Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
A Piece of Memory


Arumi duduk manis di jok sebelah kiri Edgar. Pria tampan itu tengah fokus dengan kemudi dari balik kaca mata hitamnya. Arumi tidak ingin mengganggunya. Ia lebih memilih untuk menyibukan diri dengan ponselnya.


Jalanan sore itu cukup ramai. Berkali-kali mobil yang dikendarai Edgar terhenti dan lajunya tersendat-sendat. Arumi mulai mengeluh pelan. Lain halnya dengan Edgar. Pria itu masih tampak tenang. Raut wajahnya masih berseri. Tidak ada rona kesal sama sekali, akan kondisi jalanan saat itu.


"Aku tidak terkejut lagi dengan jalanan yang seperti ini," ucap Edgar seperti pada dirinya sendiri. Sementara itu, Arumi hanya tersenyum menanggapi ucapan Edgar. Bagaimanapun juga, ia pernah merasakan jalanan kota Paris selama tiga tahun lamanya. Di sana pula, Edgar mengajarinya cara mengemudi dengan baik, sehingga gadis itu menjadi mahir seperti sekarang.


"Kakak-ku memaksaku untuk ikut kursus mengemudi. Setelah dia merasa yakin, barulah ia mengizinkan aku untuk mengemudikan mobilku sendiri," ucap Arumi membuat Edgar tersenyum lebar.


"Kamu sudah mahir, Arum," tanggap pria dengan wajah rupawan itu. Ia menoleh sesaat kepada Arumi. Edgar terlihat semakin menawan, ketika memakai kaca mata hitam seperti itu.


Arumi mengeluh pelan. "Aku harus membuang waktuku untuk sepuluh kali pertemuan. Oh my God! Ternyata kakak-ku sangat menyebalkan!" keluh Arumi pelan, tetapi berhasil membuat Edgar tertawa pelan.


"Keanu pria yang hebat. Aku sangat kagum kepadanya," sanjung Edgar. "Aku akan merasa sangat terkesan, seandainya dia bersedia menjadi kakak iparku," canda Edgar. Pria itu tersenyum kelu. Ia sudah dapat menebak jawaban seperti apa yang akan diberikan Arumi kepada dirinya, atau mungkin gadis itu akan langsung memarahinya.


Namun, beberapa saat lamanya Edgar menunggu, tetapi Arumi tidak juga melayangkan protes kepadanya. Gadis itu justru malah menyalakan radio di mobil Edgar.


Terdengar lantunan syahdu menyentuh kalbu. Sepenggal lirik indah sebuah lagu yang tidak Edgar ketahui.


Kuteringat hati, yang bertabur mimpi


Ke mana kau pergi, cinta


Perjalanan sunyi, yang kau tempuh sendiri


Kuatkanlah hati , cinta


Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja


Yang menemanimu sebelum cahaya


Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra


Yang 'kan membelaimu, cinta


Kekuatan hati yang berpegang janji


Genggamlah tanganku, cinta


Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri


Temani hatimu, cinta


Edgar terdiam mendengarkan syair lagu yang masih menggema di dalam mobilnya. Pria yang fasih dalam tiga bahasa itu, seakan begitu menghayati isi syair lagu tersebut.


"Lagu siapa itu, Arum?" Tanya Edgar seraya melirik Arumi.


Arumi tidak segera menjawab. Ia tampak sedang termenung. Pikirannya tertuju pada beberapa tahun silam, di mana ia masih dapat tertawa lepas bersama seorang pria bernama Moedya.


Moedya pernah menyanyikan lagu itu atas permintaan Arumi sendiri. Moedya menghapalkan lagu itu lebih dari satu minggu. Sebenarnya bukan karena tidak hapal, tetapi Moedya kesulitan untuk dapat menyatukan dirinya dengan lagu itu. Ya, tentu saja ia merasa sangat kesulitan. Moedya adalah penggemar Bon Jovi.


"Bagaimana, Moemoe? Aku harap kamu sudah siap dengan tantangan dariku," Arumi tersenyum manis seraya duduk menghadap kepada Moedya yang sedang asyik dengan gitar akustiknya.


Moedya tidak segera menjawab. Ia tampak berpikir. Sesaat kemudian, ia lalu meletakan gitarnya "Tiba-tiba aku sakit perut. Aku rasa ... aku harus ke belakang," Moedya bermaksud untuk melarikan diri. Akan tetapi, dengan segera Arumi mencegahnya.


Arumi memegangi lengan kokoh Moedya. Ia menatap pria itu dengan kerlingan nakalnya, membuat pria dengan tato di beberapa bagian tubuhnya itu kembali pada gitar akustiknya.


Moedya tersenyum. "Oke, tapi kamu harus berjanji jika kamu tidak akan tidur saat aku bernyanyi!"


Arumi bersorak kegirangan. "Ayo! Cepat!"


Moedya mulai memetik senar gitarnya. Sebuah irama lembut pun terdengar dan seketika menghipnotis Arumi. Ia begitu terharu mendengar alunan musik dan tentu saja, suara merdu dari sang kekasih.


Moedya tersenyum. Semua kesan sangar dalam dirinya seketika hilang, ketika ia melantunkan melody yang lembut itu.


Beberapa saat berlalu, hingga Moedya mengakhiri private consert-nya. Arumi tersenyum lebar. Ia tidak menyangka jika Moedya dapat menjiwai lagu yang dibawakannya dengan sangat baik. "I love your voice," bisik Arumi seraya menyentuh bibir pria yang baru saja mempersembahkan sebuah lagu yang indah yang indah untuknya.


"Arum! Arum!" Suara berat Edgar seketika membuyarkan semua lamunan Arumi. Gadis itu kemudian menoleh. Ia tampak sedikit gelagapan.


"Kamu melamun?" Tanya Edgar membuat Arumi terlihat tidak nyaman.


"I'm just ... tidak apa-apa! Lupakan!" Jawab Arumi pelan.


Edgar tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Kamu bahkan tidak menjawab pertanyaanku," ujarnya geli.


"Yang mana?" Tanya Arumi dengan polosnya.


"Lagu tadi. Aku bertanya itu lagu milik siapa?"


Arumi terdiam untuk sejenak. Beberapa saat kemudian, ia lalu menjawab, "Letto."


Edgar manggut-manggut. Sejujurnya ia tidak terlalu mengenal penyanyi itu. Wajar saja, karena Edgar tipe pria yang jarang sekali mendengarkan musik. Ia lebih suka menonton film. Edgar menyukai semua genre film.


"Bagaimana jika kita minum kopi dulu sebentar?" Tawar Edgar.


Arumi mengernyitkan keningnya. Ia lalu menoleh kepada pria tampan itu. "Bukankah kamu ada acara mendadak hari ini?" Protes gadis itu.


Seketika Edgar tertawa pelan. "I'm sorry, Arum. Aku hanya ... habisnya kamu terus berbicara dengan tantemu dan mengabaikanku," jelas Edgar dengan sedikit penyesalan dalam nada bicaranya.


Seketika Arumi membelalakan kedua matanya, seraya menoleh kepada Edgar. Sementara pria itu lagi-lagi hanya tertawa pelan. Ia merasa lucu melihat sikap protes Arumi kepada dirinya.


"You!" Tunjuk Arumi. "Dasar pembohong!" Umpat Arumi dengan jengkel. Ia lalu melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajahnya ke samping. Sementara Edgar malah semakin geli melihatnya.


"I'm sorry, Arum," pinta Edgar. Akan tetapi, ia kembali tertawa geli.


Arumi masih menunjukan sikap jengkelnya. Ia tidak menjawab, dan tidak pula menoleh kepada pria yang masih fokus dengan kemudinya.


"Ayolah, Arum! Jangan marah!" Bujuk Edgar. Ia menghentikan laju mobilnya di depan sebuah kedai kopi. "I'm just kidding," lanjutnya. Namun sayang sekali, Arumi masih merajuk kepadanya.


Edgar kemudian melepas sabuk pengamannya. Setelah itu, ia kembali kepada Arumi. Disentuhnya lengan gadis cantik itu, Arumi tidak juga mau menoleh kepada dirinya.


"Menurut temanku, espresso di coffee shop itu sangat enak. Ayo, turun! Hari ini aku yang traktir," rayu Edgar lagi.


"Kamu menyebalkan! Sejak dulu selalu saja seperti itu!" Gerutu Arumi dengan kesal.


"Aku benar-benar minta maaf, Arum. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Jika aku tidak mengajakmu pulang, aku rasa saat ini kamu belum menyelesaikan perbincanganmu dengan tante rambut merah tadi," jelas Edgar dengan lembut. Ia menunjukan ekspresi menyesal dan berharap agar Arumi menjadi terkesan, lalu memaafkan sikap isengnya.


"Sikapmu masih belum berubah, Ed! Kamu senang sekali bermain-main! Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya membedakan ketika kamu sedang serius atau sedang bermain-main!" Ujar Arumi dengan nada kecewa. "Apa yang serius dari dirimu?" Arumi melepas sabuk pengamannya dan bermaksud untuk keluar dari mobil. Akan tetapi, sebelum ia sempat beranjak, Edgar segera memahannya.


"I love you. Itu jauh lebih dari kata serius," ucap pria dengan senyum menawan itu.