
Moedya menghentikan sepeda motornya di halaman rumah Arumi. Ia seperti datang ke rumahnya sendiri saat itu. Moedya berdiri di depan pintu dan mengetuknya dengan cukup nyaring.
Nining datang dan membukakan pintu untuknya. Pria itu segera masuk dengan langkah gagah dan penuh percaya diri. “Di mana Keanu?” tanya Moedya.
“Tuan besar sedang di taman, sedang menemani tuan muda bemain,” jawab Nining sopan.
Tanpa berbasa-basi lagi, Moedya segera menuju ke taman samping rumah itu. Sebelum sempat menemui Keanu, Moedya harus menghentikan langkahnya terlebih dahulu. Ia tertegun di pinggir kolam renang, karena melihat Arumi yang sedang asyik membaca di kursi santai dengan bikini two piece-nya. Moedya terus memerhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Arumi masih asyik membaca. Sesekali ia mengubah posisi kakinya yang menjulur lurus. Ia tidak tahu jika ada sepasang mata yang tengah menikmati keindahan dirinya dengan diam-diam. Arumi baru menyadari keberadaan Moedya di sana, setelah Dinan meneriakan nama pria itu.
“Uncle Moe!” seru Dinan dengan nyaring.
Arumi tersentak. Ia segera meletakan buku yang sedang dibacanya. Dilihatnya Moedya yang tengah berdiri sambil memerhatikannya. Pria itu juga tersenyum kepadanya. Sementara Arumi seketika melotot tajam kepada Moedya.
Dengan segera Arumi meraih handuk dan melilitkan handuk itu di pinggangnya. Ia lalu berdiri dan berniat untuk pergi dari sana.
Arumi melewati Moedya dengan begitu saja. Gadis itu memerlihatkan ekspresi yang tidak bersahabat kepadanya. Arumi merasa jika ia tidak harus bersikap manis ataupun ramah kepada mantan tunangannya itu.
“Apa kabar, Arum,” sapa Moedya ketika Arumi melintas di dekatnya.
“Tidak sebaik tadi,” jawab Arumi singkat dan ketus. Ia juga tidak menoleh sama sekali kepada Moedya. Arumi berlalu begitu saja tanpa peduli. Ia segera masuk dan menghilang dari pendangan pria itu.
Moedya masih tertegun di dekat kolam renang. Pikirannya mulai menerawang ke mana-mana. Ia seakan lupa pada niatnya datang ke rumah itu, yaitu untuk bertemu dengan Keanu.
Arumi terlihat jauh lebih cantik menurutnya. Tubuhnya tampak lebih berisi, dan tentu saja jauh lebih seksi jika dibandingkan dengan Arumi beberapa tahun yang lalu.
Berkali-kali Moedya mengela napas dalam-dalam. Akan tetapi, lamunan nakalnya tentang Arumi harus segera ia sudahi, karena Keanu datang menghampirinya.
“Hi, Uncle,” sapa Dinan sambil memberikan salam khas-nya kepada Moedya. Anak itu memang sudah akrab dengan Moedya. Ia bahkan jauh lebih dekat kepada pria itu, dari pada kepada Edgar.
“Hai, Dinan. Bagaimana latihan sepak bolanya?” tanya Moedya seraya menurunkan tubuhnya di sebelah bocah itu.
“Sudah, Uncle. But, my dad is really bad! Dia selalu kalah,” ledek Dinan. Ia tampak bangga pada dirinya.
Moedya melirik Keanu seraya tertawa pelan. “Ya, ayahmu memang payah,” timpalnya membuat Keanu terkekeh.
“Sudah sana masuk! Jangan lupa cuci kaki dan tanganmu!” seru Keanu pada putra sulungnya yang telah berlari masuk rumah.
“Ayo, kita ke ruang kerjaku saja!” ajak Keanu seraya menepuk pundak Moedya dan mengajaknya masuk. Mereka berdua berbincang akrab sambil terus melangkah menuju ruang kerja Keanu.
Entah apa yang terjadi. Lagi-lagi Moedya dan Arumi harus berpapasan kembali. Kali ini, Arumi sama sekali tidak melihat ke arah Moedya. Ia langsung mengarahkan pandangannya kepada Keanu. Setelah menyapa sang kakak, Arumi berlalu begitu saja menuju dapur. Gadis itu berkali-kali mengeluh kesal. Arumi bahkan meneguk habis air putih di dalam gelasnya.
Pada saat itu, Puspa datang ke sana. Tampaknya ia akan menyiapkan makan malam. Senyuman wanita bertubuh mungil itu terlihat sangat aneh bagi Arumi. Puspa awalnya tidak banyak bicara. Ia langsung menyiapkan bahan masakan.
“Biar kubantu, Kak,” ujar Arumi seraya membantu Puspa mencuci bersih bahan-bahan makanan yang akan di masak oleh kakak iparnya.
“Oh iya, Arum. Setelah menikah nanti, kamu akan tinggal di mana?” Puspa mulai berbasa-basi. “Apa kamu sudah pasti akan pindah ke Paris?”.
Puspa tersenyum dengan sedikit kerlingan nakal di matanya. Ibu dua anak itu kini mulai memotong sayuran yang telah Arumi cuci bersih. “Keanu mengatakan jika Moedya akan makan malam di sini,” ucapnya membuat Arumi seketika membelalakan matanya.
“Memangnya dia tidak punya rumah? Kenapa dia harus makan malam di sini?” protes Arumi dengan keras.
Puspa tertawa pelan. “Tanyakan itu pada kakakmu, Arum!” jawabnya.
Arumi mendengus kesal. Ia kembali merasa aneh. Di saat menjelang pernikahannya, entah kenapa dirinya menjadi lebih sering bertemu dengan Moedya. Itu sesuatu yang sangat menyebalkan. Jika Edgar sampai mengetahui hal itu, maka pria tampan itu pasti akan kembali menunjukkan sikap marahnya seperti kemarin malam.
“Entahlah, Arum. Terkadang aku merasa heran dengan seseorang seperti Moedya,” Puspa kembali berbicara seraya terus melanjutkan pekerjaannya.
“Kenapa memangnya,Kak?” tanya Arumi. “Ya, tentu saja. Dia memang pria yang sangat aneh,” timpal gadis itu. Ia kini membantu Puspa menyiapkan bahan-nahan yang lain.
“Moedya mungkin bukan tipe pria yang setia terhadap pasangannya, tetapi ia sangat menjungjung tinggi nilai persahabatan. Kamu lihat sendiri bagaimana hubungannya dengan Keanu. Mereka sudah seperti saudara. Hubungan persahabatan mereka tidak terganggu meskipun ada banyak masalah antara dirimu dan Moedya,” tutur Puspa. Sesekali ia melirik kepada Arumi yang baru saja menyalakan kompor. Gadis itu terdiam untuk sejenak.
“Ya, Kakak benar. Moedya memang seperti itu. Ia sangat mencintai club motor-nya. Melakukan apapun demi teman-temannya yang merupakan satu anggota di club itu, bahkan terkadang sampai menomorduakanku dan tidak jarang mengabaikanku. Aku tidak tahu bagaimana cara ia mempelakukan Diana saat ini. Aku harap jauh lebih baik dari sikapnya terhadapku dulu.”
“Sebagai sesama wanita, aku juga tidak akan merasa senang jika kaum-ku mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari pasangannya. Pastinya aku sangat bersyukur karena bisa menjadi istri Keanu. Dia pria yang terbaik,” sanjung Puspa seraya tersenyum manis saat membayangkan sang suami yang akan selalu menjadi pujaan hatinya.
“Setelah Edgar tentunya,” canda Arumi diselingi tawa.
“Hey!” protes Puspa dengan tawa yang cukup nyaring. Ia mengacungkan pisau yang dipegangnya kepada Arumi dan membuat gadis itu tertawa dengan semakin nyaring, karena merasa geli dengan sikap kakak iparnya.
Selang beberapa lama, semua masakan yang disiapkan Puspa dan Arumi telah tersaji di meja makan. Waktu makan malam pun telah tiba. Keanu bersama sahabat kentalnya muncul di ruangan itu. Mereka masih membawa obrolan hangat keduanya ke meja makan.
Entah akan ada kerja sama apa di antara keduanya, karena sejak tadi obrolan mereka berkisar seputar pekerjaan.
Arumi bersikap masa bodoh dengan kehadiran Moedya di sana. Ia segera duduk begitu Keanu sudah duduk di kursinya. Gadis itu tidak menoleh sama sekali kepada pria yang kini terlihat sangat berbeda dengan rambut pendeknya. Arumi juga berpura-pura tidak tahu, jika Moedya saat itu kerap mencuri-curi pandang kepada dirinya.
“Arum, apa semua persiapan pernikahanmu sudah rampung?” tanya Keanu di sela-sela obrolannya dengan Moedya.
Arumi menoleh kepada sang kakak dan tersenyum. “Sudah, Kak. Aku sangat bersemangat dalam menyiapkan segalanya,” jawab Arumi dengan sikapnya yang terlihat sangat berlebihan. Tampaknya. Arumi memang sengaja melakukan hal itu.
Puspa hanya mengulum senyumnya. Sementara Moedya tidak menanggapi hal itu sama sekali. Ia lebih memilih untuk kembali berbincang dengan Keanu.
"Kamu akan memiliki pesta pernikahan yang sangat sempurna, Arum," Puspa ikut bersuara.
Arumi melirik ke arahnya dan tersenyum. "Tentu saja, Kak. Ini adalah moment yang sangat penting untukku," jawab Arumi.