Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Senyuman yang Dirindukan


"Kenapa kalian tidak kembali saja dan melanjutkan hubungan kalian yang terputus? Setahuku, Moedya juga hingga saat ini masih sendiri," ucap Puspa. Sesekali ia menoleh kepada Dinan yang tengah bermain di atas tempat tidur dan memastikan anak itu tidak berulah yang macam-macam.


Mentari seakan bersinar dengan begitu hangat dan seketika menyibakan kabut pekat di dalam hati Arumi. Rasanya ia ingin bersorak dengan riang ketika mendengar hal itu.


Moedya masih sendiri? Batinnya dipenuhi dengan sejuta harapan indah.


"Keanu terkadang bercerita kepadaku. Hubungannya dengan Moedya masih terjalin dengan sangat baik. Aku senang melihat persahabatan di antara mereka berdua," tutur Puspa lagi. Pandangannya kini tertuju kepada box bayi tempat di mana Jenna tertidur pulas.


"Kemarin kami hanya bertegur sapa, tidak ada perbincangan yang terlalu serius," ucap Arumi pelan.


Puspa tersenyum kecil. Ia kemudian, menyentuh pundak Arumi dengan lembut. "Aku tahu jika kamu masih sangat mencintainya, Arum," ujar wanita bertubuh mungil itu. Senyum manis tak jua pudar dari wajah cantiknya.


Arumi menatap kakak iparnya. Ia merasa senang karena Puspa begitu perhatian kepada dirinya. Setidaknya saat ini ia tidak terlalu merasa sendirian. Ia merasa beruntung karena memiliki seorang kakak ipar seperti Puspa, terlepas dari semua masa lalu kelam wanita itu.


"Aku akan selalu mencintai Moedya, Kak. Namun, aku tidak tahu apakah aku harus berusaha untuk kembali padanya atau tidak, meskipun pada kenyataannya ... terkadang aku sangat menginginkan hal itu," ungkap Arumi pelan. Ada setitik keraguan dalam sorot matanya.


"Kenapa, Arum? Jika memang kamu sangat mengharapkan hal itu, aku rasa kamu bisa membawanya kembali dengan sangat mudah," ujar Puspa. Ia memberikan suntikan semangat positif untuk adik iparnya. Ia tahu jika Arumi sangat membutuhkan dukungan agar dapat kembali bangkit dan move on dari luka masa lalunya.


Arumi terdiam untuk sejenak. Ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Terkadang ia ingin sekali kembali mengulang masa-masa indahnya yang dulu ia jalani bersama Moedya. Akan tetapi, selalu ada satu bisikan yang melarangnya. Bisikan yang selalu menyuruhnya untuk tetap bertahan dan mengabaikan segala kenangan indah yang telah berlalu.


"Jika Moedya merasa sangat kecewa kepadaku, maka aku juga merasakan hal yang sama kepada dirinya," sahut Arumi dengan penuh rasa sesal.


"Dia memiliki cinta yang besar untukku, namun rasa percaya yang sangat kecil. Dia lebih menyakini apa yang dia lihat dan menganggap semua yang ia fikirkan adalah kebenaran. Aku tidak menyukai hal itu," tutur Arumi.


Puspa menatap lekat adik iparnya. Ia memang tidak pernah berada di dalam posisi seperti Arumi saat ini. Akan tetapi, ia dapat membayangkan seperti apa rasanya ketika seseorang yang sangat kita cintai, lebih memilih untuk takluk pada prasangka yang salah.


Puspa memang tidak mengetahui dengan jelas permasalahan yang terjadi antara Arumi dan Moedya. Ia hanya tahu jika mereka telah berpisah, karena sebuah insiden yang membuat Moedya begitu murka kepada gadis dengan lesung pipi itu.


"Aku sedih melihatmu seperti ini, Arum. Aku ingin melihat Arumi yang dulu, yang selalu tertawa ceria. Setelah itu, aku berharap kamu bisa kembali ke rumah ini," ujar Puspa.


"Oh ... Tuhan! Kamu tidak tahu betapa kerepotannya aku mengurus Dinan. Anak itu sungguh luar biasa dengan segala tingkah polahnya," keluh Puspa seraya menoleh kembali kepada bocah yang masih asik menonton video kesukaannya di atas tempat tidur.


"Dinan anak yang pintar. Ia cepat mengerti," balas Arumi seraya tersenyum dan ikut menatap bocah berambut kecoklatan itu.


Perbincangan di antara keduanya pun terjeda untuk sejenak, karena saat itu Keanu sudah pulang dan masuk ke kamar itu. Dengan jas yang yang ia tenteng di tangannya, pria itu terlihat sedikit lusuh. Bisa dibayangkan jika ia sedang mengalami rasa lelah saat itu.


Puspa segera beranjak dari duduknya dan menyambut kedatangan Keanu di dalam kamar itu. Begitu juga dengan Arumi. Ia ikut menghampiri sang kakak.


"Arum? Sejak kapan kamu di sini?" Sapa Keanu yang segera menyambut pelukan hangat dari sang adik.


"Sekitar ... beberapa saat yang lalu," sebuah jawaban yang tidak pasti dari Arumi.


"Pasti kalian sudah menghabiskan banyak judul dalam acara ghibah ini, kan?" Tukas Keanu dengan tenangnya.


"Mau kusiapkan air untuk mandi sekarang?" Tawar Puspa dengan mesranya, membuat Arumi merasa tidak nyaman berada di sana.


"Apa sebaiknya aku permisi saja?" Sela gadis itu dengan polosnya.


Puspa dan Keanu menoleh secara bersamaan. Mereka berdua pun sama-sama tertawa pelan. Setelah itu, Keanu kembali mengalihkan tatapannya kepada Puspa.


"Aku akan mandi dulu, tapi kamu temani saja Arum. Aku senang karena anak hilang itu akhirnya ingat pulang," ledek Keanu dengan sikap tak acuhnya.


"Kakak!" Protes Arumi dengan keras. Akan tetapi, Keanu tidak mempedulikannya. Setelah menyapa Dinan, ia lalu beranjak ke kamar mandi.


"Hey, Arum! Kamu harus makan malam di sini!" Titah Keanu sebelum ia benar-benar masuk ke kamar mandi.


Arumi hanya mendelik manja kepada sang kakak. Ia masih ingin protes karena Keanu telah menyebutnya sebagai anak hilang. Sesaat kemudian, gadis itu pun tersenyum sendiri.


"Aku akan ke kamarku dulu," ucap Arumi seraya beranjak menuju pintu.


"Kamu akan makan malam di sini, kan Arum?" Tanya Puspa. Ia ingin meyakinkan jawaban dari Arumi.


Arumi membuka pintu berwarna coklat tua itu dan mengangguk pelan. Setelah itu, ia kemudian berlalu dari sana dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai atas.


Dulu kamarnya dan kamar Keanu saling berdekatan. Akan tetapi semenjak Puspa mengandung anak pertama, Keanu memutuskan untuk pindah kamar ke lantai pertama.


Berjalan dengan tenang, Arumi meniti undakan anak tangga dengan bentuk melengkung itu satu persatu hingga akhirnya ia tiba di dalam kamarnya. Ruangan dengan nuansa jingga, seperti warna lembayung senja.


Kamar itu masih tampak bersih dan terawat dengan baik. Pelayan di rumah itu selalu membersihkan kamar Arumi, meskipun gadis itu sudah jarang menempatinya.


Perlahan Arumi melangkahkan kakinya menuju meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Diraihnya sebuah foto antara dirinya bersama anggota keluarga yang lain.


Adrian dan Ryanthi terlihat sangat serasi meski usia mereka tidak muda lagi. Keanu pun tampak gagah dengan wajah rupawannya. Sementara dirinya ... ia tersenyum dengan begitu manis. Senyum yang tulus dan tidak dibuat-buat. Senyum yang dirindukan bahkan oleh dirinya sendiri.


Arumi kembali meletakan foto itu. Pandangannya kini tertuju pada bingkai foto yang lain. Foto antara dirinya dengan Moedya.


Sesaat Arumi lupa, kapan tepatnya foto itu diambil? Gadis itu berfikir dan mencoba untuk mengingat-ingat. Pada akhirnya ia lalu tersenyum kecil dan meletakan kembali foto itu.


Menghela napas panjang, Arumi duduk di tepian tempat tidurnya. Tempat tidur yang besar dan jauh lebih nyaman jika dibandingkan dengan ranjang kecilnya yang ada di toko. Sepertinya malam ini ia akan tidur di dalam kamarnya.


Beberapa saat kemudian, terdengar nada dering pesan dari ponselnya. Arumi kemudian mengambil benda itu dari dalam tas kecilnya. Ia segera memeriksa pesan itu, karena sebenarnya ia memang sedang menunggu balasan dari salah seorang temannya.


Kembali menghela napas dalam-dalam, Arumi menatap layar ponselnya. Nomor tanpa nama itu kembali mengirimkan sebuah pesan kepadanya. Isinya masih sama, yaitu kata "hai".