
“Makan saja Cassoulet buatan bibi Carmen, lagi pula makanan yang kubuat sudah dingin,” ucap Arumi dengan sedikit sesal di wajahnya. Ia bermaksud untuk keluar dari dalam dapur.
Akan tetapi, dengan segera Edgar mencegahnya. Pria itu memegangi pergelangan tangan Arumi dan mengisyaratkan agar sang istri tetap di sana.
Edgar kemudian mengalihkan tatapannya kepada Carmen. Wanita itu masih berdiri dan mematung tanpa berkata apa-apa. Ia hanya memerhatikan sepasang suami istri yang baru menikah.
Terdengar helaan napas berat yang Edgar embuskan saat itu. Pria dengan turtleneck hitam itu tampak tidak terlalu nyaman dengan suasana canggung dari kedua wanita itu. Ia pun harus segera menyelesaikan kesalahpahaman di antara keduanya.
“Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba ada pikiran buruk yang Bibi tujukan untuk istriku. Jika memang ada sesuatu yang memang kurang berkenan bagi Bibi, aku rasa inilah saatnya untuk mengungkapkannya. Aku tidak ingin hal kecil ini menjadi semakin berlarut-larut dan menimbulkan keadaan yang tidak nyaman di rumah ini. Semoga Bibi dan ... kamu Sayang, aku harap kalian berdua dapat bersikap dengan jauh dewasa!” Edgar melayangkan tatapannya kepada Carmen dan Arumi ssecara bergantian.
“Aku tidak punya masalah dengan bibi Carmen. Kamu sudah mengetahui hal itu, Sayang,” sanggah Arumi. Ia membela dirinya.
Edgar lalu mengalihkan tatapannya kepada Carmen. Wanita itu masih saja terdiam seribu bahasa. Ia seperti kebingungan untuk bicara apa.
“Apa yang ingin Bibi sampaikan?” tanya Edgar. Ia ingin segera menyelesaikan masalah itu.
Carmen masih terlihat kebingungan. Sesaat kemudian, akhirnya ia bicara. “Maafkan aku, Ed. Aku juga tidak memiliki masalah apapun dengan Arumi. Aku hanya merasa khawatir,” kilahnya.
Arumi menatap wanita itu dengan tatapan yang semakin tajam. Sementara Edgar terlihat memicingkan matanya. “Apa yang Bibi khawatirkan dari Arumi?” selidik Edgar. Raut wajahnya mulai terlihat serius.
Carmen menatap Edgar dengan mata keibuannya. Meskipun ia tidak pernah melahirkan dan memiliki anak secara biologis, tapi naluri itu tetap ada pada dirinya. Rasa kasih dan kelembutan yang ia tunjukan untuk Edgar, memang terasa begitu istimewa meskipun sedikit berlebihan.
“Ed, aku hanya merasa khawatir apakah selama ini Arumi benar-benar mencintaimu atau tidak,” ungkap Carmen. Tatapannya kini tertuju kepada Arumi yang saat itu menatapnya dengan jauh lebih tajam.
“Apa maksud Bibi?” tanya Arumi dengan nada protes. Jelas ia tidak suka dengan ucapan wanita berambut sebahu itu. Sementara Edgar hanya menggelengkan kepalanya. Ia kembali memberi isyarat kepada Arumi, dengan cara menyentuh dan memegangi ujung jemari sang istri. Arumi menjadi terdiam.
“Aku dan Arum sudah menikah, Bibi. Bagaimana Bibi masih punya pikiran seperti itu?” Edgar tidak memahami jalan pikiran Carmen.
Carmen kemudian mengalihkan tatapannya kepada Edgar, putra asuh kesayangannya. Wajahnya penuh haru dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia sepertinya tengah menahan rasa sedih dalam dirinya. “Ed, aku tahu jika sekarang kalian sudah menikah. Aku hanya takut jika Arum menjadikanmu sebagai pelarian saja. Masih terbayang dalam benakku ketika melihatmu begitu terpuruk. Kau terus berharap dan mengejar Arumi yang selalu menolakmu tanpa perasaan. Hatiku sakit melihat hal itu, dan sampai sekarang ... aku masih mengingat hal itu. Setiap kali kulihat wajah cantik Arumi, maka aku pasti teringat dengan segala kesedihanmu, Ed!” terang Carmen berapi-api.
Arumi menatap wanita itu untuk sejenak. Setelah itu, ia mengalihkan tatapannya kepada Edgar. Arumi seakan meminta bantuan kepada pria itu. Edgar memberikan isyarat dengan matanya.
“Bibi, aku dan Arumi sudah menyelesaikan hal itu. Aku yang terlalu memaksakan diriku untuk kembali kepada Arumi, sedangkan dia sudah menjalin hubungan dengan pria lain. Seharusnya saat itu aku tidak terus- menerus mendekatinya,” jelas Edgar.
“Jangan salahkan Arumi untuk hal itu. Jika saat ini Arumi kembali padaku, maka itu semua terjadi karena Arumi sudah kembali menyadari perasaannya terhadapku. Aku tidak ingin mengingat betapa sulitnya bagiku meyakinkan Arumi. Biarkan saja itu menjadi cerita masa lalu. karena untuk saat ini aku hanya memiliki satu harapan, yaitu menghabiskan sisa waktu yang kami miliki bersama-sama. Semoga Arumi juga memiliki harapan yang sama denganku,” Edgar mengakhiri kata-katanya. Setelah itu, Edgar kemudian berlalu dari sana. Ia meninggalkan kedua wanita yang kini hanya saling pandang.
Arumi mendekat. Ia berdiri tepat di hadapan Carmen yang masih menatapnya dengan lekat. ”Seperti apa perasaanku terhadap Edgar, itu sesuatu yang tidak harus selau aku pamerkan kepada siapapun. Aku tidak membutuhkan sanjungan dari orang lain tentang seberapa tulusnya cintaku terhadap suamiku, karena aku yakin jika Edgar dapat merasakan hal itu dengan baik tanpa harus aku ungkapkan. Aku tidak yakin Bibi dapat memahami hal itu, karena Bibi tidak pernah memiliki perasaan seperti itu kepada pria manapun!” tegas Arumi.
Sedangkan Edgar yang saat itu berdiri di balik dinding pembatas dapur, ia hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Arumi. Wanita itu memang selalu bicara apa adanya. Namun, ia berharap semoga Carmen dapat memahami sesuatu yang selama ini belum terlalu jelas baginya.
Selesai berkata seperti itu kepada Carmen, Arumi memutuskan untuk keluar dari dapur. Ia melirik sang suami yang tengah berdiri sambil bersandar pada dinding, dengan kedua tangan yang tersembunyi di dalam saku celananya. Arumi tersenyum kepada pria itu. Edgar pun membalasnya dengan hal yang sama.
Lain halnya dengan Carmen. Ia tampak begitu rapuh saat itu. Kata-kata Arumi telah begitu menusuk hatinya. Wanita paruh baya itu, meneteskan air matanya dengan pilu.
Dalam benaknya, terbayang seorang pria rupawan dengan penampilanya yang begitu rapi dan berkelas. Sosok pria yang telah mencuri hatinya dan menawannya hingga saat ini. Pria yang telah membuat dirinya menutup pintu hati dengan begitu rapat, untuk setiap cinta yang datang ke dalam hidupnya. Pria yang tiada lain adalah Joacquin Guzman, ayah angkat Edgar.
Ya, saat itu Carmen melihat sosok Joacquin yang begitu tampan dan dermawan. Pria itu terlihat sangat memesona dan membuat Carmen langsung jatuh cinta terhadapnya. Di hari pertama ia bekerja di kediaman Joacquin, itulah hari di mana ia mulai merasakan sebuah perasaan yang spesial terhadap lawan jenisnya.
Akan tetapi, sayang sekali karena Joaqcuin saat itu telah menikah. Meskipun istrinya tidak dapat memberinya keturunan, tetapi Joacquin tetap setia mendampingi sang istri. Joacquin bahkan memilih untuk tetap menduda hingga akhir hayatnya.
Sementara itu, Carmen masih menunggu. Namun, ia tidak berani untuk menunjukkan perasaanya. Karena itu, ia begitu menyayangi Edgar, sebab Edgar merupakan amanat dari Joacquin, pria yang telah membuatnya hidup tanpa cinta dari pria manapun.
Bagi Carmen, dengan mencintai dan menyayangi Edgar saja, sudah membuatnya merasa jika cintanya kepada Joacquin telah tersampaikan dengan sepenuhnya, meski secara tidak langsung.