Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Handsome as Always


Edgar masih terdiam. Ia malas untuk membahas masalah itu dengan lebih jauh lagi. Ia berniat untuk menyelidikinya sendiri. Edgar pun merasa heran, apakah alasan yang telah membuat Arumi menjadi begitu terkesan kepada Ben.


“Sudahlah, Arum! Aku tidak ingin membahas tentang ini dulu. Dengar, Babe! Aku hanya ingn kamu ikut ke Paris denganku besok! Jika perlu aku akan memaksamu!” Tegas Edgar.


“Itu memang pekerjaanmu! Memaksakan kehendakmu terhadap orang lain adalah sebuah keahlianmu!” Cibir Arumi seraya melipat kedua tangannya di dada.


“Oh, tentu saja! Aku bosnya di sini!” Balas Edgar dengan penuh percaya diri.


Arumi mendelik sebal. “Jika kamu memang bosnya, lalu kamu anggap aku sebagai apa?”


Edgar tersenyum seraya mendekatkan dirinya kepada Arumi. Disentuhnya wajah gadis itu dengan lembut dan seketika membuat Arumi menjadi terlihat kikuk. “Calon istriku,” jawab Edgar dengan tatapan penuh rayuan maut.


"Oh ... tidak! Kenapa Edgar selalu saja memerlihatkan senyum dan tatapan seperti itu di hadapanku? Apakah ia tahu jika aku akan merasa tidak berdaya dengan dua hal itu? Yang benar saja!"


Arumi menjadi terdiam dan tak berkutik sama sekali, bahkan ketika Edgar kembali menciumnya dengan mesra, entah untuk yang keberapa kalinya dalam hari itu.


......................


Seusai makan malam, Arumi menyempatkan dirinya untuk menghubungi Keanu. Pria itu menyarankan kepadanya agar ia ikut ke Paris bersama Edgar. Entah mereka sudah bekerja sama atau memang Edgar yang terlalu pintar dalam merayu calon kakak iparnya.


Setelah berbincang sebentar dengan Keanu, Arumi memutuskan untuk naik ke tempat tidur dan membuka akun media sosialnya.


Arumi melihat ada beberapa postingan yang telah diunggah oleh Diana, sahabat lamanya. Gadis itu mengungah foto-foto yang sangat indah antara dirinya dengan Moedya.


Arumi hanya menggaruk-garuk alisnya. Itu sudah bukan urusannya lagi. Ia sudah bersikap masa bodoh pada apapun yang berkaitan dengan pria berambut gondrong itu, dan hey ... apa yang terjadi dengan Moedya? Dia memotong rambutnya? Ini sebuah berita besar.


Arumi tersenyum kelu. Sebegitu besarkah pengaruh Diana bagi Moedya, sehingga ia mampu mengubah penampilan eksentrik pria bertato itu? Sungguh luar biasa.


Sulit untuk Arumi pahami. Selama menjalin hubungan dengan dirinya, Moedya selalu mengatakan jika ia menyayangi rambut gondrongnya. Lalu apa yang terjadi saat ini?


“Ah ... sudahlah! Terserah meskipun dia mau mencukur habis rambutnya hingga botak!” Cibir Arumi dengan malas. Itu bukan urusannya lagi.


Iseng-iseng, Arumi kemudian mengintip akun media sosial milik Edgar. Ada beberapa postingan terbaru dari sang kekasih. Pria itu selalu terlihat ... mengesankan. Handsome as always, kata itu memang sangat cocok untuk menggambarkan dirinya.


Arumi seakan menjadi seorang gadis yang tidak memiliki pendirian. Kenapa saat ini ia begitu menjadi  sangat tergila-gila kepada Edgar?


Sebenarnya, Arumi memang sudah tergila-gila kepada pria itu sejak lama. Namun, kembali lagi pada masalah waktu. Terkadang kita membutuhkan jarak yang terlalu panjang untuk dapat menyadari sesuatu. Terkadang sebuah kebenaran itu akan terungkap di akhir cerita, dan tak jarang hanya dapat dinikmati sekejap saja. Arumi tidak ingin bertanya lagi kenapa ia harus kembali kepada pria itu.


“Baiklah takdir, aku ikuti ke manapun kau akan membawaku,” gumam Arumi seraya meletakan ponselnya. Ia lalu bersembunyi di bawah selimutnya yang hangat.


Arumi harus segera memutuskan, apakah dirinya akan ikut ke Paris bersama Edgar, atau memilih untuk menjadi gadis pembangkang dan tetap tinggal di Marseille, hingga masa berkunjungnya habis dan ia harus kembali ke Indonesia.


Keesokan harinya.


Sekitar pukul delapan pagi waktu setempat, Chantal dikejutkan oleh kedatangan Edgar ke kediaman Emanuelle. Dengan sangat percaya diri tapi masih terlihat sangat ramah dan bersahabat, Edgar berbincang hangat bersama Emanuelle.


Arumi sendiri saat itu baru selesai mandi dan keluar dari kamarnya. Sejenak ia tertegun seraya mengernyitkan keningnya. Ia melihat Chantal yang tengah mengintip dari balik dinding pembatas. Entah apa yang telah membuat gadis itu melakukan hal konyol, yang sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil.


Dihampirinya gadis itu dan ditepuknya pundak sebelah kanan Chantal dengan tidak terlalu keras, tapi hal itu tetap saja membuat gadis itu sangat terkejut.


“Ada apa?” Bisik Arumi penasaran.


“Lihatlah! Ayahku tengah didatangi malaikat,” celetuknya, membuat Arumi kembali mengernyitkan keningnya.


Karena merasa penasaran, Arumi ikut mengintip dari balik dinding pembatas itu. Seketika matanya terbelalak ketika ia melihat Edgar lah yang tengah berbincang dengan Emanuelle.


Tanpa banyak bicara, Arumi memutuskan untuk menghampiri kedua pria itu. Kehadirannya telah membuat Edgar terlihat semakin berseri. “Hai, Babe!” Sapa Edgar yang seketika membuat Chantal membelalakan matanya dan melirik Arumi.


“What are you doing here?” Arumi membalas sapaan hangat Edgar dengan sebuah pertanyaan yang terdengar sangat aneh.


Edgar masih terlihat tenang dengan senyum menawannya. “Tentu saja untuk menjemputmu,” jawabnya dengan sangat enteng.


Arumi terlihat hendak protes. Akan tetapi, dengan segera Edgar kembali berkata, “Aku sudah bicara banyak dengan tuan Macaire. Beliau tidak ada masalah jika kamu ikut denganku ke Paris. Benarkan, Paman?” Edgar melirik Emanuelle yang segera menanggapi ucapannya dengan sebuah anggukan penuh keyakinan. Sementara Arumi hanya melongo.


Dengan dibantu oleh Chantal, Arumi mengemas semua barang-barangnya ke dalam koper. Perasaannya tidak menentu saat itu. Akan tetapi, Arumi juga tidak kuasa untuk menolak ajakan Edgar. Bagaimanapun juga, ia membutuhkan kehadiran pria itu saat ini.


“Jadi ... dia kekasihmu, Arum?” Tanya Chantal seraya membantu Arumi melipat beberapa pakaian milik Arumi. Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan.


“Selain tampan dia juga sangat romantis. Dia sangat mengetahui bunga kesukaanmu, Arum,” Chantal terlihat senyum-senyum sendiri. Entah apa yang tengah ia pikirkan. “Lalu ... siapa pria yang malam itu denganmu?” Tanya gadis itu lagi dengan pensaran.


Arumi tertegun. Ia tahu jika yang dimaksud oleh Chantal pastilah Ben. “Dia hanya seorang kenalan,” jawab Arumi singkat. Ia tidak ingin membahas hal itu. Beberapa saat kemudian, Arumi sudah siap dengan kopernya.


Setelah selesai dengan urusan isi koper, Arumi segera keluar dari kamar dan menghampiri Edgar yang telah menunggunya dengan cukup lama.


Mungkin, tidak ada pria yang sesabar dia.


Melihat Arumi sudah siap untuk berangkat, Edgar segera berpamitan kepada Emanuelle dan Brigitte. Begitu juga dengan Chantal yang terlihat sangat ceria ketika pria itu menyalaminya. Dengan menggunakan taksi, mereka pun berangkat menuju bandara.


“Jadi, tujuan utamamu datang kemari hanya untuk menjemputku?” Tanya Arumi ketika mereka berdua sudah duduk di dalam pesawat.


Edgar menoleh dan tersenyum. “Gadis pintar,” jawabnya seraya menyentuh hidung Arumi dengan ujung telunjuknya.


Arumi tersenyum. Mengela napas pendek, ia berpikir. “Kenapa Edgar begitu manis?” Arumi lalu tersenyum kecil.


Tidak berselang lama, pesawat yang mereka tumpangi pun mulai lepas landas. Arumi melihat ke luar jendela. Ada perasaan yang mengharukan ketika ia harus kembali meninggalkan kota Marseille, meninggalkan kedua orang tuanya lagi dan entah kapan ia akan kembali. Akan tetapi, Arumi merasa bahagia karena selama tinggal di kota itu, ia tidak pernah absen untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya, dan meletakan bunga di sana. Ia juga tidak terlalu sedih, karena di sampingnya ada Edgar yang sangat mencintai dan mulai menarik perhatiannya.


Mungkin Arumi terlambat, tapi kali ini ia merasa tidak keliru dalam mengambil keputusan yang tepat bagi hidupnya. Edgar adalah pria yang tepat.


Disentuhnya punggung tangan Edgar dengan lembut. Pria itu menoleh, kemudian tersenyum. Arumi membalasnya dengan sangat tulus. Ia tidak akan merasa menyesal karena Tuhan tidak membiarkannya mengenal banyak pria. Seorang Edgar sudah cukup baginya, dan Arumi tidak membutuhkan yang lainnya.


Keyakinannya sudah semakin kuat. Arumi juga telah memantapkan hatinya. Dalam hati ia berkata, "Mari, Edgar! Kita jalani takdir bersama-sama."


Seiring dengan meningginya posisi pesawat, maka semakin tinggi pula angan gadis cantik itu untuk menggapai masa depannya.