
Keanu masih berdiri dengan wajah yang terlihat sangat serius. Ia tampak menahan kemarahan yang sangat luar biasa kepada sang adik.
Arumi lagi-lagi merasa heran. Ia belum pernah melihat Keanu bersikap seperti itu kepada dirinya. Arumi lalu mengernyitkan keningnya, ia pun mencoba untuk tersenyum. "I'm sorry. Aku pergi ke club dan minum sedikit di sana ... hanya sedikit, Kak! Aku tidak ...." Arumi tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dengan segera Keanu menyela ucapannya.
"Kamu tidak ingat apa yang sudah kamu lakukan semalam di pesta pertunangan Moedya?" Tanya Keanu dengan tegas. Raut mukanya terlihat sangat serius dan membuat Arumi yakin jika itu pasti sesuatu yang fatal.
Arumi tampak gelagapan. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan. Ia terlihat tidak nyaman saat itu dengan tatapan tajam Keanu yang sepertinya tengah memendam amarah yang sangat besar.
"Aku ... aku ...." Arumi terlihat kebingungan. Ia tidak tahu harus berkata apa. "Kakak, aku ...." lagi-lagi Arumi terdiam.
"Semalam kamu sangat keterlaluan, Arum! Kamu mabuk dan mengacaukan pesta pertunangan Moedya! Kamu sudah mempermalukan kita semua di hadapan semua tamu undangan!" Sentak Keanu dengan muka yang merah padam. Ia benar-benar murka kepada adik semata wayangnya.
"Iya, kah? Aku sama sekali tidak mengingatnya, Kak," jawab Arumi dan membuat Keanu semakin emosi.
"Jelas kamu tidak akan ingat karena kamu mabuk, Arum!" Sentak Keanu lagi. "Kamu mempermalukan Moedya, Diana, dan kamu tahu apa yang lebih parah?" Keanu melotot tajam kepada gadis yang masih duduk di atas tempat tidurnya itu. "Kamu ... kamu sudah memberikan tuduhan yang sangat memalukan kepada Edgar! Kamu sudah mempermalukannya di hadapan semua orang! Kamu ... seandainya saja aku tidak ingat dengan pesan ibu, maka aku pasti sudah menamparmu dengan sangat keras!"
Tidak ada kata-kata bernada lembut dan penuh kasih yang meluncur dari bibir Keanu. Pria itu sudah menahan amarahnya sejak semalam. Ia begitu malu atas apa yang sudah dilakukan oleh Arumi.
"Semoga Edgar cukup profesional dan tidak membatalkan kerja samanya denganku!" Ucap Keanu lagi masih dengan nada bicaranya yang dipenuhi kemarahan.
Arumi terdiam. Ia tidak terlalu ingat dengan apa yang dilakukan atau dikatakannya semalam. Ia bingung dan tidak tahu apa yang harus ia sesali.
"Renungkan semua kesalahanmu, Arum!" Sentak Keanu lagi. Ia lalu beranjak menuju pintu. Akan tetapi, sebelum ia benar-benar keluar ia kembali menoleh kepada Arumi. "Aku pikir kamu sudah cukup dewasa untuk dapat mengetahui apa yang harus kamu lakukan agar dapat memperbaiki semua kekacauan ini!" Setelah itu, Keanu lalu keluar dan meninggalkan Arumi sendirian di dalam kamarnya.
Arumi duduk termenung. Ia mulai berpikir keras. Sesaat kemudian, ia memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Menjelang makan siang, Arumi menemui Puspa yang saat itu tengah bermain bersama kedua anaknya. Gadis itu duduk tidak jauh dari sang kakak ipar. Raut wajahnya masih dipenuhi oleh sejuta tanda tanya. Tidak ada cara lain bagi Arumi, selain bertanya kepada Puspa.
Puspa seakan sudah dapat menebak apa yang akan Arumi tanyakan kepada dirinya. Sebelum Arumi bertanya, ia sudah terlebih dahulu berbicara.
"Aku harap Keanu tidak memarahimu dengan berlebihan, Arum," ucap Puspa lembut sambil terus mengajak main si kecil Jenna. Sementara Dinan, tengah asyik menonton video kesukaannya.
"Ceritakan padaku, Kak! Aku tidak bisa mengingat semuanya," pinta Arumi pelan. Ia terlihat cemas saat itu. Entah kekonyolan apa yang telah ia lakukan malam itu hingga sang kakak bisa begitu murka kepadanya.
Puspa tersenyum hangat. Ia memegangi lengan Arumi dengan lembut. "Jika aku memiliki keberanian, maka aku juga pasti akan melakukan hal yang sama sepertimu, Arum. Aku bisa memahami seberapa besar rasa kecewamu terhadap Moedya. Aku juga merasa salah karena telah menyarankanmu agar kembali meraihnya dalam hidupmu," ujar Puspa.
"Sekonyol apa aku semalam?" Tanya Arumi dengan sangat penasaran.
Arumi hanya melongo dan merasa tidak percaya karena dirinya dapat berbuat senekat itu. Ia juga merasa menyesal atas semua perkataan kasarnya. Pantas saja jika Keanu marah besar kepadanya.
"Kakak, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Arumi terlihat cemas.
Puspa tersenyum lembut. "Kamu boleh mengabaikan Moedya dan Diana jika kamu merasa itu akan semakin menurunkan harga dirimu, tapi jangan abaikan ibu Ranum. Dia sudah kamu anggap sebagai pengganti ibu Ryanthi. Dia pasti terluka melihatmu seperti itu, Arum," saran Puspa dengan sikap keibuannya yang lembut.
"Setelah itu ... mungkin kamu juga harus menemui Edgar. Harus kukatakan padamu, Arum. Edgar terlihat sangat marah samalam. Kamu sudah membuatnya basah kuyup," terang Puspa.
"Oh God! Itu sangat memalukan. I didn't remember at all," Arumi terlihat sangat menyesal. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Keluhan demi keluhan terus meluncur dari bibir polosnya.
"Lalu ... apa ada hal lain yang lebih memalukan dari itu?" tanya Arumi lemas.
Puspa kembali tersenyum. Ia kemudian meraih ponselnya dari atas meja. Puspa pun memerlihatkan sebuah rekaman video kepada Arumi. "Hal itu yang membuat Keanu menjadi semakin marah. Istri dari seorang rekan Keanu yang mengirimkan rekaman itu padaku. Aku harap kamu kuat dalam menghadapi ini, Arum! Kamu terlihat sangat kacau dan hilang kendali," jelas Puspa.
Arumi terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia lalu menatap kepada Puspa. "Aku salah, Kak. Aku terlalu berharap dan akhirnya aku tidak dapat menerima kenyataan," lirih Arumi.
Puspa begitu terenyuh melihat keadaan adik iparnya. Ia tahu dan dapat merasakan apa yang Arumi rasakan saat ini. Keresahan hatinya dan semua beban yang menghimpit langkah hidupnya.
"Arum. Moedya sudah mengambil keputusan untuk hidupnya. Sudah saatnya pula kamu mengambil keputusan untuk hidupmu. Aku juga tidak mengira jika Moedya akan mengambil keputusan seperti itu, tapi apapun keputusan yang diambilnya ... itu adalah jalan yang telah dia pilih. Kamu tidak berhak untuk melakukan protes," ujar Puspa.
"Aku rasa ... mungkin semuanya sudah terlambat. Seharusnya kalian menyelesaikan semua masalah di antara kalian sejak tiga tahun yang lalu. Namun, kita tidak akan pernah dapat menebak takdir Tuhan. Mungkin saja, Dia telah memiliki rencana yang lain untukmu, Arum. Sesuatu yang jauh lebih indah dari semua hal yang menjadi harapanmu selama ini."
"Entahlah, Kak. Aku sama sekali belum memikirkan sesuatu yang terlalu jauh. Aku sudah banyak melakukan kesalahan," sesal Arumi dengan lirihnya.
Puspa kembali menggenggam jemari adik iparnya dengan hangat. Sebagai sesama wanita, ia harus memberikan dukungan penuh kepada Arumi.
"Tidak ada seorang pun yang tidak melakukan kesalahan, Arum. Semua orang hidup dengan membawa masa lalu mereka yang tidak akan mungkin dilepaskan. Seperti halnya aku. Aku merasa jika hidupku adalah sebuah kesalahan yang tidak patut untuk disyukuri. Akan tetapi, tiba-tiba Tuhan mempertemukan aku dengan Keanu. Aku tidak pernah menyangka jika seorang pria dari keluarga terhormat seperti dia, bersedia menerima wanita sepertiku."
"Dia selalu mengatakan jika semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jika Tuhan saja dapat menerima taubat seorang manusia, maka kenapa kita tidak bersedia menerima sebuah niat tulus dari seseorang yang tengah berjuang untuk menjadi lebih baik. Kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaanmu, Arum. Maka ... cari dan kejarlah! Jangan sampai kamu kehilangan kesempatan lagi seperti semua yang terjadi antara dirimu dan Moedya."
Sungguh menenangkan ketika Arumi mendengar semua petuah dari Puspa. Tidak ada hal lain yang ingin Arumi lakukan saat itu, selain memeluk kakak iparnya dengan erat.
"Kakak-ku yang beruntung karena mendapatkan anugerah seorang istri sepertimu, Kak," lirih Arumi seraya terus memeluk Puspa.