
Setelah sekian lama berkutat dengan lubang kunci, akhirnya Arumi berhasil membuka pintu kamar itu. Gadis itupun bersorak kegirangan. Dengan segera ia menuju pintu keluar, tapi sayangnya rumah itu rupanya dilengkapi dengan pintu keluar otomatis.
Tidak ingin membuang waktu, Arumi berlari ke seluruh bagian rumah itu. Ia memasuki setiap ruangan yang ada di sana, hingga akhirnya ia memasuki sebuah kamar yang ia yakini sebagai kamar pribadi milik Ben.
Lagi-lagi, di sana Arumi melihat ada fotonya yang terpajang meski tidak sebanyak di dalam kamar tadi. Arumi kemudian membuka setiap laci dan apa saja yang ada di sana. Ia berharap menemukan sesuatu, dan akhirnya ia bisa tersenyum lebar. Arumi menemukan sebuah charger di sana.
Segera disambungkannya charger itu ke ponselnya yang mati. Dengan harap-harap cemas, ia menunggu hingga baterainya sedikit terisi. Sesekali Arumi melihat ke arah pintu, karena ia takut jika Ben tiba-tiba datang tanpa sepengetahuannya.
Setelah dirasa cukup, Arumi segera menyalakan ponselnya. Ia langsung menghubungi Edgar yang saat itu tengah dalam perjalanan menuju kantor polisi, untuk menyerahkan barang bukti rekaman kejadian di kantornya tadi.
Melihat nama Arumi tertera di layar ponsel, Edgar segera menepi dan menghentikan laju mobilnya. “Arum, Sayang!” Edgar tak kuasa menahan perasaannya.
“Ed ....” Arumi terdengar sangat gugup dan seakan tidak mampu berkata apa-apa.
“Arum, kamu di mana? Aku akan segera menjemputmu!” ucap Edgar dengan sangat antusias.
“Aku tidak tahu, Ed. Cobalah untuk melacak ponselku dan segera bawa aku pulang! Aku takut di sini, Ed!” resah Arumi. Ia hampir menangis.
“Arum, tenangkan dirimu! Aku pastikan akan segera menemukan lokasimu. Buat dirimu seaman dan senyaman mungkin! Kamu gadis yang pintar dan juga kuat. Tunggu aku di sana, jangan ke mana-mana! Aku akan segera menemukanmu!” ucap Edgar dengan yakin. “Tetap nyalakan ponselmu, Arum!” pesannya lagi.
Setelah selesai dengan Arumi. Edgar kemudian segera menghubungi Keanu, yang kebetulan saat itu sudah berada di kantor polisi. Ia berada di sana karena Edgar yang menyuruhnya untuk datang.
Setelah mendapat berita dari Edgar. Keanu bergerak cepat. Ia meminta bantuan beberapa orang polisi untuk melacak koordinat yang dikirimkan oleh Edgar. Sementara Edgar juga segera meluncur ke tempat di mana terdapat sinyal dari ponsel Arumi.
Edgar terus memacu mobilnya dan menyusuri jalanan. Ia mengikuti peta yang ditunjukan di layar ponselnya.
Beberapa saat lamanya Arumi menunggu. Meskipun gadis itu kerap melawan dan terlihat berani, tapi Arumi tetaplah merasa takut. Ia hanya mencoba untuk terlihat tegas, agar tidak merasa terintimidasi.
Perasaan Arumi kembali cemas ketika terdengar ada suara-suara aneh dari arah luar. Segera ditutupnya rapat-rapat pintu kamar itu. Ia bahkan menguncinya dari dalam. Jantungnya mukai berdetak dengan tidak beraturan. Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada pintu dan berharap jika itu bukanlah Ben ataupun anak buahnya.
“Arum! Arumi!” terdengar suara seorang pria yang berteriak memanggil namanya dengan sangat lantang. Suara itu adalah suara yang sudah sangat akrab di telinganya. Arumi segera membuka kunci pintu itu. Sebelum berlari ke luar, tidak lupa ia mengambil ponselnya terlebih dahulu.
“Kakak!” seru Arumi dari lantai atas rumah itu.
Keanu yang saat itu tengah berada di lantai bawah, segera mendongak. Arumi bergegas menuruni anak tangga dan menghambur ke dalam pelukan Keanu, tangisnya pun pecah di sana.
“Arum ....” Keanu memeluk sang adik tercinta dengan penuh haru. Arumi pun tak kuasa untuk menyembunyikan rasa sedih, haru, dan bahagianya saat itu.
“Kamu tidak apa-apa, kan?” Keanu merenggangkan pelukannya dan mengamati sang adik dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Aku baik-baik saja, Kak," jawab Arumi dengan perasaan yang bercampur aduk.
Satu hal yang membuat Arumi merasa kian terharu ialah ketika ia melihat seseorang yang baru saja masuk ke sana. Pria bertubuh tegap memakai kemeja putih dengan beberapa bercak darah di bagian depannya. Pria yang kini tersenyum lebar dan menunggunya untuk segera mendekat. Tanpa banyak bicara lagi, Arumi segera berlari ke arah pria itu dan memeluknya dengan erat.
Singkat cerita, mereka bertiga sudah pulang ke kediaman milik Edgar. Untuk urusan yang lainnya, Edgar menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian, yang mengabarkan telah menangkap Damian Petit beserta seluruh anak buahnya. Mereka juga telah membebaskan Henry dari sekapan para penjahat itu.
“Kamu gadis yang hebat, Arum,” puji Edgar ketika mereka duduk berdua di sofa dekat kolam renang. Ia tak henti-hentinya mengecup pucuk kepala Arumi yang saat itu tengah bergelayut manja di dalam pelukannya.
“Sudah kubilang jika aku pernah masuk kelas taekwondo saat SMA. Aku menendang dua orang dari mereka dengan sangat keras, dan itu rasanya sangat luar biasa,” ujar Arumi seraya tersenyum geli. Ia tidak menyangka jika dirinya kini sudah berada di rumah lagi, dalam pelukan Edgar.
Arumi kemudian mendongakan wajahnya. Ditatapnya wajah tampan sang kekasih yang masih terlihat lebam, bahkan ada sedikit luka robek di sudut bibirnya. Arumi kemudian menyentuh luka itu dengan perlahan, membuat Edgar segera menoleh kepadanya.
“Apa ini sakit?” tanya Arumi pelan.
“Tidak sesakit saat aku memikirkan keadaanmu kemarin-kemarin,” jawab Edgar pelan.
“Kamu pria yang luar biasa, Ed. Kamu telah membuatku sangat terkesan,” ucap Arumi seraya menegakan posisi duduknya. Ditatapnya Edgar dengan penuh cinta. Sepasang matanya mulai berkaca-kaca.
Edgar balas menatap Arumi. Rasa bahagia itu terlalu besar hingga ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Edgar bahkan terlihat sedikit kebingungan. Ia tidak tahu harus berkata apa.
“Boleh kukatakan sesuatu, Ed?” tanya Arumi.
“Tentu,” jawab Edgar.
“Kemarin-kemarin, aku jauh lebih sering memikirkanmu. Aku teringat pada setiap hal yang telah kita lalui bersama. Ya, meskipun tidak terlalu banyak, tapi ... aku sangat merindukan hal itu. Aku rindu pelukanmu, ciumanmu ... aku rindu dirimu, aku sangat merindukanmu,” Arumi tak kuasa menahan tangisnya.
Sementara Edgar tidak berkata apa-apa. Pria itu segera meraih tubuh Arumi dan kembali memeluknya dengan erat. “Aku jauh lebih merindukanmu, Arum! Aku tidak ingin kehilanganmu lagi,” bisik Edgar dengan lembut.
“Menikahlah denganku, Ed! Aku bersedia menjadi istrimu. Kamu tidak perlu bertanya lagi padaku,” ucap Arumi membuat Edgar seketika tersenyum lebar. Ia pun merenggangkan pelukannya.
“Sungguh, Arum? Kamu yakin? Benarkah? Iyakah?” Edgar terlihat begitu bahagia.
Arumi menjawab semua pertanyaan Edgar, dengan sebuah senyum lebar yang diiringi anggukan penuh keyakinan.
Tanpa diduga, Edgar segera membopong tubuh Arumi dan melemparkannya ke dalam kolam, membuat gadis itu berteriak histeris. Arumi menjadi semakin histeris ketika Edgar ikut melompat ke dalam kolam, dan kembali meraih tubuhnya. “Aku sudah memenuhi janjiku, Arum,” ucap Edgar tanpa melepaskan pelukannya.
“Janji apa?”
“Aku berjanji akan melemparkanmu ke dalam kolam, ketika kamu bersedia menjadi istriku,” jawab Edgar dengan tawa geli.
Arumi melotot tajam. Akan tetapi itu tidak berselang lama, karena beberapa saat kemudian ia harus memejamkan matanya ketika Edgar mulai menyentuh bibirnya yang basah dengan lembut.
Sebuah ciuman hangat di malam gelap dan basah. Ya, mereka berdua tampak basah saat itu, tapi itu tidak masalah. Mereka bahkan tidak memedulikan cuaca yang yang terasa dingin, karena akan segera beralih ke musim gugur. Musim kesukaan Arumi, karena pada musim itulah ia mengawali perkenalannya dengan Edgar, dan musim gugur berikutnya ia menerima tawaran cinta dari pria tampan itu.
Ini merupakan sebuah kebetulan yang tidak terduga. Pada musim gugur ini, Arumi menerima lamaran Edgar setelah segala hal yang mereka lewati selama ini.
“Aku menyukai musim gugur, dan ini akan menjadi musim gugur yang sangat luar biasa bagiku dan juga Edgar. Kami akan memulai semuanya, memulai sebuah kisah yang baru dan jauh lebih indah. Kami akan menggantikan waktu yang terlewat dengan sia-sia."