Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Sebuah Kebetulan


Edgar mengambil satu sendok es krim green tea milik Arumi, kemudian ia masukan ke dalam mulutnya. Arumi masih bersikap tidak peduli. Namun, Arumi tidak menolak ketika Edgar menyuapinya. Sikap manjanya bahkan hampir saja keluar jika saja ia tidak ingat bahwa dirinya sedang berada dalam mode merajuk. Arumi kembali menegakan tubuhnya dan memerlihatkan wajah judes terhadap Edgar.


“Sayang, sebenarnya aku juga ingin berada lebih lama di sini. Akan tetapi, bibi Carmen tidak terbiasa, baik dengan cuaca ataupun segalanya. Ia tidak pernah meninggalkan Perancis seumur hidupnya, dan mungkin ia kesulitan saat harus beradaptasi untuk berada lebih lama di sini. Aku harap kamu dapat memahami hal itu,” terang Edgar. Ia mengemukakan alasannya, yang harus kembali secepatnya ke Perancis.


“Di sana adalah rumahmu juga. Ada aku tentunya, dan kita akan menghabiskan musim panas pertama kita bersama-sama,” bujuk Edgar. Ia berharap agar Arumi dapat mengerti dengan alasan yang telah dikemukakannya tadi.


Arumi masih terdiam. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, wanita muda itupun menoleh dan tersenyum seraya mengangguk pelan. ”Bukannya aku tidak ingin ikut denganmu, Sayang. Namun, aku pikir aku masih bisa menghabiskan waktuku di sini untuk beberapa hari ke depan. Kamu juga tidak memberitahuku sebelumnya,” jelas Arumi. Sikapnya kini telah terlihat normal kembali.


“Terus terang saja karena aku merasa bingung bagaimana cara menyampaikan perubahan rencana ini kepadamu, karena itu aku memilih untuk bicara terlebih dahulu dengan Keanu. Aku tahu jika kamu pasti akan bersikap seperti ini,” ucap Edgar sambil terus melahap es krimnya.


Beberapa saat kemudian, setelah mereka menghabiskan es krim masing-masing, Edgar beranjak dari duduknya. Ia lalu mengajak Arumi untuk kembali berkeliling di dalam mall tersebut.


Siapa sangka, jika saat itu mereka berpapasan dengan Moedya dan Diana. Pasangan itu tampaknya baru selesai berbelanja. Itu semua terlihat dari beberapa kantong belanja yang berada di tangan Moedya.


Arumi tertegun melihat hal itu. Ini adalah sesuatu yang tidak biasa ketika ia melihat mantan tunangannya berada di dalam mall, dengan banyak kantong belanjaan. Ia merasa jika Moedya memang sudah mulai berubah. Arumi pun tersenyum. Sementara Edgar terlihat memalingkan wajahnya. Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Moedya.


“Hai, Di,” sapa Arumi. Ia mencoba untuk bersikap ramah, dan tentu saja agar dapat mencairkan suasana tegang di antara mereka, terutama di antara kedua pria itu.


“Hai, Arum. Aku pikir kalian belum ingin keluar kamar,” canda Diana seraya mengulum senyumnya.


Arumi tertawa pelan. Ia lalu melirik Edgar. Pria itu hanya menyunggingkan sedikit senyuman. Terlihat Edgar tidak begitu tertarik untuk menanggapi candaan Diana. Mood-nya seketika hilang ketika ia melihat wajah Moedya di hadapannya.


Arumi dapat memahami hal itu. Dengan segera ia menggenggam jemari Edgar dengan erat, membuat pria itu menoleh kepadanya. Arumi menatapnya dengan sebuah senyuman lembut. “Sayang, perkenalkan ini Diana dan tunangannya Moedya. Aku tahu jika kalian sudah sering bertemu, tapi aku harap kalian bisa saling berkenalan lagi dalam situasi yang baru,” ucap Arumi seraya menatap Edgar dan Moedya secara bergantian.


Tersungging sebuah senyuman sinis di sudut bibir Edgar. Ia tidak mengerti kenapa Arumi harus melakukan hal seperti itu. “Apa maksudmu, Sayang?” tanya Edgar seraya mengernyitkan keningnya.


“Tidak ada. Aku hanya ingin melihat Edgar Hillaire dan Arjuna Moedya Aryatama, saling berjabat tangan dan melupakan semua rasa benci di antara mereka berdua. Aku rasa, Diana juga pasti mengharapkan hal yang sama. Iya kan, Di?” Arumi mengalihkan tatapannya kepada Diana. Gadis itu tersenyum tulus kepada Arumi. Ia mengangguk setuju.


“Jika para pria mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yag sulit untuk dimengerti, maka kita bisa membalikan kata-kata itu kepada mereka. Iya kan, Arum?” balas Diana yang seketika membuat Arumi tertawa pelan.


“Kami akan kembali tiga jam lagi. Jadi, silakan berbincang-bincang dengan sepuas hati kalian! Namun, ingat karena ini adalah tempat umum, maka dari itu ... tolong jaga sikap kalian, Tuan-tuan!” lanjut Arumi sambil tertawa pelan. Begitu juga dengan Diana. Gadis itu melambaikan tangannya kepada Moedya dengan mesra.


Hening, kaku, dan dan canggung. Kedua pria itu berdiri tanpa saling menyapa. Sesekali, mereka saling melirik, tapi tak lama saling memalingkan muka. Tingkah laku keduanya benar-benar seperti seorang anak kecil yang bertengkar karena berebut sesuatu.


Edgar terlalu enggan untuk menyapa terlebih dahulu. Moedya pun sama gengsinya dengan pria Perancis itu. Rasanya memang sangat tidak nyaman, tapi terlihat dengan jelas jika mereka merasa bingung untuk memulai sebuah percakapan.


“Apa kamu merokok?” tanya Moedya beberapa saat kemudian, setelah sekian lama mereka saling terdiam. Akhirnya, ia menurunkan harga dirinya, demi menghilangkan rasa canggung di antara ia dan Edgar.


“Ya,” jawab Edgar dengan perasaan yang belum terlihat nyaman. “Aku mengisap cerutu,” lanjutnya tanpa menoleh kepada Moedya..


Moedya mengela napas pelan. Kantong belanjaan itu, telah membuatnya menjadi terlihat aneh. “Aku ingin merokok sebentar dan menyingkirkan semua belanjaan ini dari tanganku,” ucap pria dengan tubuh penuh tato itu. “Aku tidak keberatan seandainya kamu ingin bergabung,” imbuh Moedya seraya berlalu begitu saja menuju ke sebuah kedai kopi yang ada di mall tersebut.


Edgar merasa jika itu bukanlah ide yang buruk. Ia pun memutuskan untuk mengikuti Moedya, meskipun raut wajahnya masih menunjukan ekspresi yang tidak bersahabat. Ia juga duduk di hadapan Moedya yang saat itu sudah memesan dua cangkir kopi untuk mereka berdua. Moedya kemudian mengeluarkan kotak rokok miliknya dan meletakannya di atas meja. Ia memersilakan Edgar untuk mengambil rokoknya.


Meski tanpa ekspresi yang ramah, Edgar menghargai tawaran dari pria itu. Ia mengambil sebatang rokok dan mulai menyulutnya. Asap tipis pun mengepul dari rokok yang baru disulutnya.


“Selamat atas pernikahanmu. Maaf karena kemarin aku tidak memberi ucapan secara langsung. Kemarin aku pulang lebih dulu,” ucap Moedya dengan sedikit datar.


“Aku bisa memahami hal itu,” balas Edgar dengan nada bicara yang sama. “Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu sudah meninggalkan Arumi. Dengan begitu, aku berkesempatan untuk bisa meraih hatinya lagi,” ucap Edgar dengan angkuhnya.


Moedya mengela napas berat. “Aku menyesali hal itu, tapi tenang saja karena aku tidak akan menjadi hama dalam hubungan kalian. Aku harus mengembalikan harga diriku dan membangun kembali karakter Moedya agar terlihat menjadi jauh lebih baik. Aku senang jika Arum merasa bahagia denganmu. Ia pantas mendapatkan hal itu. Aku hanya berharap, kamu bisa menjaganya dengan baik," ucap Moedya. Ia terlihat tulus saat itu.


"Aku tahu kamu dapat melakukannya. Keanu sudah bercerita banyak padaku tentang semua yang terjadi selama Arumi berada di Perancis. Aku semakin sadar, jika Arumi tidak salah karena telah memilihmu,” ucap Moedya. Dengan berat hati ia harus menerima keunggulan Edgar jika dibandingkan dengan dirinya.