan waktunya untuk dapat menghairi rapat internal ini. Seperti yang sudah kita ketahui tentang keadaan perusahaan saat ini ... ini bukan berita baik," Edgar mulai membuka acara rapat hari itu.
"Saya sudah memeriksa semua laporan yang masuk dan ... apakah wajar jika saya mempertanyakan kinerja Anda semua selama ini?” Lanjut Edgar dengan nada bicara yang terdengar tenang tetapi tegas.
Hening, tidak ada yang berani bersuara saat itu. Semuanya terlihat tegang.
“Oke. Saya tidak akan banyak berbasa-basi lagi. Pertama-tama, saya ingin berbicara pada Tuan Damian Petit selaku staf ahli IT. Saya ingin Anda merombak total semua sistem keamanan dan membuatnya berlapis, sehingga tidak mudah untuk ditembus. Kita tidak ingin hal seperti ini terulang lagi, bukan? Kenapa sistem kemanan data perusahaan ini sangat mudah untuk ditembus? Itu semua menjadi tugas dan tanggung Anda, dan saya yakin Anda jauh lebih paham tentang hal itu. Karena itulah saya telah merekrut Anda untuk bergabung di perusahaan ini,” tatapan Edgar tertuju pada pria bertubuh kurus, yang beberapa waktu lalu pernah datang ke kediamannya.
Pria bernama lengkap Damian Petit itu mengangguk sopan. Ia menyetujui semua perintah dari atasannya tanpa banyak protes.
Tatapan Edgar kini beralih pada kepala bagian marketing. Edgar memerintahkannya untuk membuat iklan pengumuman kepada masyarakat, terutama semua nasabah yang telah memercayakan jaminan asuransi mereka kepada Perusahaan Guzman Insurance. Ia ingin agar masyarakat terutama para nasabah merasa yakin dan tenang, meskipun saat ini perusahaannya tengah goyah.
Terakhir Edgar beralih pada wajah cantik yang sedari tadi tidak mengalihkan tatapannya dari sang bos yang penuh pesona.
“Nona Rupert, sebagai kepala dari divisi keuangan saya harap Anda dapat bekerja sama dengan tuan Petit dalam menyelidiki ke mana larinya semua dana nasabah! Saya rasa itu bukan sesuatu yang sulit bagi Anda," titah Edgar lagi.
Wanita muda itu tersenyum seraya mengangguk pelan.
"Satu lagi, untuk divisi Customer Relation tolong jalin kerja sama yang baik dengan para nasabah. Jangan sampai mereka kecewa dan hilang kepercayaan kepada perusahaan kita!” Edgar memberikan semua arahan kepada para jajarannya.
Sungguh disayangkan, karena sebagai seorang bos besar ia harus ikut turun tangan dalam menyelesikan masalah ini, seakan-akan semua jajarannya tidak ada yang becus dalam menangani masalah yang tengah membelit perusahaannya.
“Saya harap semua dapat melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Saya yakin jika semua masalah ini akan segera berakhir dan dapat diselesaikan dengan baik, selama kita bisa bekerja sama untuk dapat menyelesaikannya,” pungkas Edgar. Tatapannya kembali menyapu wajah-wajah yang duduk di belakang meja berbentuk oval itu.
Rapat terus berlanjut dengan mendengarkan pemaparan dari berbagai divisi. Yang pasti, selama hampir tiga jam, Edgar duduk di ruangan itu dan melupakan sejenak semua keresahannya tentang Arumi.
Sekitar pukul empet belas waktu setempat, Edgar baru keluar dari ruang rapat. Wajahnya terlihat lelah dan agak lusuh, tapi itu tidak mengurangi pesonanya sama sekali.
Di belakangnya mengikuti sang asisten cantik berambut pirang, Louisa. Edgar memang pantas dinobatkan sebagai seorang cassanova, pasalnya ia selalu dikelilingi oleh para wanita cantik di manapun ia berada.
“Tuan Hilaire!” Terdengar suara lembut yang memanggil nama Edgar dari arah belakang. Edgar sudah sangat mengenal suara itu. Pria tiga puluh tahun itupun tertegun.
“Kembalilah ke meja-mu, Louisa!” Titah Edgar tanpa menoleh kepada sang asisten. Wanita muda bertubuh ramping dengan setelan blazer dan rok span ketat itupun mengangguk sopan. Ia melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Edgar yang masih berdiri di tempatnya. Sementara itu, si pemilik suara yang tadi memanggil Edgar kini telah berada tepat di belakangnya dan berharap agar Edgar segera menoleh kepadanya.
“Apa kabar, Tuan Hilaire?” Sapa wanita muda yang tadi berada di ruang rapat. Ia berdiri dengan anggun seraya terus melayangkan tatapannya kepada pria rupawan itu.
Edgar akhirnya menoleh dan menatap wanita muda itu untuk sejenak. “Kabarku tidak begitu baik, Nona Rupert,” jawabnya dengan datar.
Wanita muda itu tersenyum. “Bagaimana jika kita minum kopi sebentar? Aku rasa itu bisa sedikit mencairkan ketegangan setelah rapat yang membosankan tadi,” tawar wanita bermata abu-abu itu dengan gaya bicaranya yang terlihat begitu anggun.
Edgar tidak segera menjawab. Ia hanya menatap wanita itu seraya memicingkan matanya. Sementara wanita itu masih melayangkan senyumannya yang menggoda.
Dialah Mirella Rupert. Wanita muda berusia dua puluh tujuh tahun yang telah cukup lama bergabung dengan perusahaan milik Edgar. Selain itu, Mirella merupakan mantan salah satu gadis pirang yang biasa ‘bermain’ dengannya, jadi wajar saja jika gadis itu bersikap sedikit berani kepada Edgar.
Edgar kemudian memersilakan Mirella untuk berjalan terlebih dahulu, sebagai tanda bahwa ia menyetujui ajakan tersebut. Mirella menyambut hal itu dengan rona bahagia. Ia kemudian melangkahkan kakinya. Dengan sengaja ia menunjukan langkah gemulainya kepada Edgar yang saat itu berada di belakangnya.
Tidak berselang lama, mereka berdua telah berada di sebuah cafetaria yang terletak tidak jauh dari gedung perusahaan itu. Setelah memesan dua cangkir kopi, mereka kemudian duduk dengan saling berhadapan.
Edgar masih terlihat tidak bersahabat. Lain halnya dengan Mirella yang sejak tadi selalu tersenyum dengan penuh godaan yang ia tujukan untuk Edgar. Namun, Edgar sepertinya tidak berniat untuk menanggapinya lagi.
"Aku datang ke tempatmu beberapa waktu yang lalu. Wanita tua yang ada di rumahmu, mengatakan jika kau sedang berada di Indonesia. Aku pikir kau belum kembali," Mirella mulai membuka percakapan di antara mereka berdua.
"Ya. Bibi Carmen sudah memberitahuku," jawab Edgar datar dan singkat. Ia terus menghindari untuk tidak beradu pandang dengan Mirella.
"Aku pikir kau akan segera menghubungiku," sesal Mirella dengan raut sedikit kecewa.
"Aku sibuk," sahut Edgar singkat. Ia kemudian meneguk kopinya lagi.
Mirella tersenyum sinis. "Ya, kau selalu sibuk jika sudah mengurusi segala sesuatu yang berhubungan dengan Arumi," ujar Mirella lagi. Ia terlihat kesal saat itu. Sementara Edgar menatapnya dengan cukup tajam.