
"Apa itu Arumi dan Edgar?" Tanya Diana yang juga melihat sepintas, dua orang yang baru saja melewati meja mereka. Moedya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresi wajahnya yang sulit untuk diartikan.
Seketika raut muka Diana berubah sendu. Ia sudah dapat menebak jika Moedya pasti kecewa melihat mereka berdua, dan pasti itu semua akan mempengaruhinya.
"Arum terlihat sangat serasi dengan Edgar. Edgar sangat tampan. Dia juga seorang pebisnis yang andal. Dia sahabat baik Adam, mantan kekasihku dulu. Aku mendengar banyak cerita tentang prestasi pria itu," ujar Diana. Entah apa maksudnya dengan menuji Edgar di depan Moedya.
"Aku tidak peduli," jawab Moedya dengan tak acuh. Ya, tentu saja. Untuk apa ia harus mengagumi pria yang sudah menjadi penyebab perpisahan antara dirinya dengan Arumi. Itu merupakan sesuatu yang seakan haram baginya.
Akan tetapi, lain bagi Diana. Gadis itu seakan begitu menikmati, ketika ia melihat kegusaran yang tengah Moedya tutupi darinya. "Arumi sangat cantik. Tidak heran jika banyak pria yang mengejarnya. Semasa SMA dulu, dia memiliki banyak pacar. Terkadang aku merasa iri kepadanya, kenapa dia selalu terlihat sempurna di depan para pria?" Diana mulai mengalihkan pandangannya ke arah lain, tidak lagi menatap pria di hadapannya. Tatap matanya menerawang dan menembus langit sore yang saat itu terlihat sangat bersahabat.
"Kenapa kamu iri kepada Arumi? Menurutku kamu juga sangat cantik," sanjung Moedya meski dengan nada bicara yang terdengar biasa saja. Lagi-lagi ia berpura-pura demi menutupi perasaan cemburunya terhadap Arumi.
Diana memang cantik. Gadis itu memiliki kulit putih yang sangat mulus, berbeda dengan sang ibu yang berkulit eksotis. Postur tubuhnya pun terbilang ideal meskipun ia tidak setinggi Arumi. Namun, untuk ukuran gadis Indonesia, Diana terbilang memiliki tinggi yang semampai.
"Aku sudah bicara lagi dengan ibuku kemarin, tentang hubungan kita," ucap Moedya dengan berat.
"Lalu?" Tanggap Diana.
"Ibuku dan ibumu adalah sahabat baik. Aku rasa ... dia tidak akan bertindak ...." Moedya tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya mengela napas panjang.
"Aku tidak ingin sesuatu yang dipaksakan!" Tolak Diana dengan tegas. Nada bicaranya tiba-tiba menjadi tidak bersahabat.
"Aku tidak merasa terpaksa," bantah Moedya. Ia berusaha terlihat meyakinkan di depan Diana.
"Kamu bohong!" Sanggah Diana masih dengan nada bicaranya yang tegas. Tatapan tajam pun ikut menghiasi amarahnya yang terpendam kepada Moedya.
Moedya kembali menggaruk keningnya. "Tunggu saja kabar dariku!" Ujarnya dengan nada bicara yang terdengar sangat yakin.
Sementara itu, Arumi dan Edgar sedang dalam perjalanan pulang. Selama di dalam perjalanan, gadis itu tidak bicara sama sekali. Edgar pun tidak ingin mengganggunya. Ia hanya fokus pada kemudi yang sedang dipegangnya.
Pikiran Edgar mulai menerawang pada kisah hidupnya sendiri. Perjalanan panjang yang telah dilaluinya hingga ia bertemu dengan Arumi, gadis yang mengubah dunianya dengan begitu drastis.
Semenjak berpacaran dengan Arumi, Edgar memang lebih membatasi dirinya dari kehidupan malam, meskipun terkadang ia masih mendatangi night club langganannya, hanya untuk sekadar minum beberapa gelas. Namun, ia sudah tidak tertarik dengan godaan gadis-gadis berambut pirang yang datang kepadanya.
Ya, Edgar telah jatuh cinta. Benar-benar jatuh cinta kepada Arumi, bahkan hingga waktu berlalu dan memisahkannya dari gadis itu, kenyataannya perasaan yang ia persembahkan untuk Arumi tidak pernah berubah sedikitpun.
Sakit, itu sudah pasti. Siapa yang tidak terluka dengan penolakan? Apa lagi jika itu berhubungan dengan hati dan perasaan. Seorang pria pun pasti masih tetap merasakan sebuah keterpurukan.
Selama ini, Edgar selalu bersembunyi dalam senyum kalem dan sikap tenangnya. Ia tidak pernah menunjukan kegundahannya kepada siapa pun juga, termasuk kepada Arumi.
Malam itu, seperti biasa. Beberapa jam sebelum tidur, Edgar terbiasa melakukan olahraga. Kegiatan yang ia lakukan hanya untuk sekadar mencari keringat. Edgar akan kesulitan tidur jika ia tidak benar-bebar merasa lelah, karena itu ada seorang dokter yang menyarankannya untuk melakukan olahraga ringan saja di malam hari, sekitar dua atau tiga jam sebelum jam tidurnya.
Edgar terbiasa menghabiskan waktu beberapa menit di tempat gym pribadi, di dalam apartemen mewahnya. Ia memang selalu menyempatkan dirinya untuk melakukan fitness. Edgar juga menyukai olahraga yang menantang seperti panjat tebing. Ia bahkan rela berkeliling ke setiap tempat hanya untuk hobinya itu. Selain itu, Edgar juga kerap menghabiskan waktu liburan di peternakan milik sepupunya dengan berkuda.
Sebenarnya, Edgar merupakan pria dengan sejuta aktivitas. Itu semua ia lakukan untuk mengisi rasa sepi yang menghiasi hari-harinya selama ini.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Edgar pun sudah membersihkan dirinya. Ia sudah bersiap dengan hanya memakai celana tidur, tanpa memakai atasan tentunya. Banyak sekali kebiasaan Edgar yang meresahkan kaum hawa. Namun, entah kenapa karena semua itu, tidak membuat Arumi menjadi terkesan sama sekali.
Duduk bersandar pada headboard tempat tidurnya, Edgar tampak termenung. Sesaat kemudian, ia lalu meraih ponselnya dan mengecek beberapa email yang masuk. Ia harus selalu memantau bisnisnya di Perancis.
Edgar kini sedang membangun bisnis dalam bidang perhotelan, di samping perusahaan asuransi yang telah digelutinya sejak lama. Hubungan baiknya dengan Keanu, membuatnya berani menawarkan kerja sama, terlebih perusahaan Keanu juga bergerak dalam bidang penerbangan.
Edgar saat ini tengah membangun perusahaan asuransi miliknya di Indonesia, karena itu ia akan tinggal cukup lama di negara ini, hingga semua urusannya selesai.
Sesaat kemudian, pria dengan postur tegap itu membuka salah satu sosial media miliknya. Ada beberapa video yang sempat ia unggah. Video kebersamaannya dengan Arumi ketika masih di Perancis, beberapa tahun silam.
Arumi gadis yang sangat ceria. Terkadang ia bisa bersikap sangat manja, tapi tak jarang ia bisa menjadi sangat galak. Satu hal yang pasti, hidup Edgar terasa begitu berwarna berada di dekat gadis itu.
Kesalahannya karena tidak mampu menahan diri, telah membuat Arumi pergi dari dirinya. Pertemuannya secara tidak sengaja dengan Pamela, telah menimbulkan bencana yang disesalinya hingga kini.
Sulit sekali bagi Edgar untuk membawa kembali Arumi dalam hidupnya. Terlebih saat ini, Arumi seakan begitu terikat kepada Moedya.
Malam semakin larut. Edgar mulai mengantuk, tetapi ia masih saja terduduk sambil bersandar. Pria itu kini mulai memejamkan matanya.