
Arumi termenung di dalam kamar dengan membawa kekesalan di hatinya, terlebih setelah ia tanpa sengaja mendengar percakapan antara Edgar dengan Carmen.
Arumi merasa heran, ada apa dengan wanita tua itu? Kenapa makin ke sini, Carmen terlihat makin tidak meyukainya? Padahal Arumi telah memberikan penjelasan kepada wanita berambut pirang itu tentang seperti apa perasaannya terhadap Edgar.
Dengan penuh rasa jengkel, Arumi melepas penutup kepala dan syal yang melilit di lehernya. Wanita berambut panjang itu kemudian duduk di ujung tempat tidur mewah, yang biasa menjadi tempatnya untuk merasakan betapa hangatnya dekapan dari sang suami.
Tidak berselang lama, Edgar muncul di dalam kamar. Pria itu kemudian menghampiri Arumi dan menurunkan tubuhnya di hadapan wanita pujaan hatinya.
Dengan menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan, Edgar meletakan kedua tangannya di atas pangkuan Arumi yang saat itu masih memasang wajah merajuk terhadap dirinya. Sebuah senyuman manis, Edgar berikan untuk sang istri yang justru malah memalingkan wajahnya ke samping dangan sikap yang tidak bersahabat.
“Sayang ....” Edgar melingkarkan tangannya pada pinggul Arumi. “Mari kita bicara dengan baik-baik dan dengan kepala dingin,” ajak Edgar masih dengan sikapnya yang tenang dan berusaha untuk tidak terpancing emosi.
“Aku tidak akan keluar rumah ketika kamu tidak bisa menemaniku, tapi jangan berikan aku seorang pengawal pribadi! Aku bukan ratu kerajaan atau istri seorang presiden! Aku tidak menyukai hal yang terlalu berlebihan seperti itu!” tolak Arumi dengan tegas.
Edgar masih belum mengubah posisinya sejak tadi. Tatapannya pun masih ia layangkan dengan hangat kepada wanita cantik di hadapannya. Wanita yang terlihat sangat menggemaskan ketika dalam keadaan merajuk seperti itu. Keinginannya untuk memanjakan wanita itu menjadi semakin besar.
“Baiklah. Aku tidak akan melanjutkan rencana itu. Lagi pula aku belum mengkonfirmasikan hal ini secara langsung kepada Henry. Ini baru sebatas perbincangan di antara kita saja,” terang Edgar dengan lembut.
Arumi masih tampak tidak senang. Raut wajahnya masih muram dan menunjukkan rasa kesal yang luar biasa. Hal itu membuat Edgar merasa penasaran. “Sayang, anggaplah jika aku tidak pernah membahas masalah ini denganmu, meskipun sebenarnya menurutku ini bukanlah sebuah ide yang buruk,” ujar Edgar lagi. Ia sepertinya menyesalkan sikap Arumi yang terlalu keras kepala.
“Aku hanya ingin menjagamu dengan baik. Tentu saja aku ingin melakukannya tanpa bantuan siapapun, tapi adakalanya aku tidak mampu melakukan hal itu sendirian. Aku senang karena kamu menganggapku sebagai pria terhebat untukmu dan itu suatu kebanggaan bagiku. Aku berjanji padamu, aku pasti akan selalu berusaha untuk menjadi pria terbaik untukmu,” tutur Edgar membuat rona kekesalan di wajah Arumi berangsur memudar.
Namun, sayangnya Arumi masih tampak gelisah saat itu. Ia teringat akan perkataan Carmen tentang dirinya. “Katakan padaku!” pinta Arumi, “Apakah bibi Carmen memang tidak menyukaiku?” itulah Arumi. Ia tidak suka berbasa-basi.
Edgar tertegun mendengar pertanyaan dari Arumi. Ditatapnya wajah cantik sang istri dengan lekat. Ia belum memiliki penjelasnan apa-apa untuk wanita itu.
Edgar pun memilih untuk beranjak dan duduk di dekat Arumi. Digenggamnya jemari lentik sang istri. Edgar terus berusaha untuk menjernihkan kembali pikiran kusut wanita yang sangat ia cintai.
“Apa kamu mendengar percakapanku dengan bibi Carmen tadi?” selidik Edgar.
“Aku bukan anak kecil, Sayang!” protes Arumi seraya beranjak dari duduknya. “Aku sudah dapat menangkap makna dari sikap dan tutur kata bibi Carmen! Aku pernah mengatakan padamu waktu itu, jika dia bertanya macam-macam padaku dan seakan menyudutkanku! Aku pikir setelah itu dia akan berhenti berpikiran jelek tentangku, tapi lihatlah sendiri! Dia tidak berhenti! Dia bahkan tidak membiarkan aku tinggal lebih lama di Indonesia setelah pernikahan kita. Aku mengikutinya, padahal aku bisa saja bersikap tidak peduli dan membujukmu untuk jauh lebih mempertimbangkanku, tapi aku tidak melakukan itu!” Arumi mulai kehilangan kontrol dirinya. Ia benar-benar merasa kesal saat itu.
Edgar ikut berdiri. Ia memegangi lengan Arumi dan kembali mencoba untuk menenangkan sang istri. Edgar harus dapat bersikap lebih bijaksana dalam hal ini.
“Aku akan bicara dengan bibi Carmen. Dia itu ... dia hanya merasa khawatir. Itu saja,” ucap Edgar tanpa bermaksud untuk membenarkan sikap dan ucapan Carmen terhadap Arumi.
“Terus saja membelanya!” balas Arumi kesal. “Dengar, Sayang! Usiamu sudah tiga puluh tahun, dan kamu sudah menjadi seorang suami. Tidak sepantasnya dia bersikap seolah-olah kamu adalah bocah berusia lima belas tahun. Terus terang saja karena aku merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang terlalu berlebihan terhadapmu!” protes Arumi dengan kesal. Kemarahannya sudah hampir mencapai puncak.
Dengan segera Edgar merengkuh pundak Arumi dan menenangkan sang istri di dalam dekapanya. Ia tidak melepaskannya meskipun Arumi berusaha untuk menolak. Edgar terus mendekap erat tubuh ramping itu di dalam lengan kokohnya.
“Tenangkan dirimu, Sayang! Jangan terlalu berlebihan dalam menyikapi hal ini. Lihatlah aku! Selama aku masih menatapmu dengan perasaan cinta, maka tidak ada yang perlu kamu khawatirkan!” ucap Edgar dengan begitu dalam. Suaranya terdengar sangat berat dan mampu menggetarkan hati Arumi. Wanita itu terdiam. Ia tidak memiliki alasan untuk marah kepada sang suami. Lagi pula, rasa marah hanya akan menguras energinya saja.
Arumi menegakan kepalanya. Wajahnya kini tepat berada di depan wajah Edgar. Sepasang mata abu-abu itu tampak dengan begitu jelas, sangat indah dan bersinar. Mata itu mengingatkannya pada mata sang ayah.
Perlahan Arumi meraba wajah dengan janggut tipis itu. Dielusnya dengan lembut wajah rupawan sang suami. Tidak lama kemudian, Arumi pun menyentuh bibir Edgar dengan mesra. “Maafkan aku, Sayang. Aku hanya merasa aneh dengan sikap bibi Carmen. Sejujurnya aku tidak ingin ada masalah di antara kita, apalagi karena sesuatu yang tidak terlalu penting seperti ini,” ucap Arumi pelan.
Edgar tersenyum seraya mengangguk pelan. “Kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik, dan menyelesaikannya dengan baik-baik pula,” balasnya.
“Ya. Kamu benar, Sayang. Semoga aku tidak menjadi seseorang yang terlalu posesif seperti dia,” sahut Arumi dengan agak mencibir.
Edgar hanya tertawa menanggapi hal itu. Tangannya begitu nyaman melingkar di pinggang Arumi. Ia pun harus mengalihkan pembahasan itu dengan segera. “Bagaimana jika kita bermain busa? Sepertinya itu akan menjadi hal yang menyenangkan saat ini,” cetusnya dengan senyuman nakal yang seketika membuat Arumi tersipu malu.
“Aku sudah lama tidak bermain busa,” jawab wanita muda seraya melepaskan dirinya dari pelukan Edgar. Ia melepas sweater yang dikenakannya. Setelah itu, ia kembali melirik ke arah Edgar.
“Biar kusiapkan,” lanjut Arumi seraya berlalu ke dalam kamar mandi. Sementara itu, Edgar mengela napas lega seraya duduk di ujung tempat tidurnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya, biar ia pikirkan nanti, karena sekarang adalah saatnya bermain busa.