Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Mulai Terkenang


Guzman Insurance, adalah perusahaan asuransi yang telah dibangun oleh Joacquin Guzman semasa hidupnya. Di antara semua kerajaan bisnisnya yang lain, perusahaan ini adalah perusahaan yang telah berhasil membawa namanya ke dalam jajaran pengusaha teratas, selain dari perusahaan property yang ia miliki tentunya.


Saat itu sekitar pukul sembilan pagi waktu Perancis, ketika Edgar datang ke perusahaannya. Dengan cekatan ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus, di depan gedung megah yang berlapis kaca pada keseluruhannya.


Berjalan memasuki gedung megah itu dengan gagahnya, Edgar terlihat sangat tampan dengan penampilannya yang rapi seperti biasanya. Kemeja putih berlapis blazer hitam menemaninya hari itu. Setelah membalas sapaan dari beberapa karyawan yang sempat berpapasan dengannya, Edgar segera menuju ke rungannya.


Tanpa diminta, seorang wanita muda dengan penampilannya yang rapi, mengikuti Edgar hingga masuk. Wanita berambut pirang dengan sanggul rapi seperti seorang pramugari, dan memakai setelan blazer serta rok span yang cukup ketat. Dialah Louisa, wanita yang telah menghubungi Edgar malam itu.


Louisa terus mengikuti Edgar hingga pria itu duduk di mejanya. Setelah itu, ia meletakan beberapa map yang merupakan hasil laporan yang sudah ia susun di depan sang bos.


“Ini merupakan hasil audit yang sudah saya lakukan terhadap semua laporan yang masuk. Anda bisa mempelajarinya terlebih dahulu, Pak,” ucap wanita muda itu. Ia masih berdiri di hadapan Edgar yang saat itu mulai membuka satu dari beberapa map yang ada di hadapannya.


Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak sangat serius ketika membaca isi dari laporan tersebut. Sesekali ia mengernyitkan keningnya. “Apa-apaan ini, Lou?” Tanya Edgar dengan wajah yang lebih dari serius. Perhatiannya saat itu masih terfokus pada laporan keuangan yang sedang ia periksa dengan saksama.


“Itu adalah laporan yang sebenarnya, Pak. Kita hanya menerima pengajuan klaim kematian biasa dengan jumlah tujuh ribu Euro. Akan tetapi, yang dilporkan ke kantor adalah kematian karena kecelakaan dengan nilai ganti rugi dua kali lipat dari nilai klaim kematian yang sebenarnya. Dapat dipastikan, jika sisanya masuk ke kantong beberapa oknum di kantor cabang. Mereka juga kerap menggelapkan uang. Mereka melakukan kerja sama dengan bank sehingga uang premi tidak masuk ke perusahaan, melainkan masuk ke kantong pribadi mereka,” beber wanita muda itu dengan lugas.


“Saya rasa, praktik seperti itu sudah sering mereka lakukan. Pada awalnya mungkin tidak terasa, tapi lama-kelamaan jumlah kerugian yang kita alami menjadi semakin besar. Jadi, hal itu baru dapat terdeteksi sekarang-sekarang,” lanjutnya lagi.


"Selain masalah itu, kita juga harus menyewa ahli untuk menyelidiki hal lain, Pak. Ada seseorang yang telah meretas sistem keamanan kita dan mencuri sebagian besar dana nasabah. Itu juga harus segera diselesaikan, karena jika dibiarkan berlarut-larut, maka saya khawatir keadaan perusahaan akan menjadi semakin tidak stabil," lapor Louisa lagi.


“Beri tahu para petinggi perusahaan, kita akan mengadakan rapat penting dengan segera!” Perintah Edgar seraya menutup map yang telah selesai ia periksa. Sesaat kemudian, ia mengalihkan tatapannya pada wanita bermbut pirang yang masih berdiri di hadapannya. “Kamu atur jadwalnya. Ini sangat mendesak!” Titah Edgar lagi. Wajah yang biasa terlihat hangat dengan senyum menawan itu, kini tak terlihat sama sekali. Edgar tampak sangat serius kali ini.


Wanita muda itu tersenyum seraya mengangguk dengan tegas. “Baik, Pak! Ada hal lain yang Anda butuhkan?” Tanyanya lagi.


Edgar menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kebesarannya. “Itu saja.Saya akan membawa semua laporan ini dan mempelajarinya di rumah,” ujar Edgar. Perlahan raut wajah serius itu mulai memudar, terlebih ketika ia memeriksa sebuah pesan yang masuk ke nomornya. Pesan dari seseorang yang telah membuatnya tersenyum kecil, tapi memberikan sebuah lonjakan kebahagiaan yang begitu besar di dalam hatinya.


“Kamu boleh kembali melanjutkan pekerjaanmu,” ucap Edgar. Ia memersilakan wanita muda itu untuk keluar dari ruangannya.


Perhatian Edgar kini tertuju pada layar ponselnya. Ia mulai membaca pesan dari seseorang yang paling cantik untuknya, Arumi.


Baru berpisah satu hari saja, rasanya Edgar sudah sangat merindukan gadis itu. Jika saja bisa, maka ia pasti akan terbang kembali ke Indonesia dan menemui gadis itu dengan segera. Ini adalah sesuatu yang sangat disayangkan. Ketika ia dapat menyentuh dan merangkul gadis itu, tiba-tiba ia harus pergi dan kembali menjauh darinya.


Sedangkan Arumi, saat itu ia sedang berada di toko. Arumi ingin mengisi waktunya yang terasa kosong. Entah kenapa ia merasa seakan ada sesuatu yang telah hilang dari hidupnya.


Ya, Arumi mengingat senyuman itu. Tatapan mata abu-abu itu, dan tentu saja semua perlakuan lembut yang selalu Edgar berikan untuknya. Kini ia merasa sangat membutuhkan semuanya.


Terbayang olehnya dengan begitu jelas, ketika ia menghabiskan malam di atas balkon apartemen Edgar. Ketika ia tertidur dengan sangat nyaman di dalam dekapan hangat pria dengan tubuh tegap 180 cm itu.


“Oh ... ini benar-benar parah,” keluh Arumi. Ia tidak mengerti kenapa harus teringat dan memikirkan hal-hal seperti itu. Apakah itu artinya jika kini dirinya mulai jatuh kembali pada pesona seorang Edgar Hilaire? Akan tetapi, Arumi masih belum dapat memastikan dengan jelas, apakah itu merupakan cinta atau hanya suatu ketertarikan semata.


Malam itu, Edgar memegangi dan memeluknya dengan erat ketika mereka berada di danau kenangan. Danau yang beberapa waktu lalu menjadi saksi ratapannya, ketika untuk kedua kalinya Moedya benar-benar pamit dari hidupnya.


Sore itu cuaca sedikit mendung. Akan tetapi, itu tidak membuat Arumi mengurungkan niatnya untuk kembali menikmati semilir angin di tepi danau kenangan.


Untuk sejenak, Arumi harus tertegun ketika ia melihat motor yang terparkir tidak jauh dari tempat ia memarkirkan mobilnya. Gadis itu bermaksud untuk kembali ke mobilnya saat ia memastikan si pemilik motor itu ada di sana, berdiri sendirian di dekat pembatas besi.


Tubuh tegap dengan jaket kulit itu terlihat begitu gagah tampak dari belakang. Gaya rambut man bun-nya pun membuatnya terlihat sangat ... ah tidak! Arumi tidak ingin larut dalam kekaguman itu lagi. Ia kemudian segera membalikan badannya dan bermaksud untuk kembali ke mobilnya. Namun, panggilan dari suara berat agak serak itu telah berhasil menahan langkahnya.


Arumi kembali tertegun dan menoleh. Dilihatnya Moedya tengah menatap lekat ke arahnya. Tatapan yang telah membuat Arumi menjadi salah tingkah dan mati gaya. Gadis itu hanya terdiam tanpa ada ekspresi sedikitpun.


Tersungging sebuah senyuman tipis di sudut bibir Moedya. “Arum, apa kabar?” Tanyanya.


Arumi yang saat itu berada dalam jarak beberapa langkah saja dari Moedya, hanya terdiam. Ia kembali teringat pada kebersamaan antara Moedya dengan Diana di bandara kemarin. Arumi pun tersadar akan posisi pria itu. Ia tidak harus merasa terkesan lagi atas sapaan yang dilayangkan Moedya untuknya. Arumi mencoba untuk terlihat biasa saja.


“Seperti yang kamu lihat. Aku sangat baik-baik saja,” jawab Arumi dengan tenangnya.


Moedya kembali menyunggingkan senyuman kecilnya. Sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga merasa gugup. Namun, sebagai seorang pria, ia harus panda-pandai menyembunyikan perasaan itu.


“Aku pikir kamu tidak pernah datang kemari lagi, Arum,” Moedya mulai mengajak Arumi untuk berbasa-basi.


Arumi membalasnya dengan sebuah senyuman kecil dan bahkan terkesan sinis. “Ini tempat umum. Semua orang berhak datang kemari. Lagi pula, Edgar sudah kembali ke Perancis, jadi ... aku memiliki banyak waktu luang untuk diriku sendiri,” ujar Arumi dengan tenangnya. Ia harus menunjukkan kepada Moedya jika dirinya masih dapat hidup dan bernapas dengan baik meskipun tanpa cinta dari pria pemilik banyak tato itu.