
Arumi menatap lekat paras rupawan itu. Ia lalu menyentuh setiap sudut wajah itu dengan ujung jemarinya yang lentik. Tidak hanya berakhir di sana, gadis itu juga menjalarkan sentuhannya pada leher dan kembali pada dada dengan ukiran indah namanya.
Edgar membiarkan Arumi menjelajahi setiap bagian dari tubuh atletisnya. Ia ingin melihat sampai di mana keberanian gadis itu dalam mengajaknya bemain-main. Edgar tahu jika Arumi yang ada di hadapannya kini, bukan lagi Arumi yang ia kenal dulu. Gadis itu bukan lagi Arumi yang lugu, yang akan tersipu malu setiap kali ia menciumya.
“Jadi ... Moedya sudah mengajarimu banyak hal rupanya?” Sindiran halus dari Edgar dengan datar. Raut wajahnya terlihat sangat aneh dan sulit untuk dirtikan oleh Arumi.
“Bisakah untuk tidak menyebut namanya?” Pinta Arumi dengan agak lirih.
“Tentu,” jawab Edgar singkat. Akan tetapi ekspresi wajahnya masih belum berubah. Ia terlihat sudah kehilangan seleranya. Itu terbukti dari apa yang ia lakukan. Edgar kembali meraih baju yang tadi ia lemparkan ke atas kursi santai di pinggir kolam renang itu, meskipun hanya ia tenteng di tangan kanannya.
Arumi terus memerhatikan semua perubahan pada pria tampan itu. Ia juga merasa aneh karena tiba-tiba Edgar bersikap seperti itu, setelah menyebutkan nama Moedya. Apakah Edgar begitu tidak sukanya terhadap Moedya?
“Jangan tidur terlalu malam, Arum! Bukankah kamu sudah harus pulang besok?”
Arumi meraih handuk dan menutupi tubuh bagian atasnya. Gadis itu kemudian mengangguk pelan. Di satu sisi ia merasa tidak enak melihat perubahan sikap Edgar padanya. Akan tetapi, di sisi lain ia merasa senang karena ternyata Edgar benar-benar sudah berubah.
Ada beberapa kali kesempatan yang Edgar miliki untuk dapat melakukan apa yang sejak dulu ia inginkan dari Arumi. Namun, nytanya ia tidak melakukan hal itu. Edgar masih memegang kata-kata yang pernah ia ucapkan kepada Arumi pada hari itu.
Arumi hanya terpaku dan menatap nanar pria yang kini telah menghilang di balik pintu kamarnya. Ia akan mencoba untuk mencari dan menemukan kembali semua perasaan yang dulu pernah ia rasakan untuk pria itu. Arumi ingin memulai lagi semuanya dari awal.
Edgar baru saja melangkahkan kakinya ketika ia mendengar suara jeritan Arumi. Ia segera kembali masuk dan menghampiri gadis yang saat itu tampak sangat ketakutan seraya merekatakn handuk yang dipakainya.
Jendela kaca kamar itu ada yang pecah karena lemparan batu. Edgar tertegun melihat hal itu.
“Siapa yang melakukan itu, Ed?” Resah Arumi. Wajahnya terlihat sedikit pucat.
Edgar tidak segera menjawab. Ia memang melihat ada sebuah batu sebesar kepalan tangannya di sana. Akan tetapi, ia tidak berani terlalu cepat mengambil kesimpulan. “Entahlah, Arum?” Jawabnya.
Edgar kemudian melangkah keluar, ke dekat kolam renang. Ia berdiri di sana untuk sejenak, di dekat pembatas dari besi itu. Dari sana ia dapat melihat ke sekeliling area paviliun yang ditempati oleh Arumi. Edgar tidak melihat ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Ia lalu kembali masuk.
“Batu itu pasti dilemparkan dari bawah sana,” ucap Edgar lagi. Wajahnya terlihat datar, sepertinya Edgar tengah berpikir keras saat itu. “Aku akan bicara dengan petugas keamanan di sini atau siapa saja,” lanjutnya.
“Jangan tinggalkan aku sendiri!” Pinta Arumi. Ia terlihat ketakutan.
Edgar menatap gadis dengan handuk yang masih melingkar menutupi pundaknya. “Segeralah berpakaian! Malam ini kamu menginap di paviliun-ku saja,” cetus Edgar. Bagaimanapun juga, ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Arumi.
Arumi tidak punya pilihan lain, selain menyetujui hal itu. Ia segera mengganti pakaiannya, sementara Edgar menunggunya di luar. Setelah selesai, barulah mereka menuju paviliun yang ditempati Edgar, yang berjarak tidak terlalu jauh dari pavilliun yang ditempati oleh Arumi.
Edgar memersilakan Arumi untuk masuk. Pria itu juga memberikan segelas air putih kepada Arumi yang saat itu terlihat cemas. Setelah itu, Edgar kemudian duduk di sebelah Arumi dan meletakan gelas yang baru saja dikembalikan oleh gadis itu.
“Tenanglah, Arum!” Ucap Edgar pelan.
“Aku takut, Ed,” resah Arumi. Wajah cantiknya terlihat sedikit pucat.
“Jangan khawatir! Ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu yang buruk padamu,” ucap Edgar lagi. Ia mencoba untuk terus menenangkan Arumi.
Dirangkulnya pundak Arumi dengan lembut. Gadis itupun menyandarkan kepalanya di pundak Edgar. Ia kemudian mengelus lembut rambut panjang Arumi yang saat itu masih dalam keadaan basah.
“Thank you, Ed,” ucap Arumi pelan.
“Untuk apa?” Tanya Edgar pelan.
“Untuk semua perhatianmu padaku,” jawab Arumi sama pelan.
Edgar tidak segera menjawab. Ia hanya mengela napas panjang. Kembali diciumnya tangan halus Arumi. Kali ini, Edgar juga bahkan mengecup mesra kening gadis itu.
“Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu merasa aman dan nyaman. Aku tidak akan pernah membiarkan terjadi sesuatu yang buruk kepadamu. Selama kamu berada di dekatku, maka kupastikan jika kamu pasti akan baik-baik saja, Arum!" Ucap Edgar dengan yakin.
Tiada hal lain yang ingin dilakukan Arumi saat itu, selain memeluk Edgar dengan erat. Ia mungkin telah kembali menemukan keyakinan hatinya untuk tidak lagi menyia-nyiakan pria itu. Edgar pun merasa sangat bahagia. Jika memang ini adalah jawaban dari semua penantian panjangnya selama ini, maka sudah sepatutnya ia bersyukur.
“Apa kamu ingin tidur sekarang, Arum?”
Perlahan Arumi melepaskan pelukannya. “Rambutku masih basah. Tidak baik tidur dalam keadaan rambut yang basah,” jawab Arumi seraya membetulkan posisi duduknya. Ia merapatkan kedua kakinya dan meletakan tangannya di atas pangkuannya. Arumi kemudian memainkan jemari lentiknya.
Edgar terus memerhatikan semua bahasa tubuh gadis itu.
Sebagai seorang pria yang sudah sangat berpengalaman, Edgar paham betul akan keresahan yang sedang diraskan oleh Arumi saat itu.
“Kemarilah!” Diraihnya tubuh ramping Arumi, sehingga kini Arumi berada di atas pangkuannya.
Ditatapnya paras cantik Arumi. Suatu keindahan yang tidak akan pernah membuatnya merasa bosan untuk selalu menatap dan menikmatinya. Dielusnya dengan lembut wajah itu. “Kenapa kamu begitu cantik, Arum?” Bisiknya mesra.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum manis, begitu manis dan membuat Edgar merasa tidak tahan untuk segera menikmati rasa manis itu. Ditariknya tubuh Arumi dengan lembut hingga semakin mendekat kepada dirinya. “Cium aku ... yang lama!”
Sebuah godaan yang sangat besar bagi Arumi. Hatinya merasa semakin tertantang. Dengan segera Arumi memberikan apa yang Edgar pinta darinya. Ia kini berkuasa atas sang cassanova yang telah mengaku kalah kepadanya.
Semakin lama, ciuman itu terasa semakin panas dan telah berhasil membakar keduanya. Arumi merasakan sentuhan tangan Edgar ada di mana-mana, di setiap sudut tubuhnya. Ia benar-benar sudah terbakar dan tidak dapat menahan gejolak hasrat-nya lagi.
“Mintalah padaku, Arum!”
Arumi yang saat itu sudah terlihat tidak berdaya hanya menatap sayu kepada Edgar. Bibirnya mungkin tidak dapat berkata apa-apa, tapi sorot mata dan juga bahasa tubuhnya sudah memberikan sinyal yang sangat kuat, yang sebenarnya sejak tadi telah dirasakan dengan jelas oleh Edgar. Akan tetapi, Edgar masih menahan dirinya. Ia tidak segera memberikan apa yang Arumi inginkan, sebelum gadis itu memintanya secara langsung.
“Ayo, Arum! Katakan jika kamu menginginkannya! Mintalah padaku!” Bisik Edgar lagi membuat darah di dalam tubuh Arumi berdesir dengan sangat kencang. Arumi merasakan tubuhnya merinding saat mendengar bisikan nakal Edgar padanya.
"Take me to bed!" Pinta Arumi.
Dengan segera Edgar mengangkat tubuh ramping Arumi, sambil terus menciumnya dengan mesra. Ia membawa Arumi ke dekat tempat tidurnya.
Perlahan diturunkannya tubuh gadis itu dan kembali ditatapnya dengan lekat. Sekali lagi, Edgar merasa jika ini adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia tidak menyangka jika dirinya dapat menyentuh tubuh indah itu dan ... suara dering ponselnya terus berbunyi sejak tadi.