Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Kepergian Edgar


Pagi ini cuaca sedikit mendung. Arumi duduk termenung di atas tempat tidurnya. Ia baru saja membaca pesan dari Edgar. Pria itu sudah berada di bandara dan sedang menunggu waktu keberangkatannya.


Entah apa yang akan Arumi lakukan saat ini. Ia masih merasa bingung dengan perasaannya. Ia tidak ingin menjadikan Edgar sebagai sebuah pelarian saja. Semua kemesraan yang terjadi di antara mereka, ternyata masih semu bagi Arumi, karena Arumi belum dapat mengartikan secara nyata seperti apa perasaannya yang sebenarnya.


Arumi kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Ia berdiri di dekat jendela kamarnya dan termenung. Haruskah ia memaksakan perasaannya?


Langit pagi itu terlihat semakin mendung. Arumi melipat kedua tangannya di dada. Setelah itu, ia mengusap-usap lengannya sendiri.


Ditatapnya foto yang merupakan hadiah dari Edgar. Arumi kemudian berjalan ke arah foto itu dan mengambilnya. Ia kembali membaca pesan cinta yang tertulis di belakang bingkai foto itu. Tatapannya kemudian beralih pada setangkai mawar putih, yang tergeletak begitu saja di atas meja sebelah tempat tidurnya. Arumi meletakan kembali bingkai foto itu. Ia lalu meraih mawar yang juga merupakan pemberian dari Edgar.


Arumi kembali berpikir dengan dalam. Ia terus mengingat dan mencari keberadaan Edgar di dalam memorinya yang paling dalam. Ia berusaha untuk menemukan kembali perasaan yang telah lama ia kubur setelah sekian lama. .


Terlintas dalam ingatannya, semua kenangan masa lalu yang indah semasa ia berada di Paris. Sedikit pengalaman mengesankan yang terlupakan dan tertutup oleh cerita manis berujung duka tentang pria bernama Moedya. Arumi terus memejamkan matannya. Ia seakan melihat dirinya sendiri, Arumi muda beberapa tahun yang lalu.


Di dekat Edgar, ia kerap tertawa lebar. Pria itu memang selalu bersikap manis sejak dulu, meski sekarang terasa jauh lebih manis. Arumi dapat membedakan sikap Edgar yang terlihat sama, tapi terasa sangat jauh berlaianan. Kali ini, ia menemukan sebuah getaran yang lain, yang jauh lebih kuat dan besar, lebih bermakna.


“Ed ....” de•sah Arumi pelan. Ia kembali terdiam dengan kedua mata yang masih terpejam.


Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka matanya. Ia tampak menemukan sesuatu. Tatap matanya kini terlihat sangat tegas. Arumi kemudian bergegas meraih kunci mobilnya. Ia segera keluar dari kamarnya dan menuju ke garasi. Arumi pun mengeluarkan mobilnya dan pergi.


Selama di dalam perjalanan, hati Arumi terasa begitu resah. Ia tak henti-hentinya mengeluh pelan. Sementara titik-titik air hujan mulai membasahi kaca depan mobilnya. Arumi juga kini terjebak dalam lalu lintas yang cukup padat.


“Ah ... kumohon, Tuhan!” Resah hatinya kian bertambah. Ia menjadi sangat tidak sabar, karena laju mobilnya pun kini tersendat-sendat.


Selang beberapa saat lamanya berkutat dalam kemacetan pagi hari, akhirnya Arumi tiba di tempat yang ia tuju yaitu bandara. Ia segera berlari masuk dan mencari keberadaan Edgar. Arumi pun bertanya kepada petugas di sana, tentang keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi Edgar.


Kecewa, itulah yang ia rasakan. Pesawat itu telah  berangkat setengah jam yang lalu. Arumi kembali mengedarkan pandangannnya dan berharap menemukan wajah tampan itu di antara sekian banyaknya orang yang lalu lalang di sana. Akan tetapi, Edgar memang sudah pergi.


Lemas. Gadis itu kembali ke tempat di mana ia memarkirkan mobilnya. Ia terlambat dan melewatkan salam perpisahan yang seharusnya ia berikan kepada pria itu. Arumi terdiam untuk sejenak. Sesekali ditatapnya langit dengan hujan rintik-rintiknya yang belum juga berhenti.


“Arum?” Terdengar sebuah sapaan halus untuknya. Arumi segera menoleh. Ia sangat mengenal suara itu. Seorang gadis cantik berambut pendek sebahu dengan mini dress yang dikenakannya saat itu. Diana, ia berdiri dengan sebuah koper yang cukup besar di sampingnya. “Sedang apa di sini?” Tanya gadis itu penasaran.


Arumi tidak menjawab. Gadis itu hanya menatap sahabat lamanya. Arumi kemudian tersenyum tipis. “Mau ke mana, Di?” Arumi balik bertanya.


“Kamu sendiri, apa yang sedang kamu lakukan di sini? Di mana kopermu?” Terdengar nada bicara yang agak sinis dari Diana.


Tentu saja, tak heran jika putri dari pasangan Vincent Pranata dan Taraa bersikap seperti itu kepada Arumi, berhubung apa yang talah dilakukan Arumi di pesta pertunangannya dengan Moedya. Masih beruntung ia mau menyapa Arumi saat itu.


“Edgar kembali ke Perancis hari ini,” jawab Arumi dengan pelan.


“Oh ....” hanya kata itu yang meluncur dari bibir merah muda Diana. Ia tidak melanjutkan perbincangannya dengan Arumi, karena saat itu ia melihat seseorang yang datang untuk menjemputnya. Seseorang yang tiada lain adalah Moedya. Pria itu terkejut melihat Arumi ada di sana.


“Arum baru mengantar kepergian Edgar,” ucap Diana. Ia seakan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Moedya kepada Arumi. Tentu saja, ia tidak akan membiarkan kekasihnya berbicara kepada gadis itu.


Arumi tidak menjawab. Sekilas ia menatap Diana. Setelah itu, ia lalu mengalihkan pandangannya kepada pria dengan gaya rambut man bun-nya. “Aku permisi dulu,” ucap Arumi. Ia memilih untuk segera pergi dari sana. Ia tidak ingin perasaannya menjadi semakin kacau dengan terus berada di depan sepasang kekasih itu.


Arumi mulai memasuki mobilnya. Gadis itu terdiam untuk sejenak. Ingatannya kembali kepada Edgar. Entah kenapa kini ia menjadi sangat resah karena pria itu. Padahal, sebelumnya Arumi selalu merasakan hal yang biasa saja, meskipun Edgar kerap kali bersikap sangat manis kepada dirinya.


Namun, saat ini semuanya terasa berbeda. Ya, seperti itulah pepatah lama mengatakan, ‘kita tidak akan menyadari seberapa berharganya sesuatu, sebelum kita kehilangan hal itu’. Akan tetapi, Arumi belumlah kehilangan Edgar. Pria itu hanya kembali ke negaranya, bukan untuk pergi dari kehidupan Arumi untuk selamanya. Arumi masih memiliki kesempatan untuk dapat memperbaiki semuanya.


Secercah semangat kembali muncul dalam hatinya. “Ayo, Arum ... bangun dan berdirilah! Saatnya untuk membuktikan semua yang telah kamu tekadkan di dalam hatimu!” Hati kecil Arumi terus memberinya sebuah semangat. Arumi pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Ia memutuskan untuk segera pulang..


Sesampainya di rumah, Arumi segera masuk ke kamarnya. Ia lalu mengambil kotak cincin pemberian Edgar semalam. Dibukanya kotak itu dan dipandanginya cincin berlian yang terlihat sangat cantik dan berkilau. Sesaat kemudian, ditutupnya kembali kotak kecil itu dan digenggamnya dengan erat seraya menatap foto kedua orang tuanya. “Ibu, aku ingin pria seperti ayah. Pria yang tidak pantang menyerah dalam memperjuangkanku. Apakah pria itu adalah Edgar?” Tanya Arumi seperti pada dirinya sendiri.


 


 


 


Bagi yang mau berteman dengan ceuceu othor, boleh banget. Nanti kita bisa saling bertegur sapa di sana.


Fb. Anellakomalasari.