
Lemas, Arumi masuk ke mobilnya dengan malas. Setelah memasang sabuk pengaman, Arumi kemudian melajukan mobilnya dengan perlahan. Sekarang ia tahu alasan Moedya pamit kepadanya tempo hari. Rupanya, pria itu akan segera memulai sesuatu yang baru dengan Diana.
Sudah. Mulai saat ini, Arumi akan berhenti untuk mengharapkan sebuah keajaiban datang kepada dirinya. Ia tidak akan lagi memimpikan seorang Moedya dalam tidurnya. Cukup. Pria itu harus benar-benar ia lepaskan dengan ikhlas, meskipun rasanya hal itu ibarat melepaskan sebagian nyawa dari dalam dirinya.
Arumi memarkirkan mobilnya tidak jauh dari danau. Dengan berat, ia melangkahkan kakinya hingga sampai di tepian danau dengan pembatas besi itu. Ia berdiri di sana, dengan tatapannya yang mulai kosong.
Siang itu cuaca sudah sangat mendung. Angin pun berhembus dengan cukup kencang. Sepertinya hujan akan segera turun. Akan tetapi, Arumi tidak peduli. Ia masih berdiri menatap riakan air danau yang ditimbulkan oleh embusan angin tersebut.
Perlahan air mata gadis itu terjatuh di sudut bibirnya. Lagi, tetesan demi tetesan mengikuti, dan akhirnya meluncur dengan deras. Arumi tidak dapat membendung air matanya lagi.
"Moedya!" Pekik Arumi dengan sekuat tenaga. Ia seakan ingin agar seluruh dunia dapat mendengar teriakannya. Arumi pun menangis sambil meraung. Saat itu, ia seperti seekor hewan buruan yang sedang sekarat karena terkena anak panah sang pemburu.
"Moedya!" Lagi, Arumi kembali meneriakan nama pria yang sangat dicintainya. Tubuhnya pun kini ambruk seiring dengan rintik-rintik hujan yang jatuh membasahi bumi.
Sungguh menyakitkan ketika ia harus menangisi seorang Moedya yang telah terlepas dari pelukannya. Arumi seakan tidak akan mampu lagi untuk menggapai pria itu. Moedya telah memilih untuk terbang jauh, dengan menggunakan sepasang sayap yang baru.
Arumi meremas tanah yang sudah basah karena hujan yang kini turun dengan lebih deras. Gadis itu menundukan wajahnya dengan tetesan air hujan yang terus membasahinya. Akan tetapi, untuk sesaat Arumi terdiam. Ia lalu mengangkat wajahnya. Arumi kemudian menatap pria yang sedang berdiri di hadapannya sambil memegang payung yang melindunginya dari air hujan.
"Edgar?" Arumi bangkit. Ia lalu berdiri di hadapan pria yang saat itu menatapnya dengan penuh rasa kecewa dan tanpa ada sepatah katapun. Sementara Arumi juga hanya menatapnya. Akan tetapi, tiba-tiba penglihatan Arumi menjadi berkunang-berkunang, pandangannya buram hingga gelap seketika yang dirasakannya. Setelah itu, Arumi tidak ingat apa-apa lagi.
......................
Malam itu, Arumi terbangun di sebuah kamar yang asing baginya. Kamar dengan nuansa gelap tapi terlihat sangat elegant. Satu hal yang membuat gadis itu terkejut ialah ketika ia mendapati dirinya memakai baju yang bukan bajunya. Arumi juga melihat fotonya terpajang di dalam kamar itu dengan ukuran yang cukup besar. Ia seperti sedang menonton televisi 55 inch dengan gambar wajahnya. Arumi sepertinya sudah dapat menebak kamar itu milik siapa.
Disibakannya selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Arumi harus kembali tertegun karena ternyata ia hanya memakai atasan T Shirt pendek sebatas pahanya saja. "Ya Tuhan!" De•sahnya pelan seraya menyibakan rambutnya ke belakang. Arumi kemudian beranjak keluar dari dalam kamar itu.
Ini adalah pertama kalinya ia berada di apartemen milik Edgar. Pria itu sudah sering bolak-balik ke Indonesia, tetapi Arumi tidak pernah memiliki alasan untuk bertandang ke apartemen mewah milik mantan kekasihnya itu.
Sudah lewat pukul tujuh malam. Suasana di dalam apartemen itu begitu sepi. Arumi terus melangkah dengan sepasang matanya yang tak tinggal diam. Tatapannya menyapu seluruh sudut penuh kemewahan, yang menunjukan siapa Edgar sebenarnya.
Samar-samar terdengar suara di bagian lain apartemen itu. Suara yang berasal dari ruangan yang sepertinya merupakan sebuah dapur. Arumi kemudian melangkahkan kakinya ke sana.
Dilihatnya Edgar yang baru saja entah melakukan apa. Ia hanya memakai celana tidur dan bertelanjang dada. Tubuhnya pun tampak cukup berkeringat dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
"Arum? Aku pikir kamu belum bangun," sapa Edgar. Ia lalu menghampiri Arumi yang saat itu masih terpaku. Ini adalah pertama kalinya, Arumi melihat Edgar dalam tampilan seperti itu. Pria itu juga kini berdiri di tepat di hadapannya, dan saat itu pula Arumi melihat sesuatu yang membuat jantungnya terasa berhenti berdetak.
Arumi tidak pernah mengetahui jika Edgar mengabadikan namanya menjadi sebuah tato yang terlukis di dada sebelah kanannya.
"What is this, Ed?" Tanya Arumi dengan sedikit bergetar. Ia mengarahkan tatapannya pada tato itu.
"You," jawab Edgar singkat. Ia menatap Arumi yang saat itu masih memerhatikan tato bertuliskan namanya.
"Because i love you ... Arum," sebuah jawaban yang telah menimbulkan kegalauan di hati Arumi. Gadis itu terlihat gusar. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke samping. Sementara Edgar masih memerhatikannya.
"Di mana bajuku?" Tanya Arumi tanpa menoleh.
"Basah," jawab Edgar singkat.
Arumi mengela napas pendek. Ia merasa risih dengan penampilannya saat itu, dan ia jauh lebih risih melihat penampilan Edgar yang saat itu masih berdiri tepat di hadapannya. Sudah dapat dipastikan jika Edgar pula yang telah mengganti seluruh pakaiannya.
"Tidak ada yang ingin kamu tanyakan lagi, Arum?" Tanya Edgar dengan nada bicara yang terdengar agak dingin. Arumi menggeleng pelan, itu juga masih dalam posisi tanpa menoleh kepada pria tampan di hadapannya.
"Baiklah. Aku mau mandi dulu," ujar Edgar lagi. Ia berlalu begitu saja. Arumi kemudian membalikan badannya, Ia menatap pria yang saat itu memamerkan punggungnya yang tegap, yang tengah melangkah ke kamarnya. Akan tetapi, tiba-tiba Edgar berbalik. Arumi menjadi gelagapan karenanya. Gadis itu pun segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
"Jika kamu lapar, ada buah-buahan di atas meja. Di dalam kulkas juga ada es krim. Ambil saja!"
Arumi menoleh dan tersenyum canggung. Ia lalu menggangguk pelan, meskipun saat ia Edgar sudah kembali melanjutkan langkahnya.
Setelah Edgar sudah tidak terlihat, Arumi kemudian masuk ke dapur. Tempat itu sangat bersih dan semuanya tertata rapi.
Ya, sejak dulu Edgar memang pria yang teratur. Jadi wajar jika tempat tinggalnya pun serapi itu. Namun, Arumi yakin jika pastinya itu bukan hasil dari pekerjaan Edgar sendiri. Mana mungkin seorang Edgar mau memegang lap dan kain pel.
Perut Arumi memang terasa lapar. Terlebih sejak tadi ia tertidur cukup lama. Gadis itu kemudian mengambil sebuah apel merah dari atas meja berlapis marmer berwarna hitam. Arumi berdiri dengan setengah bersandar pada tepian meja. Ia lalu menggigit apel itu dan terus memakannya hingga habis.
Sesaat kemudian, Arumi tertegun. Biasanya ia merasa kenyang hanya dengan sebuah apel, tapi saat ini perutnya masih terasa lapar. Ia lalu membuka kulkas sebesar lemari berwarna silver. Ada banyak makanan kaleng di dalam sana, Arumi kemudian mengambil es krim dari dalam freezer.
"Green tea?" Terdengar suara Edgar yang telah berhasil membuat Arumi begitu terkejut. Arumi kemudian menoleh. Pria itu terlihat sudah jauh lebih segar. Kali ini ia memakai T Shirt pendek berwarna putih.
"Aku ... kelaparan," ujar Arumi malu-malu.
Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir pria tiga puluh tahun itu. "Aku baru membeli es krim itu kemarin. Semenjak kenal denganmu, aku jadi menyukainya," tutur Edgar. Ia mengambil sebuah sendok dan menyodorkanya kepada Arumi.
"Kenapa harus green tea?" Tanya Arumi dengan tatapan yang terus mengikuti Edgar, yang kini berdiri di sebelahnya.
"Karena ... itu rasa paling kamu sukai," jawab Edgar seraya membalas tatapan Arumi. Untuk sesaat, pandangan mereka berdua saling beradu.
"Katakan padaku, Ed! Bagaimana kamu bisa berada di sana tadi siang?" Tanya Arumi dengan penasaran, karena tiba-tiba Edgar ada di hadapannya tadi.
"Karena aku mengikutimu," jawab Edgar tanpa melepaskan tatapannya dari wajah cantik Arumi yang saat itu mulai mencicipi es krim green tea-nya.